
Nyai Sanggul yang akan memarahinya pun meredam emosinya, dan menanyakan kondisi Sanjaya.
"Apa yang terjadi denganmu." Tanya Nyai Sanggul, melihat tangan kanan Sanjaya buntung.
Sanjaya pun menceritakan pertemuannya dengan sosok pendekar sakti pengguna katana dan bocah pemilik senjata pedang berbentuk cawang, yang menyebabkan hilang tangan kanannya, tak lupa Sanjaya juga menceritakan munculnya Langit gelap gulita yang di sertai petir petir hitam yang bermuara di kota tempat hilangnya tangan kanan Sanjaya.
Nyai Sanggul dan pengikutnya tidak mengetahui munculnya fenomena langit itu karna fokus pada persembahannya di dalam gua yang memakan waktu 13x terbit matahari.
"Masashi si Dewa Katana dari Negri Matahari." Jawab Nyai Sanggul berdiri menghadap Kobaran Api Raja Kegelapan.
"Hhhmmm sudah lama aku merasakan sisa kekuatanku yang tersegel, namun aku belum mampu mengendalikan maupun mengetahui keberadaan sepenuhnya kekuatan itu sebelum mampu menghancurkan segel di tubuh manusia rendahan itu, ternyata mereka sudah menunggu kebangkitanku Ha ha ha." Ucap Raja Kegelapan.
Tiba tiba Api hitam yang membumbung tinggi itu menyambar dan membakar tubuh Sanjaya dengan cepat.
"Aaaaarrrrgggggggggg." Teriakan Sanjaya menggema dalam gua.
Kondisi tubuh Sanjaya di selimuti api hitam yang sangat panas sampai tak menyisakan sehelai kain pun di tubuhnya, namun anggota tubuhnya sama sekali tak terbakar, perlahan tak tubuh Sanjaya melayang ke udara di saksikan oleh Nyi Sanggul dan para pengikutnya dengan wajah sedikit ketakutan.
Kraaaak.
Kraaaak.
(bunyi suara tulang).
"Aaaaaaarrrgggggggg." Kembali Sanjaya berteriak histeris.
Di saat Api hitam menyelimuti Sanjaya, tiba tiba tangan kanan Sanjaya perlahan mulai tumbuh sempurna tanpa cacat, Lalu tubuh Sanjaya mulai turun terlentang di atas tanah, setelah itu api hitam pun melesat kembali kembali ke asalnya.
Sanjaya yang melihat tangan kanannya kembali normal, segera bersujud ke arah api persembahan.
"Terima kasih Tuanku telah mengembalikan tangan hamba seperti semula." Ucap Sanjaya.
"Ha ha ha berdirilah, aku tak ingin pengikutku menjadi pendekar pecundang bertangan satu." Ejek Raja Kegelapan.
Kemudian Sanjaya berdiri sambil meraba tangan kanannya penuh bahagia.
Nyai Sanggul yang takjub melihat kehebatan junjunannya, tak henti menatap tangan kanan sanjaya yang kembali sempurna, namun ada sesuatu yang membuatnya ganjil tuk di pandang.
"Apa perlu ku tebas burung kesayanganmu itu hi hi hi." Ucap Nyai Sanggul centil dengan wajah memerah manatap bagian tubuh Sanjaya yang terbuka.
Sontak Sanjaya kaget menoleh ke bawah perut yang dari tadi tak menyadarinya, lalu dengan wajah memerah melesat menuju ruangan yang lain sebelum kembali lagi ke tempat ritual yang tadi menyembuhkan tangannya dengan pakaian yang lengkap.
(😁😁😁)
__ADS_1
Raja Kegelapan memerintahkan nyai Sanggul untuk turun langsung segera ke kota yang di sebutkan Sanjaya, sekaligus memerintahkan tuk segera mendapatkan tubuh pendekar tingkat suci tuk wadah roh nya yang masih berbentuk api hitam.
Nyai Sanggul yang mendapat titah dari junjunannya segera memberi penghormatan, lalu pergi melesat keluar menuju kota bersama Sanjaya dan kelompoknya.
####
Kerajaan Cakrabuana.
Di dalam aula kadipaten Cibogo (wilayah kerajaan Cakrabuana), sedang berkumpul sekelompok murid Setan Gober diantaranya Pangeran Talaga Herang (Anak dari Raja Arya Panangsa), Senopati Kebo Kinabrang dan Adipati keling ( pemimpin Kadipaten Cibogo).
Berkat strategi Arya Panangsa hanya dengan waktu singkat hampir semua wilayah Cakrabuana sudah tunduk.
Talaga herang tersungging bahagia mendengar laporan dari telik sandinya bahwa 3 dari 4 kota penyangga kotaraja yaitu Kadipaten Palasara, kadipaten Adipura, dan kadipaten Pasisiran, sudah berhasil di taklukan.
"Terima kasih atas kerja keras dari kakang Adipati Keling sehingga rencana Ayahanda berjalan sesuai perhitungan." Ucap Talaga herang.
"Ini hanyalah bantuan kecil dariku untuk kebangkitan perguruan kita." Balas Keling dengan bangganya menjadi pengkhianat kerajaan Cakrabuana.
Di saat mereka sedang merencanakan serangan ke kotaraja, salah satu pengawal kadipaten menghadap melapor dan memberikan guluhan hitam kepada Talaga Herang.
"Aku mendapat Titah dari Maha Guru Setan Gober untuk mengirim 4 Raja Racun, Nyai Gandasari dan Pangeran Tapak Palimanan menuju kota munculnya langit hitam waktu sebelumnya dengan segera." Ucap Pangeran Talaga.
"Bukankah mereka saat ini berada di kadipaten Palasara dan kadipaten Adipura yang akan segera menyerang kotaraja?." Tanya Kebo Kinabrang.
Talaga Herang pun memerintahkan Kebo kinabrang dan Keling, untuk mengisi kekosongan pemimpin di kadipaten palasara dan kadipaten Adipura tuk menyerang Kotaraja dari 4 penjuru.
***
Di Aula istana kerajaan terlihat Prayoga dan Mada yang sudah memakai jirah perangnya sedang duduk menunggu informasi dari bawahannya.
Tiba tiba datang salah satu hulubalang melapor dengan wajah panik.
"Maafkan Hamba menghadap tanpa ijin paduka."
"Ada apa hulubalang." Tanya Mada sambil berdiri melihat hulubalang penuh panik.
"Maafkan hamba patih, Di luar ada 3 sosok bertopeng dan seorang wanita memaksa ingin menghadap paduka." Jawab Hulubalang.
Prayoga pun sigap berdiri dengan tangan memegang kujang yang masih tertanam dalam sarungnya, Lalu melesat ke arah luar di ikuti oleh Mada dan hulubalang.
Prayoga berpikir "Tak menyangka begitu cepatnya para pendekar musuh masuk dalam wilayah istananya."
Sesampainya Prayoga di luar melihat 4 sosok pendekar sedang di kepung oleh para prajurit khususnya, dengan memakai formasi sapuan jagat yang terkenal susah tuk di tembus, namun Prayoga melihat ke 4 pendekar itu tak sedikit pun mencoba melawan.
__ADS_1
"Apa tujuan kisanak semua datang ke sini." Tanya Prayoga yang sudah mengeluarkan senjata pusaka kujangnya.
"Raja Prayoga, kami datang untuk membantu dan ijinkan kami tuk membahas sesuatu yang sangat rahasia di tempat khusus, kita tak punya cukup waktu tuk berbasa basi dengan pertarungan." Jawab salah satu pria bertopeng tegas.
Mendengar itu Prayoga merasa ragu tuk mempersilahkan ke 4 sosok pendekar itu, tapi pikirnya bila mereka pendekar musuh, sudah dari tadi mereka menyerang para prajuritnya tanpa ampun.
Prayoga pun memberikan kode siaga pada hulubalangnya, lalu mempersilahkan ke 4 sosok pendekar itu masuk ke dalam aula pertemuan.
Di Aula pertemuan Prayoga yang kembali duduk di singgasana, di kawal oleh Mada dan 2 hulubalang yang berdiri dengan siaga penuh menatap 4 Sosok pendekar.
Salah seorang pendekar bertopeng mendekat ke arah Prayoga, sontak Mada dan 2 hulubalang mengeluarkan pedangnya masing masing bersiap menghadangnya.
"Ananda Tama menghadap Ayahanda." Jawab pria itu sambil membuka topengnya.
Wajah Prayoga dan Mada terlihat kaget sekaligus senang melihat sosok wajah di balik topeng itu yang tak lain Pangeran Mahkota.
Prayoga menghampirinya.
"Nanda Tama, kenapa nanda memakai topeng seperti itu dan siapa mereka." Ucap Prayoga memeluk anaknya sambil menunjuk sekawanan pendekar di belakang Tama.
Mereka yang melihat pun segera melepaskan sikap siaganya melihat di depan mereka adalah pangeran mahkota kerajaan.
Tama pun menceritakan keberadaannya memakai topeng, sekaligus mengenalkan ke 3 pendekar yang bersamanya.
Prayoga dan Mada seperti di sambar petir mendengar cerita Tama, tak menyangka sosok Tama yang masih bocah (14 tahun) yang penuh ceria dan cengegesan, berubah menjadi seorang ketua kelompok legenda yang mempunyai anggota para pendekar sakti dunia.
Tama pun menceritakan kepada Prayoga tentang mimpinya yang selalu di datangi oleh leluhurnya bernama Mbah Kuwu Cakrabuana tuk membangkitkan pasukan lodaya putih dan pasukan singa emas yang lama tilem (tidur) dengan media tongkat Kaboa yang menjadi simbol kerajaan Cakrabuana.
Prayoga dan Mada tak henti hentinya di buat kagum oleh sosok pangeran mahkota yang selalu bercerita penuh kejutan, mendengar hal itu pula Prayoga maupun Mada merasa mempunyai harapan besar untuk dapat mempertahankan kerajaan Cakrabuana.
"Sudah lama Ke dua kekuatan besar lelembut itu tidur menunggu di bangunkan oleh tuannya." Ucap Prayoga menoleh Mada dengan senyuman bahagia.
Prayoga pun menceritakan sedikit sejarah tentang dua kekuatan besar yang mampu menjaga kerajaannya dengan damai, namun dengan ngahyangnya (hilang) Mbah Kuwu Cakrabuana maka ke dua kekuatan besar penjaga kerajaan itu pun ikut ngahyang, beberapa dari keturunan Mbah Kuwu mencoba tuk membangkitkannya kembali namun tak ada yang berjodoh termasuk dengan dirinya dan Pangeran Mada yang telah mencobanya beberapa kali tetapi selalu gagal.
"Besar harapan dengan mimpi itu Nanda mampu membangkitkan dua kekuatan besar yang sudah lama tertidur." Ucap Prayoga penuh harapan, di dukung anggukan dari Mada.
"Waktu kita tidak banyak, Nanda harap Ayahanda segera memberikan kesempatan nanda tuk mencobanya." Ucap Tama.
Prayoga pun menyetujuinya.
Mengingat peperangan di kotaraja akan segera terjadi, tanpa menunggu waktu lagi Prayoga dan Mada serta Tama segera berjalan menuju ruangan rahasia tempat segala macam kitab dan senjata pusaka berada, lalu mempersilahkan Tama tuk melakukan meditasinya sambil memegang tongkat Kaboa.
Sebelum meditasi di mulai, Tama melakukan telepati terhadap Masashi dan hanzo untuk melindungi keluarganya selama dia bermeditasi, tak lupa telepati di lakukan kepada gurunya, Eyang Jabar tuk membantu mendapatkan pencerahan melawan ke dua kekuatan yang sangat di butuhkannya.
__ADS_1