
Hari ini Naya terlihat sangat cantik dengan rambut yang sengaja ia ikat asal, namun menciptakan efek messy bun yang natural, dengan balutan kaos putih berlengan pendek dan celana jeans biru, dipadu sneaker berwarna putih.
Sementara Noah, terlihat sangat tampan dengan kaos hitam polos yang juga berlengan pendek, memamerkan ototnya yang seakan mencuat diperpotongan lengan baju itu, sementara jaketnya ia tenteng di tangan kanannya untuk persiapan cuaca dingin ketika malam hari. Celana panjang berwarna senada, dan juga sneaker putih bermerek mewah sama dengan milik Naya, tidak lupa kacamata hitam yang bertengger indah di hidungnya yang mancung semakin menambah kekaguman kepada siapa pun yang melihat mereka berjalan bersama. Pasangan yang sempurna untuk hari yang cerah. Tangan besar Noah yang membungkus erat jari jemari Naya sambil memasuki taman hiburan.
Begitu mereka masuk ke dalam taman hiburan, tercium aroma makanan yang menggugah selera dari gerai-gerai makanan yang ada di sekitar. Bau popcorn yang baru saja mekar mendominasi di sana. Aromanya sangat harum dan manis.
Suasana di taman hiburan begitu semarak dan penuh keceriaan dengan riuh rendahnya suara anak-anak yang bermain dan tertawa riang. Wahana-wahana yang memutar dan meluncur memberikan kegembiraan kepada para pengunjung yang sedang menikmati permainan-permainan seru seperti bianglala, flying fox, dan roller coaster, membuat suasana semakin hidup dan penuh semangat.
Naya sendiri belum pernah ke taman hiburan itu. Dulu sekali, Brian pernah mengatakan akan membawa dirinya dan anak mereka kelak saat musim panas. Tetapi, apa daya ketika takdir mereka berkata lain.
“Apa kau ingin mencoba sesuatu?”
Naya mengangguk. “Aku selalu ingin mencoba itu.” Tunjuknya pada permainan roller coster.
Noah sedikit tidak percaya Naya ingin menaiki wahana yang paling menguji adrenalin itu. Noah tersenyum, mengiyakan.
Mendekati area permainan, suara riuh rendah dari pengunjung dapat didengar. Terlihat antrean yang panjang di sana. Tentu saja, Noah tidak akan ikut mengantri. Ia sudah membeli tiket Express Pass untuk mereka berdua.
Naya berdiri dengan gelisah. Tangannya tiba-tiba berkeringat dingin. Noah yang menyadarinya, tertawa kecil.
“Takut, ya?”
Naya menggeleng dengan cepat. “Ti-tidak…”
__ADS_1
Noah kembali tertawa, sudah jelas Naya berbohong. Noah merangkul Naya dengan mesra sambil berbisik pelan, “Ada aku, jangan takut.”
Wajah Naya memerah.
Hingga kini giliran mereka. Dengan lembut, Noah mendudukkan Naya dan memastikan pengamannya terpasang sempurna, barulah Noah mengambil tempat di sampingnya.
Terdengar instruksi dari petugas untuk memastikan keamanan penumpang. Beberapa kalimat dari petugas itu hanya sedikit yang masuk ke pendengarannya, Naya sedang sibuk mengatur napasnya karena jantungnya yang memburu di dalam sana.
Ketika gerakan kereta itu mulai berjalan, Naya menarik napasnya dalam, hingga kereta yang semulanya berjalan lambat, tiba-tiba bergerak maju dengan sangat cepat.
Terdengar teriakan dan sorakan kegirangan saat mereka menikmati adrenalin yang memacu. Naya yang tadinya menutup matanya takut, dengan perlahan membuka kelopak matanya. Rasanya… sangat menyenangkan. Seperti terbang dan melayang. Menentang gravitasi yang menarik dan mendorong tubuhnya mengikuti gerakan kereta besar itu. Naya tidak menyangka, akan menyukai permainan itu.
Setelah selesai, rambut Naya dan Noah sama-sama berantakan. Mereka saling menertawakan. Noah mengambil rambut Naya lalu mengaturnya dengan jari-jarinya, dan Naya melakukan hal yang sama.
“Hmm…” Naya melihat peta di tangannya, ada berbagai informasi tentang wahana dan atraksi permainan lainnya. “Bagaimana jika melihat ini?” Naya menunjuk ke arah atraksi lumba-lumba di sea world.
“Oke. Ayo!” Noah kembali menggenggam tangan Naya.
Sudah banyak pengunjung di sana. Noah tidak mengambil tempat di depan, karena ia pastikan mereka yang duduk dekat dari kolam atraksi, akan basah. Apalagi kaos Naya berwarna putih.
Mata Naya berbinar cerah melihat atraksi lucu itu. Noah sengaja mencuri pandang melihat betapa Naya menikmati setiap detiknya. Noah tanpa sadar menatap lama ke arah Naya. Naya yang menyadarinya segera menoleh.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Aku senang melihatmu tertawa lepas.”
Naya tersenyum manis. Suara sorakan dari penonton tiba-tiba bergemuruh hebat, ketika salah satu dari penonton atraksi itu sedang berlutut di dekat kolam dengan kedua lumba-lumba di belakangnya melompat indah membentuk simbol hati.
Ternyata laki-laki di depan sana sedang melamar kekasihnya. Suara sorakan terdengar ketika wanita itu mengangguk menerima lamarannya. Suasana tiba-tiba menjadi haru, ketika kedua orang tua mereka saling memeluk dengan bahagia.
Naya dan Noah menyaksikan itu semua tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran dan perasaan mereka sendiri. Naya segera berdiri dan mengajak Noah untuk keluar dengan alasan dirinya lapar. Meskipun, sebenarnya dirinya sedang bertahan untuk tidak mengeluarkan air matanya.
Setelah menikmati makanan khas western, mereka kini duduk di bangku-bangku yang tersedia di sana. Matahari sudah condong ke barat. Sambil merasakan angin semilir yang bertiup dengan lembut dan menikmati pemandangan taman hiburan yang masih saja ramai pengunjung. Mungkin karena hari itu adalah hari libur.
Seorang anak gadis cantik sekitar lima tahun yang memakai bandana berwarna merah muda mengambil alih perhatian Naya dan Noah. Anak kecil itu sedang merengek meminta permen kapas kepada kedua orang tuanya. Ibu anak itu terlihat dengan sabar menasihati gadis kecilnya kalau dia sudah terlalu banyak makan yang manis.
Tiba-tiba tangan Naya di genggam, Noah tau apa yang sedang Naya rasakan. Benar saja, saat Naya menunduk, menormalkan kembali perasaannya yang pilu.
“Pasti menyenangkan mempunyai kedua orang tua seperti gadis cilik itu,” ucap Naya.
“Sayangnya, tidak semua yang memiliki orang tua, seberuntung itu,” ralat Noah.
Naya menoleh ke arah Noah yang masih menatap ke arah gadis kecil itu yang akhirnya berjalan dengan pasrah karena tidak mendapatkan permennya.
Noah menerawang jauh. Kenangannya membawanya tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada keluarganya. 20 tahun yang lalu.
...****************...
__ADS_1