Sang Panglima Bayangan

Sang Panglima Bayangan
Berkelana bersama Dewa Katana


__ADS_3

"Tentu saja Nanda bisa menggunakan ajian itu, caranya cukup dengan membayangkan tempat yang di tuju." Jawab Eyang Jabar sambil mencubit hidung Tama yang mancung.


Setelah itu, Eyang Jabar memasukan tangan ke kantong bajunya, lalu memberikan suatu barang berbentuk tasbih kecil berwarna putih mengkilat penuh cahaya yang sangat harum kepada Tama.


"Pakailah ini di tangan kanan mu nak, jika berjodoh Tasbih ini akan menyerap masuk dalam pergelangan tanganmu dan akan membentuk Rajah butiran tasbih putih di kulit pergelangan tanganmu." Eyang memberikannya pada Tama.


Tama memasukan tasbih itu ke tangan kanannya, lalu perlahan tasbih itu bersinar dan menghilang di pergelangan tangan kanan Tama, kemudian muncul Rajah bentuk tasbih di kulit pergelangan tangan kanan Tama, tercium bau harum di seluruh tubuhnya, Tama hanya menggerak gerakan pergelangan tangan di depan matanya sendiri penuh heran.


Eyang Jabar telah memberikan semua apa yang di milikinya untuk murid kesayangannya, namun melihat kepolosan muridnya dan kurangnya pengalaman, membuat rasa ragu serta khawatir melepaskan muridnya ke dunia luar yang penuh tipu muslihat.


"Apa kegunaan dari ini Eyang?." Tama menunjuk tasbih di pergelangan tangannya.


"Tentu Eyang akan memberitahukan kegunaan itu." Tunjuk Eyang Jabar ke arah pergelangan tangan Tama.


Sejenak Eyang Jabar terdiam seperti melamun, lalu menarik nafas panjang, tak lama kemudian tatto/rajah tasbih di tangan Tama bersinar terang.


Tama yang bingung dengan munculnya sinar putih pada rajah tasbih secara tiba tiba, memutar pergelangan tangan di depan matanya.


Tak lama kemudian satu sosok manusia berbaju hitam putih sudah ada di hadapan Eyang Jabar dan Tama.


Tama yang sangat kaget kedatangan itu, Berteriak, "Aaaahhh Eyang makhluk apa itu." Reflek meloncat penuh ketakutan memeluk Eyang jabar.


Eyang Jabar yang melihat tingkah laku muridnya yang lucu tak mampu menahan tawa nya.


"Ha ha ha ha......."


Tama yang masih memeluk Eyang Jabar, hanya memandang sosok manusia di hadapannya.


"Syeikh" Sosok baju hitam putih itu memberikan penghormatan kepada Syeikh Jabar, sekaligus melirik sinar putih Rajah tasbih di tangan bocah kecil, lalu kembali menatap Syeikh Jabar penuh bingung.


Syeikh Jabar hanya menganggukan kepalanya.


"Ketua." Sosok baju hitam putih kembali Menundukan kepala, ke arah Tama.


Tama yang makin bingung, memandang Eyang Jabar.


"Kejutan apa lagi yang Eyang berikan pada Nanda." Tanya Tama sambil menggeser tubuhnya ke samping Eyang Jabar, tapi tangannya tetap memegang erat tubuh Eyang Jabar dengan wajah bingung.


Melihat wajah lucu muridnya, Eyang Jabar tak henti hentinya tertawa senang.


Lalu Eyang Jabar menjelaskan kegunaan dari tasbih putih di pergelangan tangan Tama adalah simbol Pimpinan dalam kelompok yang sudah berdiri ratusan tahun yang lalu, Ketua terakhirnya adalah murid utama Eyang Jabar yang ikut mengorbankan diri tuk menyegel Roh Jiwa Kegelapan, kelompok ini sendiri mempunyai misi memusnahkan Setan gober dan Roh Jiwa Raja Kegelapan serta para pengikutnya.


Kelompok yang di beri nama 9 Naga, terdiri dari seorang ketua yang wajib menguasai Pedang Dzulfikar dan Kitab Nur Muhammad, serta beranggotakan 9 pendekar sakti.


Walau pun Tama masih belia namun menjadi pewaris dari 2 Pusaka Langka, menjadikan syarat mutlak menyandang ketua dari kelompok 9 Naga, di perkuat dengan berjodohnya tasbih kecil menjadi Rajah di pergelangan tangan Tama.


Selesai menjelaskan tentang Tasbih kecil kepada Tama, Lalu Eyang Jabar mengenalkan sosok yang ada di depan mereka.


"Ini Adalah salah satu anggota 9 Naga bernama Musashi dari kerajaan Matahari, yang di juluki Dewa Katana." Ucap Eyang menunjuk sosok baju hitam putih.


"Salam Hormat kepada Paman Musashi." Tama memberi penghormatan.


Eyang Jabar sengaja mengundang Musashi datang, untuk mendampingi sekaligus melindungi ketuanya berkelana ke dunia luar.


"Sudah saatnya Nanda berkelana menambah pengalaman hidupmu, yang akan di dampingi oleh paman Musashi." Ucap Eyang Jabar menutup percakapan.


***


Beberapa waktu berlalu Tama dan Musashi pun pamit kepada Eyang Jabar tuk undur diri menjalankan misi yang lama tertunda.


Tama dan Musashi berangkat dengan kuda terbaik yang di miliki padepokan Eyang Jabar menuju kota terdekat yang membutuhkan waktu 1/2 terbit matahari dengan memakai kuda.

__ADS_1


Di perjalanan mereka bercerita panjang tentang segala pengalaman yang sudah di lalui Musashi, Hingga tak terasa sudah memasuki gerbang kota yang di jaga para prajurit.


Mereka pun ikut antri tuk memasuki kota tersebut, waktu yang semakin gelap menjadikan prajurit mempercepat pemeriksaan di depan gerbang, tak lama Tama dan Musashi di periksa oleh para prajurit.


"Tanda pengenalnya Tuan?." Tanya salah satu prajurit.


Masashi segera mengeluarkan dan memperlihatkan tanda yang di minta prajurit tersebut.


"Apakah Tuan dari pedepokan Syeikh Jabar.?" Tanya prajurit.


Masashi hanya menganggukan kepalanya, lalu prajurit itu melapor pada komandannya.


Tak lama kemudian datang seorang komandan di dampingi 2 prajuritnya.


"Apa benar tuan dari pedepokan Syeikh Jabar.?" Tanya komandan memastikan kembali.


"Benar, Kami murid dari Syeikh Jabar." Jawab Masashi tegas.


Komandan pun mempersilahkan Masashi dan Tama mengikutinya ke pos penjagaan di dalam benteng, lalu komandan itu memperkenalkan diri bernama sadeq.


Sadeq sebenarnya berencana datang ke padepokan Syeikh Jabar untuk meminta bantuan.


Sadeq pun menceritakan, beberapa waktu lalu di kota ini sudah 3x matahari terbenam selalu di serang oleh para siluman dan beberapa pendekar muda belia, mereka menculik para pendekar yang terlihat tanpa sebab.


Mendengar cerita itu, Masashi meminta ijin tuk membantu kota ini dan di setujui oleh Tama.


Disaat Sadeq bercerita panjang lebar, terdengar suara lolongan srigala di ikuti langkah seorang prajurit yang terlihat panik.


"Komandan, mereka datang lagi." Sambil menunjuk ke arah luar.


Mereka pun segera beranjak keluar.


Begitu di luar gerbang sudah terlihat ratusan Prajurit, yang sedang bersiap menghadang puluhan pemuda belia serta ratusan siluman berwujud anjing hitam besar.


Tak lama mereka menyerang ke arah prajurit penjaga yang sudah siap dengan tombaknya, Tama dan Masashi yang melihat itu segera melesat kedepan menghadapi musuh.


Traaang,


Traaang,


Traaang.


Suara Katana Musashi beradu dengan beberapa pedang musuh.


Sedangkan Tama bergerak menerobos kawanan musuh menuju ketua kelompok mereka.


"Ho ho ho bocah kecil ini datang tuk jadi persembahan junjunanku." Ucap ketua mereka yang bernama Sanjaya sambil bergerak menghindari serangan Tama.


"Hanya itu kemampuanmu bocah, lebih baik serahkan tubuhmu, ku jamin kematian segera menghampirimu." Sajaya segera melesat dengan goloknya menyerang Tama.


Tama yang belum mengeluarkan pedangnya hanya bisa menghindari serangan golok Sanjaya yang membabi buta ke arah kepalanya.


Melihat serangannya dapat di hindari Tama, Sanjaya terpancing emosinya dan segera menyerang kembali.


"Ajian Golok Neraka."


Sanjaya terbang ke atas lalu kemudian menukik turun dengan golok di penuhi api mengarah kepala Tama.


Tama menghindari serangan golok Sanjaya ke samping kanan.


Wuuusssss.

__ADS_1


Golok itu hanya membelah angin, Namun dengan kemampuan pengalaman tarung Sanjaya yang sudah malang melintang, segera mengarahkan Pukulan tangan kirinya dengan kekuatan penuh ke tubuh Tama, saat pukulan itu membentur tubuh Tama, secara bersamaan Rajah Kala Cakra bersinar di dadanya dan bereaksi menjadi tameng tubuhnya.


Buuuuukkk.


Tubuh Tama terpental, merobohkan sekelompok musuh yang sedang bertarung dengan Masashi.


Melihat hal itu Masashi segera mendekati Tama tuk melindunginya.


Sanjaya terkejut pukulannya tak menghancurkan tubuh bocah itu, bahkan tidak mampu melukainya.


Masashi yang sedang melihat kondisi ketuanya, tiba tiba berbalik arah dan melihat ke atas, muncul serangan golok penuh api dari atas mengarah mereka.


Masashi tidak mungkin menghindari serangan musuh karna sedang melindungi ketuanya, bertahan pilihan terbaik tuk menahan serangan Sanjaya dengan Katananya.


Traaaang.


Duaaaarr.


Benturan kuat dua senjata membuat Sanjaya terpental beberapa tombak, sedangkan Masashi tak sedikit pun bergerak.


"Ketua." Masashi kembali memastikan ketuanya.


"Aku tidak apa apa paman." Jawab Tama sambil kembali berdiri, sekaligus heran tidak merasakan sakit apa pun di tubuhnya.


"Biar aku yang menghadapi pendekar golok itu, dan ketua menghadapi sekelompok itu." Tunjuk Masashi lalu melesat dengan cepat ke arah Sanjaya.


Tama yang menyadari kalah pengalaman dari pendekar golok itu, menuruti permintaan Masashi dan segera merapalkan kombinasi ajian jarak jauhnya.


"Ajian Pedang Gaib, Energi cahaya pedang."


"Ajian Pedang Gaib, 1000 Pedang Malaikat."


Muncul ratusan cahaya berbentuk pedang dan melesat ke arah kelompok musuh dengan kendali jari kiri Tama, sedangkan tangan kanannya mencabut pedang lalu melesatkan sinar cahaya besar ke arah kelompok musuh.


Ratusan siluman dan pendekar musuh menjadi abu oleh serang, Melihat itu sisa kelompok musuh mundur sambil menghindari serangan pedang Tama.


"Matilah kalian semua." Teriak Tama mulai di selimuti hawa emas sambil menggerakkan jari dan tangannya.


Ratusan Cahaya pedang yang tadi berputar putar, kembali menyerang ke arah sisa kelompok musuh yang mundur.


Teriak kesakitan terdengar dari arah kelompok musuh, Satu persatu mereka mulai tumbang menjadi abu, sampai kelompok itu habis tak tersisa.


Sanjaya yang sedang terpojok oleh serangan Masashi, makin tidak fokus melihat kelompoknya terbantai jadi abu oleh bocah yang di anggapnya remeh.


Masashi melihat Sanjaya lengah, segera menyabetkan katananya dengan ajiannya, "Pedang Pembunuh Iblis".


Sanjaya yang kaget melihat kecepatan serangan Masashi, segera menaikan goloknya untuk menahan serangan Masashi, Saat katana itu hampir berbenturan dengan golok Sanjaya, tiba tiba berbelok arah ke samping.


Sreeeeettttt.


Katana Masashi menebas lengan kanan Sanjaya dari samping hingga terlepas dari tubuh Sanjaya.


"Aaaaaarrrrrrggggggggg."


Teriak Sanjaya sambil melompat ke belakang menotok tubuh kanannya.


Kondisi yang tidak menguntungkan, Sanjaya menoleh kanan kiri, lalu melesat hilang di telan kegelapan malam.


"Aku akan kembali membalaskan semua ini." tinggal suara Sanjaya yang terdengar.


Masashi segera menghampiri Tama yang masih berdiri waspada.

__ADS_1


"Ketua." Masashi melihat Tama.


"Ayo Paman, Kita lihat keadaan para prajurit." Tama melesat ke belakang menuju kerumunan prajurit penjaga.


__ADS_2