Sang Panglima Bayangan

Sang Panglima Bayangan
Takluknya 2 Lelembut Sakti


__ADS_3

"Hhhhhmmmm bocah pewaris Rajah Kala Cakra ternyata, pantas si gondrong kesulitan Ha ha ha." Ucap Lodaya putih mengejek Singa Emas sambil menatap tajam Tama.


"Cuuuiiihhh jangan kau anggap enteng bocah di depanmu." Jawab Singa Emas menghampiri Lodaya putih.


"Hhhmmm Aku merasakan Energi kuat dalam tubuhnya, maka aku penasaran datang kesini."


"Hati hati, bocah ini mewarisi kitab Nur Muhammad seperti tuan kita dulu." Ucap Singa Emas penuh khawatir.


"Apaaaaa....."Lodaya Putih memperlihatkan ekspresi wajah takut.


Singa Emas hanya mengaggukan kepalanya.


Lodaya putih dan Singa Emas tak mau menyepelekan lagi musuh yang ada di depan matanya, berubah wujud jadi sosok manusia tua berambut putih dan emas.


Tama yang terkejut dengan datangnya se ekor harimau putih besar di selimuti api putih, segera bersiap siaga dengan kuda kudanya, "Kekuatan harimau putih itu satu tingkat di atas Singa Emas, bahkan aku tak mengetahui keberadaannya saat serangan datang." Gumam Tama.


"Heeeiii bocah, kenapa kamu melamun, Takut ya he he he." Lodaya terkekeh melihat Tama bengong.


"Ahhh Pa Tua, Aku pikir kalian suami istri, Singa Emas pejantan dan kamu betina nya He he he." Ejek Tama.


"Kurang ajar kamu bocah bau kencur." Jawab Lodaya dengan wajah memerah sedangkan Singa Emas mencoba menahan tawanya.


Lodaya bergerak menyerang dengan cepat, Tama yang menyadari tak mampu mendeteksi keberadaan serangan Lodaya, langsung menghindar mengikuti mata hatinya ke atas lalu kesamping secara zig zag.


Tama selalu menghindar dengan zig zag mengikuti hati nya saat serangan lodaya menghampirinya, karna Tama masih belum bisa membaca hawa keberadaan musuh setiap kali menyerangnya.


"Heeeiii bocah, mau sampai kapan kamu bermain main seperti itu he he he." Melihat Tama menghindar tak menentu arah.


Lodaya memberi kode, yang di balas dengan kode dari Singa Emas.


Singa Emas meloncat tinggi menyerang Tama, kali ini serangannya lebih lambat dari sebelumnya, Tama melihat itu segera merapal ajian "Rongrong, menyatu dengan alam." dan hilang dari pandangan Singa Emas.


Muncul kembali dengan tapak mengarah samping tubuh Singa Emas.


Ajian "Lampah Lumpuh, Peremuk Tulang."


Singa Emas yang menyadari keberadaan Tama di sampingnya, hanya tersenyum penuh makna sambil menggeser tubuhnya berhadapan dengan arah Tama berada, tanpa mencoba menghindari atau bertahan dari serangan Tama.


Sekilas Tama melihat senyuman itu penuh arti, namun Tama yang kurang pengalaman dalam bertempur, tak menghentikan serangannya terhadap Singa Emas.


Tiba tiba sebelum serangan itu telak mengenai tubuh Singa Emas, rambut Tama terjambak dari belakang dengan kepala terasa panas yang luar biasa.


"Aaaarrrrrggggggggg" Teriak Tama.


Merasakan kesakitan saat tubuhnya tiba tiba tak mampu bergerak, kepala dan tangannya di cengkram kuat dari belakang oleh Lodaya dengan Api putihnya.

__ADS_1


"Matilah bocah."


Singa Emas pun segera mengarahkan pukulan kanan dan kiri dengan api birunya ke tubuh Tama bertubi tubi.


Braaaaak.


Bruuuuuk.


Braaaaak.


Bruuuuuk.


Tubuh Tama yang di selimuti pertahanan dari Rajah Kala Cakra, menerima pukulan bertubi tubi seperti pohon kayu yang di jadikan latihan beladiri.


Lalu Tama di lempar ke atas, di susul Lodaya yang merapalkan tapak putihnya mengenai punggung Tama.


Booooooommm.


Kraaaaaaakkkkk.


Suara ledakan sekaligus retakan pertahanan tubuh Tama terdengar saat serangan lodaya telak mengenai punggungnya.


Tubuh Tama yang masih melayang di udara, mendapat serangan Singa Emas dari atas dengan cepat mengarah kepalanya.


Tama sempat menahan pukulan itu dengan kedua tangannya tuk melindungi kepala.


Tubuh Tama melayang limbung tak tentu arah di udara, lagi lagi Tama tak di biarkan begitu saja menyentuh tanah.


Lodaya segera menyarangkan kembali dengan pukulan api putihnya, telak ke rusuk samping kanan Tama.


"Aaaaarrrrggggggg." Teriak Tama.


Bruuuuukkkk.


Tubuh Tama ambruk ke tanah dengan keras, menimbulkan suara dentuman serta debu debu tebal berterbangan menutupi pandangan mata, terlihat cekungan besar pada tanah di sekitar tubuhnya saat debu itu perlahan hilang.


Tama menyeringai merasakan sakit di sekujur tubuhnya, sesekali menyeka darah di mulutnya sambil memaksakan diri tuk duduk bersila.


"Kamu pikir dengan rajah kala cakra mampu menahan serang formasi kami Ha ha ha MIMPIMU TERLALU TINGGI BOCAH." Ucap Singa Emas berdiri di sisi jauh Lodaya Putih.


Tama segera mencoba berkonsentrasi dengan sisa tenaganya tuk meminta arahan pada Eyang gurunya melalui telepati, Tama terlihat tetap waspada walau terkesan tak mempedulikan ocehan musuhnya.


Tak lama wajah sumringah Tama terlihat oleh Lodaya dan Singa Emas, mereka menyadari sesuatu akan terjadi.


"Gondrong kita harus segera menyelesaikan semua ini, atau....." Teriak Lodaya penuh khawatir mendapat firasat buruk.

__ADS_1


"Atau apa???." Teriak Singa Emas belum menyadari maksud dari Lodaya.


"Kita tak punya waktu, serang sekarang dengan formasi Rantai Serat Jiwa." Teriak Lodaya tanpa menjawab pertanyaan dari Singa Emas.


Singa Emas yang mendengarkan hal, segera menghampiri Lodaya, lalu menyatukan telapak tangan mereka dan merapalkan formasi Rantai Serat Jiwa.


Tubuh mereka mulai di selimuti perpaduan api putih dan api biru, lalu masing masing berpencar dan melompat menyerang Tama dari dua sisi.


Tama membuka matanya sambil berkomat kamit merapalkan Ajian "Syahadat Majmal" dari kitab Nur Muhammad, ajian ini adalah ajian larangan untuk menyegel kekuatan bangsa Gaib tanpa harus membakar jiwa gaib itu sendiri.


Tubuh Tama berdiri melayang di selimuti hawa Sinar Cahaya berpadu Sinar Emas, Mata nya yang memancarkan sinar cahaya menatap tajam serta mengunci tubuh Lodaya dan tubuh Singa Emas.


Lodaya dan Singa Emas yang sedang melayang di udara tuk menyerang Tama, tiba tiba tubuhnya ambruk ke tanah tak mampu di gerakan.


Di saat bersamaan, Tama menjentikan dua jarinya yang mengeluarkan dua buah sinar cahaya melesat tepat mengenai tubuh Lodaya dan Singa Emas.


Terlihat Lodaya dan Singa Emas yang menerima serangan Tama tidak merasakan sakit, namun mereka merasakan kehilangan sesuatu di tubuhnya masing masing.


Perlahan tubuh Tama yang sedang melayang di udara, perlahan turun ke tanah.


"Paman Maung dan paman Singa, Aku sengaja menyegel kekuatanmu sementara, aku bisa kembalikan kekuatanmu bila kalian mau mengikutiku." Ucap Tama dengan aliran tenaga dalamnya, menggema terdengar oleh semua yang ada di hadapannya.


"Aaahhh Bocah itu menguasai ajian seperti Tuan kita dulu." Ucap Singa Emas kepada Lodaya.


Saat ini kekuatan Lodaya dan Singa Emas tersegel, layaknya makhluk biasa yang tak mempunyai tenaga dalam.


Tama yang tak punya waktu lama di dunia gaib, segera menghampiri mereka dan memberikan pilihan untuk melakukan perjanjian menjadi pengikutnya atau kekuatan mereka tersegel selamanya.


####


Di Kerajaan Cakrabuana.


Peperangan sudah berjalan 53x terbit matahari, walau pun sebagian prajurit musuh dapat di pukul mundur oleh pasukan khusus dan para pendekar kerajaan, namun jumlah pasukan musuh yang 15x lebih besar dari pasukan kerajaan di kotaraja berhasil menjebol 2 gerbang pertahanan kotaraja.


Suara terompet besar terdengar sahut menyahut sampai ke istana kerajaan.


Prayoga yang menyadari tanda itu, segera keluar menuju depan istana di ikuti tabib Kuntala dan 2 hulubalang.


Prayoga menitahkan 2 hulubalangnya tuk menyiapkan sisa pasukan menghadapi perang di dalam istana.


"Tabib Kuntala, segera lakukan pengamanan serta berikan ini pada permaisuri." Titah Prayoga sambil memberikan dua gulungan berstampel kerajaan kepada Tabib.


"Hamba laksanakan paduka, berhati hatilah semoga kita bisa bertemu kembali." Ucap Tabib dengan lirih memejamkan matanya, lalu berjalan menuju ke dalam ruang istana kerajaan.


Sepeninggal Tabib Kuntala, Prayoga bergegas menghampiri hulubalang yang sedang berdiri di hadapan sisa pasukan khususnya.

__ADS_1


Di tatapnya satu persatu barisan prajurit yang telah siaga penuh, setelah itu prayoga menarik nafas panjang sambil menatap langit.


__ADS_2