SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 23


__ADS_3

Tetesan air menerpa jendela tinggi, awalnya hanya sebulir hingga tetesan itu membentuk lintasan yang jatuh dengan cepat. Kilat menyambar tanpa suara, menyinari gedung-gedung pencakar langit lainnya hanya dalam hitungan detik.


Noah menaikkan suhu dari pendingin udara di living room luas itu, sambil menunggu sambungan teleponnya?


“Bagaimana kabar ibuku?”


“Sudah membaik, Tuan. Mungkin Nyonya Besar sudah bisa kembali dalam waktu dekat.”


Noah menghela napasnya dengan lega. “Kabari terus perkembangannya.” Ia menoleh ke arah wanita yang sedang membelakanginya di area dapur. “Aku ingin mengenalkannya dengan seseorang,” lanjutnya.


“Baik, Tuan.”


Noah meletakkan ponselnya sebelum menghampiri Naya yang sedang sibuk memotong sayur-sayuran. Ia memeluk Naya dari belakang, menyangga dagunya di ceruk leher Naya. Menikmati aroma manis dari tubuhnya.


Tubuh Naya menegang. Sudah dua hari ia tinggal di sana, dan Noah selalu saja memperlakukannya dengan lembut. Noah bahkan tidur di kamar lain. Hanya ada pelukan dan beberapa ciuman singkat. Noah tidak melakukan lebih dari itu. Naya merasa terlena, Naya merasa dihargai. Wanita mana pun akan melayang tinggi menerima perlakuan Noah. Mungkin jika hati Naya tidak penuh luka, mungkin sudah lama ia jatuh cinta dengan sosok sempurna itu.


“Kau masak apa?” bisik Noah.


Naya merasakan geli dari hembusan napas Noah yang menerpa lehernya. “Hanya soup ayam. Anda ingin makanan yang lain?”


Noah mengangguk. “Iya aku ingin makan yang lain.”

__ADS_1


Naya memutar badannya, lalu mendongak. “Ah, saya minta maaf. Seharusnya saya bertanya dulu. Anda ingin makan apa?”


Noah tersenyum jahil. “Ini.”


Tanpa peringatan, Noah melumatt bibir Naya dengan dalam. Naya tidak bisa bergerak saat kedua tangan Noah mengukungnya di sana. Ciuman itu berganti dengan suara nikmat yang keluar dari bibir Naya, saat jari jemari Noah masuk dan menelusuri kulit di area punggungnya, hingga perlahan naik dan menemukan pengait di sana.


Hanya dengan gerakan kecil, kedua pengait itu saling melepas, membebaskan sesuatu yang ditopangnya. Naya tidak bisa menghindar dengan semua tarian jemari Noah di atas kulitnya. Noah merasakan gairahnya semakin memuncak ketika Naya tidak juga mendorongnya, bahkan wanita itu menekan tengkuk Noah agar tidak melepaskannya. Noah mungkin bisa berbuat lebih jauh dari itu, seandainya bunyi air mendidih tidak mengalihkan atensi mereka.


“Apa kau ingin melanjutkannya?” bisiknya saat Naya masih mengatur napasnya yang memburu.


Naya bisa tau kalau hujan diluar semakin deras, meskipun suaranya teredam. Suasana itu menghanyutkan gairah Naya. Naya tidak akan berbohong, kalau ia juga merindukan lebih dari sekedar ciuman pria berwajah indah itu.


“Hanya kalau anda masih lapar.” Naya membalas bisikan Noah di telinga.


Noah tidak bisa menahan untuk membawa Naya sampai ke kamar. Karena itu, ia membaringkan Naya dengan pelan di atas sofa besar. Sementara ia berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya untuk meloloskan kaos hitam melewati kepala.


Naya yang berada di tengah kedua lutut Noah, juga membuka satu persatu kancing bajunya. Noah tidak bisa melepas pandangannya dari wajah cantik wanita di bawahnya itu. Naya sangat indah di matanya.


---


Noah melempar sehelai kertas yang terbuat dari kertas mewah aster. Tulisan di sana membuatnya murka. Itu adalah undangan pernikahan, sialnya, namanya tertulis di sana sebagai pengantin pria, berdampingan dengan seorang wanita lain bernama Fransisca. Noah bahkan tidak pernah tau, siapa manusia itu. Bagaimana bisa, mereka merencanakannya secara sepihak. Noah tidak sabar menunggu deringan sambungan telepon yang ia buat.

__ADS_1


“Kau tidak bisa memaksaku!”


“Dia wanita baik-baik. Tidak seperti pelacur yang kau sembunyikan di rumahmu.”


“Namanya Naya. Berhenti menyebutnya seperti itu!” Noah berteriak geram.


“Aku tidak peduli dengan namanya. Bagiku dia tetap seorang pelacur. Dan dia tidak bisa dan tidak akan pernah diterima di keluarga Elmer.”


Noah terdiam. Hatinya perih mendengarnya. Wanitanya sekali lagi harus menerima penolakan seperti ini. Tapi, Noah tidak akan membiarkan Naya berjuang sendiri. Ada dirinya yang akan selalu berada di samping Naya.


“Terima Naya, atau aku yang akan keluar dari nama keluarga yang kau bangga-banggakan itu.”


Noah mematikan sambungannya. Ia menutup matanya dan bersandar lemah di kursi kebesarannya.


Sebuah pesan masuk muncul di layarnya. Nomor baru. Noah membukanya.


“Aku Sisca. Aku harap kita bisa saling mengenal sebelum acara pernikahan kita.”


Tidak butuh waktu lama untuknya memikirkan balasan untuk wanita itu.


“Tidak ada pernikahan. Jangan menghubungiku lagi.”

__ADS_1


Noah memblokir nomor itu.


...****************...


__ADS_2