SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 30


__ADS_3

Ruangan dengan desain modern bernuasa cokelat mahoni dan wangi segar dari apa pun yang menyebarkan aroma itu. Lantai bermotif polos dari marmer mengkilap menjadi satu-satunya pandangan Naya ketika memasuki ruangan yang dihuni oleh seorang yang sangat menentang kehadirannya. Mungkin pria baya yang sedang mengamati semua pergerakan Naya sedikit penasaran. Kenapa seorang wanita hina lancang menemui dirinya?


Pria baya yang tetap terlihat bugar sekaligus tampan meskipun dengan rambut memutih, mengeluarkan aura menyeramkan. Sementara yang diamati tetap menunduk takut, menunggu detak jantungnya berdetak normal, agar kepalanya bisa berpikir jernih dan tangannya tidak lagi gemetar.


“Berani sekali perempuan seperti kau menemuiku!” Suara yang sama seperti yang Naya dengar sewaktu di rumah sakit. Tidak ada keramahan dan hanya ada kebencian.


“Sa-saya…” Naya meremas tangannya yang dingin. Waktu Naya tidak banyak.


Naya menarik napasnya dalam, dan mengembuskannya perlahan lewat bibir mungil nan pucat itu.


Berhasil, keberanian Naya kembali mengambil alih. Ia mengangkat kepalanya, menatap langsung manik di depannya yang tanpa berkedip mengawasinya.


“Mohon tidak mengganggu ibu Noah lagi.”


Pria itu terdiam, sedetik kemudian ia tertawa nyaring, garis keriput yang diwajahnya tercetak jelas.


“Siapa kau yang berani memerintahku, hah?”


“Saya Naya, wanita yang sekarang punya andil dalam kehidupan satu-satunya pewaris anda.”


Tangannya ia genggam erat, Naya memohon agar keberaniannya jangan habis dulu. “Saya akan pergi dari kehidupan anak anda, selamanya… tetapi, saya mempunyai syarat.”


Elmer menyandarkan punggungnya, mengetuk-ngetuk jarinya, menimang.


“Saya tau, anda bisa saja membunuh saya sekarang. Menghilangkan jejak tanpa bukti. Tapi, Tuan Noah pasti akan tau, kebenciannya kepada anda akan semakin dalam. Bukankah menyetujui syarat saya akan mempermudah semuanya? Saya sendiri yang akan pergi, dan Tuan Noah akan kembali kepada anda.”


Berhasil, pria baya itu tersenyum kecil.


“Apa syaratmu?”


“Pertama, saya tidak tau apa yang terjadi, tapi mohon untuk mencabut semua berita tentang ibu Noah.” Naya hanya mengulang perkataan Noah yang ia dengar.


“Kedua….” Naya tiba-tiba ragu. Kemudian ia menggeleng sendiri, meyakinkan dirinya. Lagipula, sudah tidak ada harga dirinya yang tersisa. “Saya butuh uang 150 juta.”


Elmer tertawa mendengar syarat kedua itu. “Sangat bisa ditebak. Dari awal sebenarnya ini yang kau kejar, bukan? Uang dari pria kaya.”

__ADS_1


Naya kembali menunduk, air matanya mengenang. Tidak apa-apa ia ditertawakan dan direndahkan. Naya berusaha menguatkan dirinya sendiri.


“Kenapa? Noah tidak membayarmu dengan cukup?”


“Tuan Noah memperlakukan saya dengan sangat baik,” sanggahnya.


Elmer mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


“Cabut semua laporan di media, jangan sisakan satu pun beritanya.”


Naya tersenyum tipis, ia sudah membantu Noah meskipun dengan hal kecil itu.


“Tinggalkan nomor rekeningmu, besok uang yang kau minta akan dikirim.”


“Tidak, Tuan. Saya butuh tunai.”


Elmer mengeraskan rahangnya. Sepertinya ia mulai tidak suka.


“Apa kau sedang mempermainkanku, hah?!”


Bunyi ketukan sekali terdengar dari pintu. Itu adalah tanda dari Rio, bahwa mereka harus segera pergi. Naya mulai gelisah.


“Saya tau, anda adalah orang terhormat, Tuan. Dan orang-orang seperti saya tidaklah semuanya hina. Kami hanya bertahan meskipun dengan harapan yang sangat kecil. Tuan Noah adalah salah satu kebahagian yang pernah menghampiri saya. Sebuah harapan yang pernah menyelamatkan saya. Karena itu, untuk seseorang yang sedang menunggu saya, saya juga ingin memberikan harapan itu.” Naya menunduk dalam.


Kening Elmer berkerut. “Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?”


”Uang itu untuk membebaskan teman saya. Seperti Tuan Noah yang membebaskan saya dari gelapnya dunia malam.”


Elmer terdiam, dirinya berpikir sejenak. Kemudian menekan tombol di sandaran tangannya, kursinya bergerak mundur lalu memutar ke arah salah satu brangkas besi di belakang mejanya. Setelah mengeluarkan beberapa ikat uang, Elmer mendekati Naya lalu menjatuhkan uang itu tepat dikakinya.


“Ini adalah terakhir kalinya kau menampakkan wajahmu di depanku. Mengerti?”


Dengan air mata yang terjatuh, Naya memungut uang-uang yang terikat itu. “Sa-saya mengerti, Tuan.”


Naya pun berbalik setelah terima kasih lalu keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Rio dan wanita cantik di depannya terkejut, Naya memegang uang banyak di tangannya. Naya tidak memperdulikan apa pun yang mereka pikirkan. Naya malah tersenyum manis ke wanita cantik itu dan meminta sesuatu agar uang-uang itu bisa mendapatkan wadah. Meskipun masih dengan raut penuh tanda tanya, wanita itu mencari di laci mejanya, dan menemukan sebuah paper bag berwarna cokelat. Setelah menerimanya, Naya memasukkan semua uang itu dan berjalan ke arah lift. Rio tidak bertanya atau pun mengatakan apa pun.


Setelah sampai di parkiran, Reno segera menghampiri mereka. Dengan pijakan pada pedal gas yang dalam, tanpa memperdulikan bunyi peringatan dari pengendara lain, mereka berusaha agar bisa sampai di hotel sebelum mobil Noah sampai lebih dahulu.


---


Dua jam yang lalu, di tempat berbeda.


“Di mana ibuku?”


“Sudah tertidur, setelah minum obat, Tuan.” Seorang wanita dengan pakaian maid-nya menunduk hormat.


Noah berjalan ke arah ruangan yang lebih besar.


“Bagaimana? Sudah berhasil?”


Seorang pria dengan pakaian formal menjawab. “Kami masih berusaha, Tuan.”


“Sial. Hapus semuanya. Jangan biarkan ada berita apa pun.”


“Siap.” Jawab ketiga pegawai di sana bersamaan. Mereka masih berkutat dan fokus dengan kerjaan mereka di sana, sementara dua orang lainnya sibuk menelpon beberapa stasiun penyiaran.


Sudah hampir sejam berjalan, tiba-tiba seseorang di antara mereka berkata. “Tuan, semua berita sudah hilang. Stasiun penyiaran juga yang tadinya bersikeras tidak ingin menurunkan beritanya sudah menghapus dari portal berita mereka.”


Tubuh Noah melemas. “Akhirnya… kalian sudah bisa pulang. Pakai ini, untuk makan malam.” Noah meletakkan kartu hitam di atas meja.


Beberapa pegawai itu saling tatap, hingga salah satu diantara mereka berjalan mendekat dan berterima kasih sambil mengambil kartu itu.


Setelah bos mereka menghilang dari balik pintu, mereka kembali saling pandang. “Padahal beritanya hilang sendiri, kan?


“Sttt. Yang penting tugas kita sudah selesai. Jarang-jarang Tuan Muda berbaik hati seperti ini.”


Mereka pun mengangguk setuju.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2