
Naya menggeliat ketika terusik oleh suara dari seorang pria yang sedang berbicara bahasa asing. Ketika otaknya masih belum bekerja dengan baik, penglihatannya lah yang menyadarkan realitanya. Masih dengan wajah terkejut, Naya duduk dari baringnya sambil menarik selimut. Tubuhnya masih berbalut pakaian lengkap semalam, hanya saja, bagaimana bisa ia berakhir di atas ranjang, sementara Noah yang sudah berpakaian rapi sedang santai berbicara di ponsel sambil melihat lurus ke arahnya. Seperti menunggunya untuk bangun dari tadi.
Setelah menjauhkan ponsel dari telinganya, Noah mendekat sambil melihat jam tangannya. “Jam delapan lewat lima belas. Kau bahkan telat untuk hari pertamamu.”
Hari pertama? Naya seperti orang linglung yang mencoba mencerna apa yang sebenarnya Noah maksud.
“Oke, sekarang lewat enam belas menit.”
“Tu-tuan. Saya telat untuk apa?”
Noah masih memandangi jam tangannya. “Tujuh belas menit.”
Astaga. Kepala Naya seperti mau pecah. Apa ini? Naya yang tidak mengerti ia telat untuk apa, segera beranjak dari tempat tidur, dengan instingnya, ia berlalu ke arah kamar mandi. Entahlah, ia hanya akan mandi terlebih dahulu.
Ternyata benar. Noah menghentikkan hitungannya sambil melihat Naya yang tergesa-gesa.
Setelah keluar dari kamar mandi, di atas tempat tidurnya sudah ada kotak besar, saat Naya mengeluarkan isinya, ada sepasang pakaian formal berwarna biru tua dan sekotak kecil lagi yang berisi sepatu heel tidak terlalu tinggi. Naya yang masih kebingungan dikagetkan oleh deringan ponselnya, telepon masuk dari Clara.
“Naya. Kamu masih hidupkan? Aku nunggu kabar kamu semalaman.”
“Aku masih bernapas, Ra.”
“Syukurlah. Aku pikir Noah akan membunuhmu di suatu tempat lalu meninggalkan jasadmu begitu saja.”
Naya tertawa kecil. “Aku juga berpikir seperti itu.”
“Aku tidak tau harus khawatir atau tidak. Pokoknya kabari aku terus, ya.”
“Iya, Ra.”
“Oke, aku harus kembali kerja, Bye, Na.”
Setelah mematikan sambungannya, Naya memakai pakaiannya, dan menata rambutnya. Untung saja, ia juga membawa peralatan makeupnya semalam. Berkat Clara, Naya bisa berias dengan baik.
Setelah selesai, Naya berdiri lalu berjalan ke arah cermin tinggi yang bisa menampilkan keseluruhan tubuhnya. Ketika melihat dirinya sendiri, Naya terpaku. “Wah,” gumamnya. Kemeja putih yang dibalut dengan blaster dan rok selutut yang berwarna sama, sangat pas di tubuhnya.
__ADS_1
Seumur hidupnya ia belum pernah melihat versi dirinya yang seperti ini. Benar-benar bisa mengelabui siapa pun. Seperti wanita baik-baik dengan jenjang pendidikan yang tinggi. Tiba-tiba matanya terasa panas. Jika saja, kehidupan selanjutnya itu benar-benar ada. Naya tidak akan pernah lagi menyerah dengan cita-citanya dan akan menjadi wanita karir seperti wanita di hadapannya itu.
Naya keluar setelah benar-benar siap. Di sofa sudah ada Noah yang menunggunya sambil membaca koran yang pastinya berbahasa asing juga.
“Untuk hari per—”
Kalimat Noah terpotong ketika melihat penampilan Naya. Sangat cantik.
“Ehm.” Noah berdeham. “Ikut aku.”
***
“Perkenalkan, ini Naya. Mulai hari ini, semua jadwalku dan janji temu, teruskan ke Naya.”
Kalimat Noah menggema. Seorang wanita yang berdiri di hadapannya mengangguk paham lalu berbalik. Tetapi, sebelum keluar, Noah kembali bersuara.
“Bawakan sarapan untukku. Dua porsi.”
“Baik, Tuan,” jawab wanita cantik itu lalu sedikit menunduk hormat dan benar-benar melangkah keluar. Sampai pintu tertutup kembali.
“Kau tidak membutuhkan pengalaman hanya untuk menulis, kan?”
“Tetap saja, saya khawatir membuat kesalahan.” Naya jujur. Ini sangat berbeda dengan dua pekerjaannya yang sebelumnya.
Noah mendengus. “Jangan berisik, aku harus membaca laporan ini.”
Naya yang berdiri tidak jauh dari Noah hanya bisa menghela napas pasrah, matanya menilik suasana ruang kantor Noah yang besar itu. Pandangan di belakang Noah yang menarik perhatiannya. Deretan gedung tinggi lainnya, dan sedikit awan menghiasi langit biru pagi itu. Jadi seperti ini rasanya bekerja di suatu perusahaan? Dalam lubuk hatinya, Naya ingin berterima kasih bisa merasakan peran menjadi wanita karir.
Sosok Noah yang sedang berkutat dengan lembaran kertas di meja kerjanya, dengan wajahnya yang serius dan tanpa senyum manis yang biasanya Noah berikan untuknya. Namun, itu tidak masalah. Sedikit senyum tipis terbit di wajah Naya. Seperti mimpi, dirinya bisa kembali melihat Noah dari dekat seperti sekarang.
Bunyi ketukan pada pintu terdengar dua kali, sebelum pintu di buka dan wanita yang sama masuk sambil membawa nampan berisi dua piring dan dua botol air mineral.
“Tuan, sejam lagi, anda akan meeting dengan Tim Marketing,” ucapnya setelah meletakkan isi nampan ke atas meja kaca.
__ADS_1
Noah mengangguk. “Kylie, saat aku meeting, ajari Naya yang perlu dia ketahui.”
“Baik, Tuan. Saya permisi.”
Setelah kembali menutup pintu, Noah berdiri dan mendekat ke meja oval itu yang di kelilingi oleh enam buah kursi.
“Temani aku sarapan.”
Dengan ragu, Naya mendekat, perutnya memang kosong dari pagi. Bahkan ia belum meminum seteguk air. Dua buah roti sandwitch dengan isian sayuran segar dan omelette terhidang di depannya. Naya mengambil salah satu roti dan memakannya.
“Habiskan makananmu, aku harus ke ruang meeting sekarang. Kylie berada di mejanya. Saat aku kembali, kau sudah harus hapal jadwalku selanjutnya. Kau paham?”
Naya mengangguk patuh, sambil mengunyah makanannya. Ia melirik ke piring Noah, yang masih terisa banyak.
“Anda tidak menghabiskan sarapan anda?”
“Aku sedang tidak berselera.”
Raut wajah Naya berubah sedih. “Apa karena ada aku di sini?”
“Mungkin.”
Jawaban singkat Noah yang semakin membuat perasaan Naya campur aduk. Ia bingung dengan sikap Noah yang begitu dingin dan ketus, tetapi memaksanya untuk bekerja bersamanya. Naya benar-benar tidak tau harus bersikap seperti apa.
“Pakai ini untuk makan siangmu.” Noah meletakkan kartu berwarna hitam di samping piringnya.
Naya semakin bingung dengan sikap Noah.
“Tuan, Noah. Saya bisa memakai uangku sen—”
“Kenapa susah sekali nurut, Naya? Kau tinggal mengucapkan terima kasih, kan?”
Naya kehilangan kata-katanya. Ia menghela napasnya dalam sebelum berucap, “Terima kasih, Tuan Noah.”
Noah hanya meliriknya sekilas lalu berjalan ke arah pintu dan menutupnya. Naya masih menatap lurus ke arah pintu dengan pikiran yang melayang. Hari-harinya mungkin akan di penuhi oleh Noah lagi, namun bukan Noah yang ia kenal dulu.
__ADS_1
...****************...