SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 31


__ADS_3

Noah membuka pintu kamar hotel, menampilkan ruangan luas dengan pencahayaan yang minim.


“Naya?”


Tidak ada jawaban. Sesuatu mulai mengusik ketenangan Noah.


“Naya?!” Suara kali ini lebih besar. Mencari sosok wanita kesayangannya.


Hingga ketika ia membuka pintu kamar tidur, tidak ada sosok Naya di sana. Kekhawatiran dan gelisah mengaburkan pikirannya. Ketika Noah hampir menelpon seseorang, suara pintu dari belakangnya berderit terbuka.


Noah berbalik, Naya keluar dari kamar mandi sambil memakai bathrobe yang selalu kebesaran di tubuh kecilnya. Bahu Noah melemas, dengan langkah cepat ia mendekati wanita yang masih berdiri diam dengan rambut basahnya, lalu memeluknya dengan erat.


“Aku pikir kau….” Ucapan Noah terputus. Sementara Naya tersenyum dan membalas pelukan hangat itu.


“Apa saya membuat anda khawatir?”


Noah menggeleng kecil, sambil menikmati wangi tubuh yang basah itu. Terlalu memabukkan untuknya. Dengan sangat berat, Noah mengurai pelukannya, sebelum gairahnya mengalahkan akal sehatnya.


“Bagaimana dengan ibu anda?” Naya bertanya.


“Semua sudah beres.”


“Syukurlah.” Napas lega Naya berhembus. Tapi tidak dengan hatinya yang tiba-tiba sedih, sepertinya ia tidak punya kesempatan lagi untuk bertemu ibu Noah itu.


“Apa saya boleh memesan makanan? Saya sedikit lapar.” Naya berjalan ke arah pesawat telepon di atas nakas. Menyembunyikan raut sedihnya.


“Pesan apa pun yang kau ingin makan, Sayang.”


Langkah Naya terhenti, panggilan yang selalu membuat satu detak jantungnya berdetak lebih cepat. Senyumnya mengembang, tapi sekali lagi, hatinya terasa sakit. Dengan gerakan yang cepat, ia meraih pesawat telepon berkabel itu dan menghubungi room service, memesan dua jenis main course untuk dirinya dan Noah.


Beberapa menit kemudian, bunyi bell pada pintu terdengar, Noah membukanya dan mempersilahkan staf hotel itu mengantar masuk makanan yang telah Naya pesan. Naya menghampiri meja besar tempat staff itu menyajikan hidangannya, lalu mengambil tempat duduk tepat di samping staff itu berdiri. Sekilas staff itu melirik ke arah Naya yang masih memakai bathrobe kebesarannya. Sialnya, Noah tau kemana arah pandangan staff pria itu.


“Keluar!” perintah Noah tiba-tiba.

__ADS_1


Staff itu gelagapan. “Ba-baik, Tuan.”


Sementara Naya juga terkejut, suara Noah tiba-tiba membesar.


Noah masih melihat staff itu keluar hingga pintu kembali tertutup.


“Ada apa? Apa anda tidak suka makanannya?”


Noah mendengus, lalu menggeleng. “Tidak. Aku suka pesananmu.”


Naya tidak bertanya lagi, mereka menikmati hidangan mereka. Kali ini, Naya makan lebih banyak. Mungkin seperti memulihkan kembali semua tenaganya yang habis terkuras. Untung saja, mereka berhasil kembali sebelum Noah. Setelah yakin telah menyembunyikan uang yang ia bawa, Naya segera memasuki kamar mandi untuk untuk menghilangkan jejak dari tubuhnya yang dibasahi peluh dan untuk memberinya jeda sebelum napasnya kembali normal. Lima menit kemudian ia mendengar suara Noah yang memanggil namanya.


Rio? Naya hanya bisa berharap sekretaris Noah itu bisa memegang janjinya. Kalau pun suatu hari nanti Rio mengungkap rahasia mereka, setidaknya Naya sudah tidak berada di sisi Noah.


Diam-diam Naya melirik ke arah Noah yang sedang menikmati makanannya. Tiba-tiba ada rasa rindu di sana. Padahal sosok pria tampan yang selalu mengisi pikirannya itu masih bisa ia lihat dan sentuh. Apakah dirinya bisa bertahan untuk menjauh? Tanpa sadar, Naya mengaku kalah. Kini hatinya kembali terisi oleh sebuah nama yang tidak akan pernah bisa ia miliki.


“Noah… apa anda mau ke taman hiburan denganku besok? Jika anda tidak sibuk.”


Noah membeku, bibirnya tersenyum lebar. “Apa kau baru saja mengajakku kencan?”


“Hahaha. Baiklah, besok kita ke taman hiburan. Sudah lama aku tidak mengambil jatah liburku, aku akan meminta Rio dan Alex berjaga.”


“Noah, tidak perlu. Saya ingin hanya anda dan saya. Sehari saja.”


“Naya… mereka hanya berjaga, ya. Kau tau, kan ayahku—”


“Tidak akan, Noah. Saya ingin benar-benar berdua bersama anda.”


Noah tersenyum, “Baiklah. Hanya kamu dan aku.” Noah menggenggam tangan Naya lembut.


---


Setelah memakan malam, Noah keluar sebentar dan kembali dengan membawa paper bag besar berwarna putih, Naya mengeluarkan isinya, ada tiga jenis pakaian di sana. Satu untuknya bisa pakai tidur, dan dua lainnya...

__ADS_1


“Apa ukurannya sesuai?”


Wajah Naya memerah. “Mmm, a-anda tidak perlu membelikan pakaian dalam juga.”


Noah tertawa kecil, lalu berjalan mendekat. Sangat dekat, hingga ia bisa membisikkan sesuatu di telinga Naya. “Aku memang lebih suka melihatmu tanpa pakaian dalam.”


Suara halus itu menyapa inderanya. Apalagi saat napas Noah menelusuri tekuk lehernya yang terbuka. Naya mematung, sementara tangan pria itu bermain di ikatan bathrobenya.


Naya mendongak, melihat netra Noah yang juga sedang menatapnya dengan lembut. Ada perasaan cinta yang tulus di sana. Naya selalu menyukai tatapan itu, yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun. Tatapan yang selalu melindunginya dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Mungkin suatu hari, Naya akan membenci dirinya sendiri karena memilih pergi. Tetapi, ini adalah pilihan yang ia buat untuk melindungi Noah. Dirinya tidak akan pernah bisa bersamanya, Naya sadar akan posisinya, terlalu rendah untuk pria terhormat seperti Noah.


“Noah…”


“Hmm…”


“Kenapa anda menyukaiku?”


“Apa aku perlu alasan untuk menyukaimu?”


Naya tersenyum. “Saya ingin mendengarnya.”


Noah menangkup kedua pipi Naya yang terasa kecil di tangannya. Wajah yang selalu terlihat sedih itu, wajah yang selalu basah karena air mata, dan wajah yang selalu terlihat cantik di matanya. “Aku tidak tau, Naya. Hatiku sakit melihatmu menangis, aku tidak bisa membiarkan siapa pun menyakitimu. Kalau kau bertanya alasan aku menyukaimu, mungkin aku hanya bisa menjawab, aku … ingin melindungimu. Dengan berada di sisiku.”


Iris mata Naya melebar, perasaan hangat itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Degup jantungnya sedari tadi berdetak kencang. Ketika air matanya lolos tanpa ia sadari, jari Noah mengusapnya lembut.


“Aku mencintaimu, Naya.”


Kalimat itu malah semakin membuatnya terisak, Naya menundukkan kepalanya. Seandainya saja … ia dan Noah bertemu dengan keadaan yang berbeda. Apakah mereka mempunyai masa depan yang lebih baik? Naya tidak perlu memikirkan statusnya, dan Noah tidak akan bertentangan dengan ayahnya. Naya meremas kain bathrobenya kuat.


“Sa-saya… tidak—”


Noah membungkam bibir itu dengan bibirnya dengan kasar. Noah sudah tau apa yang akan Naya katakan. Perbedaan mereka, status mereka, bahkan tentang keluarganya yang tidak menerimanya. Padahal Noah sudah berulang kali mengatakan ingin melindungi wanita itu, kenapa selalu tangisan yang menghias di wajah wanitanya.


Naya membeku menerima ciuman tiba-tiba itu. Sedetik kemudian, dirinya merasa ingin menikmatinya lebih lama. Meskipun sedikit kasar dari ciuman Noah biasanya, tapi ia sangat menyukainya. Selalu terasa manis untuknya. Naya berharap seandainya ia bisa menghentikan waktu, Naya akan meminta agar waktu mereka benar-benar berhenti malam ini, karena besok, Naya tidak akan pernah merasakan hal yang sama lagi.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2