
"Maafkan Kakang terlalu bersemangat dalam uji tanding ini." Dengan penuh salah Tama memeluk tubuh adik tersayangnya.
"Sudahlah Kakang, Ini adalah permintaanku tuk uji tanding, Jadi kakang tak usah bersedih seperti itu." Wira memperlihatkan senyumannya tuk menghibur Tama yang terlihat bersedih.
"Rayi tunggu sebentar di sini." Pinta Tama.
Segera Tama melesat dengan ajian meringankan tubuhnya ke arah Ki Jati, Lalu membungkukkan tubuhnya.
"Eyang, Tama mohon sembuhkan luka dalam Rayi Wira." Dengan polosnya Tama memohon di depan para sesepuhnya.
Tama memohon karna Ki Jati yang terkenal Tabib, akan mampu dengan segera menyembuhkan luka dalam adiknya.
Melihat Jiwa Tama yang penuh welas asih, Ki Jati makin yakin bahwa muridnya ini calon pendekar tiada lawan yang penuh welas asih, sesuai petunjuk yang di titahkan dari gurunya.
Sebagai tata krama, Ki Jati memohon ijin kepada Ki Alam dan Ki Joko untuk mencoba memeriksa luka dalam Wira, Lalu segera melesat ke arah Wira yang sedang duduk bersila.
Mereka pun segera mengikuti ke arah Wira.
Setelah Ki Jati memeriksa keadaan Wira, Tidak langsung memberikan pengobatan Tapi Ki jati memberikan teknik penyembuhan kepada Wira untuk melakukannya sendiri dengan media hawa Emas dalam tubuhnya.
Ki Jati sedikit menjelaskan bahwa Hawa Emas adalah Hawa inti energi tingkat langka, hasil dari Warisan trah leluhurnya yang sudah mencapai tingkat Surgawi Tahap puncak, Namun Hawa Emas sendiri hanya di wariskan pada satu sosok keturunannya, Biasanya hawa emas dapat di wariskan sampai pada 3 generasi berbeda (Anak, Cucu, Cicit).
Selain mampu menambah kekuatan pada saat menyerang dan bertahan, Hawa Emas mampu menyembuhkan diri sendiri maupun orang lain dari luka dalam maupun luka luar.
Wira yang mendengarkan secara seksama, Mencoba melakukan meditasi diri sesuai arahan dari hasil pencerahan dari Sang Tabib senior.
Wira mulai berkonsentrasi penuh dalam meditasinya, Tubuhnya secara perlahan mulai di selimuti hawa emas.
Keringat mulai bercucuran dari wajah Wira, Dengan nafas tak beraturan Saat Tubuhnya mulai bergetar, Terlihat wajah Wira memucat manahan rasa sakit.
Dengan berjalannya waktu perlahan wajah Wira yang tadinya terlihat pucat menahan sakit, berangsur mulai cerah bercahaya, Nafasnya mulai teratur dan perlahan Wira membuka matanya sambil mengambil nafas panjang.
Tama Yang melihat Wira membuka matanya, segera menghampiri penuh dengan bahagia.
"Rayi Bagaimana keadaanmu sekarang?." Mencoba memastikan kondisi Wira, sambil mengelus wajah adiknya.
"Saat ini tak terasa sakit lagi di tubuhku kakang." Wira menepuk dadanya
"Terima kasih Kakang, Eyang sudah memberikan pelajaran berharga untuk Rayi."
Sejenak Wira beristirahat memulihkan tenaganya, Kemudian mereka berjalan ke arah Gazebo, melanjutkan istirahat dan berbincang sejenak.
__ADS_1
Di sela perbincangan hangat antar mereka, Tiba tiba Tama mengajukan permintaan ke pada Ki Jati.
"Sebelum kita berangkat ke Gunung Arrimah, Bolehkah Murid memohon sesuatu pada Eyang."
"Harapan apa yang Anaking Minta kepada Eyangmu ini." Ki Jati menjawab sambil mengelus kepala murid kesayangannya yang selalu di manja.
"Sudikah Eyang menurunkan Ajian Rongrong kepada semua orang yang ada di sini?." Dengan Polosnya Tama merengek
Sontak sesepuh lainnya kaget dan tersenyum malu, Di akui walaupun Ki Joko dan Ki Alam sekelas pendekar sakti yang mempunyai perguruan besar namun dibandingkan Ki Jati belum seberapa tingkat ilmunya.
Wajah merah merona Ki Jati pun terlihat oleh semua orang, Ki Jati merasa bahwa ilmu yang di miliki kedua tokoh itu sudah mumpuni, Namun permintaan muridnya yang telah di anggap anaknya tak mampu tuk di tolaknya.
"Anaking, Ilmu Eyang tidak seberapa hebatnya dibanding ilmu yang di miliki Ki Alam dan Ki Joko." Ki Jati mencoba mencairkan suasana yang sedikit kaku karna permintaan Tama.
"Tapi bila Ki Alam dan Ki Joko Berkenan mempelajari Ajian Rongrong." Ki Jati berhenti berbicara, Lalu menyodorkan sebuah kitab kepada mereka.
"Mohon Bantuan Ki Alam dan Ki Joko untuk mempelajari Ajian ini sekaligus membantu Nak Wira menguasai Ajian ini juga." Ki Jati mencoba berbasa basi tuk menghilangkan rasa kikuk ke dua pendekar di hadapannya.
####
120x Terbit Matahari ( 4 bulan) berlalu, Di dalam istana terlihat hilir mudik para punggawa dan para dayang menyiapkan sambutan khusus akan kedatangan sang raja dari pertempuran hebatnya.
Di sisi lain istana.
Sedangkan Tama bermeditasi mencoba mengendalikan pusaran cahaya tubuhnya di gazebo yang di awasi oleh Ki Jati.
Sesekali mata Tama berubah menjadi hitam pekat dengan hawa tubuh yang berubah ubah terkadang hawa cahaya yang muncul, hawa emas lalu hawa hitam.
Ki Jati selalu mengawasi Tama dengan seksama, Melihat perubahan hawa yang sangat mencolok, membuatnya bangga, Heran sekaligus khawatir, Bangga karna murid kesayangannya mempunyai Hawa Cahaya, Heran karna muridnya mempunyai Hawa Emas, yang menurut cerita akan turun pada satu sosok dalam satu generasi, Khawatir karna mempunyai hawa hitam pekat dan Mata Hitam Kelam (Milik Jiwa Raja Kegelapan).
"Hhhhmmm sepertinya, Salah satu diantara Pangeran Tama atau Pangeran Wira bukan keturunan dari Raja Prayoga." Gumam Ki Jati dalam hati penuh Mistery.
Saat mediasi berlangsung, Ki Jati sesekali mentrasferkan inti energinya ke tubuh Tama untuk menekan energi mata hitam dan hawa hitam pekat yang muncul di tubuh Tama, Ki Jati tidak ingin tubuh muridnya dirasuki bahkan di jadikan wadah kebangkitan Jiwa Raja Iblis yang bersemayam di tubuh tama.
Di saat semua sedang konsentrasi pada kemampuan diri masing masing, Tiba tiba terdengar suara tabuhan menggema di luar istana.
Sejenak mereka menghentikan aktifitasnya masing masing sambil menarik nafas panjan dan segera berkumpul di gazebo, Tak lama kemudian mereka berjalan mengarah ke dalam istana.
Di dalam Istana sudah berberbaris rapi para pasukan istana yang siap menyambut sang pahlawan.
Tama dan rombongan segera masuk ke ruang pertemuan istana, Di sana terlihat sudah ada Permaisuri Melati, Putri Prameswari dan para pejabat istana dan para keluarga prajurit yang suaminya gugur di medan perang.
__ADS_1
Setelah mereka memberi hormat, lalu Tama menghadap permaisuri.
"Bunda kemanakah Paman Mada?." Tama yang menoleh kanan kiri.
"Pamanmu sedang menyambut Ayahanda di gerbang istana kerajaan." Jawab Permaisuri dengan senyum indahnya.
Permaisuri sudah tak sabar ingin melihat sosok pujaan hati yang selalu di rindukannya setiap saat.
Beberapa waktu Kemudian terdengar suara Hulubalang memberitahukan keberadaan Sang Pemimpin,
"Paduka Raja Prayoga dan Jendral Mada menuju ruang pertemuan." Terdengar sampai ke dalam ruang pertemuan istana.
Dibalik pintu ruang pertemuan, Muncul sosok Prayoga dan Mada yang mencoba memberikan senyuman bahagia, Walau tak mampu menyembunyikan guratan kesedihan di wajah mereka.
Serentak semua yang ada di ruangan berdiri dan memberi hormat kepada Prayoga dan Mada.
"Salam Kami Kepada Paduka yang mulia dan Jendral Mada."
Sesaat keheningan di ruangan istana.
Prayoga menghampiri permaisurinya serta mengecup keningnya sambil membisikan sesuatu, tak lupa Tama, Wira, Praswari pun mendapatkan kecupan kening tanda cinta dari sang Ayahandanya.
Kehangatan keluarga istana kembali sempurna setelah kedatangan Pangeran Tama dan Raja Prayoga.
Prayoga menceritakan dengan bangganya bagaimana pertempuran itu bisa di menangkan kepada seluruh yang hadir di ruang pertemuan istana.
Di sela perbincangan hangat berlangsung.
Sejenak Prayoga berdiam dan menarik nafas panjang dengan wajah sedikit berubah.
"Walau pun kemenangan bisa di raih dengan korban jiwa yang sedikit di pihak kita, tapi............." Prayoga kembali terdiam sejenak memejamkan matanya supaya air mata tidak berlinang.
Tangan Permaisuri menggenggam tangan Prayoga lalu menciumnya, Memberikan kekuatan untuk melanjutkan cerita pilu di dalam kebahagiaan yang didapatnya.
Prayoga membuka matanya kembali, Dan sedikit memaksakan senyumannya tuk menghargai permaisuri yang mencoba menguatkan hatinya, lalu melanjutkan ceritanya.
"Kebahagiaan ini harus di bayar dengan hilangnya sosok pahlawan tercinta kita Panglima Besar Kusuma yang gugur di medan pertempuran." Air mata Prayoga tak mampu di bendung lagi.
Terdengar Isakan tangis Prayoga yang sedikit di tahan, Namun terdengar oleh semua yang ada di ruang istana.
Dalam pikir Prayoga terlintas kenangan masa hidup kusuma, Dia Panglima perangnya yang setia, sekaligus sahabatnya sejak kecil.
__ADS_1
"Kesetiaan dan keberanian kusuma patut kita teladani, bahu membahu memperjuangkan kebenaran, Tak pernah sekali pun dia mengeluh akan lelahnya tanggung jawab yang di embannya, Demi kepentingan membela rakyatnya, Terkadang dia lupa bahwa dia adalah sosok ayah dari istri yang di cintainya dan sosok ayah dari putra putri yang di sayanginya." Prayoga terbata bata menceritakan kisah hidup kusuma yang semasa hidupnya selalu ada di sampingnya suka maupun duka menjalankan roda kerajaan menjadi besar, adil dan makmur.