SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 43


__ADS_3

Seminggu kemudian, Naya sedang berlari kecil mengejar langkah Noah yang besar. Kadang pria itu benar-benar mengujinya. Lihat saja sekarang, Naya yang kesulitan menarik dua koper besar, sementara Noah berjalan santai di depannya.


“Apakah langkah anda bisa lebih kecil?” Naya protes.


“Bukan salahku kalau kakimu pendek.”


Jawaban yang semakin membuat Naya kesal.


“Oke, jangan salahkan saya juga kalau saya tertinggal jauh di belakang.” Kini langkahnya tidak lagi ia percepat. Ia berjalan santai seperti Noah tadi. Meskipun bandara itu begitu besar, namun mereka tidak telat, jadi mungkin ia bisa sedikit bersantai, tanpa mengejar langkah Noah lagi.


Sebenarnya, Naya bisa saja berjalan duluan atau tidak memperdulikan Noah berbelok kemana, hanya saja ini adalah pengalaman pertamanya memasuki bandara. Ia belum pernah keluar negeri atau pun keluar kota menggunakan pesawat seumur hidupnya. Jadi, mengikuti dan mengikuti gerakan Noah adalah salah satu caranya bertahan di sana.


Seorang pria dengan pakaian resminya mendekati Noah, sepertinya menanyakan barang bawaan atau bagasinya. Ketika Noah menunjuk ke arahnya, Naya dengan sigap memasang badan tegap, pria itu tersenyum ke arahnya.


“Silahkan Nona, ini boarding pass anda, dan bagasinya, saya ambil alih dari sini.”


Naya tersenyum lebar sambil mengucap syukur kepada pria yang berpakaian khas salah satu maskapai itu.


“Naya, kemari.”


Bibir Naya mengerucut. Apa lagi sekarang? Noah tidak akan puas kalau tidak melihatnya kesusahan. Naya mendekat maju, tiba-tiba Noah mengusap keningnya yang dipenuhi peluh menggunakan sapu tangan yang ia ambil dari sakunya.


“Kenapa kau berkeringat sekali?”


Naya menganga, Noah masih mempertanyakan alasannya berkeringat? Baiklah, Naya sudah kehilangan kesabarannya.


“oh maaf, saya kira kita ke bandara untuk menuju Singapore, ternyata saya ke bandara untuk latihan maraton.”


Tiba-tiba keningnya di sentil oleh jari Noah. “Kau sedang menyindirku?”


Naya tertawa mengejek. “Saya tidak mungkin berani.” Lalu ia berjalan lebih dulu, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia benar-benar tidak tau harus ke arah mana.


“Ke arah sini.” Noah menarik tangannya, bukan memegang pergelangannya, tapi membungkus telapak tangannya dengan jari-jari besarnya. Tanpa sadar, semua kekesalan itu meluap. Naya tersenyum, ia membalas genggaman Noah.


***


Di dalam pesawat semuanya begitu canggung, Naya yang tidak tau harus memesan apa ketika salah satu pramugari menawarkannya menu dengan berbagai pilihan makanan. Ia hanya bisa melirik ke arah Noah yang duduk di sampingnya sambil menikmati champagne sebagai welcome drink.


“Tuan, Noah. Hmm, anda memesan apa untuk ini?” Naya mengangkat papan menunya.


Noah meliriknya sekilas, lalu berbicara kepada pramugari sambil mengucapkan nama menu yang mungkin sudah Noah hapal di luar kepala. Saat pramugari itu pergi, Naya meraih gelas champagne-nya juga.


“Jangan minum itu.”


Naya menghentikkan gelas itu yang sudah berada tepat depan bibirnya. “Kenapa?”


“Toleran alkoholmu rendah. Aku tidak ingin kerepotan mengurusi wanita mabuk.”

__ADS_1


“Tuan Noah, anda tidak lupa, kan, pekerjaan pertama saya.”


Naya juga yakin, kalau kadar alkohol minuman itu pasti rendah. Naya bisa tahan selama ia tidak menghabiskan sebotol.


Noah mengacuhkannya, lalu memanggil seorang pramugari dan meminta soda untuk Naya.


Naya yang baru saja akan meneguk minumannya, terpaksa harus rela ketika gelasnya direbut oleh Noah dan dijauhkan dari jangkauannya.


“Minum ini saja.” Noah menyodorkan kaleng soda dingin itu.


“Anda sangat menyebalkan hari ini.”


“Aku tidak peduli.” Noah kemudian menaikkan sekat di antara mereka setelah memakai headphones noise-cancelling.


Naya hanya bisa mendengus semakin kesal. Untungnya penerbangan itu hanya sejam lebih.


Begitu sampai, Naya dan Noah menuju ke salah satu hotel mewah yang berada di kawasan Marina Bay Sands. Begitu sampai, mereka di sambut dengan lobby terbuka yang sangat luas dengan dekorasi didominasi warna putih. Ada meja check in panjang di kiri dan kanan pintu masuk. Namun, untuk mereka yang ber-uang lebih banyak, ada counter untuk check in khusus VIP.


“Noah!” suara seseorang memanggil dari kejauhan.


Naya dan Noah berbalik bersamaan, mendapati Calvin tengah sedikit berlari ke arah mereka.


“Senang bertemu denganmu lagi, Naya.”


Naya tersenyum manis sebagai jawabannya.


“Semalam. Kebetulan kau di sini, mari ku kenalkan dengan Mr. Tony.”


Calvin berjalan di depan, Noah dan Naya mengikut di belakang. Mereka menuju ke kolam renang yang berada di lantai 57. Itu adalah sebuah kolam renang dengan konsep infinity pool yang menghubungkan ketiga tower, yang cara mengaksesnya, dengan kunci khusus yang diberikan kepada setiap tamu. Ada sofa panjang di sepanjang kolam, dan banyak pool chair yang tersusun rapi di dekat kolam renang.


Langkah Calvin terus menuju ke arah sebuah restaurant yang berada tepat di samping kanan kolam. Ke salah seorang pria yang sedang memangku seorang wanita berpakaian swimming suit-nya.


“Hello, sir.”


Si pria yang tengah bermesraan tanpa malu di tengah siang seperti ini, mendongak ke arah Calvin.


“Oh, hai, Calvin.”


“Sir, ini adalah Noah, CEO dari Elmer Corp yang berbasis di Paris, yang aku ceritakan dua hari lalu.”


Noah mendekat untuk memperkenalkan dirinya, namun sesuatu membuat Naya tidak tenang. Pria yang berusia sekitar 40-an itu menatap lama ke arahnya. Bahkan ketika Noah sudah menjulurkan tangannya.


“Sir?” Calvin memanggil.


“Oh, yaa … Noah? Right?”


Akhirnya si pria mesum itu berdiri setelah menyingkirkan wanita di pangkuannya. Si wanita berlalu dan melewati Naya dengan tersenyum. Entah apa arti senyuman itu.

__ADS_1


Setelahnya adalah pembicaraan tentang acara tahunan yang malam ini akan mereka hadari. Sebuah acara untuk menyatukan berbagai pengusaha dan para pelaku bisnis di bidang otomotif untuk membangun relasi dan bertukar informasi penting. Acara ini sangat krusial, karena bisa memuluskan jalan Noah. Itu lah yang Noah jelaskan padanya, tetapi tetap saja, Naya tidak mengerti apa pun, Noah hanya memberitahunya, kalau Naya hanya perlu berdiri di tempat yang bisa Noah jangkau.


Ketika Naya sedang menatap punggung Noah yang membelakanginya, si pria mesum itu sesekali melirik ke arahnya. Naya hanya bisa melemparkan pandangannya ke arah kolam renang yang sedang ramai.


“Oke. Sampai jumpa malam ini.”


“Mungkin kita bisa makan siang besok,” ajak si pria.


“Tentu saja,” jawab Noah sebelum akhirnya kembali menghampiri Naya.


“Ada apa? Kau terlihat gelisah?”


Naya menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku hanya kelelahan.”


“Oke, ayo kembali ke kamar.”


Mereka pun berjalan menuju kamar mereka yang merupakan sebuah signature suite termahal di hotel itu. Begitu masuk, mereka di sambut oleh ornamen patung yang berwarna emas, lalu ada living room dengan tv dan sofa yang besar, dan sebuah dining table bermejakan marmer serta kursi yang dilapisi kulit. Kamar itu juga menghadap langsung dengan jendela transparan yang memamerkan gedung-gedung lainnya. Ada dua kamar di suite itu, di kamar yang lebih luas bahkan di lengkapi dengan kursi pijat di sudut ruangan, dan sebuah walking closet lengkap dengan amenities dari brand mewah dari Italy. Yang paling menggelitik Naya dari semuanya adalah bahkan tempat sampahnya berlapis kulit.


Lagi-lagi Naya hanya bisa terkagum-kagum dengan kehidupan orang kaya seperti Noah. Mereka bisa menikmati kehidupan penuh kemewahan seperti ini setiap saat.


“Kau lapar?” Noah melepas jaket yang sedari tadi ia gunakan.


“Tidak terlalu.”


“Oke, istirahatlah, aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu.”


Noah lalu berjalan ke arah kamar yang lebih luas dan kembali dengan sebuah laptop di tangannya. Ia membuka sebuah lemari yang di pintunya terukir elegan. Noah mengeluarkan satu gelas tinggi dan satu botol air mineral. Di bawah lemari itu ada lemari pendingin yang telah di isi oleh Wisky, Vodka, dan tentu saja Wine.


“Minum ini.” Noah lagi menyodorkannya air mineral sementara untuk dirinya ia mengeluarkan satu botol White Wine.


“Anda sudah terlalu banyak minum hari ini. Di pesawat pun anda tidak berhenti memesan minuman itu.”


“Aku membutuhkannya untuk menjernihkan pikiranku.”


“Menjernihkan pikiran anda dari apa?”


Noah hanya terdiam lama, sebelum akhirnya ia mendekat ke arah Naya dan berhenti tepat di depannya. Mungkin karena pendingin udara yang dinyalakan atau karena tatapan Noah yang membuat seluruh tubuhnya bergidik. Apalagi saat ibu jari Noah mengusap lembur bibir bawahnya, sebelum Noah berkata, “Untuk tidak menciummu.”


Naya terkejut, dengan tubuhnya menegang, ritme jantungnya tiba-tiba menari indah.


Jari yang tadi Noah gunakan untuk mengusap bibirnya, kini berpindah ke keningnya lalu menyentilnya. “Aku bercanda. Istirahatlah, dua jam lagi beberapa butler akan datang untuk membantumu bersiap.” Noah kembali duduk di atas sofa sambil mulai mengetikkan sesuatu di laptopnya.


Naya akhirnya memasuki kamar lain. Ia menutup kamarnya lalu bersandar di pintu. Ia menarik napasnya yang sedari tadi tertahan. Meskipun Noah bercanda tetapi jantungnya tidak. Jantungnya seperti akan keluar dari rongga dadanya. Naya memukul kepalanya sendiri. Itu hanya candaan. Noah tidak mungkin masih menyukainya setelah semua hal yang ia lakukan menyakiti pria itu.


Sementara Noah yang sedang pura-pura mengetik, tersenyum kecil, ia akan menahan dirinya, sebisa mungkin, karena yang terpenting baginya adalah membuat Naya tidak merasakan cintanya, dengan begitu, ia tidak perlu khawatir jika Naya akan pergi lagi. Ia hanya perlu memastikan Naya beranggapan bahwa ia benar-benar sedang membalas budi kepadanya.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2