
Esoknya. 8.30 AM. PAGI.
Kilatan cahaya dari banyaknya jepretan kamera foto dari wartawan berita kriminal dan bagian pihak outopsi. Yang sedang merekam gambar dari seorang wanita tanpa busana yang sudah meregang kaku di atas kasur. Di dalam sebuah kamar hotel mewah. Terlihat sangat menjijikan. Ada bekas luka sayatan benda tajam di bagian perut hingga ke pinggang. Dan juga bekas luka jahit yang menutup bagian kulit yang terluka, masih terlihat sangat basah. Feby, sebagai detektif muda yang baru lulus dari pendidikannya harus dipaksa menghadapi kasus kriminal berat.
Walaupun dengan mulut tertutup menggunakan kain sapu tangan, namun mata Feby harus melihat korban yang terkujur mati. Akibat pencurian salah satu organ inti dari tubuh manusia.
"Pasti dari pelaku yang sama, Feb," kata Frans sebagai rekan kerja dari gadis yang cocoknya jadi model majalah wanita karir.
Sarung tangan plastik sudah dilepaskan oleh pemuda berambut gondrong setelah memeriksa mayat dari tubuh wanita itu. Satu batang rokok sudah menempel di bibir tebal pemuda yang hendak mau menghisap benda yang mengandung nikotin. Yang baru saja diambil dari bungkusnya. Namun tangan Feby lebih cepat dari pada korek gas yang berada di tangan Frans yang akan digunakan untuk membakar tembakaunya.
"Ini kamar anti rokok," kata Feby dengan melirik ke arah atap yang ada alat sensor asap elektronik. Yang menempel di langit-langit kamar yang mewah itu. Dan tanpa ragu, gadis pemilik wajah cantik ini menginjak rokok putih milik laki-laki brewokan yang ada di hadapanya.
"Ops sorry ... " ucap Frans dengan menatap sedikit kesal karena rokoknya hancur di bawah sepatu pantovel milik perempuan cantik yang sedang bertolak pinggang.
Feby melenggang ke arah tubuh seorang mayat perempuan. Setelah puas merusak tembakau milik Frans.
"Hmm—. Dua buah sayatan. Dua bekas jahitan. Sudah tidak bernyawa sejak jam 5 pagi. Apa yang membuat dia secepat itu mati?" gumam Feby menatap serius perempuan yang melotot tajam dengan selimut putih menutupi tubuhnya.
"Ini."
Sebuah botol dari bahan plastik berukuran kecil. Seperti botol obat batuk. Dipegang oleh Frans dengan telapak tangan yang sudah kembali terbungkus dengan sarung tangan berbahan plastik medis. Sebuah botol yang baru saja diambil di atas meja kecil yang berbahan kayu. Yang berada di sebelah kiri dari posisi mayat.
"Sianida!" ucap Feby setelah mencium aroma bau dari dalam botol itu.
__ADS_1
"Yup." Frans mengangguk.
"Setelah korban dibuat tidak sadarkan diri. Pelaku segera membedah tubuh korban. Dan—. Setelah berhasil mengeluarkan ginjal dari tubuh korban, pelaku membuka mulut korban lalu meminumkan sianida. Dan—. Tamat," terang Frans mencoba memberikan gambaran analisa kejadian.
"Sidik jari?" tanya Feby dengan mendongakan wajahnya ke Frans.
"Nihil. Pelaku gak sebodoh itu, Feb. Kalau dia saja bisa membedah tubuh korban dengan rapi, apalagi cuma mengingat kalau harus pakai sarung tangan untuk menghilangkan jejak. Pasti sudah khatam di luar kepala."
"Dan pelaku juga sudah tahu dengan sangat jelas. Bagaimana cara masuk yang aman di tempat umum seperti ini. Dengan banyak kamera CCTV bertebaran dimana-mana. Lihatlah, bagaimana dia sangat pandai mencari celah agar wajahnya samar-samar ketika terlihat di CCTV. Posisi tubuh yang menyamping pada saat cek in di resepsionis. Dan memakai topi ketika berjalan di lorong kamar. So—. Sangat-Sangat profesional," sambung Frans.
Kursi sofa dari bahan kulit mentah menjadi pilihan Frans untuk mendaratkan pantatnya sementara sebelum memeriksa seluruh ruangan dengan alat khusus pendeteksi sidik jari.
Dua orang petugas laki-laki dewasa dari pihak rumah sakit sudah berada di dalam area TKP. Dengan membawa keranda besi untuk mengangkat mayat dari wanita itu.
"Heeeeufs ... " Feby menghela napas gelisah. Otaknya dibuat tegang oleh kasus ke-5 dengan motif yang sama. Namun masih 0 besar hasil yang didapatkan olehnya.
Rokok tanpa bara menempel di bibir Frans. Dengan rasa heran dia menatap Feby yang sedang duduk di sebelahnya. Yang sedang mengusap wajah.
"Lima kali dalam kurun waktu kurang dari enam bulan. Dan kita lagi-lagi kecolongan. What The Fuvk!" ujar Feby dengan raut wajah setengah putus asa.
"Sans Sis. Belum saatnya. Tunggu sampai kita menemukan jejak mereka." Dengan santai, Frans menanggapi Feby dengan kedua tangan membentang di atas sandaran sofa.
Aroma wine yang menyengat dari dalam gelas yang berada di atas meja kaca dekat mereka bersandar duduk, mengundang Frans untuk menuangkan segelas wine yang berada dari botol yang letaknya sejajar dengan gelas.
__ADS_1
"Mau," kata Frans menawarkan Feby. Dengan tangan yang sudah menggengam setengah gelas wine merah.
Lirikan tajam mata Feby cukup memberikan jawaban atas tawaran Frans. Gadis itu menyibak rambutnya sambil melihat laki-laki yang ada di sebelahnya sedang menenggak minuman beralkohol.
"Eeeumm ... Henri Jayer Cros Paranteux tahun 1993 memang beda. Taste-nya gimana gitu," ungkap Frans senang. Karena merasa lidahnya dimanjakan dengan sentuhan air merah yang baru saja diminumnya.
"Lo harus cobain, Feb." Frans meletakan gelas kosong bekas minumnya kembali di atas meja kaca.
"Udah lo gak usah pusing begitu. Dengan bukti-bukti yang kita dapatkan sekarang, bisa kita pelajari lebih lanjut nanti di kantor," sambungnya.
"Heeufs ... " Gadis itu mendesah berat. Mengehela napas karena penat. Dengan kedua tangan menopang kepala, memperlihatkan kalau dirinya sudah hampir menyerah. "Dalam setiap satu bulan, pasti ada satu korban," ucapnya dengan nada terdengar pasrah.
"Transaksi jual beli ginjal memang lagi diminati banyak mafia, Feb. Karena hasil yang menggiurkan dari harga sebuah ginjal sehat. Dan juga semakin hari, penadah ginjal semakin banyak bertebaran dimana-mana. Itu yang membuat pengeksekusi berkeliaran kemana-kemana.
"Target yang mudah didapatkan adalah wanita-wanita cantik yang tergiur dengan uang. Para pelaku memanfaatkan peluang ini untuk menjebak korbannya. Terutama yang paling mudah dipancing adalah para wanita pekerja malam. Dengan penawaran harga mahal, mereka langsung berbinar. Hingga berakhir—ya seperti ini.
"Lo perhatiin, Feb. Hampir semua korban tidak menggunakan baju. Gue bisa berasumsi kalau pelaku memang melampiaskan hasrat sebelum mengeksekusi korbannya."
"Kalau lo mau nangkep king cobra, lo harus masuk ke sarangnya," pungkas Frans sebelum dia kembali menuangkan wine merah kedalam gelas.
"Maksud lo, gue harus menjadi salah satu dari wanita-wanita itu." Feby memastikan ucapan Frans dengan menatap serius ke wajah laki-laki yang sedang menikmati wine merah.
"Dengan tubuh lo yang mendukung seperti ini, gue rasa mereka gak akan tau kalau lo sedang lagi menyamar," balas Frans sebelum dia beranjak dari sofa.
__ADS_1