
Dua insan yang baru saja sama-sama mendapatkan pelepasannya dengan napas yang saling beradu dan keringat yang mengeluarkan aroma tubuh yang panas, berbaring lemas dengan senyuman penuh cinta. Efek euforia terasa memenuhi perasaan mereka yang membuncah dari aktivitas yang baru saja mereka lakukan. Noah mengambil selimut putih yang sudah terjatuh di lantai lalu menyibakkannya untuk menutupi tubuh polos wanitanya, kemudian ia ikut masuk ke dalam selimut itu, untuk memeluk dan menyalurkan semua kehangatan untuk tubuh sang wanita. Naya, menerima pelukan itu dan membalasnya dengan hangat juga.
Sesaat hening. Naya yang menempel erat di dada bidang Noah bisa mendengarkan tiap detakkan jantung pria itu. Irama yang akan ia rindukan.
“Terima kasih, Noah, karena mencintaiku,” bisiknya.
Noah membelai surai Naya dengan lembut, lalu mengurai pelukannya sedikit agar ia bisa melihat ke dalam iris Naya. “Tapi, aku tidak tau apakah perasaanmu sama denganku.”
Naya terdiam, kemudian ia tersenyum dan menarik Noah agar memeluknya erat lagi. Sementara ia menyembunyikan perasaan sedihnya sendiri. Rasanya tidak adil jika hanya Noah yang mengungkapkan perasaannya.
“Setelah mantan suamiku selingkuh, saya merasa sangat kesakitan. Rasanya, sangat sulit bahkan untuk bernapas saja. Saya hampir saja menyerah, kalau bukan karena Clara dan Rose yang menemaniku saat itu.” Naya tersenyum sedih. “ Saya belum pernah menceritakan mereka, ya?”
Belaian lembut di rambutnya dan tepukan halus yang berulang di punggungnya seakan ingin memberitahunya, bahwa pria itu mendengarkannya.
“Clara, wanita tegar dan kuat yang menemaniku sejak awal saya masuk ke dunia gelap itu. Dia juga yang mengajariku bagaimana senyum yang menggoda dan mengajariku bagaimana melayani tamu dengan baik. Dan Rose ….” Naya menjeda, air matanya yang mengenang, luruh mengingatnya.
“Gadis yang datang dengan tubuh yang penuh lebam dan tatapan yang penuh luka. Kami tidak tau kenapa gadis yang cantik itu bisa berakhir di rumah pelacuran, meskipun awalnya Rose sangat ketakutan, tapi saya dan Clara berhasil menengkannya dan berusaha membuatnya bertahan. Hingga suatu hari … seseorang membunuhnya.”
Gerakan Noah terhenti, ia mendorong tubuh Naya pelan agar mau melihatnya, tetapi Naya menolak, pelukannya semakin ia eratkan. Karena itu, Noah pun hanya bisa diam sambil kembali menepuk ringan punggung Naya yang mulai bergetar.
__ADS_1
“Saya dan Clara menemukan Rose dalam keadaan tidak bernyawa setelah ia mengiris pergelangan tangannya sendiri. Saya menjadi kehilangan kendali dan meminta bantuan anda saat itu. Saya… kehilangan semua kekuatan saya. Saya jadi takut mencintai siapa pun lagi.”
“Aku paham. Aku tidak akan memaksamu mencintaiku. Gunakan semua waktumu, aku akan menunggumu sambil terus mencintaimu.”
Naya mengangguk kecil.
“Oh, iya. Apa aku belum memberitahumu nasib bajingan itu?”
Naya mendongak, sementara Noah tersenyum dan mengusap pipi basah itu.
“Dia sudah ada di penjara, seperti maumu, kan?”
“Kenapa? Kamu tidak puas, dia hanya dipenjara?”
Diam Naya adalah jawabannya.
“Baiklah, semoga ini bisa mengobati rasa tidak puasmu, laki-laki itu tidak hanya dipenjara, tapi juga dijadikan budak pemuas nafsu oleh beberapa tahanan di sana. Dan aku pastikan, dia tidak bisa keluar sampai mati.”
Iris Naya membesar karena terkejut. Semua bulu halus di tubuhnya meremang karena merinding. Mendengar apa yang bisa Noah lakukan membuatnya ketakutan. Jika Noah bisa melakukan itu semua, bagaimana dengan ayahnya? Mungkin, Naya yang berhasil membuat kesepakatan dengan ayah Noah adalah keberuntungan seumur hidup yang sudah ia pakai.
__ADS_1
“Karena itu, Naya, jangan bilang ada yang menyakitimu lagi. Aku mungkin akan kehilangan kendali.”
“No-Noah… apa yang terjadi dengan Brian?”
Noah mendengus. “Brian? Mantan suamimu? Entahlah… aku hanya menebus dirimu dari Riya. Mungkin saja, mantanmu itu sedang bersembuyi di suatu tempat karena tidak mampu bayar utangnya.”
Tubuh Naya menegang.
“Naya, apa kau sedang mengkhawatirkan pria itu?” Noah jelas tidak suka.
“Tidak… bukan begitu. Hanya saja…”
“Sstt, tidurlah. Sudah hampir pagi. Apa pun yang terjadi dengan mereka, anggap saja, balasan untuk mereka.”
Noah kembali memeluk Naya sambil mengusap kembali surainya. Naya tentu tidak bisa tidur, pikirannya melayang. Sementara Noah, menyunggingkan sebuah seringai kecil sebelum menutup matanya dengan nyaman.
...****************...
__ADS_1