Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Tidak akan


__ADS_3

...šŸ’–šŸ’–šŸ’”šŸ’”...


Prans membuang nafasnya dengan kasar, "Sayangnya helikopter yang membawa mu ke rumah ini, sudah landing dari beberapa menit yang lalu!" ucap Prans dengan seringai licik di bibirnya, membalas perbuatan dokter Ike.


"Apa? Lalu bagaimana aku bisa kembali, Prans?" tanya Ike dengan suara naik satu oktaf.


"Haikal! Antar dokter Ike ke kamarnya! Beri tahu juga apa saja tugasnya selama berada di rumah ini!" titah Prans pada Haikal yang tengah berjalan ke arahnya.


"Baik bos, akan saya lakukan!" ucap Haikal.


Brak.


Prans langsung menutup pintu dengan kasar, membuat dokter Ike yang tengah menoleh ke arah Haikal, terperanjat kaget.


"Dasar Prans gila!" sungut dokter Ike dengan tangan mengepal.


"Mari ikuti saya, dokter!" ujar Haikal dengan berjalan di samping dokter Ike.


Dokter Ike membuang nafasnya dengan kasar, namun ia tetap mengikuti langkah kaki Haikal.


Hari berganti hari, dengan waktu yang terus bergulir. Prans semakin bersikap protektif terhadap Naura.


Di pagi yang cerah, secerah mentari pagi yang menyinari kediaman Prans. Naura menikmati embun pagi, dengan belajar memperlancar jalannya di ruang kesehatan yang Prans buat untuk Naura dengan di dampingi suster Amarta dan Samuel.


Dengan gigihnya, Naura terus melatih gerak ke dua kakinya. Ia semakin berambisi untuk dapat lancar dalam berjalan, bayangannya akan berjalan seperti sedia kala sudah menari nari di depan mata dan pikirannya.


Naura membatin dengan mengayunkan langkah kakinya dengan perlahan, aku harus bisa... sabar ya sayang! Mama pasti dapat berjalan kembali. Nanti kita jalan jalan bareng ya sayangnya mama!

__ADS_1


Prans yang melihat dari luar jendela perawatan, sangat merasa bahagia dengan kemajuan Naura, "Kamu memang istri ku yang tangguh sayang!" gumam Prans dengan senyum mengembang di sudut bibirnya.


Dreet dreet dreet.


"Hem!" jawab Prans dengan menempelkan hapenya di daun telinganya, namun tatapannya tidak teralihkan dari Naura.


[ "Maaf Tuan, kapan kira kira Tuan akan kembali masuk kantor? Ada beberapa perusahaan yang menginginkan Tuan menghadiri rapat secara langsung." ] terang Dev dari sebrang sana.


"Secepatnya aku akan kembali masuk kantor, kau siapkan saja meja baru di dalam ruangan ku!" ujar Prans dengan tegas.


[ "Meja baru untuk siapa ya, pak?" ]


"Untuk sekretaris pribadi ku! Tentu saja untuk Naura, dasar bodohhh! Apa lagi yang ingin kau tanyakan pada ku, hem?"


[ "Tidak ada Tuan. Hanya itu saja." ]


"Kaaaa! Lihat aku!" seru Naura saat melihat Prans memasuki ruang kesehatan.


"Aku sudah melihat mu dari tadi sayang!" ujar Prans.


Naura melangkah dengan pelan dan semakin mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri Prans. Senyum Naura terus terukir di bibirnya.


Bruk.


Naura berada di dalam dekapan Prans.


"Aku bisa berjalan ka! Sekarang aku sudah bisa berjalan!" ucap Naura dengan terharu, tangis haru meluncur bebas dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Aku tahu itu sayang! Kamu pasti dapat berjalan kembali. Kamu memang istri ku yang paling bisa aku banggakan!" Prans mengecup pucuk kepala Naura.


"Kami turut bahagia bisa menjadi saksi atas kembalinya Nona. Kembali dapat menggunakan ke dua kaki Nona sesuai dengan fungsinya." ucap dokter Samuel.


"Usaha memang tidak membohongi hasil, ini berkat semangat Nona." ujar Amarta.


"Terima kasih ya sus, dok! Selama ini sudah menemani ku selama belajar berjalan!" terang Naura dengan satu tangan berada di pinggul Prans, begitu pun dengan Prans. Merengkuh Naura dengan erat.


"Itu sudah menjadi kewajiban untuk kami, Nona!" terang dokter Samuel.


"Jadi, Tuan Prans akan membawa Nona Muda kemana sebagai hadiah atas lancarnya Nona dalam berjalan?" tanya Amarta dengan memainkan alisnya naik turun.


Prans menatap Naura dengan tatapan penuh tanya, "Jangan meminta yang aneh aneh! Karena aku tidak akan mengabulkannya!" terang Prans dengan tegas.


"Aku ingin ke luar ka! Kita ke kedai, aku sudah lama tidak ke kedai!" ucap Naura dengan mengadahkan wajahnya, menatap Prans dengan tatapan penuh harap.


Prans tampak berfikir, menimbang nimbang akan keputusan yang akan ia buat untuk Naura.


"Jangan bilang kaka menolak ajakan ku! Tau sendiri ya kalo kaka menolak ajakan ku!" Naura mengerucutkan bibirnya dengan memalingkan wajahnya dari Prans.


"Memang apa yang akan Nona Muda lakukan jika Tuan sampai menolak untuk membawa Nona Muda ke kedai?" tanya dokter Samuel ingin tahu.


Bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...


Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen yuk, sepi bener udah kaya kuburan ini. Jangan lupa like, tinggalin jejak ya šŸ˜„.

__ADS_1


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…


__ADS_2