SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
PERTEMUAN


__ADS_3

DUA BULAN KEMUDIAN ...


Selimut putih menenggelamkan tubuh dari seorang gadis yang sedang terkapar akibat mabuk. Terbaring telentang dengan posisi menyilang di atas ranjang. Di dalam sebuah kamar hotel bintang 4 di kawasan Jakarta. Sinar mentari pagi yang menembus jendela, belum mampu membukakan mata Feby yang baru terlelap tidur jam 3 pagi.


Namun, itu menjadi pemandangan indah untuk pemuda yang duduk memojok di kursi. Dekat meja yang menyambung dengan cermin besar. Gumpalan asap rokok yang keluar dari mulut pemuda itu, mulai membuat mulut gadis pemilik tubuh sintal itu terbatuk. Karena sesak yang menyumbat pernapasanya di kala sedang terlelap tidur.


Feby membuka perlahan kelopak mata setelah berdehem batuk. Dia menyingkap selimut secara perlahan dari tubuhnya. Kedua bola matanya terpaku kaget melihat pemuda dengan telanjang dada, sedang duduk sambil menghisap tembakau.


"Siapa lo!" seru Feby dengan menarik selimutnya kembali sampai ke dada.


Pemuda itu menekan puntung rokok di asbak kecil yang terbuat dari bahan melamin. Hingga bara apinya padam. "Mending lo sekarang mandi. Gue mau kebawah dulu. Semalem gue terpaksa ngebuang baju lo. Tapi celana lo gak. Tuh gue gantung disana. Heeeufss ... Baunya gue gak tahan. Habis itu kita cabut dari sini," kata pemuda itu dengan memakai kaosnya kembali.


Sebuah kalimat yang membuat Feby mengintip tubuhnya sendiri yang berada di dalam selimut. Dahinya mengerut ketika dia tahu kalau tubuhnya sudah tanpa busana.


"EL-El—Elo,"


"Lo semalem mabuk parah sampe gak sadar kalau lo muntah di baju lo sendiri. Gue terpaksa buka semua baju lo. Tapi tenang, tubuh lo masih aman. Belum gue apa-apain." Pemuda itu menyela dengan cepat. Dan menjelaskan kepada gadis yang wajahnya sudah sangat gelisah. Yang sedang menutup rapat tubuhnya dengan kain selimut.


Namun, merasa belum bisa percaya dengan ucapan pemuda asing yang baru saja bicara, Feby menggerakan tanganya untuk memeriksa sendiri kebagian intimnya. Memastikan kalau organ intimnya tidak ada sakit atau apapun.


Wajahnya berubah lentur kembali ketika dia sudah mengetahui bahwa memang tubuhnya belum sama sekali tersentuh.


"Lo siapa? kenapa gue bisa ada disini?"


Baru juga melangkah beberapa meter menuju pintu kamar hotel, Pemuda itu terpaksa berhenti untuk menjawab pertanyaan klasik dari wanita malam yang lupa dengan apa yang terjadi semalam.

__ADS_1


"Lo itu mabuk, bukan amnesia. Pasti lo masih inget-inget sedikit lah kejadian tadi malam. Kan lo sendiri yang minta gue untuk ngajak lo lari dari razia narkoba di club FIRE EAGLE. Lupa!"


Tatapan sinis dari pemuda berambut tebal namun klimis. Dengan jambang tipis dan juga wajah yang mulus. Membuat Feby harus mengulang kembali ingatanya mengingat kejadian tadi malam hingga berakhir sampai di ranjang.


Wajah semeringai seperti senyum yang terpaksa, yang terlukis dari wajah Feby setelah berhasil mengingat apa yang terjadi dengan dirinya semalam. Sangat membuat pemuda itu jengkel dan tersenyum tipis sebelum melanjutkan langkahnya pergi keluar kamar.


"Sial! kenapa gue bisa kebablasan sih. Gue cuma menyamar, kenapa gue mabok beneran. Aaacchhhh!!! gerutu Feby kesal sambil menopang tubuhnya berjalan ke arah kamar mandi tanpa selimut yang membungkus dirinya.


Aliran air yang jatuh dari shower menyentuh hangat kulit Feby. Dia mulai membasahi rambutnya yang terurai lurus. Dengan sabun cair yang tersedia di dalam kamar mandi sebagai salah satu fasilitas yang hotel berikan, Feby mengusap lembut tubuh indahnya dari atas hingga kebawah. Jemarinya yang lentik dengan kuku yang bersih terlihat sangat terawat sedang membasuh setiap lekukan di bagian indah tubuhnya.


Hingga hampir setengah jam, gadis itu menikmati air di dalam kamar mandi.


"Lo mandi, apa lagi bertapa. Lama banget," seru pemuda yang terlihat kesal di wajahnya. Dengan bungkusan plastik putih, rapi, digenggam di tangan kanan.


"Anjiiiir! mata lo woy!" Feby menyadari kalau pemuda itu sedang menatap napsu dengannya.


"Sial lo! lo pikir gue ngeliatin karena pengen," bantahnya.


"Terus apa! mata lo gak bisa boong ya," protes Feby.


"Lo mandi pake dua handuk. Terus gue pake apa? gue harus pake handuk bekas lo," kata pemuda yang sudah berdiri di depan Feby sambil mengambil handuk yang berada di tangan gadis itu. Dan memberikan bungkusan plastik putih ke tangan Feby. Sebelum dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Eeeeuh ... " gerutu Feby kesal sambil melangkah ke depan cermin. "Lumayan lah. Walaupun kaos," ucap Feby setelah membuka isi dari bungkusan tersebut.


Gadis itu memandang dirinya di cermin. Dengan kaos putih bercorak bunga mawar di tengah-tengahnya. "Tau juga dia ukuran baju gue," ucapnya setelah memakai kaos yang diberikan oleh pemuda yang sedang membersihkan diri di kamar mandi.

__ADS_1


Feby mengeringkan rambut dengan handuk yang di usap-usap ke kepalanya. Tidak bisa terlalu kering. Namun, cukup membantu dari pada basah sama sekali.


Dia menarik kursi kecil yang berada di bawah meja dekatnya. Menyandarkan pantatnya duduk berhadapan dengan cermin. "Tapi—aneh juga yah sama dia. Padahal semalem gak ada sehelai kainpun menempel di tubuh gue, tapi gue gak di apa-apain. Apa—jangan-jangan dia gak napsu sama gue," gumam Feby dengan menatap tubuhnya yang padat berisi, dari pantulan cermin.


"Gue bukanya gak napsu sama lo. Tapi gak adil aja kalau gue nikmatin tubuh lo, tapi lo lagi dalam kedaan gak sadar."


Sebuah kalimat yang mengundang Feby segera menoleh ke arah kanannya. Mamandang pemuda yang baru saja berucap. Namun, ada sedikit rasa kagum di hati Feby karena mendengar perkataan yang sedikit Gentle menurutnya. Sehingga dia pun bingung untuk membalas perkataan pemuda itu. Kecuali, hanya memandang kagum karena melihat aura yang kuat dari pemuda yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Anjiiir! napsu lo sama gue!" Pemuda itu melempar handuk ke arah Feby. Seketika membuyarkan lamunan gadis yang sedang menatap takjub wajah bersih yang terpancarkan dari laki-laki itu.


"Ih—apaan sih! gue cuma ngeliat ya. Bukan napsu," bantah Feby yang tidak menerima dirinya terpojokan.


"Halah! mata lo gak bisa boong."


Kata-Kata yang awalnya terucap dari mulut gadis itu kini berbalik menghujam dirinya. Feby diam dengan wajah merah karena malu dan tidak bisa membalas lagi.


Setelah perdebatan panjang. Dan tidak ada satu orang pun yang mau mengalah, mereka serentak meninggalkan kamar yang tadinya rapi. Tapi sekarang terlihat sama dengan pembuangan sampah.


Pemuda itu berjalan cepat di depan Feby yang membutut di belakang. Mereka menuju lift untuk turun ke lobby.


"Lo mau kemana?"


"Kemana gue mau pergi, bukan urusan lo. Cukup sampai disini lo nyusahin gue," balas pemuda itu sebelum dia berjalan keluar pintu lobby dan berbelok ke arah kanan. Sementara Feby masih berdiam diri dan memilih sofa kosong yang ada di ruangan ini. Untuk bersandar sejenak sebelum tau kakinya ingin melangkah kemana.


"Aaachh! gara-gara mabuk, gue jadi gak fokus sama tujuan," keluh Feby dengan menyibak rambutnya kebelakang.

__ADS_1


__ADS_2