
...ššššš...
"Apa kau yakin... kaka tidak tahu ka Prans bekerja dengan siapa saat ini?" tanya Naura dengan tatapan menyelidik.
"Eh apa Nona mau ini! Ini rasanya sangat enak Nona!" Amarta mengalihkan perhatian Naura pada salah satu hidangan yang tersaji di atas meja.
"Emmmmm enak banget Nona! Gurih, renyah nikmat jadi satu!" Amarta tampak menikmati hidangan yang ia santap.
Naura membuang nafasnya dengan kasar, "Aku tahu kau sedang menghindari pertanyaan ku, ka Amarta!" ucap Naura dengan menatap malas Amarta, gagal lagi, ka Prans menyelesaikan pekerjaan dengan siapa ya?
Amarta hanya tersenyum kikuk, "Maaf Nona, apa Nona akan merasa lebih baik jika bicara dengan Nona Novi?" tanya Amarta dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Tapi aku tidak ingat dengan nomor telpon Novi, sus!" Naura tampak tidak bersemangat untuk menghabiskan sarapannya.
"Aku akan memberikan Nona satu kesempatan untuk bicara dengan sahabat Nona, tapi Nona harus berjanji satu hal pada ku." Amarta berkata dengan serius.
Naura mengerutkan keningnya, "Janji apa, sus? Memang suster punya nomor telpon Novi? Nama Novi kan banyak di negara ini, sus!"
Amarta merogoh saku bajunya, lalu mengeluarkan hape miliknya, mencari daftar kontak dari buku telponnya, lalu ia memperlihatkan layar hape-nya pada Naura.
"Suster beneran ini nomor telpon Novi!" seru Naura dengan tatapan berbinar, sulit baginya untuk percaya dengan apa yang ia lihat.
Amarta menganggukkan kepalanya, "Makanya Nona harus menghabiskan sarapan Nona, setelah itu Nona harus minum obat. Baru aku akan memberikan hape ku ini dan membiarkan Nona berbicara dengan sahabat Nona!" usul Amarta.
"Ini juga aku sedang berusaha menghabiskan sarapan ku, sus!" Naura dengan semangat menyantap sarapannya.
Amarta tersenyum melihat Naura, maaf Nona, aku tidak bisa melakukan apa apa untuk Nona, aku hanya bisa melakukan ini pada mu, aku juga sangat ingin melihat Nona bisa kembali berjalan!
Sementara di lantai bawah.
"Mau apa lagi kalian kesini?" tanya Prans datar setelah menutup kembali pintu ruang kerjanya itu.
"Kau masih tetap sama, angkuh Prans. Sudah jelas kau membutuhkan kami berdua!" ucap Aji dengan yakin.
"Siapa yang membutuhkan siapa sekarang! Sayangnya aku masih bisa berdiri sendiri tanpa bantuan kalian kan!" ucap Prans dengan sinis, ia mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.
"Pah, kita ke sini bukan untuk mencari ribut dengan ka Prans!" Daren mengingatkan kembali tujuan mereka datang ke kediamannya Prans.
"Kau benar, nak! Jadi Prans... sebenarnya kami ke sini untuk membicarakan hubungan mu dengan Naura." ucap Aji.
__ADS_1
"Kau tidak perlu ikut campur masalah ku dengan istri ku, kalian tidak berhak ikut campur! Apa aku kurang jauh mengirim kalian dari negeri ini? Hingga kalian merepotkan diri untuk datang menemui ku?" Prans menatap tajam Aji dan Daren.
"Ka, maaf jika aku dulu mengecewakan mu... tapi kali ini aku sungguh sungguh ka. Aku tidak bisa jauh dari mu ka, kau lah kaka ku. Papa juga tidak bisa jauh dari mu, ka. Tolong berikan kami kesempatan untuk memperbaiki diri. Kami ingin menjadi bagian terpenting dalam hidup mu, ka!" ucap Daren dengan tulus.
"Kesempatan kalian hanya sampai siang ini, tinggalkan rumah ku jika kalian serius dengan ucapan kalian!" Prans beranjak dari duduknya.
"Tunggu Prans, kau belum mengatakan yang sebenarnya pada Naura kan? Bagaimana jika Naura sampai mengetahui dari orang lain! Bagaimana pun, ia berhak tau apa yang terjadi sebenarnya." terang Aji dengan tatapan mengikuti Prans.
"Sudah aku katakan, kalian tidak perlu mencampuri urusan ku! Kalian tahu kan, masih banyak pekerjaan yang harus aku urus!" ucap Prans datar yang langsung meninggalkan ke duanya.
"Kau sombong sekali, Prans! Kau tidak ingat, jika bukan karena aku dan ibu mu... Tidak mungkin ada kau yang saat ini!" ucap Aji dengan sinis.
"Jika bukan karena mu, dan wanita sialan itu! Aku tidak perduli ke hilangan mama dan papa ku! Ke hilangan masa kecil ku yang sudah kau rampas Aji!" ucap Prans penuh penekanan tanpa menoleh wajah Aji yang merah padam, Prans terus berjalan menutup pintu ruang kerjanya dengan membantingnya.
Bugh
Aji dan Daren terperanjak kaget.
Prans menatap ke lantai atas, anak itu pasti sudah mau makan dengan bujukan Amarta.
"Hai bos! Aku lihat ada mobil om Aji, apa dia ada di sini?" tanya Samuel saat berpapasan dengan Prans di lantai bawah.
"Cih mana mungkin aku ingin menemuinya, yang ada aku langsung kau lempar ke kandang buaya! Aku masih menyayangi nyawa ku Prans!" ujar Samuel dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ikut aku ke ruang medis, ada yang ingin aku bicarakan pada mu!" sungut Prans berjalan lebih dulu mendahului Samuel.
"Dari tadi kita bukannya sudah bicara ya? Apa yang ingin kau bicarakan pada ku, bos?" tanya Samuel yang mengkori Prans.
Sampai di ruang medis, Prans mendudukkan dirinya di sofa yang empuk, dengan punggung menyandar pada sandaran sofa.
"Selain terapi dan obat, apa yang bisa membuat Naura bisa kembali menggunakan ke dua kakinya untuk berjalan?" tanya Prans dengan serius.
"Yang terpenting adalah semangat dalam dirinya. Jika semangat dalam diri Nona mengendur, kemungkinan untuk Nona dapat berjalan kembali itu rasanya sulit, cenderung lama. Karena obat obatan yang aku resepkan tidak akan berkembang dengan baik, jika tidak di imbangi dengan semangatnya. Semangatnya lah yang selama ini memacu saraf pada kakinya sulit merespon." terang dokter Samuel.
"Harusnya itu menjadi tugas mu, dasar bodoh! Kau ini percuma mengambil pendidikan dokter, jika memulihkan fungsi gerak ke dua kaki Naura saja kau tidak bisa!" sungut Prans dengan kesal.
"Jangan mengajak ku berdebat bos, aku sudah pasti kalah jika berdebat dengan mu, bos!" umpat Samuel.
"Cih berani kau menang dalam berdebat dengan ku, tau sendiri akibatnya! Pergi kau dari hadapan ku!" Prans mengusir Samuel ke luar dari ruang medis.
__ADS_1
"Ha? Kau tidak salah bos? Sejak kapan ruang medis menjadi ruang pribadi mu? Ini ruang pribadi ku dengan Nona, bos! Kau saja yang pergi! Ku beri tahu ya bos, Nona pasti sedang menunggu mu di kamar!" ledek Samuel yang beranjak dari duduknya.
"Sialannn kau, cari mati kau ya!" sungut Prans, enak saja mengatakan ini ruang pribadi mu dengan istri ku! Di mana pun ada aku dan Naura, di sana lah ruang pribadi kami berada!
"Halo Novi! Aku merindukan mu, apa kau baik baik saja? Kemana saja kau selama ini? Kenapa kalian menghilang? Apa kalian marah pada ku, atas peristiwa yang terjadi saat pesta pernikahan ku?" cicit Naura dengan berbagai pertanyaan untuk Novi.
[ "Hai Nona Muda, apa begini cara mu setelah lama menghilang? Kau langsung menembak ku dengan berbagai pertanyaan bodoh mu itu, hah?" sungut Novi yang suaranya nampak sedang menahan tangisnya.
"Hai bodoh! Berani kau ya mengatai ku bodoh? Apa kau lupa aku ini selain sahabat s mu, aku juga bos mu! Mau ya aku potong semua bonus akhir tahun mu?"
[ "Bu bos, apa kabar mu... kapan kau akan mengunjungi kami di kedai?" ] suara Lusi terdengar dari sambungan telepon.
"Aku merindukan kalian, kalian jahat sekali. Sudah tau bos kalian sedang sakit, kalian semua tidak mengunjungi ku!" Naura pura pura merajuk, namun ia memperlihatkan wajah cerianya di depan Amarta yang terus mengawasinya.
Amarta tersenyum senang, melihat Naura yang ceria meski hanya berbicara dengan temannya di telpon, aku tidak menyangka, Nona bisa seceria ini. Aku harap Tuan Muda melihat ini dari CCTV, biar Tuan tidak lagi mengurung Nona di dalam rumah ini!
"Maaf Nona, sudah waktunya!" ujar Amarta dengan berat hati meminta hapenya kembali dari Naura, karena sudah masuk waktu Naura untuk melatih gerak kakinya.
"Mega, aku titip kedai pada mu dulu. Ingat ya, buat maju kedai ku!" pesan Naura pada Mega.
[ "Iya aku tau Naura. Kau cepat lah pulih ya, kami semua sudah merindukan mu!" ] ucap Mega.
Naura menyerahkan benda pipih itu, dengan berat hati pada pemiliknya.
"Terima kasih ya, ka! Sudah memberikan ku kesempatan untuk bicara dengan mereka di telpon." ucap Naura dengan tulus.
"Sama sama Nona. Ayo kita pasti sudah di tunggu dokter Samuel!" Amarta menyimpan kembali hapenya ke dalam saku seragamnya, lalu mendorong kursi roda Naura menuju pintu.
Dari arah luar kamar Naura, pintu di buka.
Ceklek.
bersambung...
...ššš...
Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.
Abaikan kalo ga suka ya š š
__ADS_1