
"Inilah padepokan kecilku."
"Nanda beristirahatlah, Mulai terbit matahari kita akan memulai latihan dari awal." Eyang Jabar berjalan menunjukan kamar yang akan di tempati Tama selama latihan di padepokannya.
***
Pagi hari di luar tempat Tama beristirahat terlihat hilir mudik para pemuda dengan berbagai sorban di kepalanya.
Tama terkejut begitu melihat pemandangan di luar, luasnya hamparan pasir dengan suhu udara yang sangat panas, berbeda dengan suhu di istana yang sejuk, selain itu Tama melihat halaman padepokan yang di penuhi aktifitas para pemuda.
Tama yang masih tertegun dengan suasana barunya di kagetkan oleh suara dari Syeikh Jabar, "Maaf Nanda, suasana disini berbeda sekali dengan kediaman nanda yang sejuk."
Tama tak bisa menjawabnya dan hanya tersenyum, di akui Tama luasnya bumi tak mampu di lalui tanpa berkelana, selama ini Tama tak pernah keluar dari Kotaraja kecuali saat ke Gunung Nagara Siang Padang, itu pun kondisi Tama yang tak sadarkan diri jadi tak mampu melihat indahnya pemandangan alamnya.
"Apa Nanda sudah siap dengan pelajaran baru dari Eyang." Tanya Syeikh Jabar kepada Tama sambil melihat ke arah aktifitas para muridnya.
"Nanda sudah siap Eyang."
Tama bertekad untuk menjadi lebih kuat setelah pengalaman mencekamnya tempo dulu.
"Baiklah, ikuti eyang." Syeikh melesat dengan cepat lalu di ikuti Tama.
Tiba pada suatu wilayah bukit gurun pasir, Syeikh dan Tama berhenti, nafas Tama terlihat tak beraturan merasakan kelelahan mengejar Syeikh jabar dengan cuaca yang ekstrim panas.
Setelah beristirahat sejenak, Tama di minta untuk menunjukan semua ajian yang di kuasainya.
Tama bersiap dengan kuda kudanya lalu merapalakan setiap ajian yang di kuasainya.
Waktu berjalan, tak terasa semua ajian Tama sudah di perlihatkan pada Syeikh Jabar, sosok gurunya yang akan membawa Tama pada puncak kejayaannya.
Setelah di rasa cukup, Tama kembali pada posisi kuda kuda awal sambil menutup aktifitasnya dengan tarikan nafas panjang.
"Cukup lumayan Nanda menguasai semua ajian itu, hanya seringlah berlatih supaya reflek gerakmu makin luwes dan kamampuanmu makin sempurna." Ucap Eyang Jabar.
Tama yang menyadari jarang melakukan latihan, hanya mengangguk menuruti kata Syeikh Jabar.
__ADS_1
"Nanda Tama mungkin latihan kali ini akan berbeda dengan sebelumnya, di samping cuaca yang berbeda akan cepat menguras tenagamu, juga perbedaan cara berlatih akan membuatmu sedikit kesulitan, namun Eyang harap jangan putus asa, selama Nanda serius dalam berusaha pasti akan mendapatkan hasil yang memuaskan." Wejangan dari Eyang kepada Tama.
"Ingatlah hasil yang di capai, bergantung dari proses yang di jalankan." Tambah Eyang.
Lalu Tama melakukan latihan ulang persis seperti awal latihannya dulu, Tama di suruh berlari mengelilingi bukit selama lima putaran dengan tubuh di bebani beberapa batu alam cukup berat.
Di awal latihan Tama cukup tersiksa, dengan terik matahari yang luar biasa panas, akhirnya lima putaran telah di lalui, dengan tubuh penuh peluh, Tama terkapar kelelahan di depan gurunya.
Syeikh yang melihat itu hanya tersenyum sambil memberikan labu berisi air.
***
Tak terasa sudah 90x Terbit Matahari, Tama lalui tempaan fisik yang di laluinya dengan berat.
Tanpa di sadari tubuh Tama terlihat gagah, berotot dengan kulit coklat kehitaman.
Saat ini Tama sudah memiliki kekuatan fisik dan mental yang baik, sekarang Tama memulai pada tahap peningkatan tenaga dalam.
Syeikh Jabar meminta Tama melakukan meditasi di tengah gurun dengan sengatan terik matahari langsung ke tubuh Tama.
Tama berduduk sila lalu memejamkan matanya dengan kedua tangan di buka di atas kedua pahanya.
"Konsentrasikan pikiran dan jiwa mu pada semua organ dalam tubuhmu, lalu rasakan setiap butiran energi dalam tubuhmu dan padatkan menjadi satu, serta coba kuasai itu dengan pikiran dan jiwamu dengan tenang, sehingga mampu Nanda pindahkan kemana pun Nanda kehendaki." Eyang memberikan putunjuk kepada Tama.
"Bila Nanda sudah paham anggukan kepala." Pinta Eyang kepada Tama yang sedang berkonsentrasi dalam mediasinya.
Tama menganggukan kepala tanda sudah paham.
"Baiklah... Eyang akan tinggalkan Nanda disini, kelak apa pun yang Nanda hadapi, baik itu ilusi mau pun nyata, Nanda tetap harus berfokus pada meditasimu sampai Nanda merasakan Sinar Cahaya besar berkumpul di perutmu lalu pindahkan ke dadamu dan biarkan sinar cahaya itu mengembang bertambah besar di dadamu sampai sinar cahaya itu mengecil sebesar mata kaki, setelah itu meditasimu sudah sempurna." Pinta Syeikh lalu tiba tiba menghilang dari hadapan Tama.
####
180x Terbit Matahari berlalu.
Situasi Kotaraja dan beberapa kota besar dalam wilayah Kerajaan Cakrabuan mulai berkecamuk dengan berbagai kekerasan yang menimbulkan korban jiwa dari warga biasa.
__ADS_1
Beberapa kali pasukan kota maupun pasukan kerajaan bahkan para pendekar istana mencoba meredam kekacauan setiap kota dalam wilayah Kerajaan, namun belum mampu meredam kekacauan itu.
Di Aula Istana Kerajaan, Prayoga mengadakan pertemuan secara mendadak yang di hadiri oleh Para Pimpinan Militer.
"Patih Mada bagaimana situasi kotaraja dan kota kota yang lainnya." Tanya Prayoga.
Patih Mada menjelaskan bahwa saat ini Kotaraja bisa di kendalikan cukup aman, dengan menempatkan satu komandan spesial dan ribuan prajurit khusus serta ratusan pendekar tingkat langit, sedangkan kota kota besar yang jaraknya cukup jauh dari kotaraja masih di tangani oleh pasukan lokal (pasukan adipati) dan mendapat bantuan dari para pendekar serta pasukan senopati terdekat.
Patih Mada pun melaporkan kepada Raja Prayoga, menurut informasi dari telik sandinya bahwa sebagian pendekar berbagai aliran tingkat Awan dan tingkat langit tiba tiba menghilang.
Dengan keadaan seperti itu, Patih Mada pun melaporkan kepada Raja Prayoga telah memerintahkan semua pasukan khusus yang ada di istana, maupun pasukan di bawah bendera para senopati untuk bersiap siaga penuh mengantisipasi datangnya kekuatan besar.
Raja Prayoga mengangguk dan mencoba mencerna dari setiap penjelasan yang di dengar dari Patih Mada, dan mencari solusi dari permasalahan yang sedang di hadapinya ini.
Raja Prayoga pun menitahkan 3 dari 7 penasehat berkemampuan sakti untuk menyelidiki hilangnya puluhan pendekar tingkat awan dan langit.
####
Bukit Arrimah.
Di tengah bukit gurun padang pasir terlihat Tama masih berkonsentrasi dalam meditasinya di temani Eyang Jabar yang sudah kembali tuk menunggu Tama menyelesaikannya.
Tak lama kemudian tangan Tama bergerak ke atas lalu menutup tangannya ke arah dada, lalu membuka matanya.
Eyang Jabar yang melihat itu segera mengarahkan telapak tangannya bergerak ke arah dada Tama, Lalu mengalirkan tenaga dalamnya, tak lama kemudian tubuh Tama di selimuti sinar cahaya tebal yang berangsur masuk ke dalam tubuh Tama melalui dada.
"Cobalah liat dadamu sekarang nak." Sambil membuka mata, Eyang Jabar memerintahkan Tama membuka baju.
Kemudian Tama membuka bajunya, dan alangkah kagetnya saat melihat di dada nya ada sebuah tatto rajah bercahaya bersih.
"Eyang... Kenapa ada gambar di dadaku." Tanya Tama dengan polos sambil melihat ke arah dadanya.
"Hasil meditasimu ini, bukan saja meningkatkan energi inti dan tenaga dalammu dari hasil serapan alam dan panas matahari, juga mampu mengendalikan pusaran cahaya tubuhmu dengan menguasai ajian Rajah kala cakra." Jelas Syeikh Jabar.
"Sekarang kita kembali dulu ke pondok tuk beristirahat, setelah itu banyak yang akan Eyang ceritakan pada Nanda." Ucap Syeikh lalu menghilang dari pandangan Tama.
__ADS_1
Tama yang masih terbengong, segera berdiri lalu melesat pergi menyusul Eyang Jabar menggunakan ajian Kidang Kuning.