
Di Ruang Kamar Pangeran Pratama, terjadi kepanikan karna kondisi tubuh Pangeran Pratama semakin buruk, bahkan guru nya pun heran dengan kejadian pertama yang dialaminya ini.
"Pengawal segera beritahuan Paduka raja soal pangeran Pratama". Perintah Ki Joko kepada kepala penjaga pintu kamar.
"Baik Penasehat, hamba laksanakan". Jawab kepala penjaga dan segera berlari menuju ruang istana.
Dalam ruang istana sedang berbincang dengan bahagia antara Raja Prayoga, Permaisuri, Pangeran Wira, Panglima Kusuma dan Jendral Mada dan beberapa pejabat tinggi, mengenai kemajuan pangeran Wira dalam olah kanuragan.
Tiba tiba prajurit penjaga pintu berlari ke arah ruang pertemuan, dengan napas yang tersengal prajurit melapor ada kepala penjaga yang akan melaporkan berita penting.
Dengan sedikit panik Raja Prayoga memerintahkan tuk segera menghadap.
"Ampun paduka, Hamba kepala Prajurit penjaga pintu ruangan Pangeran Pratama menghadap". Ucap Kepala penjaga.
"Ada hal penting apa kepala penjaga sampai tergesa gesa seperti itu". Jawab Prayoga santai tuk sedikit mencairkan suasana.
"Mohon maaf paduka, Hamba diminta Penasehat Ki Joko tuk memberitahukan bahwa pangeran Pratama mengalami kehilangan kesadaran di ruang kamarnya". Jawab kepala prajurit dengan nada takut.
__ADS_1
Prayoga langsung berdiri, semua terkaget atas ucapan kepala prajurit tersebut.
"Apa yang terjadi dengan anakku", Tanya permaisuri Melati kepada kepala penjaga.
"Ampun Permaisuri, Hamba secara pasti tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Pangeran Pratama, Hamba hanya di utus Penasehat Ki Joko untuk meminta segera Paduka dan rombongan datang ke ruang Kamar Pangeran Pratama". jawab kepala penjaga dengan nada bergetar.
Tanpa menunggu waktu lama, Raja Prayoga dan Permaisuri serta rombongan segera berjalan ke arah ruang kamar Pratama.
Sesampainya di kamar Pratama, permaisuri langsung memeluk anaknya sambil menangis dan menggerak gerakkan tubuh pratama yang kaku tak bergerak.
"Ananda Tama, bangun nak, bangun hik hik hik ini ibunda sudah datang, bangun nak hik hik hik". permaisuri tak mampu menahan tangisnya melihat pangeran pratama terbujur kaku dengan wajah yang pucat.
"Mohon maaf paduka, Hamba sudah memanggil Tabib istana, saat ini tabib sedang menuju ke sini". Ucap Ki Joko.
"Sesepuh Ki Joko apa yang terjadi dengan anakku?". Tanya Raja Prayoga dengan wajah penuh kebingungan.
"Hamba sendiri kurang tau secara pasti apa penyebab pangeran pratama seperti ini". jawab Ki Joko.
__ADS_1
Sambil mengingat kembali beberapa hari yang lalu kondisi pangeran mulai terlihat tidak sehat.
"Mohon maaf paduka, Beberapa hari yang lalu hamba mulai melihat kondisi pangeran pratama mulai menurut, namun beliau tidak mau beristirahat dan ingin terus berlatih dengan alasan bahwa pangeran Wira sudah mencapai tingkat bumi tahap 7 sedangkan beliau masih di tingkat bumi tahap 2". Ucap Ki Joko.
cerita itu diperkuat oleh adiknya yaitu pangeran wira dimana setiap selesai latihan mereka bertiga selalu berkumpul dan bercanda, Pratama memang dikenal sangat menyayangi wira dan prameswari, setiap hari selalu menyempatkan diri tuk bertemu dengan adik adiknya.
"Apa yang di ceritakan Sesepuh Ki Joko memang benar ayahanda". Ucap Wira kepada ayahnya.
"Ananda Rai melihat kakang Tama sakit selama ini?".tanya Prayoga.
"Ananda merasakan seperti itu dan pernah menanyakan kepada kakang soal itu, namun jawab kakang selalu bilang sehat dan akan segera melewati tingkat tenaga dalam ananda, Tapi entah mengapa setiap bertemu dengan kakang selalu ada energi hangat yang masuk dalam diri rai dan dinda Prameswari, menjadikan tubuh makin ringan dan makin bertenaga". jawab Wira yang diperkuat dengan anggukan dari prameswari.
Mereka semua heran apa yang telah terjadi sehingga pratama terlihat kehilangan energi didalam tubuhnya.
Tabib pun datang "Hormat hamba menghadap paduka". Ucap tabib.
"Tabib cepat periksa anakku dan apa yang terjadi". Perintah raja penuh kepanikan.
__ADS_1
Tabib pun mencoba memeriksa dari kepala sampai kaki, setiap titik titik tertentu di sentuh dengan hati". Sampai pada titik utama di perut, wajah tabib sedikit terkejut seperti menemukan sesuatu yang ganjil.
"Bagaimana hasilnya, kenapa wajahmu begitu pucat saat memegang perut anakku?". Tanya permaisuri dengan nada penasaran.