Sang Panglima Bayangan

Sang Panglima Bayangan
Suasana Di Luar Istana


__ADS_3

Dalam beberapa waktu Para murid sudah mampu menguasai Ajian ajian yang di turunkan gurunya dengan sempurna, lalu tak lama kemudian mereka pergi dari padepokan yang ada di hutan larangan untuk menyebarkan isu isu yang sudah di siapkan.


Tak berapa lama, dengan ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna para murid Setan Gober sudah sampai pada tempatnya masing masing, mereka semua segera menjalankan rencananya dengan rahasia.


Berita pun dengan cepat menyebar ke setiap kerajaan maupun perguruan putih, hitam, netral pada setiap kerajaan masing masing.


####


Di ruang pengobatan.


Tama mulai membuka matanya melirik kanan kiri dengan heran.


"Di mana aku dan siapa aki ini." Tanya Tama melihat sosok yang sudah sepuh berdiri di depan pembaringannya.


"Pangeran sudah sadar... Aki yang sudah reyot ini disebut dengan nama Abdul Jabar." Syeikh Jabar memberikan senyumannya.


Tama yang pernah mendengar nama itu dari Eyang gurunya, segera mencoba menggerakan tubuh lemahnya, namun tenaganya blm mampu menopang tubuhnya berdiri tegak.


"Istirahatlah nak dan pulihkan kondisimu dulu." Syeikh mencoba menahan tubuh Tama supaya tetap berbaring.


"Maafkan murid ini Eyang Syeikh." Tama mencoba memberikan kesopanannya kepada Sang Guru besarnya.


Syeikh Jabar kembali memberikan senyum ramahnya.


Tama hanya bisa diam dan melamun, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.


Syeikh Jabar yang melihat itu, mengelus kepala Tama sambil bergumam dalam hatinya, "Di usia yang masih belia, harus merasakan masa lalu yang sangat menyedihkan dan mengetahui beban berat di masa depannya, semoga Tuhan memberikan kesabaran tuk mu nak."


Tama menoleh sambil menangis terisak ke arah Syeikh Jabar, "Eyang Syeikh, kenapa aku harus menerima semua ini, Hu hu hu."


(Syeikh Jabar merasakan kesedihan dari seorang bocah di hadapannya, dan merasakan betapa hancurnya mental Tama dengan sesuatu yang telah terjadi sebelumnya).


Syeikh Jabar mencoba terlihat tegar dengan senyumannya yang khas membuat sejuk yang melihatnya.


"Tuhan tak akan salah memberikan takdir padamu nak, Kelak nanda akan menjadi pelabuhan yang teduh bagi orang orang yang butuh perlindungan, percayalah.... Nanda harus bertambah kuat demi orang orang yang nanda sayangi." Syeikh Jabar memberikan semangat tuk mengembalikan puing puing mental Tama yang hancur.


Tak lama kemudian tabib Kuntala dan Permaisuri datang, dengan wajah penuh ke khawatiran, Permaisuri segera memeluk Tama di iringi tangisan senang bercampur sedih.

__ADS_1


"Ananda Tama......Hu hu hu." Permaisuri tak mampu lagi berkata kata hanya bisa mengelus kelapa Tama.


"Nanda baik baik saja bunda." Jawab tama sambil menghapus air mata di pipi ibunya.


"Bagaimana keadaan Ayahanda, Rayi dan paman?." Tanya Tama menatap sayu bundanya.


Melati memberikan senyuman sambil memegang tangan Tama yang sedang menghapus air mata di pipinya.


"Mereka baik baik saja nak." Jawab Melati mencoba menghibur Tama yang terlihat sangat bersalah.


(Tama yang saat di rasuki, tetap sadar dan mampu melihat setiap kejadian, namun tak mampu mengendalikan tubuhnya).


"Bunda maafkan ananda." Tama menangis sambil mencium tangan Melati.


"Nanda tidak salah sayang... Bunda yakin bila mereka tau nanda sudah siuman dan kembali sehat, pasti akan bahagia." Melati mengecup keningnya, lalu menghapus air mata di pipi Tama.


"Istirahatlah nak dan segera pulihkan kondisimu, mereka menunggu kedatangan nanda."


Tama tersenyum dan mengangguk pelan.


7x Terbit Matahari kemudian, di ruang pengobatan sudah tak terlihat lagi keramaian.


Tampak dari depan istana sudah terlihat kembali kokoh seperti tak terjadi apa pun, Prayoga dan yang lainya sudah terlihat melakukan aktifitas dengan baik.


Prayoga menitahkan kepada semua pejabat kerajaan untuk menggelar pertemuan esok hari.


Keesokan harinya.


Di dalam Aula tertutup istana sudah berkumpul semua keluarga raja, para kerabat dan para pejabat istana kerajaan.


"Sebelum aku membicarakan tatanan kerajaan, aku ingin melihat hasil laporan dari kalian semua yang tertunda kemarin." Pinta Prayoga kepada semua pejabat sipil kerajaan.


Satu persatu gulungan di buka, terlihat Prayoga secara seksama melihat isi gulungan tersebut.


Setelah selesai dengan semua itu, Prayoga meresmikan susunan dalam militer Kerajaan, sekaligus menunjuk Mada sebagai Patih Kerajaan yang akan menjadi perwakilan suara Raja Prayoga.


Lalu Prayoga menitahkan Patih Mada untuk menjelaskan jabatan dan tugas baru di bawah pimpinannya.

__ADS_1


Patih Mada menjelaskan bahwa di bawah pimpinannya, terdapat 4 Senopati yang akan di tempatkan pada setiap kota sisi penyangga istana kerajaan dengan masing masing membawahi 4 komandan tempur dan Ratusan Ribu prajurit, sedangkan di dalam istana ada 3 Hulubalang yang masing masing membawahi 3 kepala penjaga spesial dan Puluhan Ribu prajurit khusus (kemampuan Prajurit khusus setara kemampuan 50 prajurit biasa).


Setelah mendengarkan penjelasan dari Patih Mada, Prayoga memberikan kesempatan kepada yang hadir tuk bertanya atau hanya sekedar memberikan info tambahan.


Satu persatu penasehat maupun pejabat memberikan pertanyaan, maupun memberikan informasi sebagai masukan dalam tatanan kerajaan yang segera di jawab oleh Prayoga.


"Sebelum aku tutup pertemuan ini, apakah ada lagi yang mau di sampaikan oleh kalian?." Tanya Prayoga sambil melihat satu persatu orang yang hadir.


Tiba tiba seorang Hulubalang berdiri dan memberikan penghormatan, "Ampun Yang mulai paduka Raja, Hamba ingin menyampaikan berita dari beberapa Adipati."


Prayoga memberikan tanda dengan anggukan kepala untuk mempersilahkan melanjutkan informasi yang di dapatnya.


Dengan segera Hulubalang menghampiri Prayoga dan memberikan beberapa gulungan dari Adipati yang telah mengirimnya, lalu Hulubalang memberikan penjelasan dari muatan yang ada di dalam gulungan tersebut bahwa hampir setiap Adipati melaporkan adanya pergerakan yang mencurigakan di kotanya masing masing, namun belum menemukan tujuan dari pergerakan tersebut.


Prayoga membagikan gulungan itu ke Patih dan 7 Penasehat kerajaannya sambil mendengarkan penjelasan dari Hulubalang.


"Sepertinya ini berkaitan dengan kejadian tempo hari." Jawab Prayoga sambil membaca sebuah gulungan.


Sebagian besar yang hadir di aula mengetahui kejadian mencekam dalam istana segera mengangguk anggukan kepala tanda setuju.


Prayoga segera berdiri, "Kepada seluruh yang hadir, aku titahkan merahasiakan kejadian yang lalu di dalam istana, jika di ketahui membocorkannya maka seluruh keluarga kalian akan di penggal." Tegasnya


Seluruh orang yang hadir terdiam dan menunduk, sikap rajanya menjelaskan begitu pentingnya kejadian mencekam kemarin yang ada kaitannya dengan situasi di luar istana saat ini.


Prayoga mempersilahkan yang hadir untuk membubarkan diri dari aula pertemuan, kecuali keluarganya, Patih Mada, Tabib Kuntala, Ki Jati dan Syeikh Jabar.


"Mohon maaf melibatkan Syeikh dalam perkara ini." Prayoga merapatkan kedua telapak tangannya seperti bermeditasi di depan Syeikh Jabar.


"Takdir yang mempertemukan kita paduka." Jawab Syeikh dengan santun.


Mereka pun berbicang membahas kejadian lalu yang menurut Prayoga berkaitan dengan situasi saat ini.


Tama yang saat ini sudah mengetahui kedua orang tua kandungnya telah tiada, hanya tertunduk di samping adik adiknya.


Prayoga sangat sedih melihat Tama yang biasanya ceria dengan penuh canda gurau nya, sekarang menjadi pendiam.


"Nanda Tama....." Prayoga membuka suara.

__ADS_1


__ADS_2