SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 40


__ADS_3

Sebuah mobil berwarna hitam pekat, berpintu dua, dengan logo bintang segitiga, salah satu logo terkenal di industri otomotif yang berasal dari Jerman, terparkir asal di depan café itu. Naya tidak tau apa rencana Noah sebenarnya.


“Masuk!” perintah Noah membuyarkan lamunan Naya. Dengan hati-hati Naya membuka pintu di kursi penumpang, sementara Noah mengambil tempat di kursi kemudi, lalu menyalakan mesin mobilnya.


“Tuan, apa saya bisa pulang dulu? Masih ada barang yang ingin saya ambil.”


Noah tidak menjawab, ia segera melajukan mobilnya dan berhenti tepat di sebuah gedung berlantai 5 yang di penuhi dengan banyak pintu.


“Saya belum menyebutkan alamatku. Bagaimana anda bisa tau saya tinggal di sini?”


“Jangan banyak tanya, ambil saja barangmu.”


Naya bergegas membuka pintu, lalu menarik napasnya dengan kuat. Atmosfir di sekeliling Noah sangat berat, energinya terkuras habis menghadapi sikap Noah yang seperti itu.


Ketika membuka pintu, Clara belum juga pulang, ia segera mengambil ponsel yang sedari tadi berada di sakunya, lalu memeriksanya, ternyata Clara sudah lebih dulu mengiriminya pesan.


“Aku pulang telat, Na. Ada yang ngadain acara gathering di sini.”


Naya segera membalas pesan itu.


“Ra. Aku ketemu Noah, aku disuruh ikut dengannya malam ini. Jangan khawatir, aku akan kabarin kamu terus.”


Setelah mengirim pesannya, tiba-tiba kamarnya dibuka. Noah berdiri di sana.


“Lama sekali.”


“Tuan. Saya baru keluar 5 menit.”


“Ya, mungkin karena ada orang yang pernah mengatakan padaku akan ke toilet, ternyata menghilang bertahun-tahun.”


Naya terdiam mendengar sarkas Noah. Ia lalu memasukkan beberapa baju dan pakaian dalamnya ke dalam sebuah tas yang lebih besar, sementara Noah masuk ke dalam kamar itu yang berukuran 30 meter persegi, menilik sekelilingnya, hingga matanya menuju ke arah salah satu meja di sudut kamar. Di bawah meja itu, ada penyimpanan beberapa novel milik Clara dan beberapa majalah.


“Sejak kapan kau tertarik dengan bisnis?” Noah tersenyum kecil sambil mengambil salah satu edisi majalah.


Naya berbalik, sedetik kemudian irisnya membesar, melihat Noah yang sudah memegang harta karunnya itu. Naya yang terkejut langsung merebut majalah itu.


“I-ini bukan punyaku, Clara yang menyukai majalah bisnis.” Naya menyembunyikan majalah itu ke belakang tubuhnya. Semoga wajahnya tidak sedang memerah menahan malu. Ia takut dianggap sebagai penguntit.


“Wah, kebetulan sekali, semua majalahnya memiliki cover wajahku.” Noah mengambil majalah-majalah yang lain.

__ADS_1


“Tu-tuan anda sebaiknya menunggu di luar. Saya janji tidak akan lama.” Naya yang masih gelagapan mencoba mendorong Noah untuk menjauh dari tempat penyimpanannya.


Tangan Naya tertangkap. Noah mendekatkan tubuhnya seinci dari wajah Naya. Aroma musk yang bercampur dengan aroma mint yang segar, menusuk indra penciuman Naya. Wangi dari tubuh pria yang sangat ia rindukan.


“Jangan menyuruhku pergi, Naya. Kau tidak tau, apa yang sudah kau lakukan padaku selama ini.”


Kalimat itu sangat terdengar tegas tapi dengan nada yang menyedihkan. Sekarang Naya paham, sepertinya, ia benar-benar sudah berbuat kesalahan besar.


Suara ketukan pintu terdengar nyaring, dan tidak sabaran. Noah mendengus kesal lalu melepaskan tangan Naya. Ia berbalik lalu berjalan ke arah pintu. Ada seorang pria berdiri di sana. Pria yang sama saat di café.


Alvin terkejut karena yang keluar dari kamar Naya adalah pria yang tadi.


“Mana Naya?”


Noah melangkah keluar, lalu menutup pintu di belakangnya. Naya kini tidak bisa mendengar mereka.


“Jauhi Naya!” Mata Noah mengkilat marah.


“Apa kau pacarnya? Apa hakmu melarangku?”


“Naya milikku.”


Alvin tertawa lebar. “Milikmu?”


“H-hah? Apa maksudmu?” Alvin termundur, saat langkah Noah semakin dekat.


“Kira-kira apa pendapat Naya ketika mengetahui, kalau adikmu adalah seorang pengedar narkoba?”


Alvin terpaku. Bagaimana bisa ada orang asing yang mengetahui itu? Mati-matian ia bekerja siang malam untuk menyembunyikan adiknya yang sekarang menjadi buronan. Hanya ia dan adiknya yang tau itu semua, rahasia itu harusnya tertutup rapat.


“Jangan macam-macam denganku, Alvin. Aku bisa merusak dan menghancurkan semua yang kau punya dalam sekejap.”


Alvin meneguk salivanya dengan keras. Aura intimidasi itu sangat menekannya.


“Jauhi Naya, atau aku akan mengatakan kepada polisi di mana lokasi adikmu yang sedang bersembunyi sekarang.”


Pintu di belakang Noah terbuka, ada Naya yang sudah berganti pakaian sambil memegang tas besarnya.


“Alvin?”

__ADS_1


Noah melepas kontak matanya, dan berjalan lebih dulu.


“Vin, besok aku tidak masuk, ya. Aku sudah konfirmasi ke pak Robert.”


Naya bisa menyadari ada butiran peluh di kening Alvin.


“Vin, kamu tidak apa-apa?”


Alvin menggeleng lemah. “Kamu hati-hati ya. Aku tidak tau kamu berurusan dengan apa. Tapi, aku harap kamu baik-baik saja.”


Naya tersenyum. “Aku akan baik-baik saja. Aku akan menghubungimu nanti.”


Naya pun mengikuti langkah Noah yang sudah menghilang.


Alvin yang di tinggal pergi, hanya bisa menatap punggung Naya yang menjauh. “Kenapa kamu harus bertemu monster seperti itu, Naya.”


--


Setelah meletakkan barang bawaannya di bagasi, Naya duduk di samping Noah yang masih terlihat menakutkan.


Noah menoleh ke arahnya dengan mendengus. Kesalahan apa lagi yang ia buat sampai Noah harus terlihat kesal seperti sekarang?


“Sejak kapan kau kenal pria itu?”


Oh ternyata tentang Alvin.


“Sejak hari pertama saya di sini.”


“Apa kau sudah pernah tidur dengannya?”


Naya terkejut. “Tuan. Saya menjauh dari anda, bukan untuk kembali menjadi pelacur.”


“Aku hanya memastikan.” Karena aku akan membunuhnya jika dia berani menyentuhmu.


Naya membuang wajahnya ke arah jendela. Hatinya sedikit kecewa dengan kalimat Noah. Mobil pun melaju menembus malam yang pekat. Butuh waktu lama untuk mereka sampai di kota tujuan mereka.


Semakin lama itu, semakin membuat Noah menikmatinya. Hanya sejam kemudian, Naya sudah terlelap di sampingnya. Dengan sehalus mungkin, Noah menghentikan mobilnya, lalu memperbaiki sandaran kursi Naya agar dirinya nyaman. Long coat yang tadi ia gunakan, sudah ia pakaikan untuk menutupi tubuh Naya. Sambil memperhatikan wajah kesukaannya itu, Noah menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah damai Naya. Menatapnya dengan lama, lalu dengan lembut ia mencium sekilas bibir mungil miliknya. Rasanya sangat memabukkan, Noah berusaha sekuat tenaga mendorong tubuhnya sendiri. Ciuman yang hanya sekilas itu membuatnya menginginkan lebih.


“Kalau caraku dulu tidak bisa membuatmu bertahan, maka maafkan aku jika aku menggunakan cara yang mungkin kau tidak suka.”

__ADS_1


...****************...



__ADS_2