SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 47


__ADS_3

“Naya? Kamu serius, kan?”


Suara Clara di ujung sana terdengar tidak percaya dengan ucapan Naya yang baru saja ia dengar.


“Aku nggak ada teman selain kamu, Ra.”


“Kamu nikah di ujung dunia pun aku pasti datang, Na. Maksud aku, bagaimana dengan keluarganya? Kamu bisa mengatasinya?”


Naya menghela napas. Ia melirik ke arah Noah yang sedang membuat kopi di meja dapur.


“Aku harus bisa mengatasinya.”


“Baiklah. Aku akan ke sana minggu ini.”


“Terima kasih, Ra. Bye.”


Naya meletakkan ponselnya. Sudah seminggu sejak mereka meninggalkan Singapore. Undangan pernikahan mereka yang hanya berjumlah 20 lembar terasa sangat banyak untuk Naya. Ia tidak punya siapa pun untuk di undang kecuali Clara, dan Noah pun tidak punya siapa pun juga untuk di undang. Atas permintaan Naya, pernikahan mereka akan dilakukan secara tertutup. Hanya relasi terdekat dan kerabat mereka yang akan hadir.


Noah yang menyodorkan segelas kopi hangat untuknya, membuyarkan lamunan Naya.


“Ada apa? Clara tidak bisa datang?” Noah bertanya setelah melihat raut sedih di wajah Naya.


“Dia bisa datang.”


“Lalu?”


Naya menyesap kopinya. “Ada satu undangan yang tersisa. Boleh mengundang ayahmu?”


“Tidak perlu. Dia hanya akan membuat kekacauan kalau datang.” Noah merasa tidak nyaman.


Naya menunduk, melihat gelas di tangannya. “Aku ingin bertemu dengannya.”


“Untuk apa? Kita akan menikah meskipun tanpa kehadirannya.”

__ADS_1


Naya mendongak. Ia melihat dalam manik Noah. “Izinkan aku bertemu dengannya sekali lagi, ya. Aku janji, apa pun yang ia katakan tidak akan membuatku ragu.”


Noah tidak menyukai ide itu. “Kau yakin?”


Naya menyimpan gelasnya ke atas meja, lalu mengambil tangan Noah dan menggenggamnya. “Aku ingin memulai hubungan ini tanpa menyimpan luka apa pun. Meskipun Tuan Elmer tidak merestui pernikahan kita, setidaknya, aku sudah pernah meminta restunya.”


Mendengar ketulusan Naya, membuat senyuman kecil di wajah Noah. Ia menarik Naya dan memeluknya. “Baiklah, kita berdua akan mencoba meminta restunya.”


***


Naya berbohong kalau ia tidak gugup. Semua yang ingin ia katakan seperti meluap tidak bersisa. Ia harusnya menulis kata-katanya di atas kertas, supaya ia tidak melupakannya. Saat berdiri di depan pintu besar itu, Noah menoleh ke arahnya khawatir. Naya menggeleng sambil tersenyum, mengisyaratkan ia akan baik-baik saja.


Begitu pintu besar itu terbuka, seorang wanita tua berpakaian rapi menyambut mereka.


“Silahkan, Tuan Besar sudah menunggu di taman belakang. Mari saya antar.”


Kaki Naya melangkah mengikuti langkah Noah di sampingnya, menyusuri rumah besar dengan berbagai perabotan mahal. Lantai marmer yang beradu dengan sepatu pantofel milik Noah dan heels milik Naya menggema memecah keheningan. Rumah besar itu terasa begitu sunyi.


Di sebelah kiri taman belakang, ada paviliun yang terpisah dari bangunan utama. Bangunan yang khusus dibangun untuk menyalurkan hobi si pemilik rumah. Ada kolam ikan besar dan seorang pria tua berada di kursi rodanya sedang memberi makan ikan-ikan kesayangannya.


“Untuk apa kalian ke sini?” tanyanya tanpa menoleh sedikit pun.


“Kami akan menikah bulan depan,” jawab Noah.


Suara tawa tertahan terdengar seolah mencela. “Aku kira perempuanmu itu bisa memegang kata-katanya sendiri. Ternyata, dia masih menempel kepadamu seperti lintah.”


“Dia calon istriku. Jaga ucapanmu.”


Naya meremas genggaman tangan Noah. Menahannya untuk tidak marah.


“Noah, bisakah aku berbicara berdua dengan Tuan Elmer?”


Noah sebenarnya tidak ingin menjauh, namun Naya berusaha meyakinkannya.

__ADS_1


Setelah sosok Noah menghilang di bangunan utama, Naya berjalan mendekat, kini ia berdiri di tepi kolam ikan. Tepat dua meter di samping Elmer.


“Saya tau, anda tidak akan pernah menerimaku karena masa laluku dan statusku yang lebih rendah dari keluarga anda. Namun, Tuan, apa anda tau, kalau Noah adalah orang yang paling menderita di sini?”


“Apa maksudmu?” tanya Elmer dengan ketus. Tidak ada keramahan atau basa basi.


“Noah sudah menceritakanku tentang yang terjadi dengan ayah dan ibunya. Selama ini, apakah anda tidak pernah memikirkan apa yang Noah rasakan sebagai anak? Anda memperlakukannya selama ini sebagai pewaris dan penerus anda.”


“Kau hanya orang luar, jangan bertingkah seperti mengenal keluargaku.”


Naya tersenyum. “Anda benar, saya hanya orang luar. Saya tidak berniat memberikan anda nasihat atau apa pun. Saya hanya ingin anda menyadari kalau Noah, putra anda satu-satunya, adalah pria yang juga memiliki perasaan. Dia bukan robot yang anda ciptakan hanya untuk memenuhi ekspektasi anda. Dulu, Noah hanya memiliki ibunya, meskipun ibunya pun hampir tidak mengenalinya.”


“Dulu saya berpikir bahwa meninggalkan Noah adalah satu-satunya cara untuk melindunginya. Ternyata, saya salah, saya malah menjadi orang yang meninggalkannya juga saat ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Karena itu ….” Naya menjeda. Ia kini berdiri tegap, menatap langsung wajah pria yang sangat ia takuti itu, lalu tersenyum manis.


“Saya tidak peduli sekuat apa, atau seperti apa anda akan memisahkan lagi saya dan Noah, saya tidak akan pernah meninggalkannya. Bahkan jika dunia ini pun mengabaikannya, saya adalah orang yang akan bersamanya sampai akhir.”


“Kau pikir, aku akan memberikan kalian restu dengan mengatakan omong kosong itu?”


“Saya kesini bukan untuk meminta restu anda. Tetapi, untuk membuat anda tenang. Anak anda yang tidak pernah anda pedulikan itu, kini memiliki seseorang yang akan berada di sisinya. Saya benar-benar berharap, anda selalu sehat, dan melihat bagaimana Noah akan bahagia.”


“Oh, ya… satu lagi Tuan, daripada hidup sendiri di sini, bukankah anda memiliki seorang wanita yang sudah menunggu anda sejak lama?”


Gerakan Elmer yang sedang memberi makan ikannya berhenti di udara. Ucapan itu cukup menyentak hatinya.


Tanpa menunggu jawaban, Naya menunduk hormat, lalu meletakkan undangan pernikahannya di atas meja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, dan berjalan menjauh. Naya menarik napasnya dengan lega, meskipun tangannya bergetar hebat. Ia meremas ujung bajunya untuk menyembunyikannya.


Naya menghampiri Noah yang sedang menunggunya dengan cemas. Saat Noah memeluknya erat, tangan Naya seketika berhenti bergetar.


“Kau hebat.” Noah memujinya.


Netra Naya berkaca-kaca, tetapi hatinya yang kini seringan tanpa tumpukan beban, membuat bibirnya tersenyum lebar. Sambil meraih tangan Noah, ia berkata, “Ayo pulang, masih banyak yang harus kita siapkan,” ajak Naya dengan senyuman yang tidak akan lagi pernah pudar dari wajahnya.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2