
...ššššš...
Naura mengerutkan keningnya, "Benda apa ini?"
Sreek.
Prans merebut apa yang ada dalam tangan Naura, membuat Naura menatap Prans dengan tatapan tajam, bibir mengerucut, dasar ka Prans sok tau. Memang dia tau apa itu benda apa!
"Coba ku lihat!" ujar Prans, ia membacanya tanpa ragu, dan langsung menatap Naura dengan menyelidik, "Kau benar tidak tahu apa ini?" tanya Prans pada Naura.
"Kalo aku tahu... aku tidak akan bertanya ka!" cicit Naura dengan bibir mengerucut.
"Itu alat tes kehamilan, Nona." terang dokter Ike.
Prans menyimpan benda itu di dalam saku celananya.
"Hei! Aku memberikan itu untuk istri mu gunakan. Kenapa malah kau simpan dalam saku celana mu?" tanya dokter Ike dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kau pikir, aku akan membiarkan istri ku menggunakannya seorang diri di kamar mandi? Apa kau tidak lihat kondisinya, dokter?" tanya Prans dengan suaranya yang dingin.
Prans menggendong Naura dengan ke dua lengannya, "Maafkan ka Prans ya, dokter! Dia bicaranya emang begitu." ucap Naura dengan perasaan yang tidak enak pada dokter.
"Untuk apa kau meminta maaf padanya, sayang!" gerutu Prans dengan membawa Naura ke kamar mandi.
"Tetap aja gak sopan ka!" ucap Naura.
Dokter Ike menggelengkan kepalanya, menatap dua orang berbeda jenis kelamin itu hingga hilang di balik pintu kamar mandi.
Aku rasa benar apa yang di katakan Dev, Prans benar benar menunjukkan rasa cintanya pada bocah itu, coba dulu kau tunjukkan rasa cinta mu itu pada ku, Prans. Mungkin saat itu aku tidak memilih untuk meninggalkan mu, dan mungkin saat ini kita sudah bahagia dengan anak anak kita Prans.
Di dalam kamar mandi.
Prans mendudukan Naura di atas toilet duduk setelah melorotkan bawahan Naura.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri ka! Kaka cukup beritahu aku harus apa. Mudah kan!" protes Naura dengan wajah bersemu, lantaran malu saat Prans melorotkan bawahannya.
Prans berbisik di telinga Naura, mengatakan apa yang harus Naura lakukan selanjutnya.
Naura membola, menatap Prans dengan horor, setelah Prans menjauhkan bibirnya dari telinga Naura. Prans memainkan alisnya naik turun.
"Ayo lakukan, sayang!" ucap Prans dengan tangannya memegang wadah dan siap menadahkan sesuatu yang akan Naura ke luarkan dari miliknya yang kecil.
"Apa? Yang benar aja ka? A- aku bisa sendiri ka! Kaka ke luar aja." Naura mencoba merebut wadah yang Prans pegang, namun Prans langsung menggerakkan tangannya hingga menjauhkan wadah itu dari jangkauan tangan Naura.
"Sudah ayo lakukan saja apa yang aku katakan, sayang! Tapi jika kau masih ingin berlama lama di kamar mandi dengan ku, aku tidak masalah... sekalian aja yuk kita buat lagi adonan baby!" ucap Prans dengan tatapan genitnya.
Naura menggaruk kepalanya dengan frustasi, "Astagaaa kaka, yang benar aja! Bagaimana jika air seniii ku mengenai tangan kaka, kan jorokkk ka!"
"Tidak masalah, sudah lakukan saja!" ucap Prans yang sedari tadi berjongkok di depan Naura, menunggu sang istri. Sedangkan Naura duduk di bibir toilet duduk.
"Baik lah baik lah, jika kaka memaksa... aku tidak ada pilihan lain... jangan menyesal ya kalo kena!" dengan wajah masam, akhirnya Naura mengeluarkan apa yang sejak tadi Prans tunggu.
"Aaahhh tuh kan, kena tangan kaka... apa aku bilang coba, biar aku aja juga! Pake ngeyel sih ka Prans di bilanginnya!" pipi merona terbit di ke dua pipi Naura yang tampak berisi.
Prans tergelak melihat tingkah istrinya, "Ahahahha kau ini, apa yang salah dengan ini? Kau tahukan sayang, ini hangat."
"Dasarrr ka Prans aneh, air seniii sudah pasti hangat. Siapa bilang dingin!"
Prans mencelupkan benda kecil pipih itu ke dalam wadah yang sudah berisi air seniii Naura.
Nampak di sudut bibir Prans yang tersenyum, dengan tatapan penuh harap, aku harap, aku tidak salah duga, hasilnya positif... tapi jika hasilnya negatif, aku masih bisa menggempurrr Naura agar cepat mengandung benihhh ku!
"Kaka kenapa senyum senyum sendiri?" Naura mencoba berdiri sendiri dengan ke dua tangannya yang bertumpu pada ke dua bahu Prans.
Dengan sigap, Prans langsung membantu Naura, "Kau kan bisa menunggu ku sebentar sayang! Biar aku pakaikan!" Prans menaikkan kembali bawahan Naura.
"Ihs buat apa, kaka serius banget lietin itu! Nanti yang ada aku ganggu, tau gak... kaka lietin itu udah kaya lietin berlian aja! Padahal kan cuma air seniii ku!" ucap Naura dengan polosnya.
__ADS_1
"Itu lebih dari sekedar berlian sayang, sesuatu yang akan membawa kita pada kebahagiaan." terang Prans.
"Kau pegang ini, nanti kita perlihatkan pada dokter Ike." Prans memberikan benda yang tadi di berikan dokter pada Naura dengan keadaan yang berbeda.
"Bismilah ya ka, semoga hasilnya tidak mengecewakan ka Prans!" ucap Naura saat berada dalam gendongannya Prans.
"Jika hasilnya negatif, aku tidak masalah sayang... bibit unggul ku yang lain pasti sudah menunggu untuk bersemayam dalam milik mu!" ucap Prans dengan mengecup pipi Naura.
Prans membawa Naura ke luar dari kamar mandi, sementara dokter Ike sudah menunggu mereka berdua dengan duduk di sofa yang ada di kamar itu, bahkan ia menunggu bersama dengan dokter Samuel.
"Sejak kapan kau sudah ada di kamar ku, dokter Samuel?" tanya Prans dengan tatapan jengkel.
"Sejak kau menikmati suasana di dalam kamar mandi, bersama dengan Nona Muda." ucap dokter Samuel dengan santai.
"Ehem bagaimana Tuan Muda Prans, tidak ada kendala dalam menggunakan benda itu bukan?" tanya dokter Ike dengan tatapan yang menyelidik.
"Tidak ada, semua berjalan dengan lancar, dokter!" Prans mendudukkan dirinya di sofa, dengan Naura yang berada dalam pangkuannya.
"Wah wah wah, Tuan Muda Prans tampak sudah mengerti sekali cara menggunakannya ya? Belajar dari mana Tuan Muda?" tanya dokter Samuel dengan tatapan meledek Prans.
"Kau tidak perlu tahu aku belajar dari mana, yang pasti itu sudah menjadi keharusan ku untuk mengetahui apa yang akan di butuhkan Naura, istri ku!" ucap Prans dengan penekanan pada kata istri ku.
"Ka, turunkan aku... aku bisa duduk di sebelah mu kan ka!" pinta Naura dengan mencoba melepaskan tangan Prans yang melingkar di pinggangnya.
"Tidak perlu, tetap lah seperti ini... dan tunjukkan hasilnya pada dokter. Sepertinya dokter Ike sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya, sayang!" ucap Prans dengan menopang dagunya di bahu Naura.
Bersambung...
...ššš...
Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen yuk, sepi bener udah kaya kuburan ini. Jangan lupa like, tinggalin jejak ya š.
Abaikan kalo ga suka ya š š
__ADS_1