
Tabib istana menghela nafas sejenak sambil terlihat kembali mengerutkan dahinya, berpikir panjang dalam lamunannya tuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi pangeran Tama pada tubuhnya.
"Tabib.... Tabib apa kau tidak mendengar perkataanku". Raja sedikit membentak tabib istana yang terlihat sedang melamun.
"Tabiiiibbbb Kuntala apa kau sudah tuli". Raja membentak kembali dengan nada suara lebih tinggi yang di aliri dengan sedikit tenaga dalamnya.
Tiba tiba tabib istana bersujud di depan raja Prayoga dengan nada bergetar "Mohon maaf paduka, hamba sedang mencoba bertelepati dengan guru hamba namun belum ada jawaban dari beliau".
Raja Prayoga sedikit tertegun dengan jawaban yang tidak disangka olehnya, seluruh yang hadir disana pun dibuat kebingungan dengan apa yang dikatakan tabib istana.
"Apa yang dimaksud dengan ucapanmu tadi?". Sambil mengangkat tubuh tabib supaya kembali berdiri.
"Paduka, bisa kita bicarakan hal ini di ruangan lain dan hamba mohon hanya keluarga dan guru pangeran yang mendengarkan ucapan hamba nanti". Seraya tabib menundukan kepala tanpa berani menatap semua orang disana.
Raja Prayoga makin heran dengan sikap tersebut sehingga memerintahkan permaisuri, jendral Mada dan sesepuh ki Joko untuk ikut dengannya ke ruang baca raja serta meminta pangeran Prawira dan putri Prameswari menunggu kakaknya sadar.
Kembali lagi Tabib Istana Kuntala meminta ijin tuk bicara "Mohon maaf paduka, Hamba sarankan saat ini Pangeran Prawira dan Putri Prameswari tuk tidak berdekatan dengan Pangeran Pratama".
"Lancang sekali kamu berani minta seperti itu padaku". Raja Prayoga yang sudah mulai tersulut emosi.
"Beribu ribu ampun paduka, ini demi kebaikan pangeran Pratama, hamba mohon saat ini biarkan pangeran Pratama di jaga oleh orang yang tidak punya kemampuan tenaga dalam dan hamba akan segera menjelaskannya paduka". Sanggah Tabib Kuntala.
Raja Prayoga mencoba menahan emosinya dan meminta dayang tuk menjaga didalam ruang kamar Tama sampai selesai berdiskusi di ruang baca raja.
__ADS_1
Raja pun tanpa bicara lagi langsung melangkahkan kaki ke arah ruang baca khusus raja dan di ikuti oleh permaisuri,jendral Mada, Tabib Kuntala dan ki Joko, Sedangkan Wira dan Prameswari melangkah menuju taman istana didampingi Ki Alam dengan wajah penuh rasa penasaran.
#### Ruang baca khusus Raja.
"Baiklah sekarang jelaskan apa yang terjadi dengan anakku Pangeran Prawira?". Ucap Prayoga menatap Tabib Istana.
"Mohon maaf sebelumnya jika penjelasan hamba akan kurang memuaskan paduka dan permaisuri". Ucap Tabib sambil menundukan kepalanya.
"Bicaralah".
"Sejak hamba tadi mencoba mendeteksi gejala awal pada tubuh Pangeran Pratama, hamba tidak menemukan apa pun yang menjadi penyebab kondisi tubuh Pangeran Pratama kehilangan kesadarannya".
Terlihat Tabib sedikit menghela nafas sambil memejamkan matanya, lalu melanjutkan perkataannya.
"Saat hamba mencoba mendeteksi titik dantian utama yang ada di perutnya, Tiba tiba tenaga dalam hamba sedikit demi sedikit tersedot oleh tubuh pangeran Pratama, Hamba mencoba menahannya tapi makin hamba menahannya semakin besar kekuatan hamba tersedot oleh tubuh pangeran Pratama, Namun sebelum melepaskan tangan hamba dari titik dantian utama diperut Pangeran, Hamba merasakan bahwa yang menarik energi tenaga dalam hamba itu berupa pusaran cahaya yang besar dan sangat terang namun bermuara pada titik dantian utama dalam dada nya (bukan titik dantian di perutnya). Ucap Tabib kuntala.
"Jadi menurutmu apa yang terjadi dengan anakku pangeran Pratama?". Terlihat sedih saat raja mendengar penjelasan tabib istana.
Di ruangan itu sejenak hening tanpa sepatah kata pun, terlihat masing masing berpikir tuk memecahkan persoalan yang saat ini dihadapinya sungguh aneh.
"Paduka, Permaisuri, Ijinkan hamba memulihkan tenaga dalam yang tadi terhisap dan segera hamba akan melakukan telepati terhadap guru hamba tuk menanyakan perihal ini, berharap dapat pencerahan dari beliau yang saat ini sedang bermeditasi, sementara ini hamba mohon jangan biarkan pangeran Tama di jenguk oleh orang yang mempunyai tenaga dalam, hamba khawatir terjadi sesuatu kepada Pangeran Tama karna tidak dapat menampung energi yang di serapnya". Pinta Kuntala.
Dengan hal yang penuh misteri ini Prayoga mencoba meminta petunjuk kepada yang lainnya, "Jendral Tama, Sesepuh Ki Joko, apakah kalian punya kesimpulan tentang apa yang di katakan tabib kuntala tadi?".
__ADS_1
Semua menggelengkan kepala tanda tak mampu memberikan petunjuk dengan apa yang dijelaskan tabib kuntala, Prayoga pun menutup mata perlahan sambil meminta kuntala memulihkan kondisi tenaga dalamnya dan segera meminta petunjuk guru nya terkait kejadian aneh yang di derita anaknya dan meminta hanya Permaisuri dan dayang yang selalu di samping anaknya dalam ruang kamar, mereka pun undur diri dari ruangan kecuali Prayoga, Melati dan Mada.
Terlihat Melati sangat cemas akan keadaan anak sulungnya yang sampai saat ini belum ada yang mengetahui penyebab hilangnya kesadaran dan energi dalam tubuh anaknya.
"Sabarlah permaisuriku, kita saat ini hanya bisa berdoa dan berharap adanya petunjuk". Prayoga mencoba menenangkan Melati yang terlihat murung memikirkan keadaan anak sulungnya.
***
Dua hari kemudian Tabib kuntala menghadap Prayoga di ruang pertemuan istana dan ingin menjelaskan bahwa dia sudah mendapatkan jawaban dari gurunya serta akan menjelaskan secara rinci setelah semua pejabat yang ada di ruangan itu keluar kecuali Prayoga, Permaisuri, Mada dan Ki Joko.
Kuntala menjelaskan apa yang diceritakan gurunya, bahwa pusaran cahaya dalam tubuh Pratama adalah sebagian energi gabungan yang tersegel dalam jiwa yang di pilihnya.
Menurut cerita gurunya bahwa seribu tahun yang lalu terjadi peperangan dahsyat di mana jiwa raja kegelapan muncul pada sosok manusia sakti petapa pemuja iblis, Semua pendekar aliran putih, netral maupun hitam dibantainya dalam sekejap, kepanikan terjadi di mana mana karna jiwa raja kegelapan dan pasukannya melakukan kekacauan, hingga muncul 5 pendekar petapa aliran netral (tanpa perguruan) yang mencoba meredam ambisi penganut pemuja iblis.
Mereka bertarung 10 hari tanpa henti hingga petapa jiwa raja kegelapan berhasil di kalahkan namun tak bisa di musnahkannya karna ke 5 pendekar tersebut pun mengalami luka yang cukup serius dengan kehilangan 3/4 masing masing energi intinya karna terhisap oleh salah satu jurus dari petapa jiwa Raja Kegelapan, 5 pendekar itu paham kalo jiwa raja kegelapan akan segera pulih kembali bahkan lebih kuat bila bantuan dari jiwa Iblis yang jadi panutannya datang serta akan segera menghisap sisa energi intinya yang masih di miliki oleh ke 5 pendekar tersebut, oleh karenanya mereka sepakat menyegel 3/4 energi inti kekuatan jiwa kegelapan dalam tubuh petapa sakti yang sudah dibunuhnya karna tidak sanggup memusnahkannya dan menyembunyikan tubuh petapa sakti itu di goa misteri di hutan larangan dengan dilindungi oleh jiwa dan sisa energi inti cahaya dari salah satu pendekar sakti, Sedangkan 1/4 energi inti jiwa kegelapan yang mampu ditarik dari tubuh petapa sakti itu akhirnya di netralisir dan di gabungkan dengan ke 4 jiwa dan energi inti pendekar yang berkorban menghancurkan diri demi keselamatan dunia (saat ini yang disebut pusaran cahaya).
"Guruku pun berkata pusaran cahaya itu akan datang dan memilih bersemayam pada sosok tubuh manusia dari keturunan 5 pendekar yang mengorbankan diri apabila segel perlindungan dalam goa misteri berhasil di hancurkan oleh pendekar pendekar pemuja iblis untuk segera membangkitkan kembali jiwa raja kegelapan". Ucap Tabib Kuntala sesuai cerita dari gurunya.
"Lalu apa hubungannya dengan anakku yang saat ini masih tak sadarkan diri dan mampu menghisap inti energi yang ada di dekatnya?".
"Sepertinya dalam tubuh Pangeran Tama mengalir darah salah satu 5 pendekar legenda sehingga bersemayamnya pusaran cahaya yang guru ceritakan paduka". Jawab Tabib.
Tabib sendiri merasa heran dengan apa yang terjadi, menurut cerita gurunya bahwa ke 5 pendekar tersebut berasal dari dataran daerah tengah dan dataran daerah barat, sedangkan tabib kuntala sangat paham sekali silsilah darah leluhur Raja Prayoga maupun darah leluhur Permaisuri Melati yang murni darah daratan leluhur daerah timur asli, namun tabib kuntala tak berani menanyakan hal itu khawatir raja Prayoga murka.
__ADS_1
"Adakah cerita dari senior cara menyembuhkan anakku dari pingsannya?". Raja bertanya karna belum menemukan titik solusi tuk anaknya.
"Ijinkan hamba menceritakan pesan guru untuk menyembuhkan Pangeran Tama".