
Tiiit tiiit tiiit tiiit.
Terdengar suara mobil yang tengah memundurkan kendaraan, tepat di halaman rumah kediaman orang tua Naura.
"Suara apa itu ka?" tanya Naura dengan polosnya.
"Apa itu salah satu kejutan lagi dari pak Prans untuk bu bos?" tanya Nina dengan berbisik pada Mega.
Mega mengerdikkan bahunya, "Entah lah, aku tidak tahu. Yang pasti pak Prans orang yang penuh dengan kejutan dan tidak bisa di duga."
"Aku rasa pak Prans sangat mencintai bu bos, ka!" celetuk Lusi.
"Kalian ini paling jago kalo nilai pak Prans, terus gimana dengan paman pacar... menurut kalian apa paman pacar sangat mencintai ku atau biasa aja?" celetuk Novi yang ikut ingin di nilai teman kerjanya.
"Paman pacar?" Lusi dan Nina mengulang perkataan Novi, mereka saling pandang.
"Kenapa? Apa ada yang salah? Aku rasa biasa aja!" celetuk Novi.
"Kalian banyak bicara, aku mau menyusul Naura dan pak Prans aja lah ke depan." celetuk Mega yang kini meninggalkan ketiganya.
Mobil box terparkir dengan sempurna di halaman rumah orang tua Naura. Ada di antara mereka yang ikut ke luar melihat apa yang akan muncul dari dalam mobil box.
"Apa yang kaka pesan?" tanya Naura dengan menatap Prans.
"Kita lihat saja dulu... nanti kau juga akan tahu." terang Prans dengan ke dua lengannya menggendong Naura.
"Apa mau di turunkan langsung, Tuan? Nanti mau di letakkan di mana ya Tuan?" tanya sang supir saat berdiri di depan Prans.
"Biarkan istri ku melihatnya dulu, biar dia yang pastikan... mau di letakkan di mana." Prans menatap Naura dengan lekat.
Kreeeek.
Pintu box mobil terbuka.
"Ka, i- itu untuk ku?" cicit Naura.
"Untuk orang lain, tapi kau sepertinya lebih membutuhkannya. Apa kau suka?" tanya Prans dengan hangat.
"Suka banget ka, aku merasa mama, papa dan Dito ada bersama dengan ku di rumah ini." jelas Naura dengan berbinar menatap apa yang sedang di turunkan dari dalam mobil box.
"Memang itu patung apaan, bu bos?" tanya Nina yang belum mengerti arti patung itu, yang iq lihat hanya patung.
"Itu gambaran dari keluarga kecil, terdiri dari mama, papa, Dito dan Naura. Benar begitu?" tebak Mega.
"Jadi, kau mau letakkan patung itu di mana, sayang?" tanya Prans.
"Ruang depan aja." ucap Naura dengan mantap.
Sang supir dan rekannya pun langsung, membawa patung besar itu ke dalam rumah dan meletakkannya di ruang depan.
"Untuk yang satunya mau kau letakkan di mana, hem?" tanya Prans lagi.
"Masih ada lagi ka? Apa lagi, ka?" Naura mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Tunggu saja, tunggu sampai mereka meletakkan patung keluarga itu dengan baik, baru setelah itu kau akan lihat apa lagi kejutan dari ku." terang Prans yang tidak bergeming di tempatnya.
"Kaka bisa turunkan aku jika keberatan." ujar Naura.
"Tidak ada kata keberatan dalam hidup jika perlu seumur hidup menggendong mu pun aku tidak akan masalah." ucap Prans dengan senyum tersungging di bibirnya.
Bugh.
Naura memukulll dada bidang Prans dengan kepalan tangannya.
"Aku yang keberatan, sama aja kaka pengen aku lumpuh seumur hidup gitu?" Naura mengerucutkan bibirnya.
"Meski pun kau sudah bisa berjalan, aku akan tetap menggendong mu! Aku ingin menjadi kaki mu untuk berjalan, mata mu untuk melihat, tangan mu untuk menggapai. Apa pun itu, akan aku lakukan hanya untuk mu! Apa itu cukup untuk membuat mu bertahan di sisi ku?" tanya Prans dengan penuh harap.
Lusi yang dari tadi memperhatikan Naura yang di gendong Prans, menelan salivanya dan menatapnya dengan rasa iri, astaga pak Prans kuat banget si, gak pegel apa itu tangannya gendong bu bos.
"Aduh bos romantis bener... belajar dari mana bos?" tanya Dega yang rupanya mendengar apa yang di katakan Prans.
"Dasar anak buah tidak sopan, sejak kapan kau menguping? Apa tugas yang aku berikan sudah kau kerjakan?" Prans menatap tajam Dega.
Malam menjelang, semua anak kedai pelangi kini bersama dengan Naura, suster Amarta, pak Dedi dan yang lainnya menikmati makan malam di halaman rumah.
Sama seperti malam sebelumnya, Prans mendatangkan beberapa pedagang kaki lima, yang biasa mereka akan menjajakan jualannya di pinggir jalan saat malam hari.
"Ini kita beneran makan gratis nih?" celetuk Lusi yang tengah menikmati semangkuk bakso dengan duduk di atas bangku taman.
"Iya lah, ini udah yang ke dua kalinya ya kita kaya gini." ucap Ayu pada Mega.
"Ko kita gak di ajak sih?" tanya Lusi.
"Waktu itu lo belom ada. Belum jadi karyawan kedai malah." ujar Juni.
"Btw rencana lo beneran jadi kaga itu, Nov?" tanya Rion.
"Rencana yang mana?" Novi mengerutkan keningnya, bingung dengan pertanyaan Rion.
"Ah lo mah, belaga pelon bae si!" celetuk Ayu.
"Rencana lo buat serius sama paman pacar lo lah!" terang Rion.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk." Novi keselek dengan mi kocok Bandung yang tengah ia santap.
Rion tampak memberikan segelas minumannya pada Novi dan menyodorkannya, "Makanya kalo makan tuh jangan pake nafsu, pake perasaan." ledek Rion.
"Sialannn lo, kaga jelas lo!" ucap Novi setelah selesai dengan minumnya, ia menyerahkan kembali gelas itu pada Rion.
"Buat lo aja, gwe bisa pesen lagi!" Rion beranjak dari duduknya, mengayunkan langkah kakinya menuju penjual es.
Kreek.
Gelas yang ada dalam genggaman tangan kanan Haikal, langsung pecah di tangannya. Cairan berwarna merah tampak ke luar dari telapak tangan kanan Haikal. Dengan tatapan tajam mengarah pada Novi.
"Kenapa lo, bro?" tanya Dega dengan tatapan yang mengikuti ke mana Haikal melihat.
__ADS_1
Rupanya interaksi yang terjadi antara Rion dan Novi tidak lekat dari pandangan Haikal. Membuat darahnya yang dingin menjadi mendidihhh.
Haikal masih menatap tajam Novi, ada hubungan apa antara plangton dengan Rion? Apa mereka memiliki hubungan? Keduanya tampak dekat, kenapa aku baru menyadarinya?
"Novi! Heh bocah plangton!" seru Dega dengan melambaikan tangan kanannya ke arah Novi.
"Mau apa lo manggil dia?" sungut Haikal dengan menatap malas Dega.
Novi menoleh ke arah Dega, ia melihat Haikal yang juga bersama dengan Dega. Novi menunjuk jari telunjuk kanannya ke arahnya sendiri.
Dega memberi kode pada Novi untuk menghampirinya. Semakin membuat kesal Haikal.
"Mau apa lo panggil dia kesini? Dasarrr bego!" Haikal melangkah meninggalkan Dega dengan wajah kesal.
Novi langsung mengikuti Haikal, lalu kembali masuk ke dalam rumah setelah memastikan Haikal pergi kemana.
Tok tok tok.
Novi mengetuk pintu mobil dengan tangan kirinya yang membawa kotak obat.
Haikal yang berada di dalam mobil, melihat Novi yang tengah mengetuk kaca mobil lalu mengerutkan keningnya.
Haikal mengumpat dalam hati, mengingat bagaimana kedekatan Rion dan Novi, mau apa lagi bocah plangton ini di sini? Bukannya tadi dia sibuk menghabiskan waktunya dengan Rion? Membuang waktu ku saja!
Tok tok tok.
"Ada apa?" tanya Haikal datar setelah menurunkan kaca mobil.
"Boleh kan aku masuk?" Novi bertanya dengan tangannya yang membuka pintu mobil.
"Kau sudah masuk! Tidak perlu meminta izin ku lagi! Ke luar lah, nanti pacar mu cemburu melihat kedekatan mu dengan ku!" ucap Haikal dengan sinis, ia menyandarkan kepalanya pada sandaran mobil, dengan ke dua mata yang terpejam.
"Apa kau sedang cemburu pada ku paman pacar?" tanya Novi dengan meraih tangan Haikal yang terluka, rupanya dia beneran cemburu, hahaha sok dingin si lo!
"Siapa juga yang cemburu, ke luar lah. Tangan ku tidak perlu kau obati, nanti juga sembuh sendiri." Haikal menarik tangan kanannya dari genggaman Novi.
"Gak usah bawel! Cukup nurut dan diam!" ucap Novi dengan tegas yang tidak ingin di tolak.
Sementara di kamar lain, Naura tengah terlelap dengan Prans yang mengelusss perut Naura yang masih rata.
"Semoga ke depannya kau tidak menyusahkan mama mu ya, sayang! Susahkan saja papa mu ini... papa pasti bisa menangani mu dengan baik!" ucap Prans pada dirinya sendiri, seolah sedang mengajak calon bayinya bicara.
Tok tok tok tok.
"Maaf Tuan, jika saya mengganggu waktu istirahat anda." ucap Dedi dari depan pintu kamar Prans dan Naura.
Bersambung...
...ššš...
Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.
Abaikan kalo ga suka ya š š
__ADS_1