Sang Panglima Bayangan

Sang Panglima Bayangan
Misteri kehidupan Tama


__ADS_3

"Kesetiaan dan keberanian kusuma patut kita teladani, bahu membahu memperjuangkan kebenaran, Tak pernah sekali pun dia mengeluh akan lelahnya tanggung jawab yang di embannya, Demi kepentingan membela rakyatnya, Terkadang dia lupa bahwa dia adalah sosok ayah dari istri yang di cintainya dan sosok ayah dari putra putri yang di sayanginya." Prayoga terbata bata menceritakan kisah hidup kusuma yang semasa hidupnya selalu ada di sampingnya suka maupun duka menjalankan roda kerajaan menjadi besar, adil dan makmur.


Semua yang hadir di ruangan istana tak luput dari rasa sedih yang mendalam, Tak sedikit para pejabat yang hadir melepas kepergian Sang Panglima perang yang berani dan bijaksana dengan derai air mata.


"Ketika orang baik meninggalkan dunia, Bukan hanya manusia yang berduka, Tapi juga langit dan bumi merasakan hal yang sama, segala kebaikannya akan selalu di kenang sepanjang masa." Tambah Prayoga.


"Terima Kasih Rayi Kusuma, karna sudah datang dalam kehidupanku sebagai sahabat, adik maupun pengawalku, Mengenalkan pada sebuah tanggung jawab dan ketegasan dalam kehidupan ini, Kau adalah sang Fajar yang selalu menyinari hidupku." Prayoga bergumam dalam hatinya sambil menatap langit mengingat sahabat dari kecilnya.


Melihat Wulan (Istri mendiang Kusuma) hanya menundukan kepalanya dan memegang erat kedua anaknya, Pelahan Permaisuri menghampirinya, lalu memeluknya dan membisikan sesuatu yang menjadi penyemangat hidupnya.


"Dinda, Ingatlah bahwa hidup di dunia ini tidak sendiri, buatlah bangga suamimu yang melihat dari kejauhan dengan cara didiklah anak anakmu, Wariskan sifat ayahnya yang pemberani, jujur dan pemaaf,,, jika kau ingin Lepaskan dukamu melalui tangismu, jangan di tahan dinda." Bisik Melati pelan di kuping Wulan.


Wulan yang tadinya mencoba tegar, Akhirnya tak mampu lagi menahan rasa sedihnya, Tangisan histeris dari Wulan akhirnya pecah tak mampu di bendung lagi, Tanpa memikirkan status apa pun disana, Wulan menangis sambil memeluk erat tubuh Melati, Wulan melepaskan segala kesedihan yang di tahannya sedari tadi, membuat kesedihan di dalam ruangan semakin menjadi.


Sejenak suasana hening terasa di ruang pertemuan tanpa ada satu kata pun yang terdengar kecuali suara tangisan Wulan.


Prayoga mulai berdiri dan memberikan Titahnya tuk memecah keheningan suasana.


"Aku Prayoga Raja Kerajaan Cakrabuan mewakili semua rakyatku, Turut bersedih atas gugurnya Panglima hebat kerajaan Cakrabuan, Sekaligus ucapan terima kasih atas perjuangannya yang tiada lelah untuk kepentingan rakyatnya." sambil menatap Wulan dan anak anaknya.


Prayoga melihat ke arah keluarga para prajurit yang gugur, lalu melanjutkan titahnya.


"Tidak lupa aku ucapkan bela sungkawa kepada para keluarga komandan dan prajurit yang gugur di medan pertempuran, Jasa jasa mereka akan kita kenang sampai generasi cucu cicit kita."


"Sebagai Tanda jasa bagi para pahlawan perang, maka aku titahkan kepada pejabat sipil untuk memberikan kehidupan yang layak bagi seluruh para keluarga prajurit yang gugur selama hidupnya, berikan kemudahan bagi putra putrinya yang ingin bergabung menjadi prajurit kerajaan, Membuat prasasti nama nama pahlawan perang yang gugur di tengah kota raja, Buatlah ukiran panglima Kusuma sebagai pengingat anak cucu kita kelak."


Prayoga kembali duduk dan terdiam.


"Segera hamba laksanakan yang mulia." Terdengar suaranya pelan dari Pejabat sipil kerajaan sambil menundukan tubuhnya.


"Dan untuk nyai Wulan dan putra putri, Aku telah siapkan hunian di dalam istana kerajaan, Mulai sekarang kalian adalah keluarga besar kerajaan yang akan hidup di dalam istana." Pinta Prayoga kepada Wulan.


Wulan hanya menunduk dalam pelukan permaisuri melati sambil sesekali memberikan tetapan kosong kepada kedua anaknya, Wulan sangat bersedih karna tak bisa melihat jasad dari suami tercintanya.


####


Waktu ke waktu berjalan tanpa terasa, kedua anak mendiang kusuma yaitu Rangga (13 tahun) dan Ratih (10 tahun), mulai akrab dengan ketiga anak Prayoga.

__ADS_1


Tama tersenyum yang melihat gelagat adiknya selalu mencuri pandangan ke arah Ratih dari kejauhan.


"Eeeeehhhhhhmmmm." Tama sedikit mengagetkan Wira.


"Ehhh Kakang, Sedang apa disini?." Wira mencoba menyembunyikan kagetnya.


"Kakang sedang melihat Rayi menatap Ratih he he he." Canda Tama.


Wajah Wira Langsung merona mendengar candaan Tama.


"Rayi suka dia ya?." Goda Tama.


"Kakang Sok Tau ahhh." Sambil membuang wajahnya ke arah yang lain.


"Ratih juga sering mencuri pandangan saat Rayi latihan lho." Tama berbisik sambil menunjuk jari nya ke arah Ratih.


Wira yang sedikit malu sekaligus senang mendengar bisikan dari kakangnya, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oohh iya Kakang, Aku liat ayahanda sedang berkumpul di ruang baca khusus istana, Sepertinya ada hal penting yang sedang di bahas." Wira menjelaskan dengan mengedipkan mata.


"Maksud Rayi kita akan kesana dan mengupingnya." Tama geleng geleng kepala melihat kebiasaan iseng adiknya.


####


Meraka tak lain adalah Prayoga, Melati, Mada, Ki Alam, Ki Joko, Ki Danur, Nyi Inggit (4 Penasehat kerajaan) dan Ki Jati.


"Aku berharap kalian setuju dengan perubahan susunan di kerajaan ini." Terdengar Prayoga berbicara.


"Seperti apa itu kakang." Tanya Mada.


"Aku berencana menjadikanmu seorang patih kerajaan, Dan Nama Jendral berganti jadi senopati, Dengan bergantinya nama senopati maka Rayi memegang penuh segala bentuk militer di kerajaan ini mewakiliku."Jawab Prayoga.


"Aku ingin setiap senopati dan pasukannya menempati 4 Kota penyangga di setiap sisi kerajaan yang akan berada di bawah titahmu." Tambah Prayoga kepada Rayi.


Kembali Prayoga menjelaskan rincian susunan kerajaan dan orang orang pilihannya yang akan di tempati kelak, Mada mengangguk anggukan kepala sambil mendengarkan secara seksama.


"Aku akan resmikan esok hari di bale pertemuan,." akhir kata Prayoga mengenai kerajaan.

__ADS_1


Setelah selesai pembahasan mengenai kerajaan, lalu Prayoga menanyakan tentang kemajuan anak anaknya.


Satu persatu yang menjadi gurunya menjelaskan kemajuan olah kanuragan para pangeran, Prayoga dan Melati tersenyum bahagia mendengarkan kemajuan anak anak dari kedua gurunya.


"Sepertinya sudah waktunya juga Putri Prameswari mendapat gemblengan yang sama, Apa Nyi Inggit bersedia mengajarinya?." Prayoga bertanya pada Nyi Inggit.


"Dengan senang hati yang mulia, Hamba akan mendidiknya dengan baik." Jawab Nyi Inggit sambil memberikan penghormatan.


Tak lupa Prayoga meminta kepada ki Joko dan Nyi inggit tuk mengajarkan hal sama kepada putra putri mendiang Kusuma yang sudah di anggap anaknya sendiri.


Waktu berlalu dan percakapan akhirnya ditutup, ke 4 Penasihat pun pamit undur diri.


Di sela waktu, Ki Jati meminta ijin berbincang.


"Mohon Maaf Paduka, Hamba meminta waktunya tuk membahas pangeran Tama." Ki Jati membuka pembicaraan setelah ke 4 penasihat keluar ruangan.


"Apa yang hendak di bahas Sesepuh mengenai Pangeran Tama." Jawab Prayoga.


Ki Jati menjelaskan Tentang keadaan Pangeran Tama, Dirinya meminta ijin tuk membawa Pangeran Tama ke Gunung Arrimah Tempat gurunya berada.


Melati yang mendengar hal itu sedikit keberatan, namun Ki Jati kemudian menjelaskan kembali tentang keberadaan pusaran cahaya yang ada di tubuh Tama, Akan menentukan nasib dunia persilatan.


Dengan berat hati, Melati harus merelakan kepergian Tama untuk kedua kali nya.


Sebelum pertemuan ini berakhir, Ki Jati dengan hati hati bertanya mengenai kedua pangeran kerajaan.


"Mohon maaf yang mulia, Bolehkah hamba mengetahui misteri di antara kedua pangeran yang menjadi rahasia selama ini?."


"Apa yang di maksud Sesepuh?." Jawab Permaisuri penuh selidik, mendahului Prayoga.


Ki Jati menjelaskan keterkejutannya saat melihat hawa emas yang ada di tubuh Tama dan Wira, Padahal sesuai pemahamannya bahwa hawa emas akan turun pada satu orang dalam satu generasi.


Terlihat Prayoga menghela nafas panjang sambil melihat ke arah Melati lalu ke arah Mada.


Mada dan Melati hanya menundukan kepala seperti tak berharap misteri ini terungkap.


Ki Jati melanjutkan pembicaraannya mengenai pentingnya jati diri Tama sebagai muridnya, ciri ciri dalam kehidupan Tama selama ini hampir sesuai dengan petunjuk gurunya.

__ADS_1


Akhirnya Prayoga menjelaskan bahwa Pangeran Tama adalah anak dari kakaknya yang terbunuh dalam perjalanan dari Kerajaan Tur menuju kerajaan Cakrabuana tuk menghadiri perayaan hari lahir Mada.


"Dalam Rombongan itu tidak ada yang selamat, Kecuali seorang prajurit pengawal pribadi kakakku yang terluka parah membawa selamat bayi mungil laki laki sampai ke istana ini." Prayoga kembali mengingat rasa sedih yang begitu dalam atas kejadian masa lalu.


__ADS_2