SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 19


__ADS_3

Naya kembali memasuki mode kerjanya. Ia tersenyum manis sambil sesekali tertawa mendengarkan tamunya bercerita dan membanggakan pekerjaan dan harta mereka, sementara pikiran Naya yang kacau melayang jauh. Mengingat percakapan terakhirnya dengan Noah di telepon tadi.


“Kirimkan nama dan alamatnya.”


Naya tersenyum, tapi matanya memerah karena terus menatap lurus ke arah ranjang kosong di sana. Hatinya memanas, mengingat kondisi terakhir gadis yang sudah ia anggap adiknya sendiri.


“Kenapa anda tidak menanyakan alasannya?” tanyanya dengan lirih.


“Tidak perlu. Aku akan memihakmu apa pun yang terjadi.”


Ucapan Noah menyadarkan Naya kembali. Ia jatuh tersungkur sambil membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tangisannya.


“Jangan menangis, Naya. Kau membuatku ingin lari ke sana sekarang juga.”


“Tuan. Apa yang harus saya lakukan?” Naya meremas dadanya yang sesak, dan napasnya yang seperti tidak menemukan jalan keluar.


Noah mendengus di seberang, perasaannya kacau mendengar wanitanya tersedu seperti itu.


“Kau tidak perlu melakukan apa pun. Cukup berikan aku satu nama.” Noah geram.


Naya menggeleng. Ia berubah pikiran. Kematian adalah hal paling indah yang bisa pria bejat itu rasakan. Hidupnya harus penuh penderitaan dulu sebelum ia mati.


Naya menarik napasnya dalam. “Kasep Dwiguna. Desa Antasari.”


Noah tidak merespon. Tapi Naya tau, ia mendengarnya.


“Jangan membunuhnya. Cukup masukan dia ke penjara.”

__ADS_1


“Kau yakin hanya itu?”


“Tidak. Saya ingin dia menderita. Saya ingin dia mati tercabik-cabik. Tapi … saya hanya akan menjadi seperti dia jika melakukannya.”


“Baiklah. Aku akan mengabarimu setelah semuanya beres.”


“Terima kasih, Tu— maaf. Terima kasih, Noah.”


“Sama-sama.” Noah menjeda. “Ma chérie.”


...----------------...


“Aku akan kembali malam ini,” ucap Noah setelah menutup teleponnya.


“Tapi Tuan, bagaimana dengan pertemuan besok? Semua Dewan Direksi sudah berada di Paris.”


“Baik, Tuan.” Rio menunduk hormat.


“Dan hubungi Alex. Aku punya pekerjaan untuknya.”


Rio menegang. Alex, adalah salah satu orang kepercayaan Noah untuk pekerjaan kotor. Jika Noah menggunakan Alex, mungkin ia akan bekerja lembur lagi.


...----------------...


Setelah menempuh perjalanan belasan jam, akhirnya pesawat dari Bandara International Charles de Gaulle, berhasil mendarat dengan mulus. Setelah melewati bagian migrasi, Noah berjalan lurus ke arah pintu kedatangan. Beberapa wanita yang berpapasan dengannya berdecak kagum. Siapa yang bisa berpaling melihat sosok gagah dengan sweater hitam dipadu dengan celana berwarna senada. Jaket yang ia pakai di pesawat tadi sudah ia tenteng di tangan kanannya, sementara tangan kirinya untuk menggeret koper.


__ADS_1


Seorang wanita tinggi dan cantik tiba-tiba berhenti melangkah, ia membuka kacamata hitamnya untuk memastikan indera penglihatannya. Ia tersenyum penuh kesenangan, setelah ia melihat pria yang sedari dulu mengambil tempat di hatinya. Meskipun pernah di permalukan di depan umum, tidak membuatnya membenci pria tampan nan ber-uang itu.


“Tuan, Noah.” Sapanya setelah berhasil menyusul langkah Noah.


Noah menoleh dan melihat sosok yang sudah lama tidak muncul di hadapannya. Sesuai perintahnya dulu.


“Kau?”


“Senang melihat anda di sini, Tuan.”


“Aku tidak,” tegasnya.


Wanita itu cemberut manja. “Anda menuju kota? Mungkin saya bisa ikut, sambil memberikan beberapa servis gratis.”


“Freya. Jaga sikapmu.”


“Sikap seperti apa, Tuan? Seperti saat saya memuaskan anda?” Nada merayu tanpa melihat tempat itu membuat Noah muak.


Noah membengis. Ia memilih mempercepat langkahnya.


Melihat Noah yang sedang terburu, membuat Freya memilih mengikutinya tanpa sepengetahuannya. Tadinya, ia hanya mengikuti Noah karena ia merindukan sosoknya, namun, ketika supirnya membukakan pintu untuk Noah, dan bertanya arah tujuan mereka, Freya membelalak. Noah menuju ke tempat dimana mereka pertama kali bertemu.


Freya masih melihat mobil mewah Noah keluar dari area bandara, Baginya, bukan suatu kebetulan ia bertemu dengan Noah hari ini. Apalagi, pria yang menjadi obsesinya itu kini menuju tempat dimana ia pernah melewati malam dengan sangat indah. Freya menggigit bibirnya sendiri. Ia merasakan sesuatu dalam dirinya yang merindukan sentuhan Noah. Karena itu, ia langsung menghubungi seseorang dari ponselnya.


“Aku akan membatalkan penerbangan hari ini. Aku ada urusan yang lebih penting.”


Suara bentakkan dan marahan dari pria di seberang sana terputus ketika Freya mematikan sambungan itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2