
"Jadi—lo mau pulang atau mau tidur disini?"
Jam tangan mungil dengan warna coklat dan tali yang terbuat dari kulit. Yang melingkar di pergelangan manis sebelah kiri Feby, adalah alasan untuk dia menetapkan matanya saat ini. Dimana kakinya sudah menopang tubuhnya untuk berdiri dari sofa empuk. Dan menoleh ke arah luar jendela sebelah kiri dengan langit yang gelap karena mau turun hujan.
Namun, pilihan yang sulit untuk menetapkan satu kalimat jawaban kepada laki-laki yang masih menikmati hisapan tembakau dengan mendongakan wajah, yang sedang memandangnya.
"Jam satu pagi," gumamnya. Sebelum dia kembali mendaratkan pantatnya untuk kembali duduk di sofa.
"Lo bisa tidur di kasur, gue tidur di sofa," kata Rivano memberikan saran.
Gadis itu diam sejenak dengan meremas jari-jari tanganya yang diletakan di atas paha. Sebelum dia memutuskan untuk sebuah pilihan. "Gue balik aja deh!"
"Udah malem." Rivano menahan lengan Feby yang hendak melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar hotel. "Kota lagi nggak aman karena banyak kasus pembunuhan dan pencurian organ tubuh bertebaran dimana-mana."
"Dari mana gue dapet jaminan kalau disini aman?" Tanya Feby dengan serius dan dahi yang mengerenyit.
"Gue! paling gak, gue udah membuktikan kemarin. Tubuh lo masih utuh padahal gue punya banyak kesempatan untuk menikmatinya."
Alasan yang masuk akal. Namun masih membuat Feby belum mengambil sikap. Selain hanya menghela napas dan memikirkan tujuannya sebagai detektif yang sedang menyamar. Tidak ada salahnya mengikuti saran pemuda yang mendapat kesan baik pada saat pertemuan pertama. Sebelum dia kembali lagi untuk mendaratkan pantatnya di sofa untuk kedua kali, gadis itu mengatakan, "Oke. Tapi—gak ada alasan apapun untuk lo pindah ke kasur itu." Jari telunjuk manis mengarahkan ke tempat yang dituju.
Senyuman lebar yang terlukis di wajah mulus pria itu. Sehingga tatanan gigi-gigi yang rapi terlihat di sela-sela mulutnya, adalah jawaban yang cukup jelas untuk menanggapi celotehan dari gadis yang baru saja meletakan kembali tas tanganya di atas meja kaca. Sebelum dia menuangkan kedalam dua gelas wine merah yang baru saja dibuka dari botol. Salah-satu minuman dari kasta tinggi yang biasa dihidangkan untuk para petinggi-petinggi di suatu pemerintahan. Lebih kental lagi di pemerintahan yang berbentuk kerajaan di eropa sana.
"Mari," kata Rivano mengajak bersulang dengan gadis yang gelas nya belum disentuh sama sekali. Dimana hanya kedua bola mata indah yang menatap genangan air berwarna merah yang mengendap di dalam kaca bulat yang bening itu. Yang membuatnya mengingat akan sesuatu.
__ADS_1
Pembunuh itu juga meminum wine dengan jenis yang sama, kata Feby dalam hatinya sendiri. Tanpa merubah ekpresi wajahnya yang sedang datar.
"Berapa banyak orang yang minum wine dari jenis yang seperti ini?" Pertanyaan pertama dari gadis itu untuk membuka obrolan awal. Menggantikan topik sebelumnya. Setelah tangan kanan meraih botol Wine dan diputar-putarnya, melihat dengan seksama.
"Banyak. Namun tidak banyak juga," jawaban singkat yang membingungkan dari seorang pria untuk mengundang pertanyaan berikutnya. Dan itupun terjadi.
"Maksudnya?" Bersamaan dengan sebelah alisnya yang sedikit dinaikan.
Setelah mengambil botol Wine yang sedang dimain-mainkan oleh gadis yang sepertinya sedang kebingungan, Rivano menjawab dengan penjelasan yang singkat. "Banyak. Untuk sebagian orang yang memang sudah candu dengan rasanya. Dan tidak banyak juga. Untuk sebagian orang yang hanya menikmati wine sebagai bentuk gaya hidup saja. Karena—jenis dari wine ini setara dengan membayar pendidikan sekolah sampai selesai."
"Berapa?"
"Dua ratus lima puluh juta—. Fantastis, bukan." Kali ini jawaban Rivano membuat Feby menelan ludah.
"Hanya untuk sebotol ini, orang harus membayar dengan harga semahal itu. Ckckc. Sungguh sangat kaya negeri ini rupanya—."
"Caranya?" Feby mengambil gelas miliknya dan menempelkan gelas itu di hidung. Dia mendengus— menciumi aroma dari wine tersebut.
"Hmm—. Dalam satu tubuh manusia, itu bernilai miliaran rupiah. Bahkan ratusan miliar. Itulah kenapa perdagangan manusia saat ini jauh lebih menguntungkan dari pada membuka sebuah restoran cepat saji."
Semakin gatal dan tertantang detektif bayangan itu. Mendengar pernyataan yang lantang dan sangat mengetahui sekali sepertinya.
"Dari mana lo bisa memahami sejauh ini? Apa—lo salah satu mafia yang saat ini sedang diburu oleh kelompok pemberantas kejahatan? Kalau iya, berarti jaminan lo gak berlaku. Karena mungkin habis ini, gue akan mengalami hal yang sama dengan korban-korban yang lain."
__ADS_1
"Hahaha. Lo gak mesti mati dulu kalau mau tau bagaimana rasa sakitnya nyawa yang keluar dari tubuh lo, bukan," tangkisnya santai. "Gue banyak dengar berita ini dari orang-orang yang heboh dengan kasus yang lagi meledak di kota ini. Dan juga keterlibatan petinggi-petinggi negeri ini yang mendukung organisasi gelap dan ilegal. Itu sudah menjadi rahasia umum.
"Mungkin lo mengira, penadah atau pelaku saja yang terlibat. Oh Tidak. Lo salah besar."
Rivano berbisik di telinga Feby, "Mereka didukung habis-habisan oleh para konglomerat dan juga pejabat. Bahkan, tidak sedikit dari kalangan orang penting yang ikut andil didalamnya."
Garis keras. Dua kata itu yang melintas di kepala Feby. Menyikapi tuturan Rivano yang membuatnya dingin. Kaku. Walaupun hanya sekadar menolehkan pandanganya saja dirinya tidak mampu. Feby hanya bisa menghela napas setelah sejenak terdiam dalam pemikiran yang dihujami dengan berbagai pertanyaan. Bahkan, gelas yang ada digenggaman tanganya pun sudah diambil oleh Rivano, dia tidak menyadari.
"Boleh gue minta rokok lo?" pinta Feby secara spontan.
"Lo—ngerokok?"
"Mulai hari ini," balas Feby dengan sebatang rokok yang sudah menempel di antara kedua bibirnya yang tipis.
"Huk—huk!" Hisapan pertama membuat tenggorkannya gatal.
"Haha. Pelan-Pelan. Lo hisap tembakaunya lalu hembuskan perlahan," ujar Rivano mengajarkan Feby cara merokok.
"Kenapa orang sangat suka sekali dengan ini? hanya mengirup asap dan membuat dada sesak."
"Lo harus rasakan nikmatnya saat lo menghisap. Perlahan—lalu, lo tarik ke hidung lo dan hembuskan bersama keluar dari mulut dan hidung lo. Nikmat—."
"Sama halnya saat lo disentuh untuk pertama kali. Dimana tubuh lo direbahkan, lalu dibelai lembut dengan kecupan. Dan lo mengeluarkan napas perlahan. Accch—," lanjutnya dengan memeperagakan gerakan menggunakan tangan.
__ADS_1
"Ngaco!" bantah Feby dengan mematikan rokok yang masih setengah batang di dalam asbak.
Rintikan hujan pertama pun turun. Bersamaan dengan padamnya lampu kamar. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dengan sebelah tangan menempel di jidat. Dan memandang langit-langit kamar yang atapnya sangat bersih. Dimana terdapat sebuah lukisan seorang gadis desa yang sedang menimba air disumur. Menempel di tengah langit-langit kamar yang terbuat dari plavon yang mewah. Bercat-kan warna Krem.