SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 38


__ADS_3

Les Grands Appartements, Paris.


Dekorasi mewah ala perancang Karl Lagerfeld, membuat suites yang didominasi palet warna abu-abu sultra dan metalik, menjadikannya salah satu apartement termewah yang berada di kawasan elit Champs-Elysees. Bahkan, dekorasi kamar mandinya pun diukir dari lempengan marmer Carrara. Semua hal tentang kenyamanan dan kemewahannya harusnya menjadikan si pemilik kamar bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus meminum alkohol berkadar tinggi hanya untuk membuatnya tidak sadarkan diri.


Foto yang ia terima jam 3 pagi, membuatnya dipenuhi emosi tanpa bisa melakukan apa pun. Noah juga sudah menimang apakah harus menghubungi Alex dan melenyapkan laki-laki yang sudah berani menyentuh wanitanya? Namun ketika mengetikkan perintah itu, ia sadar, wanitanya sudah bukan miliknya lagi. Masih dengan kepala yang berdenyut sakit, Noah menggeram nyalang. Melemparkan apa pun di atas Nakas untuk meredakan emosinya.


***


Musik mengalun lembut dari penyaring suara. Beberapa pelanggan terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing sambil menikmati minuman dingin dan sepotong kue sesuai pesanan mereka. Hari yang sibuk untuk café Arium. Seperti sibuknya Naya yang sedang meladeni Alvin dan Alga sekaligus.


“Bagaimana dengan nonton bioskop malam ini, Na?” ajak Alga yang menjadi pancingan emosi untuk Alvin.


“Naya sudah ada janji denganku malam ini. Ya, kan Na?” Alvin menyenggol lengan Naya yang masih berdiri dengan bingung.


“Ya, sepertinya,” jawab Naya ragu.


Alga tentu sudah lelah harus mengalah terus. Ini adalah percobaan keseratus kalinya mengajak Naya keluar, dan selalu si pria tidak tau diri itu yang menggagalkannya.


“Na, sejak kapan sih ini orang nyela terus?” Alga mulai terpancing emosi juga.


Laras yang sudah sangat terbiasa dengan situasi itu hanya jadi penonton setia. Rasanya sangat menyenangkan melihat drama cinta dua orang pria yang sama-sama tidak terbalas.


Alvin menyerahkan pesanan Alga dengan sedikit menghentaknya, beberapa tetes minumannya terciprat keluar.


“Minuman anda sudah jadi. Silahkan, pintu keluar di sebelah sana.”


“Vin.” Naya menghentikan Alvin yang sudah tidak sopan, bagaimana pun mereka sedang bekerja, dan Alga adalah customer mereka.


Sementara Alga dan Alvin masih saling tatap penuh kebencian. Naya sudah merasa gelisah, apalagi ketika beberapa pelanggan sudah mengintip ke arah mereka dengan penasaran.


“Kau siapanya yang selalu sok mengatur Naya?” Alga bersuara.


Alvin tidak bisa menjawab, hubungan mereka memang sekedar tetangga dan rekan kerja. Tidak lebih.


Alga mencondongkan tubuhnya, tubuhnya yang setinggi Alvin bisa menatap lurus ke arah matanya. “Kalau kau bukan siapa-siapanya, jangan bersikap seperti kekasihnya.”


Alvin terpancing emosi, ia menarik kerah atas kemeja Alga.


Naya terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu. “Alvin—”


“Apa yang sedang kalian lakukan, hah?” tanya suara dari arah pintu. Pak Robert muncul di sana.


Alvin langsung melepaskan cengkeramannya pada baju Alga dan mundur.


“Anda tidak apa-apa?” tanya Pak Robert kepada Alga.


“Saya tidak apa-apa. Hanya sedikit kesalahpahaman.” Alga menjelaskan, sambil menyeringai ke arah Alvin.


“Saya benar-benar minta maaf atas ketidaknyamanan anda. Jika anda datang lagi, kami akan memberikan minuman gratis.”


“Baiklah kalau begitu, saya permisi.” Alga pun melangkah keluar, tanpa mengambil minumannya.


“Alvin, Naya, keruanganku setelah closing.” Pak Robert menuju ke pintu ruangannya yang berada di sebelah kanan mereka.


Naya meremas tangannya gugup, sementara Alvin mendekat dengan penuh penyesalan ke arah Naya.


“Aku minta maaf, Na.”

__ADS_1


Naya menghindari tangan Alvin yang hampir menyentuh lengannya, dan berlalu ke arah belakang. Laras menghela napas saat mengikuti Naya yang sudah menunduk menyembunyikan air matanya.


***


“Jelaskan apa yang terjadi!” perintah Robert.


“Ini salah saya, Pak. Saya salah membuat pesanan, dan saya bersikeras kalau minuman itu sudah sesuai. Saya minta maaf untuk kelalaian saya, Pak.”


Robert tentu tidak percaya begitu saja. “Benar begitu, Naya?”


Naya diam menunduk. Ia sangat tidak pandai berbohong. “Be-benar, Pak.” Naya meremas kuat jemarinya yang dingin.


Robert menimang. “Alvin, kamu sudah hampir dua tahun kerja di sini, kamu juga harusnya sudah hapal SOP dan bagaimana cara menangani pelanggan. Ini adalah kejadian yang sama sekali bisa merusak citra café kita. Kamu mengerti?”


“Saya mengerti, Pak.”


“Karena ini pertama kalinya, jadi saya maafkan. Namun, tetap harus ada hukumannya, gaji kamu bulan ini saya potong 20 persen. Saya tau kamu sedang kesulitan keuangan karena adik kamu, tapi saya harus tegas untuk memberikan efek jera.”


“Iya, Pak.”


“Silahkan keluar.”


Naya dan Alvin sama-sama keluar dari ruangan itu, dan mendapati Laras yang masih menunggu mereka.


“Bagaimana? Nggak dipecat, kan?”


Naya menggeleng. “Nggak, hanya di beri peringatan.”


Bahu Laras melemah. “Syukurlah, kalau gitu aku duluan, ya. Area dapur udah clear, tinggal lantai aja.”


“Oke, makasih, Ras.”


“Jangan lupa kunci café dan matikan lampu.”


“Baik, Pak,” jawab Naya dan Alvin bersamaan.


Setelah bunyi gemerincing dari pintu yang tertutup berhenti berbunyi, kini hanya Naya dan Alvin yang sama-sama terdiam.


“Na, aku benar-benar minta maaf untuk kejadian tadi.” Alvin mencoba lagi.


Naya ingin melangkah untuk menghindar, namun Alvin memegang tangannya.


“Na. Kalau mau marah, marah saja, jangan diam gini.”


“Alvin. Berhentilah,” ucap Naya tanpa menoleh.


“Apa maksudmu?”


“Kamu paham apa yang aku maksud, Vin.”


Alvin perlahan mendekat, lalu sangat dekat. Berhenti tepat di belakang Naya yang masih tidak mau berbalik melihatnya. “Kalau aku tidak mau, bagaimana?”


Kepala Naya berdenyut sakit. Bukan hubungan seperti ini sebenarnya yang ia mau. Alvin adalah pria baik, hanya saja, tidak ada nama laki-laki itu di hatinya.


“Kamu hanya akan terus seperti ini.”


“Kenapa, Nay?”

__ADS_1


”Karena … hatiku milik orang lain.”


Alvin berjalan memutari Naya, dan berdiri di hadapannya. Naya mundur karena Alvin terlalu dekat dengannya. Bukannya berhenti, pria itu malah semakin menyudutkan Naya saat punggungnya bertabrakan dengan meja counter.


“Siapa, Na? Dosen itu?”


Naya menggeleng lemah. “Vin, kamu terlalu dekat.” Naya berusaha mendorong tubuh Alvin, tetapi Alvin tidak bergeming, tangannya ia gunakan untuk memenjarakan Naya.


“Kalau begitu, siapa?”


Naya tidak bisa menjawab. Nama yang terus bergumam tiap detak di jantungnya. Nama dari seorang pria yang mungkin saja sedang memakinya di suatu tempat di Paris. Atau mungkin sedang bermesraan dengan wanita dengan status mereka yang setara. Air mata Naya ingin jatuh bukan karena saat ini Alvin sedang memandang lekat matanya, tapi karena hatinya meringis membayangkan sudah tidak ada namanya di hati pria yang masih sangat ia cintai itu.


Bunyi gemerincing dari pintu terdengar mengagetkan mereka. Posisi mereka yang terlihat sangat intim membuat si tamu tidak di undang mengepalkan jari jemarinya dengan kuat menekan kulitnya.


Alvin segera melepaskan Naya dan berkata dengan tidak suka. “Maaf, kami sudah tutup.”


Sementara Naya, membeku di tempatnya, air matanya jatuh tanpa ia sadari. Seluruh tubuhnya menegang, hatinya berpacu hebat, suhu tubuhnya merendah. Bagaimana bisa pria itu menemukannya? Bagaimana bisa pria yang sangat ia rindukan itu sedang berdiri di depannya sekarang?


“Noah?”


--


Sehari sebelumnya. Kantor Utama Elmer Corp. La Défense, Paris.


Noah sudah berusaha sekuat tenaga untuk fokus pada pekerjaannya. Matanya membaca laporan yang sedang ia pegang, sementara sekretarisnya, Benoit, Pria berumuran 50-an yang dulunya adalah kepercayaan ayahnya untuk semua urusan di kantor pusat itu terlihat sedang menjelaskan semua agenda meeting, menghadiri acara formal, hingga santap malam dengan relasi bisnis mereka.


“Apakah ada yang kurang jelas, monsieur?”


Tidak ada jawaban.


“Monsieur Noah?”


“Oh, maafkan aku, Ben,” jawabnya sambil mengusap wajahnya yang lelah. “Aku sedang memikirkan hal lain.”


“Saya belum pernah melihat anda fokus dengan kerjaan anda selama sebulan ini. Apakah ada yang bisa saya lakukan?”


Noah menggeleng. “Tidak ada yang bisa kau lakukan, dan aku lakukan.” Sekarang ia menyandarkan punggungnya dengan lemah lalu memutar kursinya untuk melihat jauh ke arah pemandangan gedung tinggi lain di sana. Distrik bisnis yang selalu terlihat ramai.


“Monsieur, apakah ini tentang wanita?”


Noah kembali memutar kursinya, melihat heran ke arah Benoit.


“Saya sudah hidup cukup lama untuk bisa menilai raut patah hati,” ucap Benoit dengan wajah bangga.


“Kalau begitu, katakan padaku, Ben. Apa yang akan kau lakukan ketika wanitamu meninggalkanmu dan sekarang sedang bahagia bersama laki-laki lain? Apakah kau akan membunuh laki-laki itu, atau membiarkan mereka hidup bahagia, sementara kau menderita karena ditinggalkan sendiri tanpa penjelasan apa pun?”


Benoit tersenyum. Akhirnya atasannya itu terbuka kepadanya. Cukup sulit bekerja dengan orang yang sedang patah hati. Benoit juga sudah beberapa kali harus mengurus kelakuan Noah yang berbuat onar di club malam.


“Saya rasa, anda harus memperjelasnya. Tanyakan alasannya, agar anda bisa membantah atau anda bisa menerima alasan itu.”


Noah mengerutkan dahinya. “Maksudmu aku harus menemuinya?”


“Mungkin anda juga harus memastikan apakah dia benar-benar bahagia, atau … sama menderitanya seperti anda.”


Noah tersentak, lalu terdiam beberapa saat. Tiba-tiba ia berdiri dan mengambil jasnya yang tergantung. “Batalkan semua agendaku, Ben. Aku harus pulang hari ini.”


...****************...

__ADS_1



__ADS_2