
Trigger Warning!
Mohon bijaklah dalam membaca. Terima kasih.
******
Hari terakhir di Singapore, Noah dan Naya sedang menikmati semilir angin sore di kawasan taman Merlion. Banyak sekali pengunjung yang juga sedang bersantai atau juga sedang berolahraga sore. Suasana yang sejuk dengan pandangan sungai Singapore yang membentang luas.
“Bagaimana kabar ibu anda?” Naya bertanya sambil menikmati cemilan kacang yang ia bawa dari hotel.
“Sudah lebih baik, ibuku sudah lebih ceria.”
Naya tersenyum mendengarnya. Sebenarnya ia sangat ingin bertemu ibunya Noah, Katherine, pertemuan singkat mereka dulu sangat membekas di hati Naya.
“Lalu ….” Naya menjeda ragu, “ayah anda?”
Noah menoleh, dan mendapati wajah Naya yang menunduk sambil menatap bungkusan plastik kecil di tangannya. “Kau masih takut dengan ayahku?”
“Entahlah, Tuan. Saya hanya masih mengingatnya sampai sekarang.”
Noah menghela napasnya kuat. “Jangan khawatirkan ayahku lagi. Dia sudah tidak punya kekuasaan apa pun terhadapku. Imbalan dari aku yang menyerah dengan cita-citaku dan menjadi robot seperti yang dia mau.”
Naya teringat dengan cita-cita Noah dulu. Mendirikan perusahaan sendiri dan melepaskan nama Elmer.
“Apa anda tidak apa-apa?” tanya Naya yang membuat Noah menoleh lagi ke arahnya.
“Aku baik-baik saja sekarang.”
“Maksud saya, selama ini, apa anda baik-baik saja?”
“Aku tidak harus menjawabnya, kan?”
Naya tidak memaksa lagi. Jawaban itu terdengar terlalu jelas. Noah tidak baik-baik saja selama ini.
“Saya minta maaf,”ucap Naya tulus.
“Untuk apa?”
Naya tidak menjawab, Noah tau apa yang ia maksud.
“Sudahlah, sudah hampir malam. Aku masih harus menghadiri makan malam bersama relasiku.”
Noah berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya. “Ayo.”
Naya meraih uluran tangan Noah lalu beranjak dari duduknya. Sepanjang perjalanan kembali, Noah tidak melepaskan genggamannya.
__ADS_1
***
“Anda yakin saya tidak perlu ikut?”
“Iya, Naya,” jawab Noah sambil memakai jaket kulitnya. Ini adalah makan malam yang kasual, tidak terlalu formal.
“Baiklah. Aku akan menunggu di hotel.”
Noah berbalik, dan berjalan ke arah Naya. “Kau … jangan pernah coba berpikir untuk kabur lagi, mengerti? Ingat, passportmu ada padaku.”
Melihat kilatan penuh intimidasi dari Noah membuatnya merinding.
“Naya, mengerti?” Noah mengulang pertanyaannya.
“Saya mengerti.”
Setelah puas mendengarnya, Noah melangkah ke pintu keluar, dan menghilang bersamaan dengan pintu yang tertutup.
Naya yang belum sempat membersihkan tubuhnya, memilih untuk mandi terlebih dahulu.
Setelah dua puluh menit, Naya keluar dari kamar mandi dan masih memakai bathrobe. Sambil bersantai, ia memesan makan malam untuk dirinya sendiri. Lima menit kemudian, suara bel terdengar dari pintu depan, Naya yang mengira itu adalah pesanan makanannya langsung membuka pintu kamarnya.
“Terima ka—” Tubuh Naya menegang melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintunya. Mr. Tony. Si pria mesum yang ia takuti.
“Halo cantik.”
“Kau tidak mempersilahkan aku masuk dulu?”
“Tuan Noah sedang keluar.”
Tony mendorong pintu Naya, memaksa masuk. “Aku tau. Aku lupa memberikan berkas ini karena besok pagi aku sudah ke bandara.”
Naya meremas eras potongan bathrobe yang di dadanya, menyatukan dua ujungnya agar tidak terbuka. “Terima kasih. Aku akan memberitahukan Tuan Noah.” Naya masih berdiri di depan pintu. Menunggu pria itu keluar.
Bukannya melangkah ke pintu, pria itu malah masuk lebih dalam ke living roomnya, dan duduk manis di atas sofa lalu meletakkan kertas yang sedari tadi ia pegang ke atas meja kaca.
“Kau tau, kan, Noah sedang berusaha mendekatiku untuk memasuki pasar China?”
Naya mengangguk kecil di tempatnya.
“Bagus, jadi kau juga seharusnya tau, bagaimana membantu Noah untuk mewujudkan hal itu.”
Kening Naya berkerut. “Apa maksud anda?”
Tony tertawa melihat wajah polos Naya dengan rambutnya yang setengah basah, sementara kaki jenjang Naya terekspos sempurna. Kilatan penuh nafsu mengarah ke tubuh Naya.
__ADS_1
“Tuan, anda sebaiknya keluar sekarang. Sebelum saya memanggil security.” Naya berusaha mengancam.
“Panggil saja, aku tidak takut … hmm, Lily, right?.”
Deg…
Naya tersentak. Nama yang sudah lama ia tidak dengar. Nama yang hanya diketahui oleh orang yang pernah memesannya. Nama dari masa lalunya yang gelap. Tubuh Naya yang memaku serta tulang kakinya yang melemas, membuat Naya memundurkan tubuhnya dengan ketakutan.
“Hahaha, jadi benar? Aku pikir, aku salah mengenalimu, Sayang.”
Tony kini berdiri, dan berjalan ke arah Naya yang masih mematung. Kakinya seperti tertanam, sangat sulit ia gerakkan. Air matanya sudah terjatuh.
“Bagaimana … bisa, anda...?” Bibir Naya gemetar, bersamaan dengan sentuhan tangan Tony di pipinya.
“Aku selalu bertanya-tanya, kenapa Riya melarangku memakaimu di ranjang waktu itu. Apa karena Noah sudah lebih dulu membayarmu?”
Usapan tangan nakal pria itu turun ke leher Naya yang masih lembab.
“Lepaskan tangan anda. Saya bukan pelacur seperti dulu.” Keberanian yang entah muncul dari mana, membuat Naya bisa menghentak kasar tangan itu.
Tony tertawa nyalang, lalu mendorong tubuh Naya hingga membentur dinding, tangan kanannya menekan kedua pipi Naya dengan kuat, sehingga Naya terpaksa menatap lurus manik pria itu.
“Kau pikir dengan berpakaian mewah dan berada di samping pria kaya membuatmu menjadi wanita baik-baik? Kau tetap seorang pelacur, Lily.”
Air mata Naya terjatuh semakin deras. Ia ingin menyangkalnya. Ia tidak ingin menjadi seorang pelacur lagi.
“AKU BUKAN PELACUR!” Dengan sisa keberaniannya yang tersisa, Naya menendang sesuatu yang berada di antara kedua kaki pria itu. Berhasil, pria itu meringis kesakitan. Melihat kesempatan, Naya segera berlari menuju kamarnya. Sialnya, sebelum ia sempat menarik gagang pintu, dirinya kembali tertarik kuat, hingga tubuhnya terjatuh ke lantai.
Pria itu merangkak naik ke tubuhnya, lalu menduduki pahanya, mengunci pergerakan yang sebisa mungkin Naya lakukan.
“Bangsat! Kau pikir, kau siapa, hah?” tamparan keras melayang bergantian di kedua pipinya. Naya meringis dan menangis sambil memohon.
“Tuan, Saya mohon, lepaskan saya.”
Tanpa menjawab, pria itu menyingkap bathrobe Naya hingga kedua dadanya terlihat jelas, Naya mencoba menutupnya, tetapi sekali lagi tamparan di wajahnya membuat tubuhnya melemah menahan semua kesakitan itu.
“Sangat cantik. Aku sudah membayangkan tubuhmu sejak lama.” Pria itu menatap penuh nafsu ke tubuh Naya yang terbuka.
Saat tangan pria itu mulai menyentuhnya, dengan sekuat tenaga, Naya memberontak, meskipun usahanya tidak berarti karena kekuatan dari pria di atasnya. Dengan sisa tenaga yang tersisa, air mata yang mengalir deras, serta harapan yang mungkin mustahil. Naya memejamkan matanya, berharap satu-satu usaha terakhirnya berhasil.
“NOOAAH!” Dengan sekuat tenaga, suara serak itu memohon pertolongan.
Pria itu berhenti, sebelum tertawa. “Apa kau bodoh? Tidak akan ada yang mendengarmu.”
***
__ADS_1