SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 37


__ADS_3

“Nay, aku berangkat ya. Sarapan udah di meja, oh ya, jemuran masukin dulu sebelum keluar. Jangan lupa kunci pintu juga,” ucap Clara dengan tergesa-gesa, sambil memakai sepatu ketsnya lalu keluar dari apartemen studio mereka.


Apartemen yang bukan berada dalam pusat kota, membuat harganya cukup murah. Clara dan Naya patungan untuk membayar sewa apartemen kecil itu. Meskipun begitu, kamar yang sekarang mereka tempati terasa ribuan kali lebih nyaman dari kamar yang pernah mereka tempati bersama saat menjadi wanita penghibur.


Naya mengerjapkan matanya mendengarkan semua ocehan Clara, lalu melirik ke arah jam dinding yang jarumnya sudah menunjukkan pukul … oh tidak, Naya membelalak, ia segera mengambil handuk dan berlari ke kamar mandi.


Setelah sarapan, Naya memasukkan jemuran, lalu mengunci pintu.


“Pagi, Naya.”


“Astaga.” Naya memegang dadanya karena terkejut. “Ngapain, Vin?”


“Nungguin kamu lah. Yuk.”


Naya tersenyum canggung. “Lain kali nggak usah tungguin, ya,” ucapnya sambil berjalan duluan.


“Yang mau tungguin, kan aku.” Alvin menyusul langkah Naya.


“Iya, Vin, aku yang nggak enak, masa kita dua-duanya telat. Kasian Laras, open café sendiri.”


Alvin diam sejenak. “Na. Kamu sepertinya paham apa yang sedang aku lakukan.”

__ADS_1


Naya tidak menjawab, rasanya sangat canggung sekarang. Tentu saja Naya sangat paham apa yang sedang Alvin lakukan sekarang, karena Alvin sudah melakukannya sejak senulan setelah pertemuan mereka. Naya sudah berusaha sebisa mungkin menghindar. Tetapi, Naya tidak bisa menolak semua kebaikan laki-laki tinggi itu. Karena Alvin adalah orang yang merekomendasikan Naya kepada pemilik Café Arium.


Siapa yang akan menerima dirinya yang tanpa pengalaman kerja apa pun. Ya, itu adalah pengakuannya kepada Pak Robert, si pemilik café ketika mewawancarai dirinya. Seorang wanita dari kampung, yang sedang merantau bersama sepupunya, Clara. Lalu diselingi dengan cerita menyedihkan tentang keluarga miskin mereka. Meskipun dengan kebohongan yang sangat rapi, tapi Naya benar-benar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Cara yang sama pun, Clara gunakan untuk mendapatkan pekerjaan di tempat kerjanya sekarang. Dan sekali lagi, itu semua adalah ide cemerlang dari Clara.


Masih jam setengah delapan pagi, tapi beberapa mahasiswa sudah terlihat melintas di depan café. Mungkin karena hari ini adalah hari senin, hari pertama yang banyak orang benci.


“Selamat pagi … silahkan pesanannya.” Naya memasuki mode kerjanya melayani pelanggan pertamanya dengan tersenyum cerah.


“Hot Americano satu.”


“Ada lagi, Pak?”


Pria yang sedang membaca sesuatu di ponselnya itu menggeleng. Lalu melihat Naya, lalu melihat ponselnya lagi, lalu melihat Naya lagi.


Si pria membayar tunai dengan masih menatap lama ke Naya.


“Baik, terima kasih, pesanan akan kami antarkan.”


Pria itu tersenyum kecil, lalu mengambil tempat di paling sudut dan belakang. Namun, masih bisa melihat posisi para pegawai di depan sana. Si pegawai wanita yang menjadi perhatiannya, sedang membantu pegawai pria yang cukup tampan menurutnya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi yang jelas si pegawai wanita sesekali tertawa setelah mendengar ucapan si pegawai pria.


Si pria misterius itu lalu mengarahkan kamera ponselnya untuk membidik wajah si pegawai wanita, hanya karena jarak yang dekat, wajah si pegawai pria juga ikut terbidik. Anehnya, hasil foto itu terlihat seperti si pegawai pria sedang mengusap pipi si wanita. Si pria misterius tidak puas dengan hasil bidikannya, lalu akan kembali mengarahkan kameranya ke arah depan sana, dengan hanya memfokuskan ke wajah si wanita.

__ADS_1


“Pak. Ini pesanannya.”


Seorang pegawai wanita lain datang dan memergokinya, menatapnya dengan penuh curiga.


Buru-buru si pria misterius memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu berdeham.


“Terima kasih,” ucap pria itu lalu mengambil kopinya dan buru-buru keluar.


“Nay. Kamu kenal pria itu?” tanya Laras dengan penuh penasaran.


“Yang barusan keluar? Aku nggak kenal … ada apa?”


Laras berpikir sejenak, apa mungkin hanya perasaannya saja? Kemudian ia tersenyum lalu menggeleng. “Nggak, nggak ada apa-apa.”


Naya menatap heran ke arah Laras yang sudah berlalu dan berjalan ke arah belakang.


Sementara itu, si pria misterius menghentikan langkahnya, lalu kembali mengeluarkan ponselnya, mengirimkan foto yang sudah ia ambil tadi dan mengetikkan sesuatu.


“Kami sudah menemukannya, Tuan.”


...****************...

__ADS_1



__ADS_2