SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 39


__ADS_3

“Noah?”


“Kamu kenal?” Alvin menoleh ke arah Naya yang masih membeku di tempatnya. Alvin bisa merasakan ada kejanggalan dari tatapan Naya yang basah dan bagaimana tatapan pria asing di depannya yang juga menatap lama Naya dengan ekspresi datar.


“Ada apa?” Alvin maju dan berdiri membelakangi Naya, memutuskan tatapan keduanya.


Bukannya menjawab, Noah mendengus marah, tangannya yang terkepal sudah siap menonjok wajah pria di depannya ini.


Naya yang hapal wajah marah Noah segera mengambil lengan Alvin untuk membalik menghadapnya. “Alvin, dia teman lamaku, kamu balik duluan, ya, nanti aku yang bersihin cafenya.” Naya berusaha membujuk.


“Teman? … apa dia pria yang kamu maksud?”


“Nanti … nanti aku ceritakan, aku mohon. Kamu balik duluan, ya.”


Alvin yang bisa melihat wajah Naya yang memohon dengan tulus akhirnya menyerah. “Oke, aku tunggu kamu di apart.” Tangan Alvin terangkat untuk mengusap lembut rambut Naya.


Noah mengeraskan rahangnya. Ia sedang menahan hasrat untuk memelintir tangan itu.


Alvin berjalan ke area belakang untuk mengambil tasnya, lalu kembali dengan melewati Naya dan Noah yang sedang mengamati pergerakannya, sampai Alvin keluar dan menutup pintu.


Tidak ada yang berbicara antara mereka berdua. Hanya langkah Noah yang menggema sambil mengamati café kecil itu. Tangannya sudah ia sedekapkan depan dada.


Naya mencuri pandang, Noah beratus-ratus lebih tampan dari satu setengah tahun yang lalu sejak terakhir mereka bertemu. Kaos hitam polosnya yang dipadu dengan long coat dan sepatu mengkilap khas merek mewah. Tidak pernah ada yang celah dari penampilan Noah, kecuali satu. Wajah lelahnya sangat tercetak jelas di sana.


Noah kini duduk di salah satu kursi kayu sambil melipat kakinya dengan angkuh. Ia merindukan Naya, ia tidak bisa menyangkal itu. Tetapi, melihat Naya yang baik-baik saja setelah meninggalkannya dengan penuh kekacauan, rasanya sangat tidak adil.


“A-apa yang anda lakukan di-di sini?”


Sial. Lidahnya kaku. Naya meremas gugup jarinya.


“Kenapa? Kau tidak suka aku muncul dan mengganggu acara bermesraanmu?”


Deg.

__ADS_1


Nada Noah sangat berubah. Tidak ada ucapan manis atau kata-kata menghangatkan yang biasa ia ucapkan untuknya. Memangnya apa yang ia harapkan? Noah akan memeluknya sambil mengatakan betapa ia sangat merindukan dirinya? Bodoh. Dirinya sendiri adalah penyebabnya. Meninggalkan Noah sendirian tanpa menjelaskan apa pun. Naya menunduk dalam sambil tersenyum kecut. Sepertinya benar, sudah tidak ada cinta untuknya.


“Sampai kapan kau akan berdiri di situ?”


Akhirnya, Naya mengambil tempat di depan Noah, mereka hanya di pisahkan oleh satu meja kecil persegi.


“Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu, hah?”


Naya yang masih menunduk dalam diam tidak bisa mengatakan apa pun. Sudah tidak ada gunanya menjelaskan. Semua sudah terjadi sangat lama.


“Ma-maaf.” Hanya kalimat itu yang bisa keluar.


Noah mengembuskan napas beratnya. “Maaf? Kau pikir semudah itu?”


Naya semakin menunduk dalam, menyembunyikan air matanya yang mengenang.


“Kau meminta uang 150 juta dari ayahku, kan? Apa kau menikmati uang itu?”


“Terus apa?!” bentak Noah.


Sebenarnya Naoh tau, untuk apa Naya menggunakan uang itu. Riya sudah memberitahunya kalau Naya datang pada malam ia menghilang dengan membawa uang itu sebagai tebusan untuk temannya, Clara. Hanya saja, Noah masih sangat kecewa dengan keputusan Naya untuk meninggalkannya sendiri. Rasa sakitnya seperti membakarnya dari dalam.


“Aku memintamu percaya padaku, Naya. Aku memintamu bertahan bersamaku. Tapi, kau malah memilih pergi begitu saja, dan bersenang-senang dengan pria lain sekarang.”


Noah yang kehilangan kendali, menyugar rambut hitamnya ke belakang.


“Aku sepertinya terlalu bodoh dan naif dulu,” lanjutnya.


“Noah….”


Tatapan tajam Noah sangat menusuk. “Aku bukan temanmu.”


“oh … ma-maaf, Tuan.” Naya meringis, ia bisa merasakan hatinya semakin sakit. Ingin rasanya Naya segera berlari keluar daripada menghadapi Noah dengan sikap dinginnya seperti ini.

__ADS_1


“Saya minta maaf karena membuat anda seperti ini. Penjelasanku pun sepertinya sudah tidak akan berarti. Saya tidak tau harus membayar seperti apa kebaikan anda kepadaku dulu, sa—”


“Kau merasa bersalah dan kau ingin membayar semua kebaikanku, kan?”


Kening Naya berkerut, memang itu yang ia katakan, tetapi melihat senyum kecil Noah yang tidak tertebak, membuatnya mengangguk dengan ragu.


Noah memperbaiki duduknya. Menatap Naya dengan intens, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kertas kecil persegi panjang dengan logo perusahaannya.


“Ambil ini. Besok, jam 7 pagi, kau sudah harus ada di sana. Menemuiku.” Noah melemparkan kartu namanya ke atas meja.


Naya mengambilnya lalu membaca alamatnya. “Tuan, saya tidak bisa. Tidak ada bus antar kota yang beroperasi selarut ini. Kalaupun ada, membutuhkan waktu lebih dari 10 jam untuk sampai ke sana.”


“Aku tidak mentolerir keterlambatan.”


Naya yang masih menatap kartu nama itu sedang hanyut dengan pikirannya sendiri, sementara Noah sudah berdiri dan melangkah ke arah pintu.


Noah menoleh. “Kenapa kau masih duduk?”


Naya kebingungan.


“Kau bilang tidak ada bus, kan? Kalau begitu, kau akan ikut denganku malam ini.”


“Hah?”


“Kenapa? Bukannya kau bilang ingin membalas semua kebaikanku?”


“Ta-tapi. Saya tidak bisa meninggalkan café malam ini, saya masih harus bekerja besok.”


Kesabaran Noah benar-benar habis sekarang. “Ikut denganku sekarang, atau aku akan membakar café ini.”


***


__ADS_1


__ADS_2