Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Bukan lagi batin


__ADS_3

...šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’”šŸ’”...


"Kaaa geli ihsss, su- sudah ka, a- aku hanya ingin membangunkan kaka!" ucap Naura dengan tubuh menggeliattt, kegelian dengan apa yang di lakukan Prans pada punggungnya, sementara hape Prans masih berada dalam genggaman tangan kirinya.


Bugh.


Dengan sekali gerakan, Prans merubah posisi ke duanya. Dengan dirinya yang mengunci tubuh Naura yang berada di bawah tubuhnya.


"Apa yang akan kau lakukan dengan hape ku?" tanya Prans dengan dingin, tatapan tajam mengarah pada dada Naura yang naik turun.


"Ha- hape kaka? I- ini a- aku cuma mau pinjam untuk menghubungi papa dan mama, se- sekali aja ka! Bo- boleh kan? A- aku i- ingin mendengar suara mereka." cicit Naura dengan tatapan memohon.


Naura memperlihatkan hape Prans yang ada di genggaman tangan kirinya, dengan kedua mata yang terpejam, udah kepalang tanggung, mau bohongin ka Prans, tapi ka Prans tidak bisa di bohongin. Jujur aja lah... setidaknya bisa mengurangi hukuman yang akan ka Prans berikan pada ku!


Prans menyeringai, dengan tangan kanannya yang langsung merebut hape miliknya dari tangan Naura, lalu melemparkan hapenya ke sembarang arah.


Brak.


Hape Prans mendarat di lantai dengan cukup keras, membuat Naura dalam sekejap membuka kedua matanya, menatap heran pada Prans.


"Apa yang kaka lakukan? Itu hape kaka mahal kan! Kenapa kaka melemparnya? Aku yang salah, bukan hape itu ka!" cicit Naura, "Kaka berlebihan, kaka bisa hukum aku karena aku yang salah!" ujar Naura lagi.


Krek.


Prans mendaratkan tangan kanannya ke leher Naura, membuat wanita itu sulit bernafas dengan cekikan yang Prans lakukan padanya. Sementara tangan kirinya menyusuri wajah Naura dengan jari telunjuknya.


"Ka! A- a- apa yang kaka la- kukan! Maaf ka! A- aku sa- salah!" ucap Naura dengan tersengal sengal, bulir bening ke luar dari sudut matanya.

__ADS_1


Naura menatap Prans dengan sedih, jika aku harus mati saat ini, aku belom ikhlas, aku belum melihat mama dan papa ku, apa kah mereka merindukan ku atau tidak. Ka Prans kenapa kau jadi seperti ini pada ku, apa begini akhir hidup ku, mati di tangan suami ku sendiri.


Prans menyeringai, dengan hati yang terluka, maaf sayang... aku tidak akan mungkin membiarkan mu mati semudah ini, jika dengan perkataan ku membuat mu tidak bisa lagi menurut dengan kata kata ku... aku harus melakukan cara ini untuk menggertak mu.


"Jangan pernah kau ulangi lagi apa yang sudah aku larang. Kau tau kan sayang! Aku tidak suka di bantah, siapa pun itu termasuk diri mu!" ucap Prans dengan penuh penekanan, menatap tajam Naura lalu menjauhkan tangan kanannya dari leher Naura.


"Uhuk uhuk uhuk uhuk." Naura terbatuk batuk.


Prans beranjak dari tubuh Naura, dengan wajah datar, "Kau tunggu lah, aku mandi dulu. Baru setelah itu aku akan membawa mu ke luar!" Prans melangkah menuju kamar mandi.


"Hiks hiks hiks! Kau jahat ka, kau tidak hanya mengekang ku, tapi kau juga banyak mengatur kehidupan ku! Bukan lagi batin ku yang kau sakiti, tapi juga fisik ku!" gumam Naura dengan menyapu bulir bening di pipinya dengan kasar. Enggan menatap kepergian Prans.


Prans membuang nafasnya dengan kasar, sebelum menutup pintu kamar mandi, ia menoleh kan wajahnya untuk menatap Naura sejenak.


Aku benar benar minta maaf sayang, aku takut, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya membuat mu menurut pada ku! Aku belum siap untuk mengatakan jika orang tua mu dan adik mu sudah tewas. Bukan hanya mereka, tapi Serli juga ikut tewas dalam insiden pesta pernikahan yang kita gelar. Mereka berempat orang terdekat mu! Hati mu pasti akan sangat hancur jika mengetahuinya.


Di dalam kamar mandi, dengan berdiri di bawah shower, Prans membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya yang atletis. Prans memejamkan ke dua matanya, sekilas bayangan wajah Naura saat ia cekik bermunculan dalam pandangannya.


Bugh bugh bugh.


Prans mendaratkan kepalan tangan kanannya, dengan cukup keras pada dinding yang ada di hadapannya, dengan wajah penuh amarah.


Tes.


Darah segar ke luar dari buku buku jari Prans.


"Aku tidak akan berbuat sekejam itu, jika kau mau mendengarkan apa yang sudah aku perintahkan pada mu Naura!" gumam Prans dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Naura langsung menyiapkan pakaian untuk Prans, dengan bibir yang menggerutu di dalam ruang walk in closed.


"Jika saja aku sudah bisa berjalan, mungkin aku bisa melakukan apa yang aku inginkan. Tidak seperti sekarang ini, sulit bagi ku untuk menentang mu ka Prans. Aku harus bisa berjalan lagi, dengan kembalinya kemampuan ku untuk berjalan, aku bisa saja mencari tahu apa yang ka Prans sembunyikan dari ku selama ini."


Naura ke luar dari ruang walk in closed, dengan memangku pakaian yang akan di kenakan oleh Prans.


Kreeek.


Pintu walk in closed di buka dari dalam oleh Naura.


"Jangan pernah bermimpi, untuk berusaha mencari tahu apa yang aku sembunyikan dari mu, sayang!" ucap Prans yang ternyata berdiri di ambang tiang pintu walk in closed, mbuat naura menatap tajam Prans.


"Ka Prans menguping ocehan ku?" tanya Naura.


"Tidak semua, hanya poin terakhir yang aku dengar. Kau sangat ingin berusaha mencari tahu apa yang sedang aku sembunyikan, bukan begitu, sayang?" Prans mendorong kursi roda yang Naura gunakan mendekat ke arah tempat tidur.


"Apa kaka pikir aku bahagia hidup dengan mu saat ini? Meski aku di sini tidak sekali pun kau biarkan kekurangan. Tetap saja rasanya seperti ada yang menghilang dari setengah jiwa ku." ujar Naura dengan mengadahkan wajahnya untuk menatap Prans.


Tok tok tok


bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...


Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…šŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2