
"Nanda Tama....." Prayoga membuka suara.
"Maafkan Ayahanda sudah merahasiakan semua itu dari mu nanda." Terlihat Tama masih menundukan kepalanya.
"Apakah Nanda benci sehingga tak ingin melihat Ayahanda mu ini?." Tanya Prayoga lirih.
Tama mengangkat kepalanya mencoba menatap Prayoga, Terlihat air mata membasahi pipi nya, Lalu melangkah ke arah Prayoga dan membaringkan kepalanya di atas paha Prayoga yang sedang duduk di singgasana.
Tanpa berucap Prayoga pun mengelus kepala Tama, sambil terisak menumpahkan air matanya.
Saat ini Prayoga tidak peduli lagi dengan status sebagai Raja yang Tegas dan Tegar, di hadapan semua orang yang hadir di sana, dia adalah sosok ayah yang menyayang.
"Terima Kasih Ayahanda sudah membesarkan nanda seperti anak kandung sendiri." Tama terisak isak mencoba menjawab dengan dewasa walau pun usianya masih belia (13 tahun).
Suasana di aula pertemuan di liputi kesedihan, termasuk juga di rasakan oleh orang orang yang bukan dari kalangan keluarga Istana, mereka mencoba menahan tangisan dengan berbagai macam cara mereka masing masing.
"Tidak sedikit pun terlintas dalam hati Nanda kebencian pada Ayahanda, Bunda, Paman maupun pada Rayi Wira serta Putri Prameswari." Tambah Tama semakin terisak isak.
"Terima kasih nak, selamanya nanda adalah anak dari ayahanda dan bunda, kakang dari Rayi Wira dan Putri Prameswari." Jawab Prayoga sambil tetap mengelus kepala Tama.
"Ayahanda...." Tama menegakkan kepalanya ke hadapan Prayoga.
"Nanda mohon ijin tuk berkelana." Pinta Tama kepada Prayoga.
Sontak Prayoga dan keluarga istana kaget mendengarnya.
(Tama menyadari dengan sebagian kekuatan roh Jiwa Raja Kegelapan dalam tubuhnya, maka keberadaannya di istana akan membahayakan orang orang yang di cintainya, Tama tak rela mengorbankan orang orang yang di cintainya demi melindunginya).
"Tidaaaak..... Nanda tidak boleh pergi hu hu hu." Melati tiba tiba memeluk punggung tama yang sedang bersimpuh di hadapan Prayoga sambil menangis histeris.
"Tidaaak, Nanda jangan tinggalkan bunda Hu hu hu." Melati menangis menambah kesedihan dalam aula.
Tama segera berdiri dan memegang tangan Bundanya sambil mencium lembut tangannya, lalu berkata "Bunda ini demi kebaikan bersama, suatu saat Nanda pasti kembali." Hibur Tama.
Tangisan Melati semakin tinggi, membuat semua orang yang di sana hanya bisa terpaku diam (selama ini Melati sangat menyayangi Tama melebihi anak kandungnya), termasuk Wira dan Prameswari hanya bisa terdiam menitikkan air matanya.
Suasana Aula yang semakin di liputi kesedihan, Akhirnya Syeikh Jabar mulai berbicara tuk memecahkan suasana sedih di aula.
"Mohon maaf paduka, hamba rasa ada benarnya apa yang di katakan oleh Pangeran Tama." Jelas Syeikh Jabar mencoba mengikis suasana kesedihan keluarga istana.
Syeikh Jabar menjelaskan bahwa saat ini Tama belum mampu mengendalikan pusaran cahaya dalam tubuhnya, hal tersebut akan sangat berbahaya bila kondisi Tama sedang bersedih, marah atau merasa kesepian dalam hatinya, itu akan memancing Roh Jiwa Raja Kegelapan untuk mengendalikan tubuh Pangeran Tama seperti kejadian yang lalu.
"Di samping itu, menurut perhitungan hamba akan banyak pendekar dari seluruh aliran mencari sosok Pangeran Tama, karna di anggap keberadaan Roh Jiwa Raja Kegelapan berbahaya untuk keselamatan alam ini." Ucap Syeikh Jabar.
"Selain itu, Sudah pasti Roh Jiwa Raja Kegelapan dan para pengikutnya akan mencari keberadaan sosok Pangeran Tama untuk melakukan penyempurnaan kebangkitan Jiwa Raja Kegelapan itu sendiri." Tambah Syeikh Jabar.
Sejenak semua orang yang berada di Aula terdiam, mencerna penjelasan dari Syeikh Jabar mengenai kekuatan misterius yang ada di dalam tubuh Tama.
"Apa yang harus ku perbuat untuk menyelamatkan pangeran Tama?." Tanya Prayoga kepada Syeikh Jabar.
"Saat ini hamba berharap, paduka memperkuat pasukan istana sekaligus melakukan kerjasama erat dengan kerjaan maupun perguruan besar yang berlandaskan pada prinsip ke Tuhan an, Karna dengan cara itu kekuatan akan terhimpun untuk meredam hasrat dari orang orang serakah yang mempunyai kekuatan besar." Jawab Syeikh Jabar.
__ADS_1
"Ijinkan Hamba mendidik Pangeran Tama secepatnya tuk melatih mengendalikan pusaran cahaya di dalam tubuhnya." Tambah Syeikh Jabar.
Walau pun Prayoga dan keluarga besar istana merasa keberatan dengan permintaan terakhir Syeikh Jabar, tapi demi kebaikan Tama di masa mendatang, dengan berat hati mengijinkan Syeikh Jabar membawa Tama.
####
Gunung Gelap
Di bukit gunung Gelap terdapat gua besar memanjang yang di jaga oleh para pendekar muda pemuja Kegelapan dan sekelompok Siluman sakti.
Gua tersebut menjadi markas besar kelompok Keabadian yang di ketuai oleh seorang wanita bernama Nyai Endit Sanggul yang sudah berusia 1000 tahun, namun dengan ilmu hitamnya mampu terlihat masih muda.
Kelompok Keabadian berdiri bertujuan membangkitkan kembali Roh Jiwa Raja Kegelapan yang telah lama mati suri.
Penjagaan yang ketat di mulut gua menandakan ada sesuatu yang sangat penting di dalam gua.
Tak lama kemudian muncul dengan cepat sosok wanita cantik terlihat muda, dengan bibir merah mungil, pakaian putih tipis tembus pandang serta leher yang jenjang dengan rambut yang di sanggul (membuat para pria yang melihatnya menelan ludah) di hadapan para penjaga mulut gua.
Melihat sosok tersebut, semua penjaga bersimpuh di hadapannya dan menundukan kepala, memberikan penghormatan, "Hormat kami pada ketua nyai Endit Sanggul."
"Berdirilah." Jawab Nyai Endit dengan segera melesat masuk ke dalam gua.
Tak lama sosok wanita itu sudah berada di dalam ruangan yang luas di dalam gua, terdapat 3 pria dan 3 wanita yang sedang melakukan ritual menghadap kobaran api hitam besar, di dalam kobaran api tersebut terlihat sosok jasad manusia tua terbujur kaku.
Melihat ada sosok yang datang, segera mereka menoleh lalu mereka bersujud di depan Nyai Endit Sanggul, "Salam hormat kepada ketua."
"Berdirilah." Jawab Nyai Endit sambil berjalan menuju tempat duduk yang terbuat dari batu alam hitam.
Salah seorang pria menjawab, "Saat ini kita sudah melakukan ritual persembahan sebanyak 430 pendekar tingkat Awan dan tingkat langit untuk di serap inti energinya oleh junjunan kita."
"Kerja yang bagus, walaupun kita belum menemukan sosok pembawa sisa Roh Jiwa Raja Kegelapan, Aku yakin tak lama lagi Junjunan kita akan segera lahir kembali ke bumi ini Hi hi hi." Nyai Endit tertawa menyeramkan.
"Tugas kita masih panjang, menyediakan sisa persembahan sebanyak 570 pendekar minimal setingkat awan, 1 pendekar tingkat suci dan menemukan sosok yang membawa sisa Roh Jiwa Raja Kegelapan." cerita Nyai Sanggul kepada kelompoknya.
"Sanjaya cari informasi salah satu pendekar tingkat suci lalu laporkan kepadaku, Aku berharap tugas pertama dan kedua bisa terwujud sebelum Matahari beradu dengan Bulan." Perintah Nyai Endit.
"Baik Ketua." Jawab Sanjaya.
(Sanjaya adalah pendekar sakti paling tinggi tingkat kanuragannya di dalam kelompok Keabadian).
####
10x Terbit Matahari berlalu.
Di Aula istana kerajaan Cakrabuana terlihat dua sosok sedang berbincang, yaitu Prayoga dan Syeikh Jabar.
"Padaku, Hamba mencoba menelusuri keramaian kotaraja, dan mendapat sedikit informasi."
"Informasi apa yang Syeikh dapatkan?." Tanya Prayoga.
"Saat ini di kotaraja banyak sekali para pendekar sakti berbagai aliran berdatangan, Informasi yang hamba dapatkan bahwa tujuan mereka mencari pemilik pusaran cahaya (Pangeran Tama), mereka berdatangan ke kotaraja karna petunjuk yang mereka dapatkan bahwa di kotaraja adalah titik pusat kejadian timbulnya langit berubah menjadi gelap gulita beserta petir petir hitam, hal baiknya mereka belum mengetahui sosok manusia yang menjadi pemilik pusaran cahaya tersebut." Jawab Syeikh kepada Prayoga.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan Syeikh." Tanya Prayoga penuh kebingungan.
"Menurut hamba, paduka tetap pada posisi waspada dan merahasiakan kejadian lalu untuk melindungi Pangeran Tama."
"Dan hamba berpikir, sudah saatnya hamba membawa Pangeran Tama saat ini juga ke bukit Arrimah." Syeikh memberikan penjelasan sekaligus memohon ijin.
Dengan penuh bimbang Prayoga menyetujui permintaan Syeikh, sekaligus memanggil semua keluarga istana ke aula pertemuan, sekaligus memerintahkan dayang tuk mempersiapkan perbekalan tuk Tama
Tak lama kemudian sudah berkumpul di Aula pertemuan yaitu permaisuri, Tama, Wira, Prameswari,Patih Mada, Ki Jati dan Tabib Kuntala.
"Pangeran Tama, sudah saatnya kita akan berangkat ke Bukit tempat eyang tinggal." Syeikh memberitahukan kepada Tama.
Tadinya Syeikh Jabar berniat mengajak berpetualang melalui daratan untuk menambah pengalaman hidup Tama, namun situasi saat ini tidak mungkin untuk di lakukan, mengingat hampir semua pendekar sakti berbagai aliran sedang mencari sosok pangeran Tama, dengan kemampuan Tama saat ini menurut Syeikh Jabar akan sangat merepotkannya melindungi dari serangan pendekar sakti yang berkelompok.
Tama segera pamit kepada semua keluarga istana, Permaisuri memeluk Tama sambil menangis, setelah itu Tama memeluk Wira sambil berkata. "Saat kakang tidak disini, Rayi harus menjaga Ayahanda, Bunda dan Putri."
"Jadilah pendekar hebat, kita akan segera melakukan uji tanding lagi." Tama memberi semangat pada Wira.
Lalu Tama memeluk Putri Prameswari, "Cepat besar ya tuan putri, kakangmu ini ingin melihat tuan putri menggendong bayi kecil yang imut." sambil mencubit hidung kecil Prameswari.
Prameswari hanya bisa mencubit perut kakangnya yang melihat sedang mencandai nya.
"Kakang harus janji sama putri." Pinta Prameswari.
"Minta apa adik manja." Jawab Tama penuh canda.
"Berjanji...kakang akan datang lagi ke sini dengan selamat." Pinta Prameswari.
"Kakang berjanji akan datang lagi kesini dengan selamat." Sambil mencium kening adiknya itu.
Mereka yang melihat Tama bahagia karna akhir akhir ini Tama mulai ceria penuh canda,sekaligus bersedih karna akan berpisah dengan Tama.
Tak lupa Tama pamit pada paman Mada yang sangat menyayanginya, dan kepada semua yang hadir di sana.
"Nanda Pangeran apa sudah siap?." Tanya Syeikh.
Sebelum menjawab, Tama melihat satu persatu sosok di sayanginya yang berada di aula dengan mata berkaca kaca, lalu menganggukan kepalanya kepada Syeikh Jabar.
Syeikh meminta Tama memejamkan matanya sambil tangan Syeikh memegang bahu Tama, lalu tiba tiba mereka hilang dari pandangan orang yang ada di aula.
Wuuuuuuuussssssss.
Terdengar suara terakhir dari Syeikh Jabar, "Untuk menjaga keselamatan Pangeran Tama, jangan sampai tempatku di ketahui orang lain."
#####
Bukit Arrimah.
"Sekarang buka mata mu nak." Pinta Syeikh Jabar.
Tama segera membuka matanya sambil lirik kanan kiri melihat suasana yang asing baginya.
__ADS_1
"Inilah padepokanku, Nanda beristirahatlah, Mulai terbit matahari kita akan memulai latihan dari awal." Syeikh menunjukan kamar yang akan di tempati Tama selama latihan di bukit Arrimah.