
"Apa syarat yang kamu minta Panglima Strategi." Jawab Xerox dengan nada tinggi karna merasa terhina.
"Pertama : Mengambil alih tanah jajahan darimu sampai ke Kerajaan Armen."
Kedua : Melucuti senjata kalian sampai perbatasan kerajaan Armen, setelah itu kami akan memberikan sebagian senjata kalian."
"Ketiga : Tidak ada peperangan antara kerajaan aliansi dengan kerajaan Anarki selama 3.600x Terbit Matahari (10 tahun)."
"Aku bisa menyetujui keinginan mu yang pertama dan ketiga, tapi yang kedua sangat mustahil." Jawab xerox dengan wajah memerah menahan emosi.
"Syarat Mutlak yang kamu harus jalankan." Prayoga dengan Tegas.
Terlihat Xerox ingin menolaknya sekaligus menjaga martabat dirinya, Namun terlintas pikirannya, Dengan mental pasukan yang sedang hancur maka pasukannya akan mengalami kekalahan bila terjadi pertempuran.
"Bagaimana aku yakin, pasukanmu tak akan menyerangku saat senjata itu di lucuti." Xerox mencari alasan diri menghibur hati tuk menutupi aib yang diterimanya saat ini.
"Aku bertanggung jawab penuh atas perintah ini, dan kamu tau bahwa aku bukan seorang pengecut seperti itu." Prayoga meninggikan nadanya yang merasa di lecehkan.
Sejenak Xerox berpikir kejadian masa lalu tentang jiwa ksatria prayoga yang tidak membantai pasukannya yang menyerah.
"Baiklah aku percaya padamu, aku akan kumpulkan semua senjata pasukanku di tengah arena ini sebelum matahari terbenam dan mundur serentak ke perbatasan kerajaan Armen." Jawab Xerox sambil berbalik pergi menuju pasukannya, Rasa malu tuk ke dua kalinya Xerox rasakan kekalahan telak dari Prayoga.
#####
Di istana kerajaan Cakrabuana terlihat perbincangan hangat yang damai, Setelah mendapatkan kabar kemenangan yang mengejutkan dari pasukan aliansi, Namun mereka tidak mengetahui bahwa Panglima Kusuma gugur di medan perang.
"Tak ku sangka secepat ini kemenangan kita dapatkan dari pasukan besar musuh." Kuntala mengucapkannya dengan penuh bangga.
"Aku pun sama kakang, Kehebatan Strategi Raja kita memang tiada tanding saat ini, Kerajaan terkuat sekali pun telah dua kali di permalukan oleh kecerdasan yang mulia Prayoga." Dengan bangga Jendral Mada mengagumi kehebatan kakaknya di hadapan para pejabat kerajaan yang sedang berkumpul.
"Hulubalang,,, Siapkan pesta penyambutan yang mulia dan rombongan dengan baik." Tambah Mada tersenyum bahagia, ingin menyambut sosok pahlawan kebanggaannya.
"Laksanakan Pangeran." Jawab Hulubalang sambil mengepalkan tangan di dadanya.
###
Sementara di Gazebo pelataran belakang istana sedang berkumpul beberapa sosok manusia yang membahas pengalaman Tama di Gunung Nagara Siang Padang.
"Kakang Tama sekarang sudah melebihi Rayi." Wira sangat antusias mendengar kakaknya sudah berada pada tingkat Awan Tahap 5, sedangkan Wira dengan Hawa Emas yang begitu istimewa baru mencapai tingkat Awan Tahap 4.
Tama menganggukan kepala dan tersenyum, "Rayi juga hebat, Hanya dengan puluhan terbit matahari sudah mencapai tingkat Awan tahap 4, sudah menguasai beberapa Ajian tingkat legenda." Tama berbalik memuji adik yang disayanginya.
"Kakang bagaimana kalo kita uji tanding." Pinta Wira.
Tama tak bisa menjawab, hanya melirik ke arah Ki Jati menunggu ijin permintaan adiknya tersebut.
Ki Jati menganggukan kepala sambil terlihat mengerak gerakan tasbih di tangannya.
"Baiklah Rayi, Kakang akan mencoba ajian hebat yang Rayi kuasai."
__ADS_1
Mereka semua berdiri dan melangkah menuju lapangan luas.
Terlihat Tama dan Wira sudah berhadapan, dari kejauhan terlihat Ki Jati, Ki Joko dan Ki Alam yang berdiri menyaksikan uji tanding ke dua pangeran kerajaan.
"Jangan sungkan, keluarkan semua kemampuanmu Rayi."
Wira mengangguk.
Mereka bersiap dengan kuda kuda yang kokoh, Keduanya hanya menguasai Ajian tangan kosong dan belum sempat di ajarkan Ajian yang memakai senjata.
"Bersiaplah kakang."
Tiba tiba Wira mengepalkan tangannya, mengkombinasikan dua Ajian menyerang dengan cepat ke arah Tama,
"Ajian Saifi Angin"
"Ajian Brajamusti, Tapak Api."
Wuuuuuussssss
Tama sebetulnya mampu tuk menghindar, Namun Tama ingin merasakan kekuatan Ajian yang Wira kuasai, Dengan segera Tama merapalkan Ajiannya untuk menahan sarangan Telapak tangan wira.
"Ajian Waringin Sungsang, Menahan Badai."
Duaaaaaarrrrrr
Tama hanya bergeser sedikit dari posisinya sedangkan Wira terpelanting beberapa langkah ke belakang.
"Waaaahhh Ajian Kakang hebat, Rayi akan lebih serius menyerang kakang, Beriaplah." Wira memberi peringatan pada kakaknya.
Wira bersiap menyerang Tama dengan serius, terlihat Hawa Emasnya melindungi tubuh Wira.
Melihat hal itu, Tama memasang kuda kuda dengan sigap penuh waspada.
Tiba tiba tubuh Wira menghilang dari pandangan, dalam sekejap sudah berada di belakang Tama.
"Ajian Tapak Harimau, Membelah Jiwa."
Tama yang sudah waspada, Merasakan hawa besar dari belakangnya dan menghindar ke kanan sehingga serangan Wira menebas ruang kosong.
Berbagai Ajian sudah Wira rapalkan, Namun belum juga mampu menyentuh tubuh Tama yang selalu bertahan dan menghindar.
"Apa Ajian Kakang hanya untuk menghindar saja?." Pancing Wira.
Tama hanya tersenyum yang mendengar provokasi dari adiknya.
Dalam sekejap di sekitar Tama muncul ratusan cahaya berbentuk pedang.
"Ajian Pedang Gaib, 1000 Pedang Malaikat."
__ADS_1
Jari Tama mengerahkan cahaya berbentuk pedang ke arah Wira, Dengan segera ratusan cahaya pedang yang berada di sekitar Tama melesat ke arah Wira.
Wira yang merasakan bahaya datang, Segera merapalkan ajian bertahannya.
"Ajian Benteng Topan melanda samudra."
Terdengar suara dentumam berkali kali, Ratusan Cahaya Pedang mampu di tahan oleh angin topan yang berputar kencang mengelilingi tubuh Wira.
Melihat Wira sedang fokus bertahan pada serangan ratusan cahaya pedangnya, Dengan segera Tama merapalkan ajian jarak dekatnya.
"Ajian Rongrong, Menyatu dengan alam."
Tama yang merapalkan ajian tersebut, Tiba tiba Hilang dari pandangan penonton, Dan muncul di belakang Wira.
"Ajian Lampah Lumpuh, Peremuk Tulang."
Tama menyerang punggung Wira dengan pukulan dahsyatnya.
Boooommmmm
Tubuh Wira terpental sangat jauh hingga membentur pohon besar yang kokoh.
Terlihat tubuh Wira ambruk, namun tak lama kemudian dia berdiri sempoyongan sambil menyeka darah di bibirnya.
Penonton yang melihat, Cukup kagum dengan dua sosok pangeran kerajaan yang sangat berbakat dalam bela diri.
"Andaikan Pangeran Wira tidak di lindungi hawa emas di tubuhnya, Sudah pasti tubuhnya akan hancur." Ki Jati memprediksi keadaan serangan dari Tama.
"Aku pun berpikir seperti itu Sesepuh." Ki Alam pun menyetujui ucapan Ki Jati.
"Bila Pangeran Tama sudah mampu mengendalikan Pusaran cahaya di dalam tubuhnya, Hawa Emas milik Pangeran Wira tidak akan mampu menghadapi setiap serangan Pangeran Tama." Tambah Ki Jati memperingatkan kekuatan tersembunyi milik Tama.
Di lapangan tengah sedang terjadi jual beli Ajian dari kedua pangeran, Sudah hampir semua Ajian yang dimiliki mereka rapalkan tuk saling menyerang, Hingga Akhirnya Wira semakin terpojok oleh serangan demi serangan Tama.
Saat mereka sedang merapalkan Ajian jarak jauhnya, Tiba tiba terdengar suara dari Ki Jati.
"Cukup sudah uji tandingnya."
"Kalian telah merapalkan semua ajian yang kalian kuasai."
Tama menghela nafas panjang, lalu menghampiri adiknya.
"Apa Rayi baik baik?." Tama Merasa khawatir adiknya terkena luka dalam yang cukup parah.
"Aku baik baik saja kakang." Wira menjawab dengan tangan masih di dadanya, Menahan rasak sakit dari setiap pukulan yang di terima dari Tama.
Tama merasa bersalah, melihat adiknya berbohong karna melihat kondisi adiknya terlihat terluka dalam cukup parah.
"Maafkan Kakang terlalu bersemangat dalam uji tanding ini." Dengan penuh salah Tama memeluk tubuh adik tersayangnya.
__ADS_1