Sang Panglima Bayangan

Sang Panglima Bayangan
Latihan terakhir di Gunung Arrimah


__ADS_3

Tama yang masih terbengong, segera berdiri lalu melesat pergi menyusul Eyang Jabar menggunakan ajian Kidang Kuning.


Sesampainya di padepokan Tama di minta membersihkan diri lalu beristirahat.


***


Esok hari.


Tama yang sudah bangun sejak Matahari baru terbit, berjalan jalan melihat aktifitas para murid Eyang Jabar, mata Tama tertuju pada sisi jauh padepokan melihat kerumunan murid yang berbaris dengan rapi, Tama menghampirinya dan terlihat mereka sedang melakukan latihan bela diri dan tenaga dalam, sejenak Tama kagum melihat kedisiplinan dan kegesitan para murid Eyang Jabar dalam berlatih penuh semangat.


Tama yang sedang fokus melihat latihan Para murid Eyang Jabar, tiba tiba mendengar suara bisikan dari Eyang Jabar.


"Nanda Tama kemari nak."


Tama menoleh kanan kiri tapi tak menemukan sosok Eyangnya, ada rasa heran yang muncul di benaknya, lalu menoleh ke arah bangunan pondok yang jaraknya sangat jauh, matanya dengan jelas melihat sosok Eyang berdiri di depan pintu pondok.


Tama Melesat menuju arah pondok padepokan sambil bergumam, "Bagaimana bisa aku melihat dengan jelas keberadaan Eyang dari jarak yang sangat jauh, dan mampu mendengar suaranya."


Sesampainya di pondok, Eyang Jabar yang melihat wajah Tama penuh kebingungan, mengajak masuk ke dalam pondok.


Di dalam pondok.


Tama memberanikan diri bertanya soal sesuatu hal yang jadi ganjalannya.


"Eyang... Aku tadi mendengar suara Eyang memanggilku, dan aku mampu melihat Eyang dari jarak yang sangat jauh dengan jelas." Tanya Tama penuh dengan keheranan.


Sebelum menjawab pertanyaan, Eyang berdiri lalu masuk dalam kamarnya, tak lama kemudian keluar dengan membawa sebuah pedang panjang melengkung seperti sabit, lalu tersenyum dan duduk kembali.


lalu menjawab.


"Tadi yang nanda dengar adalah suara Eyang melalui telepati pikiran, dan mata nanda semakin tajam sehingga mampu melihat hal kecil sekalipun dari kejauhan." Jawab Eyang jabar.

__ADS_1


"Kenapa bisa seperti itu Eyang." Tanya Tama polos.


"Setelah Nanda menguasai Rajah Kala Cakra, semua indra dalam tubuh nanda jadi peka, termasuk mampu mendeteksi keberadaan lelembut, Siluman, dedemit atau energi hawa seseorang dari kejauhan." Jawab Eyang Jabar.


Tama melihat ke arah sebuah pedang yang tadi di bawa oleh Eyangnya.


Eyang Jabar yang melihat pandangan mata Tama ke arah pedang di sampingnya, lalu mengambil pedang tersebut sambil menyerahkan pada Tama.


"Ini adalah pedang keramat yang tidak bisa di miliki oleh siapa pun, kecuali pedang ini sendiri yang akan memilih pewarisnya." Jawab Eyang Jabar.


"Semalam Eyang mendapat wingit/Ilham, bahwa dari hasil meditasimu, pedang itu dan kitab ajian Nur Muhammad, menunjukmu sebagai pewaris mereka berikutnya." Tambah Eyang Jabar.


Setelah mendengar cerita dari Eyang Jabar, Dengan polosnya Tama mencabut pedang dari sarungnya, Eyang Jabar yang melihat itu terlambat melarangnya.


"Aaaarrrrrrgggggggggg Panaaaaaassss." Suara Tama langsung melemparkan pedang yang sudah keluar dari sarungnya ke lantai.


"Eyang,...Kenapa pedang itu panas sekali." Tanya Tama sambil meniup niup telapak tangan kanannya.


Sebelum menjawab pertanyaan Tama, Eyang Jabar memejamkan matanya sambil berkomat kamit, lalu pedang dan sarungnya terlihat terbang berputar dan perlahan pedang tersebut masuk ke sarungnya dan turun ke pangkuan Eyang Jabar.


"Pedang ini di namakan pedang Dzulfikar, bila seseorang yang bukan pewarisnya mencoba melepaskan pedang ini dari sarungnya, maka akan ada reaksi yang sangat panas dari pedang ini, bahkan energi inti pemegang pedang ini akan terhisap habis." Tambah Eyang Jabar sambil mengembalikan pendang Dzulfikar pada Tama.


Eyang pun meminta Tama di malam hari tuk melakukan tirakat/ritual penyatuan dengan pedang Dzulfikarnya dan esok harinya mulai mempelajari ajian Nur Muhammad.


####


Kerajaan Cakrabuana.


Waktu ke waktu berlalu, Suasana setiap kota dalam kerajaan tak kunjung membaik, kekacauan demi kekacauan pada setiap desa dan kota semakin merajalela, kejadian itu seperti ada yang mengorganisir, hal tersebut membuat pihak kerajaan merasa kesulitan karna harus membasmi para pengacau setiap desa dan kota dengan jumlah besar yang rata rata mempunyai ketua sekelas pendekar tingkat tinggi, Hal itu memecah konsentrasi kekuatan kerajaan menjadi bagian bagian kecil yang di kirim ke setiap desa maupun kota.


Tak jauh berbeda di dalam istana yang hanya menyisakan satu hulubalang dengan satu kepala prajurit spesial dan hanya menyisakan dua puluh lima ribu prajurit khusus, hal ini sangat beresiko bila terjadi serangan dari pemberontakan atau bahkan dari kerajaan tetangga yang bukan anggota aliansi.

__ADS_1


Hal tersebut sangat di sadari oleh Prayoga dan Mada, namun demi keamanan rakyatnya harus mengambil resiko dengan mengorbankan keamanan istana jadi lemah.


####


Kerajaan Talaga.


Di ruang pertemuan Istana kerajaan Talaga, terlihat Raja Arya Panangsa sedang memimpin pertemuan penting.


Arya Panangsa sudah mengetahui sosok pemilik pusaran cahaya adalah salah satu anggota Kerajaan Cakrabuana, oleh sebab itu Arya yang dibantu oleh Puluhan Ribu pasukan dari kerajaan lain (dari pasukan para murid Setan Gober) berencana menyerang Kerajaan Cakrabuana, namun Arya yang masih ragu mampu mengalahkan pasukan besar Kerajaan Cakrabuana, mencoba melakukan kekacauan di setiap desa dan kota Kerajaan Cakrabuana dalam jumlah besar dan serentak untuk melemahkan kekuatan besar Kerajaan Cakrabuana.


Arya juga menempatkan telik sadinya pada setiap kota kerajaan Cakrabuana.


Dengan rencana yang matang, Arya berencana akan menyerang kerajaan Cakrabuana secara efektif, serangan diam diam dan mendadak, serentak pada kota kota strategis Kerajaan Cakrabuana yang akan mampu melumpuhkan sebagian besar kekuatan Kerajaan tersebut, dengan begitu pasukannya akan mampu menaklukan kotaraja yang menjadi target utamanya dengan mudah.


####


Waktu ke waktu Tama menjalani tirakat dan latihan menguasai Ajian Nur Muhammad dengan giat penuh semangat, Terlihat Tama sangat lihai menggunakan pedang Dzulfikar yang di kombinasikan dengan Ajian Nur Muhammad maupun dengan ajian lainnya.


Tak terasa Tama sudah menjalani latihannya bersama Eyang Jabar selama 310x Terbit matahari, Tama telah menguasai pedang Dzulfikar maupun Ajian Nur Muhammad secara sempurna, sekaligus telah mampu mengendalikan kekuatan besar dari pusaran cahaya yang ada di dalam tubuhnya.


Di saat istirahat, dalam pondok terlihat perbincangan di sertai sanda gurau murid dan guru terjadi.


Eyang Jabar yang merasa sudah menurunkan segala kemampuan pada anak didiknya, meminta turun gunung tuk berkelana membela kebenaran dan melindungi yang lemah, sekaligus menambah pengalaman hidup muridnya untuk misi yang sangat berat di masa depan.


Tama yang tak mau berpisah dengan gurunya pun menggelengkan kepalanya.


Melihat itu Eyang Jabar tersenyum.


"Dengan Ajian Nanda sekarang, hanya dengan mengedipkan mata akan mampu berada disini." Ucap Eyang Jabar menghibur Tama yang tak mau berpisah dengannya.


Sontak wajah murung Tama berubah jadi ceria setelah mendengar hal itu, sambil mendekati Eyang Jabar dengan manja.

__ADS_1


"Berarti Nanda bisa gunakan salah satu ajian dalam kitab Nur Muhammad yaitu berpindah ruang dan waktu, dengan bebas?." Tanya Tama polos penuh semangat.


"Tentu saja Nanda bisa menggunakan ajian itu, cukup dengan membayangkan tempat yang di tuju." Jawab Eyang Jabar sambil mencubit hidung Tama yang mancung.


__ADS_2