SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 26


__ADS_3

Beberapa luka lebam yang ada di tubuh Naya sudah mulai memudar. Sudah hampir seminggu dirinya menerima semua perawatan di sebuah rumah sakit. Noah selalu datang menemaninya setelah menyelesaikan pekerjaan kantor.


Seperti malam ini, Noah datang menjenguknya setelah seharian meneror Naya dengan puluhan pesan dan lima kali panggilan. Menanyakan kondisinya atau pun memberi perintah agar Naya tidak telat meminum obat.


“Bagaimana kabarmu, Sayang?” Noah mencium lembut kening Naya.


Sementara yang menerima ciuman masih belum terbiasa dengan keromantisan itu. Naya selalu menunduk malu.


“Sudah makan?” tanyanya.


Naya mengangguk.


Noah melirik ke arah meja. Masih ada sisa makanan dan hanya tersentuh pinggirnya.


Noah mendengus. “Ini yang kamu maksud sudah makan?” Sambil menunjuk mangkuk yang berisi bubur itu.


Ia menelpon seseorang, meminta makanan baru untuk Naya. Setelah itu, ia melepas jasnya, melipat lengan kemejanya ke atas, lalu melonggarkan dasi hitam yang sedari tadi mencekiknya. Sementara Naya, menikmati pemandangan indah itu.


Noah lalu beranjak ke arah pintu setelah mendengar suara ketukan. Ia kembali dengan nampan berisi makanan penuh, lalu meletakkannya di atas nakas.


“Aku harus memastikan kamu menghabiskan ini.”


Naya menghela napas. Ia sangat tidak berselera.


“Naya. Jangan membantah, ya.”


Bibir Naya yang baru saja akan protes, langsung mengatup. Ia mengangguk takut.


Noah kadang bisa sangat lembut, tapi bisa juga sangat menakutkan.

__ADS_1


Suapan pertama berhasil mendarat di mulutnya. Bisa ia lihat betapa Noah sangat tulus. Mungkin Noah sudah terlatih saat merawat ibunya.


“Noah.”


“Hmm?”


“Bagaimana kabar ibu?” tanya Naya hati-hati.


“Sudah semakin baik. Beberapa hari ini dia sudah mulai tersenyum kecil.”


Naya tersenyum senang. Ada perasaan rindu untuk segera bertemu ibu Noah lagi. Tiba-tiba sekilas ingatan tentang ucapan Noah tentang dirinya bersama ibunya melintas.


Suasana berubah menjadi hening. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring kaca saat Noah mengaduk bubur hangat itu.


“Kenapa anda menyukaiku?” tanya Naya tiba-tiba.


Naya membelalak. Tatapannya menurun, ia malu. “Oh, maaf. Maksudku ….”


“Aku mencintaimu, Naya.”


Naya membeku, tapi tidak dengan Noah. Noah melayangkan suapan kedua. Kali ini, rasanya sangat sulit untuk mengunyah. Pikiran Naya tiba-tiba berperang dengan perasaannya sendiri. Tidak ada wanita mana pun yang tidak ingin di cintai.


Setelah berhasil menelan makanan itu, Naya memberanikan diirnya. “Jangan mencintaiku, saya tidak pantas untuk anda.”


Noah tidak mengindahkan kalimat itu. Noah masih dengan sabar menyuapi Naya, meskipun suapan ketiga terhenti di bibir Naya yang menutup rapat.


Noah meletakkan kembali sendok ke dalam piringnya, lalu menyimpannya di atas nakas. Ia lalu mengulurkan gelas berisi air putih. Naya mengambilnya lalu meminumnya sedikit.


Setelah meletakkan gelas, Noah berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

__ADS_1


Naya mengira Noah marah padanya. Tapi sepuluh menit kemudian Noah kembali masuk sambil membawa sebuah amplop besar berwarna coklat. Noah memberikannya untuk Naya.


Naya mengamati alamat pengirimannya, alamatnya adalah rumah pelacurannya dulu. Ia mengeluarkan isi amplop itu. Ketika mengetahui isinya adalah surat perceraian yang suaminya kirimkan, Senyumnya berubah menjadi sedih.


Noah merebut amplop yang masih Naya pegang dan mengeluarkan hal lain di sana. Sebuah foto terjatuh. Foto pernikahan Brian bersama Yuki. Wajah bahagia mereka terukir jelas di foto itu.


“Brian bahkan tidak menungguku menandatangani surat perceraian ini,” ucapnya dengan tersenyum getir, air matanya jatuh lagi. Rasanya ribuan lebih sakit daripada saat Freya memukulnya dan menamparnya hingga berdarah.


Noah berdiri di depannya dengan wajah yang datar tapi rahangnya menegang. Perasaannya seperti mendidih kembali. Wanita di depannya ini sudah sangat hancur berantakan. Noah frustasi. Bagaimana caranya menyadarkan Naya kalau dia juga berhak bahagia. Bersamanya.


“Naya!” Noah memanggil dengan tegas.


Naya tersentak, ia mendongak melihat Noah yang menyugar rambutnya ke belakang. Naya tau, Noah sedang menahan emosinya.


“Kenapa hanya kau yang harus menderita, hah? Semua orang yang menyakitimu bahagia di luar sana. Kenapa kau terus menyiksa dirimu sendiri?”


Naya menunduk. “Saya hanya sedang melindungi diriku sendiri. Hatiku sudah sangat hancur. Rasanya sangat sulit untuk jatuh cinta lagi.”


“Kalau begitu jangan! Sudah berapa kali aku katakan. Biarkan aku yang mencintaimu, biarkan aku yang mendekatimu, dan biarkan aku … yang mengobati luka itu.”


Air mata Naya mengalir. Ucapan itu sangat hangat di hatinya. Dirinya benar-benar bisa sangat jatuh lagi jika Noah mengatakannya. Luka yang Noah maksud seperti di tenggelamkan dalam satu wadah berisi ramuan obat terbaik.


Noah menarik Naya ke pelukannya. “Ada aku, Naya. Kau tidak benar-benar sendirian sekarang. Aku yang akan menjadi keluargamu lagi, bersama ibuku.”


Naya tidak lagi menahan isakan tangisnya. Ia membalas pelukan Noah dengan erat. Apakah harus? Apakah bisa? Apakah ini benar? Hatinya meronta ingin sembuh, tapi pikirannya masih berusaha mengeluarkan semua kenangan buruk itu. Menyadarkan Naya, jika pertahanannya akan habis jika ini gagal lagi.


Bunyi pintu kamar di buka dengan kasar, suara derikan roda semakin jelas menghantam kesunyian. Dari arah pintu, kenyataan kembali menghadang mereka. Kenyataan yang hampir saja Naya lupakan. Bahwa, tidak akan ada tempat untuknya. Meskipun Noah menggenggam erat tangannya. Tapi tatapan dari seorang pria yang sedang duduk di kursi rodanya itu, sangat jelas, sedang menatap penuh amarah kepada dirinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2