
Perusahaan raksasa Elmer Corporation yang bergerak di bidang otomotif, sedang menjadi headline news disemua platform berita, mulai dari majalah cetak hingga artikel online, wajah Noah tertampang di sana, Presiden Direktur yang sekarang menjadi Chief Executive Officer. Noah resmi memegang tahta kepemimpinan tertinggi di perusahaan besar itu.
Malam ini adalah malam di mana acara pengalihan kepemimpinan itu dilaksanan. Di sebuah hall besar, Hotel Lingham menjadi tempat bersejarah untuk perusahaan Elmer Corporation yang di hadiri oleh semua dewan eksekutif, pemegang saham, dan relasi bisnis mereka.
Ruangan yang telah dihiasi dengan dekorasi yang mewah. Bunga segar, karpet merah, lilin, dan ornamen-ornamen yang menggambarkan kemewahan. Sementara Para tamu yang hadir menggunakan pakaian formal, gaun malam untuk wanita dan setelan jas bagi pria. Acara itu benar-benar hanya untuk mereka yang berkelas dan memiliki pengaruh kuat dalam bidang bisnis.
Setelah acara formal yang berlangsung selama satu jam, kini suasana berubah menjadi lebih santai, musik jazz mengalun lembut. Semua tamu yang tidak lebih 50 orang itu menikmati hidangan ringan hingga berat sambil sesekali melirik ke arah Noah yang masih memasang wajah datar tidak tertebak.
Seharusnya saat itu, Noah menghampiri para tamu sambil mengucapkan terima kasih karena telah memenuhi undangan. Namun, sekarang dia malah sedang duduk dengan malas di samping ayahnya yang sedari tadi berbincang dengan rekan bisnisnya. Membicarakan apa pun yang Noah sangat tidak tertarik untuk mendengarnya.
“Selamat malam, Tuan Noah.”
Noah mendongak, seorang wanita cantik berambut panjang dan gaun malamnya yang memamerkan lekukan tubuh ramping dan tinggi miliknya, sedang tersenyum malu-malu, sementara di sampingnya berdiri seorang wanita paruh baya dengan wajah tanpa kerutan khas cairan botox.
“Kenalkan, ini putri saya satu-satunya. Namanya Anastasya, baru saja lulus S2 dari Universitas Cambrige.”
Noah tidak tersenyum atau merespon. Sementara si wanita botox menarik si wanita cantik untuk mendekat dan menyapa Noah.
“Salam kenal, Tuan.” Tangan wanita cantik itu terulur.
Noah berdiri angkuh, memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
“Saya tidak tertarik.”
Penolakan yang sangat singkat dan jelas. Si wanita cantik itu tertunduk sedih, sementara si ibu sudah mendengus kesal melihat tingkah kurang ajar Noah. Tapi, dia bisa apa? Malam itu, bukan hanya dia dan anaknya yang tertolak. Beberapa suara-suara gosip bahwa Noah memiliki kelainan pada seksualnya menjadi bahan pembicaraan yang lebih mendominasi untuk ibu-ibu yang sakit hati di belakang sana.
Noah tidak peduli. Sangat tidak peduli. Ia juga mengabaikan tatapan marah ayahnya yang melihat sikapnya itu. Ia memilih berjalan ke arah meja di sudut ruangan yang menyajikan berbagai jenis sampanye mahal, lalu melonggarkan dasi hitam yang mencekik lehernya. Matanya penuh kelelahan, napasnya selalu saja berat. Sudah setahun terlewat, meskipun ia memang tidak mencari lagi wanita yang sudah membuatnya kacau dan berantakan itu, namun, hatinya masih saja terasa sangat tidak nyaman.
Bagi Noah, jika Naya memang memilih untuk meninggalkannya, maka Noah akan melakukan hal yang sama. Karena malam itu juga, adalah malam terakhirnya di tanah air. Besok, dengan penerbangan paling awal, ia akan menuju Paris. Memimpin secara resmi perusahaan utama serta membawa ibunya.
---
Sementara itu, di tempat yang jauh, di Kota yang berbeda, seorang wanita dengan senyum di wajahnya sedang mencoba mengulang kalimat dari seorang cowok berkaos biru polos sambil memegang erat tali ranselnya.
“Vanilla Latte panas satu, dan Chocolate Cake satu. Oke, totalnya seratus lima puluh ribu, Kak.”
Cowok beransel itu membayarnya kemudian berjalan ke arah kursi yang masih kosong.
“Nay, pesanan nomor 10 sudah siap ya.”
Naya berbalik masih dengan tersenyum, sementara pria yang berbicara kepadanya masih sibuk mondar mandir membuat pesanan.
“Oke, thank you, Vin.”
“Ini gara-gara Laras sakit, jadi kamu harus double job hari ini.”
“Tidak apa-apa, Alvin. Kebetulan pelanggan hari ini juga tidak terlalu ramai.” Naya lalu mengangkat mampan yang sudah berisi satu gelas es Frappuccino ukuran medium.
__ADS_1
Alvin, pria tinggi dan berkulit putih itu menjadi salah satu teman shift Naya di sebuah Café kecil bernama Arium di pinggiran kota. Untung saja, café itu dekat dengan sebuah Universitas Swasta. Sehingga, meskipun berada di pinggiran, café itu bisa terbilang cukup memiliki pelanggan setiap hari.
Pria yang sebaya dengan Naya itu mempunyai dua pekerjaan berbeda dalam satu hari. Pekerjaan lainnya ialah menjaga di salah satu minimarket. Sosoknya yang pekerja keras dan telaten, membuat Naya kagum dengan Alvin. Meskipun, Alvin tidak pernah bercerita untuk apa ia memaksakan diri bekerja di dua tempat sekaligus selama seminggu ful.
Naya kembali setelah mengantar pesanannya, lalu mengambil tempat di belakang kasir ketika bell yang tergantung di atas pintu bergemerincing, seorang pria tinggi dengan pakaian formalnya masuk dan berdiri di depan counter Naya.
“Selamat sore, silahkan pesanannya.”
“Jam berapa pulang hari ini?”
Naya tersenyum lalu berbisik. “Aku lembur hari ini.”
Raut kecewa tergambar di wajah pria itu, sementara Alvin yang mencuri pandang selalu tidak suka dengan kehadiran pria yang berprofesi sebagai dosen muda itu.
“Ice Caramel Latte satu, dan… Ice Matcha Latte satu.”
Naya mengetikkan pesanan ke dalam layar sentuh di depannya. “Minum di sini atau Take Away?”
“Aku mau minum di sini kalau kamu temenin.”
Naya terkekeh. “Masih jam kerja, Pak.”
“Nay… aku udah bilang, panggil Alga saja.”
Senyum Naya menghilang. Kalimat yang sama seperti seseorang pernah katakan padanya.
Naya tersenyum canggung. “Ah, maaf, ini tiba-tiba layarnya freeze.”
“Caramel Latte-nya dibungkus saja.”
“Matcha Latte-nya?”
“Untuk kamu.”
Naya akan menolak, tapi Alvin sudah lebih dulu memotong kalimatnya. “Nay, minta tolong antar pesanan untuk nomor sebelas, ya. Aku ganti di kasir.”
Senyum manis Alga menghilang, menatap Alvin dengan kebencian.
“Pesanan sudah masuk. Total seratus tujuh puluh ribu,” ucap Alvin dengan ketus.
Alga pun membayar tanpa mengucap apa pun, lalu beranjak untuk mengambil tempat selagi menunggu pesanannya dibuat. Alga berdoa semoga si pria bercelemek itu tidak meludahi minumannya.
Naya izin ke Alvin untuk istirahat sejenak di ruang belakang, mumpung setelah Alga, masih belum ada lagi pelanggan yang masuk.
Naya duduk di antara tumpukan karung kopi, yang mengeluarkan aroma menenangkan untuknya. Sebentar lagi, ia akan membutuhkan aroma itu.
Ia mengambil ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu di browser pencarian. Selama setahun ini, Naya menjadi salah satu pemburu artikel atau pun channel yang memberitakan ekonomi dan bisnis. Bukan karena Naya tertarik dengan semua angka atau grafik tentang pasar modal atau uang yang beredar. Naya sedang mencari berita tentang satu perusahaan besar yang selalu membuat dadanya bergemuruh hebat. Mencari satu nama yang tetap berteriak nyalang di hatinya.
__ADS_1
Benar saja, pemberitaan dari satu artikel bisnis semalam, menginformasikan bahwa anak dari pemilik perusahaan besar Elmer Corp. yang berpusat di La Défense, sebuah distrik bisnis terbesar di Paris, telah menjadi pemimpin baru untuk perusahaan itu. Noah William Elmer.
Manik Naya tidak terasa basah. Foto terbaru Noah tergambar jelas di sana, saat ia sedang menyampaikan pidatonya. Seperti biasa, wajah tampan itu selalu terlihat indah di matanya, apalagi manik hazel Noah yang sangat ia rindukan.
Naya menunduk menyembunyikan air matanya yang menetes tiba-tiba. Ia menghirup dalam aroma kopi itu. Menetralkan perasaannya yang menghakimi keputusannya setahun yang lalu. Mungkin Naya sudah akan menarik sendiri rambutnya dengan keras kalau bukan deringan dari ponselnya membuyarkan keinginan itu. Nama Clara ada di sana.
“Nay, sudah baca artikel tentang—”
“Iya, sudah, Ra.”
Clara membuang napasnya. “Dia juga sudah ke Paris hari ini, kan?”
Naya diam. Ia sudah membacanya juga.
“Sudahlah, Ra, jangan membahas dia lagi.” Suara Naya sangat jelas menahan emosinya sendiri.
“Oke, aku akan berhenti, kalau semua majalah bisnis dengan cover wajahnya sudah menghilang dari kamar kita.”
Naya tersenyum kecil. “Aku akan membakarnya besok.”
“Ya, itu seperti kalimat yang sama dengan yang kudengar satu bulan yang lalu.”
Naya tersenyum tapi tidak bisa membantahnya.
“Aku selesai jam 9 malam, pulang bareng, ya.”
Suara teriakan terdengar memanggil Clara di ujung sana. “Oke, Na. Bye.”
Panggilan tertutup. Di bandingkan dirinya, Clara lebih sibuk, karena bekerja di salah satu restaurant paling ramai di sana. Mungkin karena sifat Clara yang sangat ramah dan ceria, berkat pengalamannya selama bertahun-tahun melayani pelanggan, meskipun istilah pelanggan sangat berbeda dari pemahaman yang sebenarnya, membuat si ibu pemilik restaurant sangat mengandalkan Clara. Bahkan baru-baru ini mengangkat Clara sebagai pengawas untuk staf restaurant yang berjumlah lebih dari 20 orang.
“Nay,”
Naya tersentak, ia segera berdiri dan menepuk-nepuk tubuh belakangnya yang kotor.
“Eh maaf, Vin. Aku istirahatnya kelamaan.” Naya lalu beranjak ingin pergi melewati Alvin, tetapi langkahnya terhenti ketika Alvin memegang pergelangan tangannya.
“Pipi kamu masih basah.” Alvin menunjuk ke arah sudut luar pipi Naya yang masih meninggalkan sebulir air bekas air matanya.
Naya buru-buru melepas genggaman Alvin, namun senatural mungkin.
“Ini tadi aku habis cuci muka, kayaknya lapnya kurang kering.”
Alvin tersenyum kecil. “Iya, aku percaya.” Lalu berjalan keluar, meninggalkan Naya yang masih diam di tempatnya.
...****************...
__ADS_1