
Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Pria yang tadi sedang menduduki tubuh Naya terlempar jauh ke samping, menabrak meja kaca di depan sofa, hingga pecah dan meninggalkan bunyi yang memekik.
“BRENGSEK!”
Suara lantang Noah menyadarkan Naya, dengan tertatih, ia bangun lalu menghindar dari amukan Noah yang membuat pria itu menerima serangan bertubi-tubi di wajah dan perutnya.
“Kau pantas mati, keparat!” Noah tidak membiarkan pria itu memiliki kesempatan membuka mulutnya.
Pria itu melemas, darah mengucur menutupi wajahnya ketika kepalanya terhantam oleh botol tebal dari minuman alkohol.
Beberapa security masuk, sepertinya seprang pelayan yang membawa makanan pesanan Naya yang memanggilnya setelah melihat keributan itu.
“Tuan. Kami ambil alih dari sini.”
Butuh empat orang untuk menenangkan dan menghentikan Noah.
“Lepaskan aku!” Noah masih mencoba melepaskan cengkeraman semua pria besar yang menahannya.
“Tuan, tenanglah. Kami yang akan memprosesnya.”
Calvin yang baru tiba, langsung ikut masuk ke kamar itu. “Noah, Noah … Naya lebih membutuhkanmu, aku yang akan mengurus ini. Percaya padaku.”
Calvin mencoba berbicara kepada Noah yang masih di selimuti amarah yang membara.
“Ne le tue pas, parce que je le ferai moi-même, tu comprends?”
(“Jangan membunuhnya. Aku sendiri yang akan membunuhnya. Kau mengerti?”)
“Je comprends.”
(Aku mengerti.”)
Noah akhirnya tenang. Calvin menyuruh security itu untuk membawa Tony keluar.
Setelah semua orang benar-benar keluar. Naya yang meringkuk di belakang sofa sambil menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya yang ia tekuk serta tubuh yang bergetar karena ketakutan, mendongak ketika mendengar Noah memanggilnya dengan lembut.
“Naya?” tangan Noah yang penuh darah terulur ingin menggapai tubuhnya.
“Aku takut, Noah. Aku takut.”
Noah mendorong sofa itu agar bisa memberikan akses untuk tubuhnya yang lebih besar masuk ke sana. “Ada aku, kemarilah.”
Naya tidak bergeming, air matanya masih tidak bisa berhenti mengalir.
“Aku boleh mendekat?” Noah meminta persetujuan sebelum menyentuh tubuh Naya.
Naya mengangguk sangat kecil. Dengan hati-hati Noah menggapai tubuh Naya yang masih bergetar hebat, lalu mengangkat dan membawanya ke kamar. Masih dengan bathrobe yang ia genggam erat, Noah menarik selimut dan menyelimuti tubuh Naya.
“Istirahatlah. Aku harus mengurus sesuatu.”
__ADS_1
Naya menggeleng, ia menahan tangan Noah. Meminta dengan tatapannya yang sendu agar Noah tidak pergi.
Melihat wajah yang memerah karena tamparan itu memohon kepadanya, membuat Noah mengalah.
“Baiklah, aku tidak akan pergi, aku akan di sini.” Noah lalu berjalan ke arah kamar mandi, mencuci tangannya, mengganti bajunya yang ternodai darah, lalu masuk ke dalam selimut bersama Naya.
“Aku boleh memelukmu?”
Naya lebih dulu mendekat lalu mendekap tubuh Noah. “Terima kasih. Terima kasih karena menolongku.”
Noah mengecup singkat kening Naya dan balas memeluknya dengan erat. “Aku minta maaf karena meninggalkanmu sendirian.”
Tiba-tiba air mata Naya kembali meleleh di sudut matanya. “Dia mengenalku. Dia tau pekerjaanku dulu. Dia bilang, aku tetap akan menjadi pelacur, sekalipun aku bersikap seperti wanita baik-baik.”
Naya mencurahan semua perasaannya yang sakit. Baru kali ini, ia jujur dengan perasaannya kepada Noah.
Rahang Noah mengeras mendengarnya. Noah memundurkan tubuhnya, ia ingin Naya menatapnya.
“Naya … menikahlah denganku.”
Naya yang masih menangis, berhenti bernapas karena kalimat itu.
“Izinkan aku menjadi walimu yang sah. Dengan begitu, aku bisa melindungimu dari apa pun.”
“Noah ….” Naya ragu. Padahal ia baru saja menceritakan tentang perasaannya yang tidak akan pernah lepas dari bayang-bayang masa lalunya.
“Kau akan memakai nama belakangku. Dengan begitu, tidak ada lagi yang berani berbicara tentang masa lalumu.”
“Naya, berhentilah keras kepala. Kau tidak perlu memikirkan semua hal yang belum terjadi. Aku tidak bisa melindungimu kalau kau terus seperti ini.” Noah merasakan sesak di dadanya. “Aku mencintaimu, Naya. Jadi aku mohon, berhenti membuatku gila.”
Air mata Naya terjatuh lagi, kali ini adalah air mata karena ungkapan perasaan Noah kepadanya. “Maafkan aku. Aku hanya merasa tidak pantas untukmu.”
”Sampai kapan kau akan bertingkah seperti ini? Apa tidak cukup kau menyiksaku?”
“Aku juga tersiksa selama ini Noah. Aku mencintaimu, aku … sangat mencintaimu dari dulu. Tetapi, aku takut… maafkan aku karena menjadi pengecut selama ini.” Naya terisak.
Kini Noah yang terdiam. Senyuman lebar terukir di wajahnya. Ia mengambil Naya dan kembali memeluknya. “Terima kasih, karena sudah mau jujur dengan perasaanmu.”
“Terima kasih, karena telah menyembuhkan dan melindungiku selama ini, Noah.”
Sekali lagi, Noah mengecup lama kening Naya, lalu mendekapnya erat. “Jadi, mau menikah denganku?”
Naya diam beberapa saat, ia berperang dengan pikirannya sendiri. Baiklah, biarkan dia egois kali ini saja, ia sudah tidak sanggup harus berpisah lagi dari Noah. Dengan tarikan napasnya yang dalam, Naya mengangguk.
Noah tersenyum lega. “Seharusnya aku tidak melamarmu seperti ini,” ucapnya sedikit kecewa. Padahal ia sudah memikirkan cara terbaik untuk melamar Naya suatu saat nanti.
”Aku menyukainya. Kamu melamarku saat sedang memelukku erat,” jawab Naya dengan manis.
Noah terkekeh. “Ngomong-ngomong, sejak kapan kau berhenti bicara formal kepadaku?”
__ADS_1
“Aku bukan sekretarismu lagi.”
“Lalu apa?”
Naya menyembunyikan wajahnya di dada Noah. “Kekasihmu?”
“Salah. Tunanganku.”
Naya memutar tubuhnya, membelakangi Noah. Wajahnya memanas.
“Tidurlah. Saat kau bangun, aku akan ada di sampingmu.” Noah semakin menarik selimut ke atas untuk membungkus tubuh Naya. Sambil memeluknya dari belakang.
Setelah Naya benar-benar terlelap. Wajah Noah berubah menjadi datar. Kilasan tentang ucapan Calvin sejam yang lalu telah membuatnya menyadari Naya sedang dalam bahaya.
***
Sejam yang lalu.
“Kau tidak mengajak Naya?” tanya Calvin menghampiri Noah yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya.
“Dia kelelahan,” jawab Noah singkat. “Mr. Tony sudah datang?”
Calvin menggeleng. “Sepertinya, dia tidak datang malam ini.”
Noah sedikit kecewa, padahal malam ini, ia sudah rela meninggalkan Naya sendirian demi bertemu pria itu.
“Oh ya, kemarin saat acara itu, Mr. Tony bertanya kepadaku tentang Naya, tetapi pertanyaannya sangat aneh. Aku sampai hampir tertawa, dia bertanya apakah wanita yang duduk di sebelahmu adalah wanita penghibur.”
Langkah Noah terhenti, wajahnya berubah tegang.
“Tentu saja aku jawab bukan. Naya, kan sekretarismu. Saat dia menyebut nama Naya dengan nama Lily, aku tau, dia pasti salah orang.”
Noah tersentak. “Apa? … BANGSAT!” ucap Noah hampir berteriak sebelum ia berlari kembali ke arah mobilnya, dan melajukannya seperti orang kesetanan.
Calvin yang melihatnya, paham ada sesuatu yang tidak beres. Karena itu, ia juga berlari ke arah mobilnya, dan mengikuti Noah dari belakang.
***
Setelah memastikan Naya benar-benar sudah terlelap, dengan hati-hati, Noah keluar dari kamar itu, lalu menelepon Calvin.
“Dimana pria itu?”
“Dia berada di tempatku.”
“Kondisinya?”
“Masih bernapas.”
“Bagus. Aku ke sana sekarang.”
__ADS_1
...****************...