Sang Panglima Bayangan

Sang Panglima Bayangan
Kemarahan Tama


__ADS_3

"Dalam Rombongan itu tidak ada yang selamat, Kecuali seorang prajurit pengawal pribadi kakakku yang terluka parah, Membawa selamat seorang bayi mungil laki laki sampai ke istana ini." Prayoga kembali mengingat rasa sedih yang begitu dalam atas kejadian itu.


Semua yang hadir terdiam, Tak ada satu pun yang membuka suara setelah mendengar penjelasan dari Prayoga, Pikiran mereka kembali mengingat kejadian yang memilukan itu.


Tiba tiba Ki Jati menoleh ke arah pintu dengan waspada, Tak lama kemudian terdengar pekikan keras dari balik pintu.


"Aku merasakan Hawa Hitam Pekat milik Jiwa Raja Kegelapan." Suara Ki Jati yang langsung segera melesat cepat ke arah pintu.


Duuaaaarrrrrrrr


Pintu itu hancur berkeping keping oleh pukulan Ki Jati, Semua orang yang ada di dalam ruangan sangat terkejut sekaligus panik, Melihat apa yang dilakukan Ki Jati.


Tak lama kemudian muncul suara benturan keras dari luar ruang baca khusus istana.


Duuuuaaarrrrr.


Mada belum paham dengan situasi yang terjadi, Di perintahkan Prayoga untuk melindungi Permaisuri, Dengan Sigap Mada melindungi Permaisuri dengan tenaga dalamnya untuk membuat pertahanan, Sedangkan Prayoga melesat keluar mengikuti Ki Jati yang telah dulu keluar dari ruangan.


Saat berada di luar ruangan, Prayoga melihat 4 tubuh penjaga pintu terbujur kaku, Dengan Keadaan hanya tinggal kulit dan tulang seperti terhisap sesuatu.


"Apa yang terjadi." Teriak Prayoga yang melihat Wira ambruk di tepi tembok dalam istana.


Wira yang merasakan tubuhnya terkena serangan hanya bisa menjawab, "Kkakang." Sambil menunjuk tembok yang hancur, lalu tak sadarkan diri.


Tak lama kemudian semua pejabat dalam istana sudah berada di tempat itu.


"Tabib Kuntala bawa Rayi Wira ke tempat pengobatan, Nyai Inggit jaga permaisuri dan suruh Patih Mada menyusulku." Titah Prayoga penuh dengan kepanikan.


"Hulubalang antarkan para anggota keluarga yang ada di istana, Untuk berkumpul di gazebo belakang istana." Tambah Prayoga


"Kalian ikut aku." Tambah Prayoga kepada 3 penasehat dan para senopati.


Prayoga segera melesat ke arah tembok yang hancur, Di ikuti oleh orang orang yang ada di sana.


Sesampainya di luar, Prayoga melihat Ki Jati sedang bertarung dengan Tama yang sedang dirasuki hawa Kegelapan.


"Apa yang sebenarnya terjadi." Prayoga merasa heran dengan kejadian yang di lihatnya, Dan memerintahkan semua yang ada di sana tuk bertahan menunggu situasi selanjutnya.


Melihat Tama yang tubuhnya sudah di selubungi sinar hitam pekat dengan mata hitam legam membuat merinding yang melihatnya.


Ajian demi ajian di rapalkan oleh Ki Jati dan Tama yang terlihat mulai tak seimbang, Ki Jati mulai terpojok oleh setiap serangan Tama.


Tama memberikan senyuman yang mengerikan saat melihat Ki Jati dalam keadaan bertahan, Segara Tama menyerang dengan ajian jarak dekatnya.


"Ajian Rongrong, Menyatu dengan alam."


Dan seketika muncul di belakang Ki jati, lalu telapak tangan Tama mengembang mengarah kepala Ki Jati.


Tubuh Ki Jati yang sudah terkunci, tak mampu berbuat banyak selain membalikan tubuhnya dan menahan serangan Tama dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Tubuh Tama yang sudah di rasuki Jiwa Raja Kegelapan, Dengan mudah membelokan telapak tangannya mengarah kepala Ki Jati.


Kraaaaaakkkkk.


Telapak tangan kanan Tama mencengkram ubun kepala Ki Jati, Sedangkan tangan kiri Tama memegang bagian urat nadi tangan kanan Ki Jati.


Ki Jati yang sudah terkunci oleh Tama, Merasakan Energi intinya mulai terhisap oleh Tama.


"Aaaaarrrrrrgggggggggg." Teriak keras Ki Jati


Berusaha mengerahkan seluruh tenaga dalamnya tuk bertahan supaya energi intinya tak terhisap oleh Tama.


Prayoga yang melihat Ki Jati dalam keadaan berbahaya Spontan berteriak.


"Serang Pangeran Tama."


Segera melesat dengan cepat ke arah Tama dan di ikuti oleh yang lainnya.


Tama yang melihat serangan cepat berkelompok ke arahnya membuat keadaan tidak menguntungkan, Segera melepaskan cengkraman tangannya dari kepala Ki Jati dan dengan cepat menghindari serangan musuh musuh yang datang.


Tama Yang masih melayang di udara, Sangat Murka melihat sekelompok musuh sedang melindungi Ki Jati.


"Kurang Ajar, Kalian telah menggangguku menyerap energi makhluk rendahan itu." Tunjuk Tama pada Ki Jati.


"Terimalah ajal kalian semua." Lanjut Tama sambil merapalkan kombinasi ajian jarak jauhnya.


"Ajian Jari Iblis, Menjemput maut."


Tama menggerakkan telunjuk kanannya mengendalikan 1000 cahaya pedang yang di rapalkannya melesat ke arah musuh, sedangkan tangan kirinya menjentikan jarinya yang mengeluarkan beberapa lesatan api hitam dengan cepat ke arah musuh.


Di sisi lain Ki Jati yang sudah terluka parah, kaget melihat kemampuan Tama yang mampu mengeluarkan ajian putih dan hitam secara bersamaan.


Walaupun di sekitar Ki Jati terdapat 8 pendekar sakti yang membuat formasi pertahanan terkuat untuk melindungi mereka semua, Tapi Ki Jati sadar bahwa hal itu belum cukup kuat untuk menahan serangan Tama yang sedang dirasuki Jiwa Raja kegelapan.


Boooooooommmmmmm.


Suara benturan dari dua kekuatan besar menghancurkan hampir sebagian besar bangunan depan istana, Ribuan prajurit yang sudah siaga menunggu perintah dari Sang Raja, Mati dengan tubuh terbakar menjadi abu.


Begitu juga Ki Jati dan 8 Pendekar yang tak lain Prayoga, Mada, 3 Penasehat dan 3 Senopati pun tubuhnya ber terbangan bagai debu tertiup angin dan membentur tembok tembok kokoh istana.


Mereka semua mengalami luka dalam yang sangat parah dan tak mampu lagi berdiri.


Mereka terkapar di tanah, Tubuhnya tak mampu lagi di gerakkan, Hanya sorot mata yang terlihat pasrah dengan menatap Tama yang masih melayang di atasnya dengan tawa yang menyeramkan.


" Ha Ha Ha Ha Kalian semua mahkluk rendahan, Bermimpi sanggup melawanku." Tama Tertawa mendongak ke langit, Sambil kedua tangannya mulai mengeluarkan sinar Hitam Pekatnya.


"Rasakan ini dan Sampaikan salamku untuk Malaikat pencabut nyawa". Tama mengembangkan kedua tapaknya lalu mengarahkan tapaknya ke arah Ki Jati.


Serangan sinar hitam dari tapak Tama melesat sangat cepat mengarah Ki Jati yang tak mungkin lagi di hindari.

__ADS_1


Ki Jati yang sadar serangan dahsyat Tama mengarah dirinya, Menutup mata sambil bibirnya berkomat kamit serta mencoba menggerakkan tasbih di tangannya.


Wuuuuuuuusssssshhhhhhhhhhhh.


Serangan Tama yang hampir mengenai tubuh Ki Jati (dalam jarak 1/2 tombak), Tiba tiba berbalik arah kembali pada Mpu nya dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari serangan awal.


Tama yang tidak menyangka serangannya akan kembali lagi pada dirinya, Tak sempat menghindar namun masih bisa menahan serangan tersebut dengan membuat tameng pertahanan untuk tubuhnya.


Duaaaaaaaaarrrrrrrrr


Benturan kekuatan beradu tanpa di sangka sangka, Tama pun terpelanting berjungkir balik di atas angin hingga tubuhnya berhenti setelah membentur pohon beringin.


Ki Jati yang telah pasrah, Membuka mata nya karna merasakan adanya Hawa energi besar yang menahan serangan Tama.


"Syeikh......" Pekik Ki Jati tak menyangka di saat suasana genting, Guru nya telah ada di depan mata.


"Hampir saja terlambat." Syeikh Abdul Jabar yang tak lain adalah guru besar dari Ki Jati.


Dan...


Wuuuuuuussshhhhh.


Tiba tiba tubuh Syeikh Jabar menghilang, Dan muncul tepat di depan Tama yang masih ambruk di tanah.


"Anak Dajjal tak pantas bersemayam di tubuh cucuku." Syeikh Jabar mengepalkan tangannya yang sudah di selubungi sinar cahaya, lalu memukulkan ke arah dada Tama.


Pekikan suara Tama memekakan telinga yang mendengarnya, Tama menahan rasa sakit dari serangan yang datang dari Syeikh Jabar.


"Aaaaaaaarrrrrgggggggg."


Tiba tiba langit yang cerah berubah menjadi gelap gulita, Angin sepoy berubah menjadi topan yang menderu, Awan hitam menurunkan petir petirnya ke segala arah.


Sejenak Syeikh Jabar melihat ke langit.


"Hhhmmm ternyata ritual pembangkitan Jiwa Raja Kegelapan sudah mencapai tahap ini." Gumam Syeikh Jabar.


Tak menyiakan waktu tuk menunggu amarah Jiwa Raja Kegelapan bangkit, Segera Syeikh Jabar berkomat kamit, Lalu di tangannya muncul sinar cahaya yang menyilaukan dan di arahkan ke dada Tama.


Tama yang tak mampu menahan serangan itu hanya mampu berteriak histeris, Mencoba menahan sinar cahaya masuk dalam tubuhnya, Namun makin Tama berontak, Semakin cahaya itu meresap masuk ke dalam tubuhnya.


kembali lagi Tama berteriak.


Aaaaaarrrrrrgggggggggg


"Tunggu pembalasanku Jabbbaaarrrr."


Tubuh Tama yang sebelumnya diselimuti sinar Hitam pekat dengan mata hitam legam, Perlahan hilang masuk ke dalam tubuh Tama di gantikan sinar cahaya yang keluar dari tangan Syeikh Jabar menyelimuti tubuhnya, Hingga akhirnya tubuh Tama terkulai tak sadarkan diri.


Perlahan langit yang gelap gulita berubah kembali cerah, Angin topan dan petir petir pun menghilang tanpa bekas.

__ADS_1


__ADS_2