
Sebelum meditasi di mulai, Tama melakukan telepati terhadap Masashi dan hanzo untuk melindungi keluarganya selama dia bermeditasi, tak lupa telepati di lakukan kepada gurunya, Eyang Jabar tuk membantu mendapatkan pencerahan melawan ke dua kekuatan yang sangat di butuhkannya.
Prayoga dan Mada yang sudah kembali ke aula terlihat berbincang dengan Masashi, Hanzo dan Hitari.
Hanzo pun menanyakan keadaan dan situasi serta sisa kekuatan yang masih tersisa di pihak kerajaan, sekaligus mohon ijin tuk melihat situasi di luar istana kerajaan.
Mada pun menjelaskan secara rinci tentang kondisi dan situasi saat ini di kerajaannya termasuk sisa prajuritnya yang berada di kotaraja.
Hanzo dan Hitari yang pernah memiliki pengalaman pengawalan kotaraja kekaisarannya, segera pamit tuk mengitari seluruh wilayah dan gerbang kotaraja untuk membantu merencanakan strategi bertahan kerajaan Cakrabuana.
"Ayah kagum dengan kekuatan benteng kerajaan ini nak, selain tinggi, begitu tebal dan kuat temboknya." Ucap Hanzo pada anaknya sambil menatap benteng, berjalan ke arah istana.
***
Ke esokan Hari.
Dalam Aula pertemuan, kembali mereka berkumpul membahas segala hal rencana strategi pertahanan kotaraja.
Hanzo memberikan saran kepada Prayoga dan Mada, bahwa menurut informasi yang di dapat kekuatan musuh sebanyak 320 rb yang terbagi pada 4 kota penyangga kotaraja yang sudah di taklukannya, berbanding dengan sisa kekuatan pasukan kerajaan sebanyak 45 ribu prajurit khusus kerajaan ini, akan dibagi pada 4 gerbang masuk kotaraja masing masing 10rb, dan sisanya 5rb berada di istana tuk melindungi keluarga raja.
Selain itu Hanzo menyarankan Patih Mada memimpin gerbang barat, Masashi gerbang timur, Hitari gerbang utara, dia sendiri di gerbang selatan, sedangkan Prayoga di minta memimpin di istana.
"Menurut Tuan Hanzo, berapa lama dengan strategi itu kita bisa bertahan." Tanya Prayoga.
"Perhitungan hamba, jika musuh menyerang pada tiap gerbang, maka kita akan mampu bertahan -/+ 43x terbit matahari." Jawab Hanzo.
Prayoga melamun sejenak, dengan waktu tersebut pasukan bantuan dari kerajaan Tur tidak akan berguna keberadaanya.
"Bantuan akan sampai ke kotaraja -/+ 70x terbit matahari itu pun jika tidak di hadang musuh." Ucap Prayoga kepada semua yang hadir.
Prayoga pun menitahkan kepada semuanya.
"Saat gerbang hancur oleh musuh bunyikan tanda, dan semua pasukan inti maupun pasukan rakyat yang membantu mundur berkumpul di dalam istana, dengan begitu kita berharap mampu lebih lama dalam bertahan menunggu pasukan bantuan masuk saat kita berperang di dalam istana."
"Tapi akan banyak rakyat menjadi korban." Ucap Mada penuh khawatir.
"Patih, saat ini rakyat dan prajurit tidak ada bedanya, mereka akan berkorban mempertahankan tanah kelahirannya." Jawab Hanzo menguatkan Titah Prayoga.
Bagi Prayoga tak ada pilihan lain selain mengikuti saran Hanzo dan Masashi, dengan harapan bantuan dari kerajaan Tur datang atau anaknya mampu menyelesaikan meditasinya dengan cepat tuk menambah kekuatan baru.
***
Ruang Meditasi.
Tama yang sedang fokus meditasi, melepas sukmanya memakai ajian "Suket Kalanjana" yang ada di dalam kitab Nur Muhammad untuk masuk ke alam para lelembut, Tama mencoba berjalan mencari arah sesuai dalam mimpinya.
Tiba di padang rumput yang sangat luas, Tama melihat seekor singa besar sedang berjalan ke arahnya, melihat sosok tubuh manusia membawa pedang yang masih tersarung di pinggangnya serta tongkat putih di tangannya, singa itu pun mengaum keras.
Tak lama kemudian puluhan singa muncul dan tanpa komando menyerang Tama bersamaan.
Tama yang memang sudah waspada, segera mengarahkan kedua tapak tangannya di ke depan
"Ajian Waringin Sungsang, Menahan Badai."
__ADS_1
Duaaaarrrr.
Benturan kekuatan membuat beberapa singa terpelanting ke belakang, namun singa itu berdiri lagi seperti tak terluka sama sekali.
Lalu Tama merapalkan Ajiannya.
"Rongrong, Menyatu dengan Alam."
Wuuusssssssss.
Tubuh Tama menghilang dari pandangan para singa, dan muncul di belakang beberapa singa yang sedang mencarinya.
"Ajian Lampah Lumpuh, peremuk tulang."
"Ajian Srigunting, Pukulan api."
Kraaaak.
Braaaak.
Tangan kanan dan kiri Tama menghantam beberapa singa yang ada di depannya hingga terpental jauh ke depan, namun singa tersebut kembali berdiri dengan luka yang pulih secara cepat.
Melihat hal itu Tama meloncat ke belakang tuk menyiapkan ajiannya kembali, namun seekor singa besar dengan mata merah dan rambut emas, tubuhnya di selimuti api biru tiba tiba menerjang ke arah kepalanya.
Sreeeeeet.
Tangan kanan Tama yang mencoba menahan serangan musuh dengan tongkatnya, tapi terlambat tak mampu membendungnya, sehingga tangan kanannya terluka mengaga terkena cakaran singa emas itu.
Singa Emas itu kembali menyerang Tama dengan ganasnya.
Tama mencoba menahan serangan itu.
"Ajian Waringin sungsang, Menahan Badai."
Booooommmm.
Tubuh Tama terpental sejauh 10 tombak dengan baju terkoyak, sedangkan singa emas itu kokoh berdiri sambil berjalan menuju arah Tama.
Melihat singa emas muncul, Para singa yang lainnya hanya berdiri menundukan kepalanya tak berani ikut menyerang Tama.
Tama yang terjatuh, mencoba berdiri goyah sambil tangan kiri nya memegang dada, sedangkan tangan kanannya terkulai lemah terluka cukup parah.
"Aku berikan kesempatan tuk kembali ke asalmu." Ucap Singa Emas.
Tama yang terluka pun kaget seekor Singa dapat berbicara seperti manusia biasa.
"Aku tidak akan kembali sebelum misiku tuntas." Jawab Tama dengan penuh kesakitan.
"Ha ha ha Bocah bodoh lebih memilih mati daripada kembali ke asalmu." Ucap Singa Emas sambil menatap tajam.
"Terimalah seranganku." Singa Emas itu meloncat tinggi menerkam Tama.
Tama yang menyadari tak kan mampu bertahan, mencoba menghindar ke samping kiri.
__ADS_1
Wuuuusssssss.
Suara cakaran tapak depan Singa Emas terdengar kencang, Namun Tama tak menyadari tapak cakar belakang Singa Emas itu berhasil merobek pinggungnya.
Sreeeeeeeet.
"Aaaarrrggggggg." Teriak Tama,
Segera meloncat ke arah berlawanan dari Singa Emas itu.
Tama yang mulai lemah hanya mampu berdiri diatas kedua lututnya.
"Ku beri kesempatan terakhir, kembali lah ke tempat asalmu, atau kau akan mengabdi padaku selamanya." Ucap Singa Emas itu.
"Manusia lebih mulia dari kalian para lelembut dan aku datang di takdirkan untuk menundukan kalian menjadikan bawahanku." ucap Tama penuh semangat sambil duduk bersila lalu memejamkan mata meminta petunjuk gurunya.
"Ha ha ha Bocah, kau bermimpi terlalu tinggi, sudah banyak manusia yang datang dengan membawa tongkat kaboa itu ke sini tapi tak mampu mengalahkanku." Jawab Singa Emas.
"bersujudlah padaku bocah maka akan ku percepat kematianmu." Singa Emas itu menerjang ke arah leher Tama.
Di saat Singa Emas itu menyerang, tiba tiba tubuh Tama di selimuti sinar cahaya yang keluar dari rajah/tatto di dadanya, lalu merapalkan ajian yang ada dalam kitab Nur Muhammad.
"Ajian Qulhu Derga Balik."
Bbbooooooooommmm.
Tubuh Singa Emas terpental 50 tombak dengan luka yang sangat parah, serangannya mengoyak tubuhnya sendiri.
Sedangkan luka di seluruh tubuh Tama yang di selimuti sinar cahaya secara cepat menutup rapat dan Sinar cahaya itu juga dapat memulihkan energi tubuhnya dengan menyerap energi alam di sekitar.
"Bbagaimana bocah itu memiliki Rajah Kala Cakra dan menguasai kitab Nur Muhammad, yang mampu membalikan seranganku dengan cepat." Singa Emas itu berguman sambil berdiri kembali.
Walau pun Singa Emas mengetahui persis, ada salah satu ajian dalam kitab Nur Muhammad yang paling di takuti para makhluk hidup di alam fana ini, namun melihat bocah yang ada di hadapannya tidak berpengalaman, merasa yakin tidak menguasai ajian yang di maksud itu.
"Kamu pikir sudah menang bocah." Terlihat luka luka yang ada pada tubuh Singa Emas itu pun menutup rapat dengan cepat seperti halnya tubuh Tama.
Tama yang sudah berdiri dari jarak jauh, tidak mau menyia nyia kan posisi menguntungkannya, segera melesat mengambil tongkat kaboa nya lalu menyerang Singa Emas itu dengan ajian yang ada di dalam kitab Nur Muhammad.
"Malaikat menundukan Iblis."
Singa Emas yang sedang mengumpulkan energinya, belum siap mendapat serangan cepat dari Tama, Singa Emas pun merapalkan ajian bertahannya.
Namun sebelum kekuatan itu beradu, tiba tiba dari samping tanpa di sadari Tama melesat sebuah cahaya yang menyerangnya.
Duuuuuuuuuaaaaarrrrrr.
Tama yang tak menyadari keberadaan musuh, tak mampu mengelak, tubuh Tama dengan telak menerima serangan dahsyat musuh dan terpental sejauh 100 tombak, beruntung tubuhnya di selimuti sinar cahaya Rajah Kala Cakra jadi tak mengalami luka sedikit pun.
"Haaaaaaaa Singa Gondrong, kau semakin tua semakin lambat, untung aku datang." Ucap Harimau Putih yang tubuhnya di selimuti api putih menatap Singa Emas.
"Cuuuiiihhh kau selalu saja mengganggu kesenanganku lodaya kurap." Jawab Singa Emas melotot menatap Lodaya.
"Hhhhhmmmm bocah pewaris Rajah Kala Cakra ternyata, pantas si gondrong kesulitan Ha ha ha." Ucap Lodaya putih mengejek Singa Emas sambil menatap tajam Tama.
__ADS_1