
Sebuah rumah besar di pinggiran Kota Simpang menjadi tujuan Noah malam ini. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit untuk Noah sampai di halaman luas rumah itu.
Pintu utama terbuka, ada Calvin yang berdiri menyambut Noah. Warna gelap dari pakaian Noah membuat Calvin sedikit cemas. Bukan hanya itu, wajah yang tanpa ekspresi memyeruakkan aura gelap yang pekat. Sudah lama ia tidak melihat sosok Noah yang seperti ini.
“Tunjukkan jalannya!” perintah Noah tanpa menghentikkan langkahnya memasuki rumah dua lantai itu.
Calvin masuk lebih dalam, melewati ruang santai, menuju halaman belakang, hingga berhenti di satu gubuk kecil tempatnya menyimpan segala jenis kebutuhan berkebun. Pintu itu digembok, Calvin merogoh sakunya lalu mengeluarkan satu kunci yang memiliki gantungan berbentuk anjing kecil.
Begitu pintu terbuka, Noah mengamati ruangan itu. Satu lampu pilar yang tergantung dan berwarna kuning hanya menyinari secukupnya. Ada cangkul dan sekop tergantung di dinding kayu, beberapa karung pupuk, selang air beserta pemompanya, dan sarung tangan bersih yang belum digunakan, tergeletak di atas meja kayu bersama dengan pot-pot kecil berisikan daun-daun yang baru tumbuh.
Namun, itu semua tidak begitu menarik perhatiann Noah. Seorang pria dengan wajah yang masih berlumuran darah terlihat tidak sadarkan diri dengan mulut yang tertutup lakban hitam, tangan dan kaki yang terikat di atas sebuah kursi usang.
“Kau memukulnya?” Noah bertanya dengan simpati.
“Hah? Itu semua perbuatanmu? Ingat botol wiski yang kau pecahkan di kepalanya?” Calvin protes karena dituduh.
Noah terkekeh, lalu berjalan mendekat lalu berjongkok depan pria malang itu.
“Hei .…” Noah menepuk-nepuk kasar wajah pria di depannya, mencoba menyadarkannya.
“Kau harus bangun, supaya ini menyenangkan,” lanjutnya.
“Kau butuh ini?” Calvin memegang selang air yang sudah ia sambung ke keran terdekat.
Noah berdiri lalu mengambilnya, menghadapkan ujungnya ke tubuh pria itu. Semenit kemudian, pria itu mulai tersadar. Matanya melotot, mulutnya bergumam tidak jelas, tubuhnya ia guncangkan untuk menghindari air dingin yang terarah kepadanya.
Noah menurunkan selangnya, lalu melepas penutup mulut pria itu dengan sekali tarikan kuat. Si pria mendesis merasakan kulit bibirnya seperti terkelupas.
“KAU AKAN MENYESALI INI! KAU TIDAK TAU SIAPA AKU, HAH?”
Kalimat pertama yang berhasil membuat Noah berbalik, lalu mengambil sarung tangan yang terbuat dari kain kasar dan memakainya.
“Kau pikir bisa memasuki pasar China tanpa bantua—”
__ADS_1
Satu hantaman kuat mengenai rahang kiri si pria.
“Diamlah! Bukan kau yang seharusnya bicara sekarang,” ucap Noah dengan dingin.
Si pria meludahkan salivanya yang berwarna merah, ia bisa merasakan pipi dalamnya terluka.
“Jawab pertanyaanku. Bagaimana kau bisa mengenalnya?”
Pria itu tertawa meskipun dengan sedikit meringis. “Aku adalah salah satu pelanggannya dulu. Hanya dia yang tidak bisa ku tiduri. Si jalangg itu membuatku penasaran.”
Noah menghela napas. Calvin yang berdiri di belakang bahkan menegang di tempatnya. Hembusan napas berat dan diam Noah malah membuat suasanya di ruangan kecil itu semakin menyeramkan.
Noah kini berdiri lalu memeriksa satu-satu peralatan kebun di tempat itu. Sambil memeriksa sudut lancip dari setiap benda yang ia pegang.
“Kau tau, wanita yang kau sebut jalangg itu adalah wanita yang berjuang hidup saat semua orang meninggalkannya.”
Noah lalu beralih ke sebuah alat di dalam kotak berwarna biru, isinya adalah beberapa set obeng, bor listrik, dan sebuah tang kecil yang pas di tangannya.
“Wanita itu, harus jadi pelacur saat suami yang menjualnya, selingkuh dengan sahabatnya sendiri.”
“Dan saat wanita itu sedang berusaha keluar dari masa lalunya ….” Noah kini berdiri di hadapan pria itu yang kini gemetar melihat apa yang Noah pegang. “Kau dengan seenaknya menyentuhnya dengan tanganmu yang kotor itu?”
Ujung bor itu berputar cepat saat Noah menekan tombolnya.
“Aku berusaha menyembuhkan trauma dan luka wanita itu. Kenapa kau malah melukainya lagi?”
“No-Noah, aku minta maaf. Aku yang salah....”
Mata Noah mengkilat marah. Tidak ada penyesalan di wajah pria brengsek itu. Pria itu hanya ketakutan.
“Wanita itu juga memohon kepadamu, kan? Dia memohon supaya kau tidak menyentuhnya, keparat!”
Kalimat terakhir dari Noah sebelum ia mengarahkan ujung bor itu ke paha si pria. Rintihan dan teriakkan yang memekakkan rungu tidak membuat Noah menghentikkan aksinya.
__ADS_1
Calvin hanya menonton sambil menunggu Noah puas dengan kegiatannya.
Setelah mematahkan setiap jari, melukai setiap sendi, hingga lebih dua jam lamanya, Noah akhirnya berhenti. Ia berhenti karena khawatir Naya akan terbangun dan tidak mendapatinya di kamar.
Calvin memeriksa kondisi si pria yang sudah sangat mengenaskan.
“Wah kuat juga, dia masih bernapas.”
“Aku tidak peduli mau kau apakan. Aku harus kembali sekarang.”
Calvin mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
“Kemarilah, ada orang yang harus kau obati… tidak perlu merawatnya … kondisinya? hmm, sedikit parah … kali ini bukan aku. Aku tidak melakukan apa-apa … oke baiklah. Aku menunggumu….”
Setelah sambungan terputus, Calvin mengikuti Noah ke arah kamar mandi. Noah lalu mencuci tangannya. Untungnya ia memakai sarung tangan, jadi tidak banyak bekas darah.
“Noah. Aku tidak tau, Naya melalui semua itu.”
“Jangan beritahu siapa pun. Aku akan mencarimu kalau kau membocorkannya,” ucap Noah sambil melirik Calvin dari cermin besar.
“Setelah melihatmu seperti tadi, aku tidak mungkin berani. Tapi, bagaimana dengan pasar China? Aku tidak mengenal siapa pun lagi yang secakap Tony.”
“Meskipun membutuhkan waktu sepuluh tahun. Aku akan melakukannya sendiri.”
Noah berjalan ke arah pintu utama.
“Terima kasih untuk tempatmu. Kalau kau membutuhkan bantuanku, kau bisa menghubungiku kapan pun,” ujar Noah.
“Hahaha, tentu saja. Aku menantikannya.”
Noah kini kembali ke mobilnya dan meninggalkan rumah itu. Untuk sementara, ia akan mempercayai Calvin. Ia adalah temannya sejak Noah sekolah di Amerika. Selama ini, Calvin belum pernah mengkhianatinya, dan Noah pastikan Calvin tidak akan pernah melakukannya.
...****************...
__ADS_1