
Mobil Noah memasuki area parkir bawah tanah. Setelah mobil berhenti dengan sempurna, Noah mengajak Naya untuk mengikutinya. Memasuki sebuah gedung, menaiki lift, dan menekan angka 50. Tidak ada angka lebih besar dari itu.
Lift melesat dengan lembut. Tidak ada guncangan maupun suara bising. Naya hanya berdiri di belakang Noah dengan takut-takut. Naya merasa Noah kembali menjadi sosok yang dingin. Mungkinkah Noah melepaskannya dari rumah bordil itu untuk menjadikannya … Naya segera menggeleng. Memangnya apa lagi kemungkinan terburuk? Dijual? Dibunuh? Atau dijadikan korban perdagangan manusia? Sungguh, Naya sudah tidak peduli lagi.
Pintu lift terbuka, Noah melangkah keluar lalu berbelok ke arah satu-satunya pintu di lantai itu. Dengan pintu pemindai sidik jari, Noah membuka kedua pintu di depannya dengan lebar. Bersamaan dengan kedua bola mata Naya yang ikut melebar melihat isi di dalam rumah itu. Oh maafkan Naya, itu bukanlah rumah biasa. Tapi, itu adalah sebuah penthouse.
Sebuah kaca besar nan tinggi menjulang di depannya. Warna dinding yang senada dengan perabotan di ruangan itu, juga di atas sana ada lantai lainnya yang memiliki pembatas dari kaca yang pasti tidak murah. Lampu yang tergantung, hiasan bunga yang menghias di pinggir ruangan, semuanya terlihat menakjubkan. Naya yang masih menilik rumah mewah itu tidak sadar ketika Noah sudah berhenti di depannya.
“Apa kau suka?” tanyanya lembut.
Naya mengernyit. “Ini rumah anda. Saya hanya mengaguminya. Selera anda selalu bagus.” Naya mengedarkan pandangannya lagi. Ia masih belum puas memanjakan matanya.
“Benar. Seleraku memang selalu bagus,” balasnya tanpa melepas pandangannya dari Naya.
Naya menoleh ke arahnya tidak mengerti. Noah kemudian menarik tangan Naya ke sebuah ruangan yang berisi kamar besar, dan lagi-lagi jendela tinggi menjulang. Matahari pagi menyinari isi kamar itu.
“Ini kamarmu.”
__ADS_1
Naya tersentak. “Tapi ini terlalu luas, aku bisa-”
Ucapan Naya terhenti saat Noah sudah membungkam bibir kecil itu dengan bibirnya.
“Jangan menolakku, Naya.”
Naya membeku, ini adalah ciuman pertama mereka sejak Noah pergi selama tiga minggu. Ada sesuatu dalam dirinya yang memberontak menginginkan lebih. Tapi, sebisa mungkin Naya menyadarkan dirinya sendiri.
“Noah,” bisiknya, saat Noah melepaskan ciumannya. “Jangan memberiku harapan. Aku mohon.”
Matahari semakin meninggi. Ketika sinar lembut itu menerpa wajah Naya, sebulir air mata berhasil lolos. Hati Naya masih belum sanggup menerima cinta atau apa pun itu namanya.
Noah menangkup pipi Naya. “Kalau begitu jangan berharap. Biarkan aku yang mewujudkan semuanya untukmu. Aku akan selalu menunggumu sampai kau siap menerimaku.”
Melihat Naya yang terdiam, membuat Noah semakin frustasi. Ia memilih menarik Naya kepelukannya.
“Saya pikir, anda sedang marah.”
“Hmm?” Noah menunduk.
__ADS_1
“Anda tidak berbicara kepadaku sejak perjalanan ke sini.”
Noah terkekeh. “Maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu.”
Giliran Naya yang mendongak.
“Jangan khawatir, Naya. Aku berjanji tidak akan membiarkanmu terluka lagi.”
...----------------...
“Kau memang pantas dihargai mahal.” Wajah penuh kenikmatan milik Mike sesaat setelah dirinya terpuaskan. Sementara wanita yang sedang berbaring tersenyum bangga.
Laki-laki telanjang itu berjalan ke arah lemari kayu dan mengeluarkan bathrobe untuk menutupi tubuhnya.
“Kau ingatkan harus membayarku dengan apa?”
“Tentu saja, Sayang. Mulai hari ini, kau dan aku memiliki tujuan yang sama.” Mike menuangkan isi botol alkohol kedalam dua gelas kristal, satu gelasnya ia ulurkan untuk wanita yang sedang menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Untuk keberhasilan rencana kita. Mari bersulang, Freya.” Mike tertawa senang. Sedangkan wanita itu, Freya, ikut tertawa dengannya.
__ADS_1
Sesaat setelah Noah meninggalkan Mike dan Freya. Di saat itu lah, mereka seperti saling mengerti tentang tujuan masing-masing. Mike menginginkan saham perusahaan Elmer dari Noah, sementara Freya menginginkan wanita yang dilihatnya saat di lift, mati di tangannya. Rasa cemburu terbakar di hatinya saat melihat Noah lebih mengejar wanita itu daripada dirinya. Padahal wanita lemah itu jauh berada di bawahnya.
...****************...