
Kendaraan-kendaraan dari jalan yang terlihat kecil di bawah sana sudah mulai berlalu-lalang, meskipun langit masih sedikit gelap, namun biasan cahaya dari matahari yang sebentar lagi akan terbit menyapa wajah seorang pria yang masih terjaga sepanjang malam. Di tangannya ada gelas kaca berisi alkohol yang sudah tidak terhitung berapa kali ia isi ulang.
Dikamar yang masih sama dengan terakhir kali ia tinggalkan bersama Naya, wajah Noah mengeras menahan emosinya yang meluap-luap. Pikirannya sangat kacau dengan hati yang penuh kekhawatiran bercampur amarah.
“Bagaimana?”
“Ma-maaf, Tuan. Kami belum menemukan informasi apa pun.”
Dua orang suruhan Noah dengan wajah yang lelah karena harus mencari seorang wanita yang hilang dalam semalam, menunduk takut sambil menutup erat mata mereka. Menunggu reaksi dari atasan mereka yang menatap penuh kilatan murka.
“Kau pikir aku membayarmu mahal hanya untuk mendengar maaf, hah?”
Noah mendekat dengan sangat cepat. Tamparan melayang keras untuk kedua orang tidak berguna itu.
“Keluar! Besok uang pesangon kalian akan dikirimkan.”
Itu adalah kalimat kelima kali yang Noah ucapkan dalam semalam. Sudah ada tujuh orang yang bernasib sama dengan kedua pria itu.
Semua orang suruhannya tidak ada yang bisa diandalkan. Tidak ada yang becus. Noah menyugar rambutnya yang sudah berantakan sejak tadi. Lalu berdiri dengan menyangga kedua tangannya di atas meja. Napasnya memburu karena amarah yang tidak bisa ia kendalikan.
“Tuan?” Rio masuk ke dalam kamar hotel itu dan berdiri menggantikan posisi kedua pria tadi yang sudah berjalan keluar dengan lemah.
“APA?!” jawabnya tanpa berbalik.
Rio ragu. Sangat ragu. Ia juga takut melihat atasannya itu yang seperti orang kesetanan. Tapi, jika Rio tidak memberitahunya sekarang, mungkin Noah akan berbuat lebih nekat.
“Saya… membantu Nona Naya untuk menemui ayah anda.”
Noah berbalik, menunggu Rio menjelaskan lebih banyak.
“Nona Naya mengatakan akan menghentikan semua yang dilakukan ayah anda kepada ibu anda. Saya sudah menolak tapi Nona Naya bersikeras ingin pergi. Saya… tidak tau apa yang Nona Naya dan Tuan Besar Elmer bicarakan, tapi… ketika keluar, Nona Naya sudah memegang uang banyak.”
Noah berjalan dan berhenti tepat di depan Rio.
__ADS_1
“Tahan posisimu. Aku akan membunuhmu kalau kau jatuh. Mengerti?”
Rio mengangguk, ia menunduk sambil menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya pelan lewat mulutnya. Bersamaan dengan tulang keringnya di tendang dengan keras, Rio mengaduh kecil, giginya bergemeretak menahan sakit.
Selanjutnya, giliran wajahnya yang menerima tonjokkan kuat, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali hingga badannya terhuyung ke samping, sebisa mungkin ia menjaga keseimbangannya agak tidak jatuh. Ia bisa merasakan hidungnya mengeluarkan dara dan terasa kebas. Mungkin tulang hidungnya sudah patah.
Masih dengan posisinya yang mencoba berdiri tegap, namun gagal, ketika Noah melayangkan tendangan yang mengenai tepat di dadanya. Tubuh Rio terdorong ke belakang lalu menabrak pintu dengan sangat keras, sambil bertumpu pada gagang pintu agar dirinya tidak jatuh. Noah akan benar-benar membunuhnya sekarang.
“Aku memintamu menjaganya. Bukan mengantarkan Naya ke ayahku. Apa kau lupa apa yang ayahku bisa lakukan, hah?!”
Rio tidak menjawab, hanya deruan napasnya yang terdengar.
“ARRGH!” Noah berteriak melampiaskan amarahnya dengan mendorong jatuh semua pajangan mewah yang terbuat dari kristal kaca dan beberapa botol minuman yang hampir kosong. Suara melengking dari pecahan yang terhantam lantai marmer menggema memecah kesunyian di kamar besar itu.
Masih dengan emosinya yang meledak, Noah mengambil ponselnya menghubungi seseorang.
“Apa kau tidak puas menyakiti ibuku, hah?”
“Apa maksudmu?”
Pria baya di seberang malah tertawa. “Jadi dia benar-benar sudah pergi? Dengar, dia yang memilih pergi sendiri. Aku tidak ada hubungannya dengan keputusan pelacur itu.”
Kini, giliran Noah yang terdiam. Apa artinya, Naya benar-benar memilih pergi meninggalkannya? Karena keputusannya sendiri?
“Dia bahkan meminta uang kepadaku. See? Tidak ada pelacur yang tidak menyukai uang Noah.”
“Tidak. Naya tidak seperti itu.”
“Tapi, itu adalah kenyataannya. Dia rela meninggalkanmu untuk uang 150 juta. Perasaannya sedangkal itu.”
Suara tertawa kembali terdengar seperti mengejek wanitanya.
Kenapa? Kenapa Naya butuh uang? Kenapa Naya tidak meminta kepadanya? Pertanyaan penuh tanda tanya itu terasa perih.
__ADS_1
---
Sudah hampir dua minggu, ia masih juga tidak mendapatkan kabar apa pun. Noah hanya bisa terlelap dua jam setiap hari. Minuman alkohol harus selalu tersedia di kamarnya. Ia akan menyibukkan diri dan hanyut dengan kerjaan. Kepalanya beserta hatinya selalu perih dan sakit jika mengingat satu nama yang benar-benar menghilang di kehidupannya.
Sebagai pemimpin tertinggi kedua di perusahaan mereka, Noah tidak hanya terkenal sebagai pewaris tertampan, tapi juga karena profesionalitasnya dalam bekerja. Noah bisa terlihat sangat tegas dan ramah secara bersamaan. Pribadi Noah dengan senyuman yang langka akan selalu menjadi pemandangan indah untuk karyawan dan bawahannya. Jika seseorang melakukan kesalahan, Noah akan menegurnya dan membantu mereka memperbaiki kesalahannya. Namun, semua berubah sejak malam buruk itu, Noah menjadi seperti diktator yang tidak mengenal kesalahan sekecil apa pun. Kata kasar dan makian akan ia layangkan untuk siapa pun.
Seperti saat ini, ketika meeting bersama Tim Divisi Produksi, Noah membolak-balikkan kertas laporan yang berada di tangannya dengan kening yang berkerut tidak suka, sementara di depan sana, si Ketua Tim sudah pucat dengan keringat dingin yang mengucur sedang memaparkan hasil produksi sebulan terakhir.
“Laporan apa ini?” Suara Noah mengambil alih atensi. Membuat Ketua Tim di depan sana meneguk salivanya dengan susah.
“JAWAB!”
“La-laporan hasil produksi dalam jangka satu bulan yang—”
Noah merasa jengkel lalu membanting kertas itu dengan kasar di atas meja, menimbulkan suara yang menakutkan, semua yang duduk di sepanjang meja besar berbentuk oval itu menunduk tidak berani menatap Noah.
“Siapa yang buat laporan ini?”
“Sa-saya.” Seorang pria berkacamata berdiri dengan takut-takut.
“Bodoh! Ini laporan angkanya tidak dihitung dengan benar. Ada kesalahan perhitungan untuk maintenance alat. Lalu, statisktiknya lihat, lebih rendah dari hasil produksi enam bulan sebelumnya.”
Pria berkacamata itu dan si Ketua Tim membolak-balik laporan itu, mencari di mana letak kesalahan mereka.
Mereka menemukannya. “Akan segera kami perbaiki lap—”
“Terus apa? Saya harus mengadakan meeting lagi? Hanya untuk mengoreksi kesalahan kalian? Ini bukan sekolah. Ini perusahaan besar, kalau tidak becus tidak usah kerja.”
Mereka diam membisu. Menunggu amarah atasan mereka mereda.
“Serahkan laporan baru dalam sejam, dan analisa perencanaan produksi bulan depan. Kalau masih dibawah statistik, siapkan surat pengunduran kalian. Paham?” Noah tidak menunggu jawaban, ia berdiri lalu berjalan keluar dengan membanting pintu ruang meeting itu.
Tubuh mereka melemas. Bahu dan leher mereka tegang menerima tekanan. Sementara si Ketua Tim dan si pria berkacamata berlari tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
...****************...