
“Kita akan kemana?”
“Menemui wanitaku,” jawab Noah dengan melirik kecil ke arah Naya yang langsung terdiam.
Jantung Naya seakan berhenti berdetak. “Anda sudah punya istri?”
Seketika Noah tergelak. “Hahaha, maafkan aku. Yang kumaksud ibuku. Aku akan membawamu menemui ibuku.”
Naya menghela napas leganya. Ia pikir, akan menghadapi cacian dan makian lagi. Tapi, entah kenapa sedikit rasa lega itu bercampur rasa senang. Senyumnya terbit tanpa ia sadari.
Setelah berjalan lebih dari sejam, Naya heran kenapa Noah berhenti di area parkir sebuah rumah sakit jiwa.
“Ibuku sakit. Dia sekarang menerima perawatan di sini.”
Naya terkejut. Seketika ia tersadar, ada luka ditatapan sendu Noah. Kenapa ia tidak pernah menyadarinya? Ataukah karena Noah pandai menyembunyikannya?
Noah berjalan memasuki area rumah sakit. Di depan sana ada sebuah meja penerimaan tamu. Setelah Noah mengisi daftarnya, ia di beri kartu akses ke ruang perawatan. Mereka melewati taman yang asri, dan beberapa pasien yang memiliki masing-masing perawat di samping mereka.
Hingga, Noah memakai kartu aksesnya untuk membuka pintu kamar serba putih itu.
“Selamat pagi, Bu.” Noah melangkah masuk dengan tersenyum.
Sedangkan Naya masih berdiri di tempatnya. Noah berlutut di depan kursi roda yang sedang menghadap ke arah jendela besar di atas sana.
“Bu, hari ini Noah mau kenalkan Ibu sama seseorang.”
Tidak ada jawaban.
Noah berdiri, lalu mengambil tangan Naya mempersilahkannya bertemu ibunya. Entah kenapa tiba-tiba air mata Naya terjatuh. Hatinya terasa sangat sakit. Meskipun dengan tatapan yang kosong, Naya bisa melihat wanita dengan rambut yang sudah hampir memutih itu, memiliki wajah yang sangat cantik. Naya tidak akan mempertanyakan lagi, dari mana wajah sempurna Noah.
“Saya Naya, Bu.” Naya ikut berlutut.
Masih tidak ada jawaban lagi. Noah mengambil kedua tangan ibunya lalu menciumnya dalam. Naya lagi-lagi meneteskan air matanya, ia menunduk untuk menyembunyikan matanya yang basah. Ia selalu lemah jika berhadapan dengan seorang ibu dan anak.
“Bu, ini Naya, yang pernah aku ceritakan. Wanita yang sudah mengambil hati Noah.”
Naya langsung mengangkat kepalanya dan menatap Noah.
__ADS_1
“Noah.”
Noah tersentak. Suara itu bukan milik Naya, tapi ibunya. Ibunya akhirnya mengenalinya. Setelah bertahun-tahun ibunya tidak pernah memanggilnya lagi.
“Ibu, iya, aku Noah, Bu.” Noah hampir berteriak senang.
Baru kali ini, Naya melihat Noah yang rapuh seperti ini. Tidak ada wibawa dan keangkuhan seorang Noah yang ia kenal. Untuk sekejab, Naya berpikir apakah harus membiarkan pria itu menggenggam hatinya yang sudah penuh luka.
“Noah.” Ibunya terus mengulang kata itu. Noah segera berlari memanggil perawat yang berada di sana. Sementara Naya ia tinggalkan bersama ibunya.
Naya tidak mengalihkan pandangannya dari menatap wajah cantik itu, sementara tatapan mata ibu Noah kembali kosong.
“Bu, saya minta maaf, karena Tuan Noah harus menyukai wanita seperti saya.” Air mata Naya menetes, meskipun ia tidak tau apakah ibu Noah mendengarnya atau tidak.
“Saya yakin, perasaan Tuan Noah hanya sementara, Bu. Setelah dia puas, dia pasti akan meninggalkan saya. Kalau tidak, maka saya berjanji akan meninggalkannya. Ibu jangan khawatirkan apa pun.”
“Tapi jika bisa, apakah saya bisa meminta satu syarat?”
Tidak ada jawaban, Naya tersenyum.
Tanpa jawaban, Naya dengan hati-hati mengambil kedua tangan Ibu Noah dan menggenggamnya. Hatinya menghangat tapi juga terasa sesak secara bersamaan. Air mata Naya luruh jatuh, saat merasakan genggamannya terbalas. Meskipun sangat lemah. Seperti mendapatkan izin untuk terus menggenggamnya.
Setelah seorang dokter datang dan memeriksa kesadaran ibunya. Noah mengikuti dokter itu hingga ke luar dari kamar perawatan.
“Setelah perawatan di luar negeri, Ibu Katherine sudah mengalami banyak kemajuan. Kalau saya boleh tau, kenapa anda membawa Ibu anda kembali ke sini? Bukankah perawatan di sana lebih modern?”
“Ibu saya harus selalu berada dalam jangkauan saya.”
Dokter itu hanya mengangguk, meskipun ia tidak paham.
“Dan untuk sementara, mungkin salah satu saran saya adalah, membiarkan pacar anda merawat ibu anda.”
Dokter itu mengisyaratkan untuk melihat ke arah kamar ibunya. Ada Naya yang dengan sabar menyuapi ibu Noah sambil terus bercerita meskipun tidak mendapat respon.
Hati Noah menghangat melihatnya. Naya benar-benar sudah ia biarkan mengambil alih semua perasaannya.
---
__ADS_1
Sudah hampir smeinggu, Naya pulang balik ke rumah sakit jiwa itu. Banyak perkembangan dari ibu Noah yang membuat Naya ikut bahagia. Naya seperti kembali memiliki Ibu lagi, setelah kepergian ibu mertuanya dulu.
Naya dengan senang hati memasak lalu mengantarkannya ke rumah sakit. Noah kadang menemaninya, terkadang juga ia pergi bersama Rio. Senyum Naya kembali bersinar. Seperti memiliki keluarga baru. Meskipun terkadang, hatinya menyuruhnya untuk menyadari masih ada luka di dalam sana.
Naya menenteng rantang lauk pauk, melewati lobby besar untuk sampai ke tempat biasanya menunggu supir Noah. Informasi terakhir, Rio tidak bisa mengantarnya, jadi Noah mengganti supir yang akan mengantarnya ke rumah sakit. Tidak berapa lama ia menunggu, sebuah mobil SUV berwarna hitam berhenti di depannya. Pria di dalam menurunkan kaca hitam itu.
“Nona Naya?”
“Iya?”
“Silahkan masuk, Non.”
Perawakan pria itu sedikit tambun, tidak seperti bawahan Noah yang lain. Meskipun begitu, tanpa ragu Naya masuk ke sana. Sebelum pintu melewati portal keluar, Noah menelponnya.
“Halo.”
“Naya, sopirnya sedikit telat ya, ada kemacetan di jalan tol. Kamu bisa nunggu? Atau gini aja, sepuluh menit lagi meetingnya selesai. Aku yang jemput kamu.”
Naya menahan napasnya, tubuhnya menegang, sementara sopir di depannya meliriknya dari cermin yang tergantung.
Naya tersenyum seolah-olah ia tidak ingin membuat khawatir pria di seberang sana.
“Aku sudah pesan taksi online.”
“Kamu serius?”
“Iya, ini aku sudah di jalan.” Naya meremas ujung bajunya. Sebisa mungkin menormalkan suaranya yang bergetar. Jantungnya berdetak sangat cepat. Keningnya mulai berkeringat. Ia sangat ketakutan sekarang.
Noah mendengus marah. “Lain kali jangan pergi tanpa –”
“Noah. Aku…baik-baik saja. Jangan khawatir, ya.” Naya menarik napasnya dalam.
Noah merasa ada yang aneh dengan suara Naya. “Naya, kamu di mana sekarang?”
Sambungan terputus. Ponsel Naya sudah direbut secara kasar.
...****************...
__ADS_1