SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 48 (END)


__ADS_3

Gaun yang menjuntai indah berwarna putih tulang dengan hiasan bordiran di seluruh kainnya, langkah yang selalu di sertai hembusan napas yang dipenuhi kegugupan, serta musik yang menemani langkah itu, membuat Naya hampir tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari pria yang sudah menunggunya di depan sana. Wajah tampan dengan tuksedo berwarna putih, berdiri menunggunya. Ada senyuman penuh keharuan di wajah tampan itu.


Saat Naya semakin dekat, Noah mengulurkan tangannya dan Naya menyambutnya. Noah lalu mencium punggung tangan yang dingin itu.


Setelah mengucapkan janji suci mereka, suara tepuk tangan riuh terdengar bersamaan dengan wajah Noah yang mendekat dan mencium singkat bibir wanita yang kini menjadi istrinya.


Setelah acara sakral itu, mereka mengadakan makan malam bersama. Clara yang datang bersama Alvin menghampiri Naya yang langsung memeluknya.


“Terima kasih sudah datang, Ra.”


“Aku sudah janji, kan?”


Naya mengurai pelukannya, lalu menjulurkan tangan untuk menyapa Alvin.


“Halo, Vin, bagaimana kabarmu?”


Alvin tersenyum menyambutnya. “Sedikit patah hati.”


Clara segera menyenggol lengan Alvin sambil tersenyum canggung.


Noah yang sedang berbicara dengan Calvin menoleh ke arah Naya yang sedang berjabat tangan dengan Alvim sambil tersenyum. Noah segera meninggalkan Calvin dan berdiri di samping Naya.


“Perasaan, aku hanya mengundang Clara.”


Kini gantian Naya yang menyikut lengan Noah sambil tersenyum canggung.


“Maaf, Tuan. Alvin hanya mengantarku. Aku harus kembali pagi sekali besok, dan tidak ada bis antar kota yang beroperasi sepagi itu,” jawab Clara tidak enak.


“Kau bisa mengatakannya, aku bisa menyuruh driver mengantarmu kembali.”


“Noah, sudahlah. Alvin juga temanku.” Naya sedikit berbisik.


“Ada apa ini? Kenapa suasanya seperti di rumah hantu?” Calvin datang untuk mencairkan suasana.


“Calvin, kenalkan, ini teman-temanku, Clara dan Alvin,” ucap Naya.


Calvin tiba-tiba mematung melihat Clara. Wajahnya yang cerah dengan riasan tipis namun tidak berlebihan, serta rambut hitamnya yang hanya sebahu membuatnya terhipnotis oleh wajah wanita cantik itu.


“Aku Clara.”

__ADS_1


“Cantik,” gumam Calvin tanpa sadar.


“Maaf?”


“Oh, maksudku, aku Calvin. Senang bertemu denganmu.”


Calvin menarik tangan Clara dan ingin mencium punggung tangan itu, tetapi Naya segera melepaskannya.


“Calvin, dia teman baikku. Jangan mempermainkannya,” ancam Naya.


“Aku tidak akan mungkin.”


“Oke baiklah, sepertinya semua orang di tempat ini sudah memiliki pasangan. Aku harus meminum sesuatu untuk menjernihkan pikiranku.” Alvin lalu berjalan menjauh, menuju salah satu meja yang menyediakan minuman beralkohol rendah.


Noah mengikutinya. Meninggalkan Naya, Clara dan Calvin untuk berbincang.


“Aku belum mengatakannya dan sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya. Tapi, aku berterima kasih, karena berkatmu, Naya bisa memiliki pekerjaan saat itu.”


Alvin tersenyum kecut. “Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukannya karena tertarik dengan Naya.”


“Oke. Sekarang aku menyesal mengatakannya. Nikmati makan malammu dan pulanglah.”


“Tuan Noah.” Penekanan yang seolah mengolok. “Aku benar-benar tertarik dengan Naya, karena itu, aku harap anda tidak melukainya.”


Kini, Alvin yang tersenyum kecil. “Aku senang mendengarnya.”


Noah lalu berbalik dan pergi meninggalkan Alvin yang sudah menegak habis minumannya dengan wajah datar.


--


“NAYA!” teriak seseorang dari kejauhan, membuat Naya dan Noah menghentikan langkahnya.


“Clara? Ada apa? Aku pikir kamu sudah balik pagi tadi.”


Clara mengatur napasnya karena berlari sangat kuat untuk mencari Naya dan Noah sebelum memasuki pintu keberangkatan.


“Untung masih keburu. Ini, aku lupa memberikanmu hadiah pernikahan.” Clara menyodorkan sebuah kotak persegi kecil.


“Ra, kamu tidak perlu.”

__ADS_1


Naya membuka kotak itu. Ada sebuah gelang perak bertuliskan namanya, Clara, dan juga Rose. Kini mata Naya sedikit memanas, Lalu ia memeluk sahabatnya itu dengan erat.


“Maafkan aku karena harus pergi, Ra.” Air mata Naya mengalir.


“Tidak ... jangan bicara seperti itu. Aku bahagia melihatmu bahagia, Na.” Air mata Clara kini juga terjatuh.


“Terima kasih sudah mau berteman denganku, terima kasih sudah menggenggam tanganku disemua saat terburukku, Ra. Aku ... tidak mungkin bisa bertahan jika tidak bertemu denganmu.”


Clara mengeratkan pelukannya, menenangkan Naya yang semakin terisak. “Aku juga selalu berterima kasih, Na. Kamu sudah menyelamatkanku dari dunia gelap itu. Kamu tau, kan kalau aku sangat menyayangimu?”


Naya mengangguk kuat. “Aku tau. Aku juga menyayangimu, Ra.”


Suara menggema dari pelantang suara menginformasikan penerbangan selanjutnya milik Naya dan Noah menuju Negara Prancis.


Clara mengurai pelukannya, setelah mengusap air matanya. Meskipun bibirnya tersenyum, namun hatinya tau, mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Naya.


“Kabari aku, Na. Aku akan selalu menunggu kabarmu.”


“Pasti.”


Noah mendekat, merangkul Naya yang masih menangis. “Jaga dirimu, Clara. Kalau kau membutuhkan sesuatu, hubungi nomor ini. Dia akan membantumu, kapan pun.” Noah menyerahkan satu buah kartu nama dengan logo perusahaannya.


“Terima kasih, Tuan Noah.”


Noah mengusap pundak Naya seiring dengan langkah mereka yang memasuki pintu keberangkatan. Sementara Clara terus melambaikan tangannya dengan air mata yang terjatuh lagi.


Sesaat sebelum mereka benar-benar menghilang dari pandangannya, Naya berbalik sambil tersenyum penuh kebahagian, lalu membalas lambaian Clara.


Clara yang masih berdiri di tempatnya bahkan ketika Naya dan Noah benar-benar tidak terlihat lagi, tersenyum penuh kelegaan. Naya, wanita lemah yang begitu rapuh, kini telah menemukan kebahagiaanya. Wajah ketakutan Naya saat pertama kali ia melihatnya di ruangan temaram itu, kini telah tergantikan dengan wajah penuh kebahagiaan di sana. Mungkin benar, sebuah kalimat yang pernah ia baca di suatu tempat.


...“Bahkan, jika dirimu diselimuti oleh kegelapan, ingatlah akan selalu ada cahaya. Kau hanya perlu bertahan, sampai cahaya itu menghampiri dan menyelamatkanmu.”...


--


END


***


Semua komen, like, dan dukungan kalian sangat berarti. Sampai jumpa di novel Author yang lainnya. 💛

__ADS_1


...****************...



__ADS_2