
Noah meninggalkan ruangan meetingnya dengan wajah tegang. Ia berusaha menghubungi Naya kembali, tapi hanya operator yang menjawabnya.
Otak Noah bekerja sangat keras untuk meredam semua kemungkinan terburuk di benaknya. Siapa? Siapa yang berani mengusik Naya? Hanya dua orang yang ia tau akan senekat itu. Ayahnya, atau Mike.
Alih-alih menghubungi kedua orang itu, Noah menelpon seseorang yang selalu menjadi kaki tangannya untuk pekerjaan kotornya. Alex.
“Aku mengirimu nomor. Lacak di mana ponsel itu. Sekarang!”
“Baik, Tuan.”
“Brengsek!” Noah menghambur semua yang di atas mejanya. Matanya memerah memendam amarah. Ia keluar dari ruangannya dan menuju ke satu tempat. Rumah sang Ayah.
Langkah besar Noah terhenti, saat melihat ayahnya sedang bercengkrama dengan seorang wanita di depan sana. Mereka sama-sama sedang menikmati teh hangat di pagi itu.
“Oh Noah, kebetulan sekali ke sini. Perkenalkan ini Sisca. Calon istrimu.”
Noah menggeleng marah. Kepalanya sudah sangat panas memikirkan keselamatan Naya.
Wanita cantik dengan tubuh rampingnya, berjalan mendekati Noah. Ini adalah pertemuan pertama mereka. Sisca, terkagum-kagum melihat sosok indah Noah yang berdiri di depannya.
“Kau tidak mendengar perkataanku tempo hari?” Noah melirik dengan sinis.
“Karena itu saya datang hari ini, untuk bertanya langsung dengan ayah anda.”
“Oh, bagus. Kalian sudah sama-sama setuju kan? Kenapa bukan kalian berdua saja yang menikah.”
“Noah!” ayahnya menggeram marah.
“Kau, ini adalah peringatan terakhirku. Kalau kau tidak ingin berakhir di rumah sakit. Lupakan perjodohan sialan ini. Mengerti?”
Sisca membeku, Noah sangat kasar untuknya. Mungkin sebaiknya, ia mendengar nasehat Noah itu. Ia berjalan ke arah sofa yang tadi ia duduki, mengambil tasnya, dan kembali menghampiri Noah.
“Saya mengerti.”
“Kau benar-benar sudah sangat kurang ajar.”
Noah berjalan mendekat. “Di mana Naya.”
Ayahnya memberengut. “Siapa itu? Oh, wanita pelacurmu?”
“Mr. Elmer!” Noah menghantamkan pukulannya ke arah meja kaca di antara mereka. Bunyi keras terdengar saat kaca itu jatuh berhamburan, bersamaan dengan titik darah yang menetes dari pemilik pukulan itu.
Ayahnya tertegun. Ia bisa melihat tatapan marah itu menatapnya sangat intens.
__ADS_1
“Aku bertanya sekali lagi. Di mana … Naya.”
“Apa pun yang terjadi dengan wanita itu, tidak ada sangkut pautnya dengan saya.”
Bunyi ponselnya mengambil perhatiannya. Noah mengangkatnya. “Titik terakhir ponsel itu berada di gudang tua. Saya sudah mengirimkan anda titiknya, dan saya sudah di jalan menuju gudang itu. Saya menunggu perintah anda.”
“Isi full pelurumu,” ucapnya sambil berbalik dan meninggalkan ayahnya di sana. Kini, hanya satu nama yang tersisa. Mike.
——
Noah memasuki gudang itu dengan waspada. Di belakangnya sudah ada Rio. Bunyi tepukan tangan dari orang di sana terdengar menggema memenuhi ruangan lembab itu.
“Aku bahkan belum mengirimimu foto wanita itu, tapi kau sudah berhasil menemukan tempat ini. Aku kagum.”
“Berhenti basa basi. Dimana Naya?”
“Sayang!” teriaknya.
Noah terkesiap, melihat Freya keluar dari sebuah ruangan sambil menuntun Naya yang sudah sangat kacau. Wajahnya sudah penuh lebam, pakaiannya robek di semua bagian, dan yang paling mengiris hati Noah, Naya masih berusaha tersenyum kepadanya. Gumaman bibirnya yang berkata, ia tidak apa-apa. Tentu saja sangat kontras dengan kondisinya.
“Bangsat!” Noah mengeluarkan senjata apinya dan mengacungkannya tepat ke arah Mike. Rio juga bersiap di belakang Noah.
“Woo … woo… jangan buru-buru seperti itu. Kita belum membicarakan kesepakatan, kan?” Mike mengangguk ke arah Freya.
Dari dalam sakunya, Freya mengeluarkan pisau lipat dan mengarahkannya ke leher jenjang Naya.
“Bagaimana? Sudah bisa berunding?”
Dengan sangat enggan, Noah menurunkan tangannya, tapi ia masih menggenggam erat senjata api itu.
“Apa maumu?”
“Sahammu di perusahaan Elmer.”
Noah tertawa keras. “Hanya itu?”
Mike terkejut. Padahal ia sudah sangat berusaha membuat Noah menyerahkan saham itu sejak dulu. Kenapa tiba-tiba Noah dengan suka rela melepaskannya?
Noah menoleh. “Rio. Urus semua pemindahan saham itu.”
“Baik, Tuan.” Rio pun mengeluarkan ponselnya dan keluar dari gudang tua itu.
“Kau puas, hah? Bagaimana bisa, kau melakukan hal sepicik ini hanya untuk saham sekecil itu.”
__ADS_1
“Tutup mulutmu, Noah! Aku berusaha seumur hidupku untuk menyenangkan ayahku. Kau tidak tau bagaimana rasanya selalu dianggap tidak becus dan diremehkan. Hanya dengan mengakuisisi perusahaanmu bisa membuat ayahku mengakuiku.”
“Kau pikir, ayahmu akan bangga dengan pekerjaan kotormu seperti ini? Menculik? Percobaan pembunuhan?”
“Dia tidak perlu tau kejadian ini. Dia hanya perlu tau hasilnya. Benarkan?”
Noah menyeringai. “Bodoh.”
Tiba-tiba suara tembakan menggema saling bertautan. Preman-preman yang masih berdiri itu mengedarkan pandangannya mencari siapa yang menumbangkan satu persatu teman mereka. Nihil, mereka tidak melihat siapa pun. Preman itu berhamburan mencari tempat berlindung. Tapi naasnya, sebelum mereka bisa menghindar, peluru-peluru tak kasat mata itu berhasil menjatuhkan mereka.
Mike terpaku melihat pembantaian tiba-tiba itu. Suara-suara kesakitan mendominasi di sana. Mereka tidak mati, mereka hanya dilumpuhkan dengan tembakan di kaki dan lengan mereka.
Sedangkan Freya sudah gemetar sejak tadi, ia menutup matanya dengan rapat sambil terus merasakan ujung pistol Rio sudah bertengger tepat di belakang kepalanya.
Noah berjalan mendekat. “Aku sudah memperingatimu, Mike. Jangan mengusikku atau Naya.”
Mike terjatuh tersungkur merasakan aura mengintimidasi dari Noah. Ayahnya mungkin benar, seharusnya ia tidak mengganggu keluarga Elmer.
“Maafkan aku, Noah. Aku benar-benar minta maaf.”
Noah mengacungkan pistolnya ke arah Mike dengan tatapan membunuh. Melihat kondisi Naya di sana, membuatnya gelap mata.
“Noah, jangan!” Naya berusaha berteriak.
Noah mendengus semakin marah mendengar suara parau wanitanya. Memangnya sekejam apa mereka menyiksanya?
Tidak, Noah harus melampiaskan amarahnya tapi juga mendengarkan Naya. Karena itu, ia menurunkan arah pistolnya, bukan lagi mengarah ke kepala Mike, tapi ke arah kakinya. Sekali tarikan dari pelatuk itu mengantarkan sebuah peluru bersarang di kaki kiri Mike. Suara kesakitan menggema di sana.
Alex muncul dengan menenteng sebuah tas besar yang berisi senjata khusus untuk penembak jauh.
“Bereskan semua.”
“Baik, Tuan.”
Noah tidak pernah tau, bagaimana Alex membereskan semua pekerjaan kotor itu. Tapi, yang Noah tau, namanya selalu bersih.
Noah melangkah lebar mendekati wanitanya yang masih terduduk lemas. Sementara Freya masih berdiri di belakang mereka dengan tangisan di wajahnya.
“Tuan, biarkan saya bertanya satu hal. Kenapa anda memilih dia dari pada saya? Saya yang lebih dulu mengenal anda, Tuan. Dia bahkan hanya pelacur kecil di tempat itu. Saya yang —“
“Diam!” bentak Noah. Setelah menyelimuti Naya dengan jas kantornya, Noah mengangkat Naya ke pelukannya. “Jangan pernah membandingkan dirimu dengan Naya. Kau bahkan tidak setara dengan sehelai rambutnya.”
Freya menangis tersedu, berharap Noah kasihan padanya.
__ADS_1
“Terserah mau kalian apa kan wanita itu. Pastikan saja, dia tidak akan pernah muncul dihadapanku lagi atau Naya,” ucapnya ke arah Rio yang masih berada di posisinya.
...****************...