SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
UNDANGAN


__ADS_3

"Hahaha— Anda bercanda dengan saya. Harga pasaran sudah di atas dua milliar untuk satu buah. Saya sudah kasih anda harga 850 juta, itu adalah harga yang fanstastis. Tapi—kalau anda tidak mau tidak apa-apa. Saya akan berikan ke konsumen lain."


Dengan menatap langit dari balik kaca jendela apartemen, Rivano Raynaldi sedang berbicara melalui sambungan telpon kepada seorang penadah dari pekerjaan kotornya.


"Oke. Baiklah, Pak. Saya setuju. Jangan lupa antar barang seperti biasa," kata pelanggannya sebelum dia mengakhiri pembicaraan.


Setelah hampir setengah jam lebih bernegoisasi dengan klien, membuatnya gerah dan ingin segera melepas jas hitam yang membungkus kemeja lengan panjang. Lalu digantungkan di sandaran kursi. Kemudian dia menggulung sedikit lengan kemejanya. Bersamaan dengan pantatnya yang menempel di atas kursi yang berlapis kulit. Empuk. Dimana sandaran kursinya bisa menyesuaikan dengan pergerakan pundak pemuda itu.


Karena tuntutan pekerjaan, Rivano harus selalu tampil elegan di setiap harinya. Di setiap tempat. Di setiap waktu. Bahkan tidur pun masih menggunakan baju berkerah dan celana bahan panjang.


Rambutnya selalu tersisir rapi kebelakang. Dengan pola di sebelah kanan dan kiri tercukur lebih tipis dari bagian yang lain. Wajahnya pun selalu terlihat bersih. Dan juga tubuh yang selalu wangi. Persis seperti bintang film yang selalu menjaga kebersihan tubuhnya. Karena setiap menitnya, Rivano tidak pernah lupa untuk menyemprotkan Tom Ford Tobacco Out sebagai parfum yang dipilih untuk menyempurnakan penampilannya. Dan itu adalah salah satu alasan kenapa para wanita sangat betah untuk berlama-lama didekatnya.


"Heeufss ... " desah Rivano dengan meletakan kedua telapak tanganya menempel di jidat. Dia merasa sedikit lelah karena kurang tidur dari semalam.


"Ada-Ada saja perempuan itu. Boleh juga tubuhnya," gumam Rivano dengan tertawa geli mengingat kejadian di hotel bersama gadis cantik yang mabuk.


Dengan wajah yang tersenyum sambil memutar-mutar gelas kaca yang ada di atas meja kerjanya. Pikiran Rivano masih menerawang mengingat kejadian lucu bersama gadis yang bertemu denganya di sebuah club malam. Gadis yang memeluknya pada saat razia secara mendadak terjadi. Dan memaksa untuk membawanya pergi dari tempat itu.


Dan dalam keadaan gadis itu sedang mabuk, Rivano harus disusahkan dengan membopongnya. Bukan itu saja. Dia pun juga harus direpotkan untuk membuka baju gadis itu karena muntah yang menyebabkan bau yang tidak sedap. Sehingga mengganggu penciuman dari laki-laki yang super bersih ini.


Setelah puas dengan lamunan, Rivano membuka laptop yang berada di atas meja kerja. Jarinya mengetikan sebuah kata kunci. Entah apa yang dicarinya. Namun, terlihat dari gambarnya, itu adalah hal yang menyangkut dengan pekerjaan kotor yang sedang digelutinya saat ini. Sampai akhirnya dia menerima pesan masuk dari ponsel yang berada di saku celananya.


'Ada kucing baru. Mau dibeli atau gak'


Kalimat kunci rahasia sebagai percakapan transaksi agar aman tidak mudah terlacak. Kata-Kata khusus yang digunakan Rivano dengan rekan-rekannya jika berkomunikasi melalui sambungan telpon. Jika mereka saling memberi info untuk sesuatu yang menyangkut pekerjaan ilegal ini.

__ADS_1


Rivano membaca pesan itu dengan wajah tersenyum. Nampak sedikit kebahagian yang terlihat dari matanya.


'Oke. Kita beli kucingnya malam ini. Suruh antar ke hotel XYZ. Nomer kamar nanti gue kirim setelah gue booking.'


Sebatang rokok menempel di bibir Rivano setelah meletakan ponselnya di atas meja. Senyum tipis terlihat di wajahnya. Dengan korek api gas yang tergenggam di tangan kanan. Pemuda itu menutup layar laptop sebelum membakar rokoknya.


****


Detik waktu terus berputar. Seiring arah jarum jam yang terpajang di dinding kamar dari sebuah hotel yang disewanya untuk semalam. Menunjukkan pukul 8 malam.


Pemuda tampan yang sudah menunggu lebih dari satu jam dari waktu yang telah dijanjikan untuk pertemuanya dengan seorang gadis, sedikit membuatnya risau. Karena belum juga datang tamu yang diundangnya.


Hampir setengah botol wine merah habis ditenggak. Dengan duduk di sofa sambil menikmati tayangan televisi yang menyiarkan siaran langsung sepak bola dari eropa, Rivano mulai sedikit gelisah. Karena biasanya, gadis yang diundang untuk menikmati malam sebelum dia mengeksekusi gadis yang menjadi korbanya itu, hanya terlambat paling lama 5 menit. Namun, kali ini korbanya berhasil membuat dahi Rivano sedikit berkeringat di dalam ruangan ber AC.


Dan bersamaan dengan tendangan ke arah gawang dari penyerang nomer punggung sembilan, dari tim yang menggunakan costum berwarna merah berhasil mencetak gol, pintu kamar terdengar ada yang mengetuk. Dengan gegas Rivano beranjak mendekati pintu dan membukanya.


"E-Elo!" Mereka berdua saling menunjuk. Dengan wajah mengerut kaget. Rivano mengusap wajahnya sebelum dia mengundang gadis itu masuk kedalam kamar.


"Jadi nama lo Feby," kata Rivano kepada gadis yang baru saja duduk di sofa dan meletakan tas tanganya di atas meja.


"Lo—Rivano." Feby menegaskan. "Oh—ternyata lo doyan juga sama perempuan ya. Gue pikir—."


"Gay. Lo mikir gue suka dengan sesama jenis. Gila lo!" bantah Rivano dengan dua buah minuman kaleng yang berada di tanganya. Yang baru saja di ambil dari lemari es.


"Sor—ry. Ya habis karena kejadian kemaren. Itu yang membuat gue berpikir kayak gitu," balas Feby dengan tangan kanan menerima minuman kaleng dari laki-laki yang baru saja menempatkan pantatnya duduk bersebelahan dengannya.

__ADS_1


"Oh—jadi lo mau gue buktiin kalau gue normal. Buka baju lo!"


"Hah!" Mata Feby terbelalak lebar.


"Ennak aja. Gak. Gak. Gak."


"Emang gue cewek apaan!"


"Haha. Lucu lo!"


"Lucu! lucu apanya?"


"Ya lucu lah. Gue tanya sama lo. Lo ngapain kesini? Dengan lo dateng kesini aja itu udah ngebuktiin kalau lo emang cewek begitu. Lo dateng karena undangan cowok yang akan membayar lo untuk tidur sama lo. Terus lo masih mau bilang kalau lo cewek apaan."


Skak Mat. Adalah kata yang tepat untuk ungkapan yang gadis itu rasakan. Feby mengalihkan pandanganya. Memutar-mutar minuman kaleng yang ada di tanganya. Kelakuan yang membuat Rivano terpancing untuk melirik gadis cantik dengan wajah yang semakin manis dilihat dalam keadaan diam seperti itu.


"Lo udah lama kerja kayak begini?"


Pertanyaan mudah namun sulit untuk dijawab. Karena mengingat tujuan Feby masuk ke dunia malam adalah untuk menelusuri jejak pelaku kriminal yang sedang diburu. Mengikuti saran rekan kerja yang menyuruhnya terjun langsung ke sarang king kobra. Namun, sepertinya itu tidak mudah untuk dilakukan. Selain bertaruh dengan nyawanya apabila dia benar-benar bertemu dengan pelaku yang diincar, dan masuk kedalam jebakan si pelaku tersebut. Juga dia harus bersikap sebagai mana wanita malam bekerja. Agar penyamaranya benar-benar sempurna tanpa ada yang tahu bahwa dia adalah salah satu dari anggota pemberantas tindak kejahatan.


"Gue baru dua bulanan." Jawaban yang logis untuk seorang pekerja malam yang terlihat masih canggung di depan tamunya itu.


"Pantes."


Kata itu memancing Feby untuk menatap serius wajah pemuda yang bersandar santai sambil menonton siaran sepak bola yang sudah berjalan setengah babak.

__ADS_1


"Maksud lo?" tanya Feby serius.


"Pantes lo kurang agresif untuk menyambut tamu yang akan membayar lo mahal," tegas Rivano menyambut tatapan tajam dari seorang gadis cantik yang kini wajahnya tegang.


__ADS_2