SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
THE FINAL CODE


__ADS_3

JAKARTA 2004.


Jakarta malam ini terasa dingin. Awan-Awan hitam pekat menggumpal di antara langit yang membentang. Bergerak pelan, namun tidak menjauh dari atas kota metropolitan. Membawa ribuan kilo air yang mengembun di dalam Mikroskopis . Menunggu perintah Tuhan untuk menghujankan ke daratan.


Di atas sofa, Pemuda dengan wajah asli indonesia dengan kulit putih terawat. Hidung mancung. Dan tubuh yang tinggi. Sedang mengangkat satu kaki dan diletakan di atas kaki satunya. Duduk bersandar di atas kursi yang dilapisi dengan kulit mentah berwarna coklat kehitaman. Dengan segelas wine merah di tangan kanan, Pemuda itu sedang menikmati acara televisi yang menayangkan film perang tempo dulu dari tayangan luar negeri.


Satu tangan membentang di atas sandaran sofa. Dengan penampilan rapi yang masih menggunakan jas hitam melapisi kemeja polos abu-abu, bermerek Fredferry tersemat di bagian kerahnya. Pemuda itu terlihat seperti sedang menunggu seseorang yang akan datang berkunjung ke kamar hotel mewah yang berada di kawasan Jakarta. Nampak dari persiapan penampilannya yang terlihat keren.


Jam tangan kulit dengan kaca yang terbuat dari Saphire tidak henti-hentinya di lirik dalam setiap menit yang berganti.


Setelah dia mendengar suara ketukan pelan sebanyak tiga kali mengetuk daun pintu kamar. Kepalanya menoleh ke pintu yang berada di sebelah kanannya. Dan dia tergesa-gesa menurunkan kaki yang mengangkat. Hampir saja sebelah kakinya mengenai botol Wine yang terletak di atas meja. Sebelum akhirnya pemuda itu mendekati pintu kamar hotel lalu membukanya.


"Selamat malam." Senyuman lembut terlukis dari wajah seorang perempuan cantik. Dengan wajah oval. Tinggi sebahu dari pemuda itu. Dan rambut panjang bergelombang serta tubuh yang sintal namun padat berisi. Sedang berdiri di hadapanya. "Dengan Tuan Rivano," sambungnya.


Mata binar dengan senyum merekah melihat Bibir tipis berwarna merah maroon dari olesan lipstik mahal yang melekat di keduanya. Bola mata belo dan disempurnakan oleh bulu mata lentik tanpa sambungan. Sangat alami. Membuat pemuda itu tahan napas untuk sejenak.


Perlahan, Rivano menggeser kedua matanya turun sedikit ke bawah. Dia mendapatkan pemadangan yang tidak kalah indah dengan wajah perempuan itu. Dimana dia melihat tubuh mulus dengan Tank Top berwarna merah maroon membungkus kemolekan tubuhnya yang langsing. Terlihat sangat mempesona dengan ukuran tinggi semampai dan kaki yang jenjang. Membuat Rivano menelan ludah. Tanpa sepengetahuan perempuan itu.


Pemuda itu membalas juluran tangan perempuan cantik yang belum menghabiskan senyumnya. Hingga Rivano mempersilakannya untuk masuk ke dalam ruangan mewah yang sengaja dipesan untuk malam ini.


"Mau teh, apa kopi?"


"Teh aja," jawab Mirna. Nama perempuan yang baru saja merebahkan dirinya di atas kasur empuk yang bercorak putih polos dengan Bed Cover yang masih tertata rapi menyelimuti atasan kasur.


Setelah melepas jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tanganya. Mirna menggeser tubuhnya ke ujung. Menyandarkan bahu di sandaran ranjang. Meluruskan kakinya yang jenjang. Duduk berselonjor menatap Rivano yang sedang membuat minuman di dapur mini. Di sebelah kanan dari posisinya. Dekat pintu kamar.

__ADS_1


"Green tea hangat. Cocok untuk udara yang sedang dingin karena hujan di luar sana."


Rivano memberikan segelas minuman sesuai dengan permintaan Mirna dari tangan sebelah kanan. Dimana tangan kirinya memegang segelas wine.


"Mari," ucap Rivano mengajak Mirna bersulang. Setelah dia mendaratkan pantatnya duduk bersebelahan dengan perempuan itu.


"President suit room. Sengaja aku pesan untuk malam kita berdua. Bagaimana, kamu—suka?"


Anggukan kepala yang manja, dengan senyuman manis yang lebar. Cukup untuk menjawab pertanyaan dari laki-laki yang baru saja menghabiskan setengah gelas wine.


"Huffs ... " Rivano mendengus. "Biar aku tebak. Santa Maria Muschio Oro. Benar?" Wangi parfum yang lembut membuat Rivano gatal untuk menyebutnya.


"Hmmm—yup," jawab Mirna dengan tertawa kecil.


Nampak bercak berwarna merah di pinggiran gelas teh milik Mirna. Dari warna lipstik yang menempel dari bekas bibirnya. Terlihat jelas sebelum dia meletakan gelasnya di atas meja kecil dengan material kayu yang berada di sebelah kiri.


Hangat. Rasa yang pertama kali dirasakan oleh Rivano ketika jari telunjuknya menyentuh bibir tipis perempuan itu. Sebelum berakhir di lidahnya.


"Sekarang, Mas," ucap Mirna dengan satu tangan yang sedang membuka tali pengikat baju yang berada di belakang tubuhnya.


"Biar aku saja," kata Rivano dengan melingkari kedua tangan di tubuh Mirna. Meraih pengait tali yang mengikat di Tank Top tipis milik perempuan yang akan menemaninya malam ini.


Dengan wajah yang berjarak hanya 5 sentimeter berdekatan dengan wajah Mirna. Rivano tidak membiarkan begitu saja tanganya bekerja. Dimana jemarinya yang sedang berusaha melepas kain yang menutupi dari keindahan tubuh mulus Mirna, dia mendaratkan bibirnya ke bibir tipis milik perempuan itu.


Merasa posisinya kurang nyaman, setelah sehelai kain bagian atas dari tubuh Mirna terlepas, Rivano merebahkan perempuan itu sejajar dengan panjang kasur. Tanpa melepaskan bibirnya yang masih terpagut di bibir Mirna.

__ADS_1


Namun, keadaan ini tidak membuat Mirna untuk diam saja. Dia pun membantu melepas jas hitam yang membungkus tubuh pemuda yang sedang menikmati bagian atas dari tubuhnya. Dan disusul dengan membuka kancing satu per satu dari kemeja polos abu-abu yang dikenakan oleh Rivano. Nampak dada bidang berbulu tipis halus yang memanjakan matanya.


Sentuhan demi sentuhan dari Rivano, membuat Mirna melayang. Hingga dia tidak sadar, kalau dirinya sudah tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya. Degh! Bahkan detak jantung terdengar di antara keduanya. Saat wajah Rivano menempel di bagian atas tubuh Mirna. Hingga bergerilya sampai ke bawah.


Bersamaan dengan itu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Rivano untuk membuka tali ikat pinggangnya. Diikuti dengan melepaskan celana bahan setelahnya. Dan menyandarkan tubuh di sandaran ranjang setelah memastikan diri nya siap untuk dilayani.


"Lakukan dengan pelan-pelan," kata Rivano kepada perempuan yang wajahnya berada di antara kedua paha milik pemuda yang sedang memejamkan mata.


Hangat. Rasa itu kembali pada saat lidah Mirna menyentuh bagian kehormatan Rivano.


Perlahan, hingga deru napas Mirna mulai terasa berat. Posisi ini diambil alih oleh Rivano. Sebelum dirinya memuncak, dia melakukan tugas yang menjadi pokok utama dari pemanasan yang baru saja dilakukan.


Tanpa menggunakan pelindung diri, rudal Rivano menembus pertahanan perempuan yang sudah dibayar mahal olehnya.


Bibir Mirna yang bergetar, mengeluarkan napas seperti tertahan. "Aaach ... " desahan pertama bersamaan dengan rasa hangat saat ada sesuatu yang meyentuh di bagian inti dari seorang perempuan.


Kedua tangan Mirna meremas kain Sprei dengan mata terpejam. Sementara dirinya dibiarkan terbang karena pemuda yang berada di atas tubuhnya sedang bergoyang.


Tidak ada alasan untuk meredam suara napas yang bergumam berat. Di saat tubuh sedang menggeliat ke enakan.


"Berapa angka yang harus aku tulis?" tanya Rivano kepada perempuan yang masih terbaring dengan selimut yang menutup sampai ke dada. Rivano sudah siap dengan selembar cek kosong dan pulpen di tangan kanan sambil duduk bersandar di sandaran ranjang.


'60,000,000.'


"Enam puluh juta," ucap Rivano membaca angka yang baru saja dituliskan Mirna di atas kertas cek.

__ADS_1


"Baiklah. Aku tanda tangani sekarang."


Tidak ada penawaran bagi seorang Rivano. Setelah dia menanda tangani cek yang sudah disepakati harganya, Rivano kembali mengajak Mirna bersulang. Namun, kali ini dia menuangkan segelas wine dari botol yang diambil di dalam lemari es.


__ADS_2