SANG PENGHIBUR

SANG PENGHIBUR
BAB 44


__ADS_3

Gaun panjang berwarna hitam yang memiliki potongan tinggi, membungkus indah tubuh Naya. Rambut yang terurai serta riasan yang sangat pas untuk wajahnya. Sementara Noah, memakai set tuksedo berwarna senada yang semakin membuatnya terlihat gagah dan tampan.



Dengan karpet merah yang menyambut, mereka mulai memasuki hall yang telah diisi oleh tamu-tamu penting lain. Ini adalah pengalaman pertama Naya menghadiri acara semewah itu. Tangannya yang sedari tadi melingkar di lengan Noah, memaksanya untuk ikut tersenyum saat Noah menyapa beberapa orang asing yang tidak dikenalinya.


“Jangan gugup. Kau membuatku khawatir.” Noah berbisik.


Masih sambil tersenyum pasrah, Naya menjawab, “Ini pengalaman pertamaku, wajar kalau saya gugup, Tuan.”


Noah yang mendengarnya hanya bisa tersenyum, sambil menepuk halus punggung tangan Naya yang bertengger di lengan kekarnya untuk menenangkannya. Langkah Noah berhenti saat menemukan meja yang bertuliskan namanya dan Naya.


Naya yang sudah duduk terlebih dahulu, tidak menyadari kalau ternyata, di meja bundar itu, ada Calvin dan tentu saja … pria mesum yang sangat ia hindari. Mr. Tony. Pria itu entah kenapa selalu seperti menelanjangi dirinya hanya dengan tatapannya.


Noah dengan santai menuangkan air putih lagi untuk Naya. Sementara di gelasnya ia tuangkan red wine.


Terlihat di depannya, si pria mesum membisikkan sesuatu ke Calvin, lalu Calvin tersenyum mendengarnya dengan sedikit melirik ke arah Naya. Calvin segera membalas ucapan si pria mesum dengan menggelengkan kepala dan mengucapkan beberapa kalimat yang Naya tidak bisa dengar dari tempatnya karena alunan musik klasik yang mengalun. Namun, sesuatu mengganggu pikirannya saat wajah si pria mesum terlihat tidak puas sambil melihat ke arahnya.


“Apa kau ingin kembali ke kamar saja?”


Entah kenapa Noah menanyakannya, sepertinya Noah mulai menyadari apa yang membuat Naya sangat gelisah.


“Apakah boleh?”


Noah tersenyum sambil menarik tangannya. “Ayo, aku antar.”


Naya segera menghentikkan gerakan Noah yang akan berdiri ketika tiba-tiba lampu diredupkan. “Tidak usah, Tuan. Acaranya akan dimulai. Saya, hanya ingin anda tidak menghilang tiba-tiba dan meninggalkan saya sendiri di sini.”


“Oke, pegang saja terus tanganku.” Noah mengambil alih genggaman Naya dan membawanya ke atas pahanya. Sepanjang acara, Noah benar-benar tidak melepaskan genggamannya.


Semua rangkaian acara telah selesai. Jika pada sesi ini semua yang memiliki hubungan bisnis akan mulai berpendar dan mencari siapa pun yang ingin mereka dekati, maka tidak dengan Noah. Karena di mejanya sudah ada pria yang menjadi incarannya.


“Aku akan mengenalkanmu dengan salah satu perusahaan besar asal China. Dengan rekomendasiku, kau bisa mulai masuk ke pasar China dalam waktu singkat.” Si pria mesum memulai percakapannya dengan Noah.


Sementara Calvin yang berada di tengah mereka, ikut mendengarkan.


“Lalu, apa yang anda inginkan untuk imbalannya?” Noah langsung kepada intinya. Semua adalah bisnis. Give and take. Aturan dasar dalam permainan.


Si pria mesum tertawa. “Jangan buru-buru. Aku akan meminta imbalanku nanti.” Lalu ia melirik ke arah Naya sambil menyesap isi gelasnya yang merah tanpa melepaskan pandangannya.

__ADS_1


Kening Noah mengkerut saat merasakan genggaman tangan Naya menguat lalu wajah Naya yang menunduk takut.


Tanpa aba-aba, Noah mengambil punggung tangan Naya dan menciumnya. Naya yang menunduk langsung mendongak. Noah seperti ingin mengatakan kalau ia adalah miliknya, dengan menatap ke arah si pria mesum.


“Kalau begitu, saya permisi dulu. Sepertinya, kekasihku ingin istirahat lebih cepat.”


Calvin yang mendengarnya tersenyum lebar, sementara si pria mesum malah mengeraskan rahangnya.


Noah segera menarik Naya untuk meninggalkan acara itu dan kembali ke kamar mereka.


“Apa anda tidak apa-apa meninggalkan acara seperti itu?”


“Kepentinganku sudah selesai.” Noah menjawab tanpa melepaskan genggamannya yang kuat.


“Tuan, Noah. Bisakah anda berjalan lebih pelan? Gaunku panjang, aku kesulitan.”


Noah tidak mendengar. Dengan gelisah, ia menekan tombol lift yang belum juga sampai. Ketika lift akhirnya terbuka, Noah langsung mendorong tubuh Naya hingga menabrak dinding lift. Ketika lift tertutup, Noah akhirnya melepaskan emosinya.


Naya yang terkejut dengan sentuhan tiba-tiba di bibirnya, hanya bisa terdiam karena euforia di dalam jantungnya yang memompakan darah lebih cepat ke seluruh tubuhnya. Bibir Noah yang menekan bibirnya kuat meminta akses lebih dengan menggigit bibir bawah Naya, setelah mendapatkan persetujuan, lidahnya bergulat mengabsen apa pun yang berada di dalam sana. Naya yang mulai kehabisan napas, memukul mundur dada Noah.


Noah yang masih memejamkan matanya, menolak melepaskan ciuman itu. Ketika bunyi dentingan lift kembali terbuka, Noah akhirnya melepaskannya, lalu menarik Naya untuk berjalan lebih cepat.


Setelah pintu kamar terbuka, Noah langsung mendorong Naya kembali hingga punggunya menabrak tembok dingin.


Noah yang menciumnya lagi, membuat Naya bisa merasakan sesuatu mengganggu pikiran pria itu. Lehernya yang dipaksa mendongak, dan tubuhnya yang dihimpit oleh lengan besar pria itu, mendesak Naya untuk mengikuti permainan kasarnya. Sebenarnya Naya sangat menginginkannya juga, tapi tidak seperti ini. Noah seperti kerasukan, bahkan ketika tangan Noah bermain di paha dalamnya. Naya akhirnya terpaksa menggigit bibir Noah kuat.


Noah meringis dan melepaskan ciumannya, tapi tidak memundurkan tubuhnya. Naya yang masih mengatur napasnya meminta penjelasan.


“Ada apa sebenarnya, Tuan?”


Noah yang menunduk sambil mengatur napasnya juga, memukul tembok di belakang Naya dengan kuat. Naya tersentak mendengar suara pukulan itu.


“Tuan!” Ada goresan kecil di tulang jari Noah yang terbentur.


“Aku seharusnya tidak membawamu ke sana. Aku … benci kau di tatap seperti itu.” Noah masih berusaha mengatur emosinya, sementara Naya sudah mengambil punggung tangannya yang terluka untuk ia tiup lembut.


“Aku tidak apa-apa, Tuan. Sungguh. Aku memang tidak nyaman, hanya saja, aku sudah terbiasa dengan tatapan itu.”


“Aku yang tidak terbiasa, Naya. Aku … ingin mencongkel matanya lalu memaksanya mengunyah bola matanya sendiri.”

__ADS_1


Naya merinding. Noah terdengar seperti psikopat sekarang. “Anda hanya bercanda, kan?”


“Apa aku terlihat sedang bercanda?” Ada kilatan amarah di netra hazel itu.


“Anda tidak perlu semarah ini, Tuan. Percaya pada saya, meskipun dia menatapku seperti itu, dia tidak akan pernah bisa menyentuh saya,” ucap Naya menenangkan Noah.


Deruan napas Noah akhirnya mulai normal. Naya pun tersenyum kecil. “Masih sakit?” Naya mengelus di ujung punggung tangan Noah, yang dibalas gelengan.


“Saya obati, ya?”


Noah tidak menjawab, tetapi menurut saat Naya mengantarnya untuk duduk di sofa. Naya yang sudah mengekplor ruangan itu, sudah tau di mana letak kotak P3K. Naya mengambilnya lalu kembali dengan duduk di samping Noah dan mengobatinya.


“Tidak perlu, ini hanya luka kecil.” Noah ingin menarik tangannya, tapi di tarik lagi oleh Naya.


“Kecil pun bisa infeksi, Tuan.”


Noah akhirnya pasrah, dengan lembut Naya mengobati luka itu. Noah hanya bisa menatap wajah Naya yang sedang menunduk, ia bisa melihat pewarna bibir Naya yang berantakan.


“Maaf, aku menciummu tiba-tiba,” ucap Noah sedikit berbisik.


Naya tersenyum. “Tidak apa-apa. Saya menyukainya.” Gerakan Naya terhenti setelah mendengar ucapannya sendiri. “Bu-bukan … maksudku—”


Noah tergelak. “Jadi, kau menyukai ciuman kasarku?”


“Ti-tidak. Bukan begitu, Tuan.” Naya berusaha memikirkan alasan dari ucapannya. Tetapi, nihil. Otaknya menolak kerja sama. Sementara degup jantungnya seolah mengejeknya.


“Apa aku boleh menciummu lagi?” tatapan Noah memenjarakan manik Naya yang bergetar.


Tanpa jawaban hanya sebuah anggukan kecil memberanikan Noah untuk mendekat lagi, semakin dekat, hingga tubuh Naya yang menegang merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Mata Naya yang terpejam, dan sudut bibir Noah yang terus bermain di atas bibirnya membuatnya sangat terlena. Ini adalah ciuman khas Noah. Penuh kelembutan dan kehangatan. Membuatnya melayang hanya dengan sentuhan itu. Ketika tangan Noah berpindah ke belakang kepalanya, dan dengan sedikit dorongan di bibirnya, membuat tubuh Naya berbaring di sofa itu.


Setelah tubuhnya benar-benar terbaring, Noah melepaskan ciumannya, menyatukan kedua ujung hidung mereka, deru napas Noah yang bercampur wangi harum dan segar menusuk penciumannya. Naya sangat terlena. Ia dan Noah sama-sama menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Naya tidak tau, tapi diam Noah yang seperti meminta izin kepadanya, membuatnya mengangguk tanpa kalimat yang terucap. Noah tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepalanya.


“Nanti. Kita akan melakukannya nanti.”


Raut wajah Naya berubah kecewa, membuat Noah terkekeh. Untuk meredakan kekecewaan wanita di bawahnya itu, Noah mengecup keningnya, lalu berpindah ke kedua pipinya, dan berakhir di bibirnya lagi. Setelahnya, Noah memundurkan tubuhnya, dan berjalan ke kamarnya. Beberapa menit setelahnya, Naya bisa mendengar suara kamar mandi yang tertutup.


Naya tidak tau, kenapa Noah berhenti. Padahal, mereka sudah sama-sama terbakar oleh gairah yang memuncak. Jika Naya saja kesulitan menahannya, apalagi untuk seorang pria dewasa seperti Noah.


Di dalam kamar mandi, Noah menyalakan pancuran shower dengan menyetel air sedingin mungkin. Ia berdiri di bawah pancuran itu untuk menjernihkan pikirannya yang melayang jauh. Noah sudah berjanji kepada dirinya sendiri, ia tidak akan menyentuh Naya, sebelum membuat Naya benar-benar menjadi miliknya. Itu adalah hal yang bisa ia lakukan untuk menghargai Naya yang berusaha melepaskan diri dari masa lalunya yang kelam.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2