
"Ayo Paman, Kita lihat keadaan para prajurit." Tama melesat ke belakang menuju kerumunan prajurit penjaga, di ikuti Masashi.
Melihat banyak Prajurit yang gugur dan terluka, Tama menawarkan diri mengobati mereka.
"Aku butuh tempat untuk mencoba mengobati para prajurit yang terluka, dan Paman Masashi tolong cari penginapan untuk kita beristirahat." Pinta Tama.
"Baik ketua." Jawa Masashi.
Komandan yang heran melihat Masashi pun segera menunjukan sebuah rumah di dekat pos penjagaan tuk di jadikan tempat mengobati prajurit yang terluka.
Satu persatu Tama mengobati prajurit yang terluka dengan ajian Inti Lebur Sakethi yang termuat di dalam kitab Nur Muhammad.
Setelah selesai mengobati semua prajurit yang terluka, lalu pamit pada komandan prajurit.
Sebelum beranjak dari tempat itu, Tama bertelepati dengan Masashi, lalu terbang menuju penginapan yang sudah disiapkan.
Masashi yang sudah menunggu di depan pintu penginapan, mempersilahkan masuk ketuanya sambil menunjukan jalan menuju kamarnya tuk istirahat.
Di kamar, Tama yang terkuras energinya tuk pengobatan para parajurit, segera melakukan meditasi tuk mengembalikan energinya dengan menyerap energi alam sekitar, sekaligus mengembangkan inti energi di dalam tubuhnya lebih besar, Tama mampu mengendalikan semua unsur hawa dalam tubuhnya, saat meditasi terlihat tubuh Tama berubah ubah dari warna emas, cahaya, hitam, sesuai yang di inginkannya, tak terasa ayam jantan berkokok pertanda terbit matahari dan Tama pun segera menyelesaikan meditasinya dan bergegas membersihkan diri.
***
Tama dan Masashi berjalan masuk ke dalam rumah makan dan mencari tempat duduk di bagian tengah.
"Tuan tuan mau pesan makan apa?." Tanya pelayan dengan ramah.
"Aku ingin Bebek panggang dan menu istimewa di tempat ini." Jawab Tama sambil melihat Masashi.
Masashi memberi kode dua jari pada pelayan.
"Baik tuan tunggu sebentar." Jawab Pelayan sambil berjalan mengarah ke belakang.
Suasana dalam ruangan mulai ramai, banyak pengunjung dari kalangan bangsawan maupun pendekar yang datang hanya sekedar makan di pagi hari, Mereka terlihat berbincang santai sambil menunggu hidangan makanannya datang.
Hidangan pun datang, Tama dan Masashi mulai menyantap dengan lahap sambil sesekali mendengarkan celotehan pengunjung di sekitarnya, Tiba tiba Tama tersedak makannya saat mendengarkan cerita dari meja arah depan, membuat Masashi kaget dan menoleh ke arah Tama.
Tama menutup mata mencoba menahan amarahnya, lalu bertelepati dengan Masashi.
Masashi berjalan ke meja depan, tak lama kemudian dengan penuh ketakutan pengunjung di depan meja itu menghadap Tama di dampingi Musashi yang memperlihatkan wajah kejamnya.
"Jelaskan yang barusan kalian ceritakan padaku." Tegas Tama sambil membuka matanya.
salah satu orang di hadapan Tama memberanikan diri berbicara.
"Mohon maaf tuan, Kami hanyalah pedagang biasa." Jawab salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengetahui jalan cerita secara lengkap yang tadi kudengar dari cerita Paman Paman." Tunjuk Tama ke meja depan.
Sejenak mereka tertunduk dan terdiam, lalu segera bercerita bahwa para pedagang yang mereka temui memberikan informasi mengenai hancurnya Kerajaan Cakrabuana yang di serang secara mendadak oleh Kerajaan Gabungan dari tetangganya.
"Bagaimana mungkin...." Teriak Tama sambil memukul hancur meja makannya lalu berdiri.
Tiba tiba langit menjadi gelap gulita di sertai petir petir hitam turun ke bumi, Tubuh Tama mulai di selimuti hawa hitam dangan mata hitam legam melayang ke udara sambil membuka kedua tangannya, Musashi melihat itu segera berteriak keras.
"Keluar kalian semua, Rumah ini akan segera hancur."
Sebagian pengunjung pun berhamburan keluar dengan panik, namun beberapa pendekar tetap berdiri dengan waspada.
"Ketua, sadarlah." Masashi mengingatkan Tama yang sedang melayang.
"Matilah Kau." Tama melesatkan sinar hitam dari tapak tangannya ke arah Masashi.
Masashi yang sudah waspada, menarik katana dari sarungnya sambil menghindari sinar hitam yang menyerangnya.
Tama yang akan menyerang Masashi di hadang para pendekar yang tadi sudah waspada.
"Bodoh."Tama meneringai.
Tangan Tama menjentikan jari kanan dan kirinya bergantian, mengeluarkan api hitam yang sangat panas melesat ke arah para pendekar yang mencoba menyerangnya.
Hanya dalam kedipan mata, Para Pendekar rubuh satu persatu dengan tubuh hitam terbakar.
"Kamu Pikir hebat hah." Ucap Tama sambil mengangkat Masashi ke udara.
"Kketua sadarlah." Masashi tak mampu lagi melawan karna tubuhnya sudah terkunci.
"Ha ha ha Matilah kau." Jawab Tama mulai menghisap inti energi Masashi.
Masashi merasakan Inti energinya terhisap, tidak mencoba memberontak tapi memejamkan matanya dan mengalirkan seluruh Inti energi pada leher dan pergelangan tangannya yang dikunci Tama serta membiarkan energinya terhisap.
Tama segera melemparkan tubuh Masashi ke tanah sambil menatapnya dengan tajam.
Bruuuuuuukkk.
"Kamu mengetahui kelemahan Ajianku ini." Ucap Tama sambil mengepalkan tangan kanannya yang sudah di penuhi sinar hitam pekat.
"Kketua, sadarlaaaah...".
"Ingat Pesan gurumu...." Ucap Masashi sambil memegang lehernya.
Tama yang masih melayang hanya terpaku menatap Masashi, Jiwa Tama memberontak tuk menguasai tubuhnya kembali dari cengkraman Roh Raja Jiwa Kegelapan yang mengendalikannya.
__ADS_1
"Haaaaaaaaaaaaaaaa." Teriak Tama sambil kepalanya menatap ke langit.
Perlahan mata hitam legam Tama berubah menjadi normal, tapi hawa nya masih tetap hitam pekat.
"Maafkan aku, Paman Masashi." Ucap Tama yang mulai turun ke tanah.
Hawa hitam pekatnya pun mulai masuk kembali ke tubuh Tama, lalu mengampiri Masashi.
"Syukurlah ketua sudah sadar." Jawab Masashi menatap Tama.
Tubuh Tama mulai di selimuti hawa cahaya dan dengan segera tangannya mengalirkan inti energi ke punggung Masashi.
Langit yang gelap gulita, mulai kembali cerah seperti sediakala, Namun bangunan yang ditempati mereka sudah hancur berkeping keping menjadi lahan tak beratap, di sertai mayat mayat hitam terbakar bergelimpangan.
Masashi sudah pulih dari cideranya, lalu duduk bersila di depan Tama.
"Ketua, kita harus membunuh semua orang yang melihat ini." Masashi melihat kanan kiri sambil mengambil katananya di tanah.
"Kenapa Paman?." Jawab Tama heran.
"Jika kita tidak membunuh mereka semua, Musuh akan segera mengetahui sosok ketua pemilik pusaran energi." Ucap Masashi memberikan penjelasan.
Tama berdiri dan menggelengkan kepalanya.
"Mereka tak bersalah dan layak hidup Paman, biarlah ini menjadi nasibku di buru oleh pendekar pemuja iblis." Tambah Tama.
Masashi pun menyarankan untuk segera pergi, karna tak lama lagi akan banyak pendekar yang datang mencarinya.
Tama mengangguk lalu berjalan menuju sosok pemilik rumah makan, dan memberikan kepingan emas untuk mengganti kerugian yang dilakukannya dan menguburkan para pendekar yang mati, lalu pergi di ikuti Masashi ke arah hutan.
Setibanya di hutan, mereka beristirahat sejenak sambil menentukan arah tujuan berikutnya.
Masashi menawarkan untuk pergi ke kota kelahirannya di kerajaan Matahari untuk membuat pakaian bertopeng (ala ninja) demi keselamatan mereka, namun hal itu di tolak karna Tama ingin segera menemui keluarganya di istana yang dalam bahaya.
Masashi menjelaskan dengan kejadian tadi, maka sebagian pendekar dan prajurit musuh yang sedang berada di kerajaan cakrabuana, akan di kerahkan ke sini untuk mengejar sosok pemilik pusaran cahaya, hal itu memberikan waktu tuk istana mengumpulkan kekuatan.
"Dengan Ajian ruang dan waktu milik ketua, kita bisa ke kotaku hanya dalam kedipan mata, setelah itu kita pun akan sampai pada keluarga istana dengan cepat." Ucap Masashi.
"Tapi bagaimana bisa kita sampai ke kota paman memakai ajianku, sedangkan aku tidak bisa membayangkan kota paman yang belum pernah ku singgahi." Jawab Tama.
Masashi menjelaskan bahwa melalui telepati Tama bisa melihat gambaran kotanya melalui pikiran yang ada di kepala Masashi.
Tama pun mencoba dengan menempelkan tangan pada pundak Musashi sambil bertelepati, lalu merapalkan ajian tersebut.
Wuuuuuuusssssshhhhh.
__ADS_1
Tama dan Masashi sudah berpindah tempat ke kota Osaka tempat kelahiran Masashi, mereka pun segera berjalan ke sebuah rumah besar nan tinggi.