Sang Panglima Bayangan

Sang Panglima Bayangan
Uji Tanding Tama yang menyakitkan


__ADS_3

Pasukan kerajaan Anarki terus bergerak menuju benteng pertahanan kerajaan Tur, Ribuan bahkan Puluhan Ribu prajurit kerajaan Anarki terbantai diperjalan oleh gerilyawan aliansi, namun hal itu tidak berdampak besar pada pasukan inti kerajaan Anarki.


Tak lama pasukan kerajaan Anarki telah tiba di benteng terluar kerajaan Tur, Terompet panjang sahut menyahut dibunyikan pertanda musuh telah tiba hingga suara itu terdengar ke istana kerajaan Tur.


Para Pemimpin Aliansi segera melesat ke arah benteng pertahanan terluar dengan menggunakan ajian meringankan tubuh, hanya membutuhkan 3 jam saja mereka sudah berada di atas benteng yang kokoh.


Terlihat dari arah musuh berjalan Tiga ekor kuda gagah yang ditunggangi pendekar pendekar berjirah warna hitam.


"Buka gerbang", Perintah Kusuma kepada prajurit penjaga gerbang.


Kreeeeeeeeeeeekkkkkkk


(suara bunyi gerbang terbuka).


Tak lama terlihat keluar 3 ekor kuda putih yang ditunggangi sosok pendekar pendekar berjirah putih, Merka mendekati 3 pendekar jirah hitam.


Mereka bertemu di tengah lapangan besar.


"Salam Panglima Xerox, Tidak bisa kah semua ini diselesaikan dengan cara damai?". Ucap salah satu pendekar jirah putih yang tak lain Prayoga.


"Suatu kehormatan bisa berhadapan kembali dengan Raja Prayoga Sang Panglima Strategi".Ucap Panglima Perang Xerox dengan sinis.


"Tunduklah pada Caesar kami, maka perang ini tidak perlu terjadi". Tambah Xerox sambil tersenyum kecut.


"Mimpi Raja mu terlalu berlebihan, apa pun yang terjadi kami tidak akan pernah tunduk pada Rajamu". Jawab ketus Prayoga.


"ha ha ha ha kalau begitu siapkan kuburan masal tuk kalian semua". Ucap Xerox sambil pergi berbalik menuju pasukannya dan di ikuti kedua pendekar jirah hitam di sampingnya.


Begitu juga Prayoga dan temannya segera kembali masuk ke dalam benteng.


Terompet besar pun berbunyi kembali, tanda perang besar dimulai.


"Prajurit pemanah dan catalpul bersiap". Teriak panglima perang kerajaan aliansi yang sudah berada di atas benteng.


####


Di Gunung Nagara Siang Padang, terlihat beberapa orang sedang berkumpul sambil berbincang santai.


"Anaking Tama tak terasa sebentar lagi waktunya Anaking kembali ke istana". Ki Jati membuka suara.


Tama yang mendengar hal itu menganggukan kepala.

__ADS_1


"Hanya tinggal beberapa macam ajian langka belum Anaking kuasai, setelah Anaking kuasai semuanya, maka saat itu Anaking harus turun gunung dan berkelana lah mencari pengalaman, karna hal itu sangat penting buatmu tuk menghadapi Jiwa Raja Kegelapan yang sangat sakti mandraguna kelak". Ucap Ki jati sambil mengelus kepala Tama.


"Eyang tidak ikut denganku berkelana?". Tanya Tama.


"Tidak nak". dijawab dengan singkat.


"Apa Eyang tidak merasa kesepian di sini sendirian?". Tanya Tama dengan nada khawatir.


"He he he Anaking, Eyang sudah lama hidup di dunia ini, hiruk pikuk keramaian, berbagai macam pertarungan telah Eyang rasakan, hhhhmmm saat ini Eyang hanya ingin selalu mendekatkan diri pada yang Kuasa." Jawab Ki Jati yang memang usianya sudah sangat sepuh namun tubuhnya terlihat kuat.


"Apa dunia ini terasa membosankan buat Eyang?". Tanya Tama.


Ki Jati menceritakan sebagian kisah hidupnya untuk dijadikan pengalaman dan pembelajaran hidup tuk Tama yang masih belia, Tama dan Ki Joko mendengarkan dengan seksama, sesekali Tama bertanya dengan penuh candaan karna sifat yang masih polos.


"Ingatlah Anaking jangan pernah mengikuti hawa nafsu dunia demi keserakahan sesaat". pepatah Ki Jati.


"Banyak manusia yang menginginkan keabadian dalam hidupnya tapi pada akhirnya mereka menyesali diri karna merasa sedih serta kesepian di tinggal orang orang yang dikasihinya, itulah di sebut dengan keserakahan diri". Lanjut pepatah Ki Jati.


sesaat terdiam semua, sampai suara Ki Jati memecahkan kesunyian itu.


"Anaking sebelum melanjutkan mempelajari Ajian yang lain, coba Eyang ingin berlatih tanding denganmu". Pinta Ki jati.


"Baik Eyang". Jawab Tama, langsung melesat menuju area yang cukup luas dengan Ajian Kidang kuningnya, di ikuti oleh Ki Jati dan Ki Joko, sementara Dayang yang selalu setia menemani saat Tama terbujur kaku hanya bisa menunggu di gazebo.


"Baik Eyang". Jawab Tama sambil bersiap dengan kuda kudanya.


"Terimalah ini Ajian Lampah Lumpuh, Peremuk Tulang". Serangan kepalan tangan Ki jati yang di aliri Tenaga dalam hanya 20% saja melesat cepat mengarah ke bagian kepala Tama.


Tama yang terlihat kaget hanya bisa tercengang dan mencoba menahan sekuat tenaga.


"Ajian Tunggeng Mogok, Pengunci Raga". Tama mengayunkan kedua tangan dengan aliran tenaga dalam penuh.


Walaupun tubuh Ki Jati terasa kaku karna terkunci oleh ajian Tunggak Mogok, namun dengan pengalaman tarung serta tenaga dalamnya yang tinggi mampu melepaskan kuncian itu.


Duaaaarrrrrrr


Kedua pukulan beradu hebat menimbulkan efek kejut kehancuran di sekitarnya, Tama yang menerima pukulan hebat tersebut mundur hampir 20 langkah, sedangkan Ki Jati berdiri tegak tanpa sedikitpun tubuhnya goyah.


Terlihat Tama menyeringai dan mengibaskan kedua tangannya yang terasa sakit.


"Eyang kenapa tidak memberi aba aba dulu sebelum menyerang". Tanya Tama penuh heran.

__ADS_1


"he he he he Anaking dalam pertarungan semua hal akan dilakukan tanpa perlu menunggu aba aba, jadi setiap langkah kakimu harus selalu dalam keadaan waspada". Jawab Ki jati sambil mengelus janggut putihnya.


Tama yang merasa kesal langsung menyerang Ki Jati.


"Ajian Pedang Gaib, Seribu Pedang malaikat".


Tama mengeluarkan ajian jarak jauhnya berupa cahaya yang membentuk 1000 buah pedang yang mampu dikendalikan oleh telunjuk tangan Tama.


Ki Jati mencoba bertahan oleh serangan mendadak dari Tama, beberapa kali Ki Jati berkelit kelit menghindari cahaya cahaya pedang yang menghunus tajam ke arahnya.


Tak lama Ki Jati merapalkan Ajiannya.


"Ajian Rongrong, menyatu dengan Alam".


Tubuhnya seketika hilang kedalam tanah, cahaya seribu pedang hanya terbang berputar putar tanpa arah, Tiba tiba dibelakang Tama muncul Ki Jati dengan mengepalkan tangannya


"Ajian Lampah Lumpuh, Peremuk tulang"


Tama yang sedang berfokus mengerahkan tenaga dalamnya pada ajian seribu pedang malaikat, sama sekali tak menyangka kehadiran Ki Jati dibelakangya dan menerima pukulan telak di punggungnya.


"Aaarrrrggggggggg". Pekik keras Tama saat menerima pukulan Ki Jati, Tubuh Tama terlempar jauh kedepan dengan tubuh bagian depan mendarat pada pohon besar.


Tama tak mampu berdiri, seluruh organ dan tulang didalam tubuhnya hancur.


Ki Joko kaget dengan apa yang dilakukan Ki Jati sangat keterlaluan.


"Apa Sesepuh ingin membunuhnya dengan ajian itu". Teriak Ki joko yang merasa kesal dan segera menghampiri Tama yang sudah tak bergerak.


Tak Lama Ki Jati telah berada di dekat Tama dengan Ajian Kidang Kuningnya.


Melihat Ki joko memeluk tubuh Tama maka Ki Jati meminta melepaskan tubuh Tama dari Ki Joko, Ki Joko pun menuruti kata Ki Jati dengan penuh heran.


Tama hanya bisa menatap tajam ke arah Ki Jati yang merasa tubuhnya telah di hancurkan secara sengaja.


"Anaking di dunia persilatan ini akan jauh lebih kejam saat bertarung dibandingkan kejadian uji tanding ini". Ucap Ki jati sambil mengelus kepala Tama.


"Eyang,,, Apa maksud semua ini?". Tanya Tama tanpa bisa mengerakan apa pun ditubuhnya kecuali mata dan bibirnya.


"Sesepuh tolong segera obati Nak Tama". Pinta Ki Joko.


Ki Jati mengelengkan kepalanya sambil mengelus janggut panjangnya.

__ADS_1


"Maksud sesepuh dengan menggelengkan kepala, apa tak bisa di obati?". bentak Ki Joko penuh amarah dan sudah terlihat bersiap menyerang Ki Jati.


"Selama ini tak ada manusia yang mampu bertahan oleh Ajian Lampah Lumpuh ini, Kecuali............... ". Sejenak Ki Jati berhenti berbicara sambil menoleh ke wajah Tama yang sedang menahan sakitnya.


__ADS_2